08/07/12

Normal dan Luar Biasa (Sebuah Cerita di Minggu Sore Hujan)

Sore hari saya yang indah (mengapa indah, karena saya menjalaninya diatas sofa teras rumah, ditemani hujan dan susu coklat panas), tiba-tiba dikacaukan dengan sebuah pesan singkat di telepon genggam yang sedang tergeletak tenang disamping saya. Bunyinya kira-kira begini,

"Oiitt...udah balik Jekardah belom lu? Kemarin gw ketemu temen baek lu yang gaul gila itu di GI. Makin ganteng aja, sayang kelakuannya makin gak bener. Btw, lekongnya kali ini cakep akut"

Saya pun mengernyit, hmmm...sore hujan tenang beraroma gosip, bukanlah perpaduan harmonis untuk ketenangan jiwa yang sedang galau (halah). Saya lalu menjawab smsnya (karena saya malas mengunduh program Whatsup, dan dia malas menggunakan blacberry, jadilah kami kembali ke jaman romantis ketika sms menjadi penghubung yang manis kala itu) seperti ini:

"Oh...iya kali,pacar barunya. Hehe,lucky him,rite ;)"

Mungkin karena jawaban saya yang terlalu pendek dan mencerminkan "halo-guweh-gak-peduli-ama-gosip-lu-terimakasihbanyak", dia lalu melanjutkan dengan membalas:

"Ih cyin, pendek amat balesnya. Gw kan say hello geto, trus tu cowo senyum donk ama gw. Duh, sayang yah, cakep-cakep homo. Otaknya pada kemana yak, gak liat apa kita-kita pada cantik begini"

Terusik saya membaca pesannya kali ini. Maunya apa sih?! Kenal sahabat saya itu pun tidak kenal dekat, mana mungkin dia bisa mengukur kapasitas otak sahabat saya dan pasangannya itu dengan hanya melihat dari luar. Dengan sedikit emosi (tuh kan, maksud dan tujuan saya berleha-leha menikmati hujan luntur sudah), saya pun membalas:

"Apaan nih ngomongin otak orang? Lagian mo lu cantik macem Kim Kardasian juga kalo dia lebih doyan ama Channing Tatum, lu bisa apa? Ya udah sih, terima nasib aja kalo lu cewe jomblo, dan temen gw yang COWO GANTENG itu bisa dapetin COWO SPEKTAKULER lain buat digandeng di mall. Eniwe, kemarin dia ngenalin ke gw cowo blasteran Jepang sih, mungkin itu maksud lu yang ketemu semalam? ;) "

Menurut beberapa tontonan motivasi positif maupun berbagai buku dari berbagai motivator pembersih jiwa (dan pencuci otak menurut saya), memang tidak benar untuk meluapkan amarah secara langsung tanpa berpikir matang terlebih dahulu, apalagi ketika kemungkinan dia, si tempat pelampiasan, tidak terlalu kompeten untuk "dianugerahi" itu, namun puas rasanya menikmati sensasi seperti yang barusan saya rasakan tadi. Jujur, saya mulai merasa tidak nyaman saat menerima sms dari teman tersebut, dan anehnya tidak ada perasaan bersalah ketika saya sedikit membentak dia dalam balasan sms saya tadi. Orang yang dia bicarakan itu salah seorang yang saya kenal di Jakarta, dan seiring berjalannya waktu, dalam proses pencarian makna hidup disana, dia merupakan salah seorang yang saya klasifikasikan dalam kelompok "sahabat dan keluarga".

Makanya saya heran ketika sudah menerima kata-kata lumayan tajam nan menyindir, tetap masuk lagi pesan dengan nada seperti ini:

"Doelah santai jeng. Apa coba namanya kalo punya otak, tapi kelakuannya kayak gitu. Mereka sih gak mesra didepan umum, tapi anak kecil juga tau kalo mereka itu gak normal. Gw sih males yah punya temen kayak gitu, mending gw jauh-jauh, daripada gw masuk neraka".

Ok, habis sudah kesabaran saya. Pupus sudah harapan menikmati buliran air hujan yang menciptakan simponi syahdu. Bahkan sejuknya udara dikala hujan itu tidak mampu meredakan panasnya hati dan kepala saya demi membaca pesan kurang ajar dari orang yang tadinya saya kira teman, sesosok orang seperti yang saya ketahui notabene lulus dari salah satu universitas terkenal di Jakarta, tapi ternyata pemikirannya masih sedangkal comberan mampet didepan rumah saya.

Jemari saya pun menari, sebuah tarian penyampai pesan, pengganti orkestra cacian pedas yang akan berasal dari mulut saya, seadainya kami berhadapan secara langsung, akan saya nyanyikan tanpa mempedulikan tata bahasa dan intonasi yang dihasilkan. Kata-kata yang sumbernya berasal dari hati saya yang tidak kuasa menahan amarah, dan mata yang tak kuasa menahan derainya.

"Hey, gw gak peduli ya, lu tuh keluaran pesantren mana, ato mungkin berdoa berlutut dua puluh empat jam tiap hari, tapi setau gw, surga itu juga gak nerima orang-orang yang mulutnya gak pernah sekolah macem lu. Dan asal lu tau, otak sobat gw itu dipake buat nolongin penduduk miskin di seantero Indonesia, dan kalo lagi di Jakarta, bukannya sibuk dugem ngamburin duit bokap kayak lu, otaknya itu sibuk berbagi ilmu ke anak-anak kurang mampu ditempat pembuangan sampah, yang baunya nggak lebih bau daripada mulut sampah lu itu."

Masih belum puas melontarkan isi hati dan pikiran (dan sialnya karakter huruf di telepon genggam saya juga habis), saya pun melanjutkan sms kedua dan ketiga saya:

"Yang jelas, si Jepang aduhai yang cakep gila itu, sangat beruntung karena kenal ama sobat gw. Karena selain bermuka bersih licin ala salju Swiss, hatinya lebih bersih daripada muka palsu perawatan mahal lu itu. Jadi, simpan opini otak picik lu itu, yang walopun kepala luarnya tiap hari dicuci sampo wangi, tapi isinya tetap gak lebih bersih dari selokan pasar induk. Jangan salahin takdir kalo muka cantik lu itu gak laku darling, tapi salahin kaca dikamar lu, yang gak pernah ngomong jujur ama mahluk gak punya hati kayak lu."

"Dan oh yah, mending lu cari kerjaan yang lebih ngasilin duit biar lebih mampu jalan-jalan untuk normalin pikiran, karena dibanding sobat gw yang kerjaannya sejak kuliah udah bisa ngebiayain dia dan keluarganya, dan keliling dunia tentunya, karyawan gaji buta macem lu gak ada apa-apanya. Well, kalo sekarang lu lowong, daripada duduk diantrian dokter gigi ato nyalon, sekali lagi pake duit ortu lu, dan iseng ngirimin gw sms gak penting tentang menghina kehidupan sobat gw dan bagaimana gw harus bersikap terhadap dia dan pasangannya, mending lu ke dokter saraf, atau ahli jiwa skalian"

Kali ini, sampai detik saya menuangkan kekesalan dalam bentuk tulisan ini, tidak ada lagi balasan yang datang dari si jalang bermulut lancang itu. Saya juga tidak peduli, apakah dia sudah menghapus nama saya di daftar kontak telepon genggamnya, atau menghapus saya dari daftar situs jejaring sosial miliknya, saking terkejut dengan pesan balasan saya yang cukup panjang dan (mudah-mudahan) memberi dia sedikit pelajaran hari ini.

Sungguh menyedihkan, ternyata saya harus mengetahui perilaku salah seorang kenalan saya melalui kejadian konyol nan fantastis seperti ini. Tapi apabila saya harus memilih, seribu kali saya akan bersujud berterima kasih kepada Tuhan, ketika mempertemukan saya dengan sahabat saya yang dicemooh melalui sms tadi, karena dia juga merupakan salah satu hal terbaik saya di Jakarta .
Tangannya, adalah salah satu yang menarik tangan saya ketika saya hampir jatuh dan mustahil bangkit dari masalah. Matanya, adalah salah satu yang mengirimkan sorot tatapan meneduhkan setiap kali hati saya memerlukan siraman ketenangan. Mulutnya, adalah salah satu yang mengeluarkan saran cerdas dan mengagumkan, celotehan bodoh namun manis, gurauan kocak sarat makna, kritik pedas nan sensasional, menghasilkan berbagai obrolan panjang yang menyenangkan. Telinganya, adalah salah satu yang mendengarkan saya, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, dengan cerita beralur sama berlatar berbeda, dengan kesabaran tingkat dewa.
Bagian yang paling penting, Hatinya, adalah salah satu yang selalu membuat saya berpikir, bahwa kolaborasinya dengan tangannya, matanya, telinganya, menjadikan dia sosok yang luar biasa menurut saya, sahabatnya yang merasakan bahwa Tuhan sudah mengirimkan sosok "malaikat" untuk bisa saya kenal di dunia.

Dia, sahabat yang tadi dituduh pemegang tiket terusan ke neraka, sudah membawa sedikit "angin surga", untuk para penduduk Indonesia yang pernah merasakan program kerja yang selalu berhasil darinya, untuk para anak berkekurangan yang pernah diajarkan secara gratis dan berkelanjutan dengan berbagai ilmu berguna olehnya, dan untuk kami, para sahabat yang telah lama mengenal kesantunan, kegigihan, dan kesetiakawanannya dalam bersosialisasi dan berinteksi.

"We are all a little weird and life’s a little weird, and when we find someone whose weirdness is compatible with ours, we join up with them and fall in mutual weirdness and call it love.” *Dr.Seuss*


Maka jangan pernah salahkan saya atas balasan keras, ataupun makian pedas yang akan terlontar dari mulut saya, karena siapa pun dia, bagaimana pun anehnya dia dimata sebagian orang yang mengaku dirinya sempurna, dia tetap punya hak yang sama dengan siapa saja, untuk tetap merasa NORMAL sepanjang hidupnya.


Manado, 8 Juli 2012, 20.30 WITA

Teras rumah, ruang tamu, dan kamar tidur, senyamannya saya, ditemani bunyi tetesan hujan diatap, ketika air langit berebut turun menjenguk bumi.


"Tulisan ini buat dan demi lu mak. Dengan segala hormat, dan dengan tidak mengurangi rasa sayang gw yang gak nyantumin nama kebanggaan lu, ditulis dengan deraian air mata yang bekerjasama secara yahud dengan emosi gw, yang menghasilkan efek lebay, dan gw tau pasti lu selalu benci liatnya karena kata lu itu selalu sukses bikin tampang gw berantakan." 


I Love You Darl, Just The Way You Are, Like I Always Do, Like You Also Do :)

26/06/12

Sekilas Kenangan untuk Ulang Tahun Mama

Mam, ada rasa sesal dihati, ketika barusan saya membuka aplikasi memo diponsel saya ini, dan tidak menemukan tulisan hampir selesai yang semalam anakmu ini rangkai sebagai hadiah ulang tahunmu kali ini.
Tulisan yang hampir jadi, tulisan yang menandai kenangan dihati, tulisan yang mungkin bisa sedikit mengobati rasa rindu ini.

Mama, sosok yang bisa dibilang perpustakaan pertama saya. Ratusan buku bernyawa yang terangkum dalam sosok ibu berwibawa yang mendidik dua putrinya dengan tangan dingin dan dekapan hangatnya. Walaupun begitu, sejujurnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang wanita yang mengabdi pada negara ini, yang bahkan masih terus mengabdi diakhir hayatnya dulu. Mama, yang sibuk dikantor itu, dalam versi saya, hanya menyisakan kenangan malam-malam panjang dimana beliau dan ayah saya merawat putri kecilnya yang selama hampir setahun lebih sakit dan butuh perhatian ekstra, atau beragam obat tradisional yang dibuat untuk meredakan berbagai sakit yang menyerang anggota keluarganya, kenangan akan perintahnya untuk belajar dan jadi seperti kakak yang pintar disekolah, kenangan akan wangi parfum harum melati Estee-lauder yang selalu tercium dipagi hari yang melengkapi teriakan ramai ketika beliau membangunkan saya untuk meminum susu dan bergegas pergi ke kampus, kenangan akan buku resep yang beliau kumpulkan satu persatu dan saya yang kebagian untuk menuliskannya dalam satu buku catatan, dan sialnya saat ini buku kumpulan resep andalan keluarga itu hilang entah kemana (resep asli puding coklat dan puding orson itu pun tinggal secuil kenangan dikepala saya, yang seringkali ngaco ketika diaplikasikan), kenangan akan puluhan tas dan sepatu yang menjadi koleksi kebanggaannya (sekarang kebiasaannya itu diwarisi oleh kakak saya), kenangan akan sederet piring, perabotan, dan guci hiasan kembar untuk dua putri kecil kesayangannya, yang konon alasan dibeli kembar, katanya kalau nanti kami menikah dan pindah rumah, maka masing-masing kami akan menerimanya tanpa ada yang terlewatkan (yang konyolnya beberapa guci sudah pecah duluan ulah tingkah duo cucu kesayangannya,hahaha), kenangan akan berbagai tanaman bunga dan buah dipekarangan rumah, kenangan akan beragam kata mutiara pengganti kalimat amarah, kenangan akan rahasia sedekah yang dianutnya, kenangan akan ritual menggulung rambut, selalu tampil gaya dan senang mengenakan kebaya, kenangan akan cara mencuci baju dengan membilas terlebih dahulu sebelum merendam baju dengan alasan untuk mengurangi debu dalam rangka penghematan sabun (tetapi sayangnya jadi pemborosan air,hahaha), kenangan akan ratu kondangan dan berbagai acara lainnya (dan saya pun memilih untuk meneruskan kebiasannya ini,hahaha), serta berbagai kumpulan kenangan lain yang sudah tidak begitu jelas dalam ingatan.

Layaknya seorang ibu juara, beliau mengajarkan kami berbagai ilmu hidup yang selalu kami patuhi, tegas ketika bertitah, lembut ketika berkata, dan kelak caranya akan kami teruskan pada anak cucu nanti.

Mam, sedikit kenangan yang selalu membuat saya tersenyum sambil menitikkan beberapa bulir airmata.
Beliau memang bukan prioritas saya ketika dulu ia masih bernyawa.
Bukan pula sahabat teman diskusi, karena sejak dulu, suara yang keluar adalah titah, ajaran yang merupakan perintah, bukan komunikasi dua arah.
Teringat akan ulang tahunnya dulu yang hanya saya belikan jam yang harganya bahkan tidak ada seperempatnya dengan harga hadiah saya terhadap mantan belahan jiwa.

Namun, seperti kata ungkapan kasih ibu sepanjang masa, dan kasih anak sepanjang sekali melangkah, mama tetaplah bahagia, bahkan walaupun telepon atau pesan singkatnya diponsel saya hanya saya balas dengan kalimat pendek atau suara balasan yang tidak lama. Tidak jarang saya malah sengaja tidak mengangkatnya ketika sedang malas berbicara. Hal fatal yang mengakibatkan saya menjadi seperti orang bodoh selama hampir dua tahun lamanya setelah menyadari ketika beliau telah tiada, namun tetap berhalusinasi dengan melihat layar ponsel saya, berharap jutaan bahkan milyaran kali, ada panggilan masuk dari mama tercinta.

Mama, senyum tulus yang terukir ketika saya melongokkan kepala untuk menengoknya dirumah sakit tempat beliau menghembuskan nafas terakhir, pesan agar saya meneruskan hidup dengan sehat dan bahagia, tanpa pesan apapun yang memberatkan kedua putri kecilnya, menjadi kenangan terindah, yang lagi-lagi saya, harus berjuang untuk berhenti mengharapkannya, dan mengirimkan doa sebagai tanda cinta dan bakti saya.

Ma, bahkan ketika hari ini anakmu ini memasang status di bbm dan akun jejaring sosial, begitu banyak kerabat dan sahabat yang mengucapkan selamat ulang tahun dan turut mendoakanmu, membuat anakmu ini terharu dan berharap, semoga engkau tenang dan bahagia disana, sambil menunggu kami, untuk bergandengan tangan lagi.

Ma, selamat hari jadi, doa kami, semoga terus bahagia yah. Amin. 


Manado, 26 Juni 2012 
Kado kecil si putri kecil untuk sang ibu Suri :')

15/06/12

Ketika Air Menjadi Sebuah Kisah

Dari dulu,saya sangat suka dengan hal berbau air. Bermain air, apalagi dalam kapasitas debit yang banyak, selalu membuat saya betah.

Lautan, penyedia air terbesar dunia, diperkenalkan orangtua saya sejak kecil. Keluarga kecil kami senang berwisata pantai ditepi kota kelahiran saya. Apalagi sejak kami pindah dipinggiran kota yang dekat dengan pantai, hampir setiap akhir pekan kami berwisata ke pantai yang waktu saya kecil masih merupakan alternatif hiburan rakyat selain bioskop dan pusat perbelanjaan. Naik mobil bak terbuka kesayangan papa, saya kecil selalu terlihat gembira dan tak sabar ingin berenang sepuasnya. Tapi, jangan salah, kesukaan saya bermain diair tidak ditunjang dengan keahlian berenang standar. Ya, jujur saya akui, sejak kecil saya hanya bermodal nekad ketika berenang dipantai. Bermodal pelampung karet bekas ban truk yang bisa disewa dipinggiran pantai itu, saya pun nekad berenang sejauh-jauhnya dari bibir pantai. Bangga rasanya ketika mendengar orang lain berkata "tuh nak,lihat itu ada anak seumur kalian, udah berani berenang sendirian ke tengah laut". Menjadi pusat percontohan untuk anak sebaya memang sering membuat saya yang agak haus pujian ini besar kepala, jiahahaha.
Buat saya, ban karet itu sendiri sudah merupakan lambang rasa aman, jaminan keselamatan untuk berenang, padahal kemampuan renang saya saat itu masih jauh dibawah rata-rata. Beda dengan kakak saya yang sengaja kursus dikolam renang umum, sehingga membuat dia jago berenang sejak kecil, saya waktu itu hanya bermodal sedikit nyali untuk bisa bebas bermain di air. Terima kasih kepada orang tua saya yang memfasilitasi kenekadan saya tersebut dan tidak pernah mencoba menakuti saya dengan cerita-cerita anak tenggelam gara-gara membangkang pada larangan orang tua.

Masa sekolah dan kuliah, semakin memperparah hobi saya terhadap air itu. Saya sering sekali bermain ditempat-tempat berbau air, baik sungai maupun pantai (terkadang waduk, sungai kecil didekat rumah atau yah paling minim selokan,hahaha).
Teman-teman sekolah dan kuliah saya pun sering sekali mengadakan kegiatan yang berbau sungai dan pantai. Maklum, kami anak daerah yang kaya tempat wisata air, hohoho (tertawa jumawa).

Walaupun harus saya akui, sebesar apapun nyali saya, kemampuan berenang saya yang dibawah standar alias lebih menjurus ketidak bisa tersebut sering membuat saya ciut acapkali kami harus bermain ditepi sungai arus deras yang mampu menyeret siapa saja yang nekad berenang disana, ataupun berenang ditengah-tengah laut dalam yang sudah tidak nampak dasarnya. Ketika sudah tidak ada lagi ban karet yang bisa saya andalkan, dilengkapi dengan ketidakbisaan saya, seringkali saya hanya bisa melihat dengan iri ketika teman-teman saya terjun bebas ketengah laut. Iri dengan tawa riang mereka yang tidak takut akan tenggelam, bebas menyatu dengan air, dan saya bersumpah, sakit hati melihat keceriaan mereka kala itu hampir mirip ketika melihat mantan pacar menggandeng selingkuhan,jiahahaha (lho benar kan, tenggelam itu kan jadi susah bernapas, panik, dan akhirnya mungkin pingsan, agak mirip lah analoginya, hahaha).

Seperti kata ungkapan "orang-orang berhobi sama pasti akan selalu dipertemukan dengan komunitasnya", saya selalu berkenalan dengan berbagai manusia sesama pencinta air. Ketika saya merantau dipulau Jawa pun, saya tetap mencari kegiatan yang berhubungan dengan air tersebut. Berbagai komunitas jalan-jalan yang sebagian besar menghabiskan waktu liburan mereka mengelilingi berbagai objek wisata pantai seantero Indonesia, membuat hasrat saya akan lautan terpuaskan. Tetapi seperti biasa, rasa iri akan keriaan para teman seperjalanan yang bebas melompat tanpa takut tenggelam juga kerap menghampiri saya, dan semakin banyak perjalanan wisata yang saya lalui, saya pun bertekad, harus bisa, bahkan jago berenang!!! (Ambisi yang lumayan telat untuk anak yang mengaku pencinta berat air seperti saya,hahaha)

Alhamdulillah Puji Tuhan, dengan bergabung dengan salah satu komunitas olahraga diibukota, akhirnya saya benar-benar bisa belajar bagaimana cara berenang yang baik dengan mencontoh cara para senior diolahraga tersebut berenang lincah.

Air, buat saya membawa kedamaian yang abstrak dalam jiwa. Ada keheningan yang nyata, walaupun terkadang diselingi dengan keramaian yang menyeruak ketika saya berada didalamnya. Air, darimanapun asalnya, selalu mampu membuat saya terpesona. Air hujan yang selalu tercurah dari langit, tak usah ditanya, selalu menciptakan momen magis yang jika saya rangkai dalam kumpulan aksara, bisa menjadi pusaran tulisan sarat makna. Air yang mengalir disungai dekat rumah saya, tempat saya sering bermain dulu, maupun air terjun yang membentuk sungai-sungai besar diberbagai penjuru nusantara yang sudah pernah saya kunjungi, selalu berarti kegembiraan yang menjadi kenangan indah. Jangan ditanya apa artinya air yang berasal dari lautan buat saya. Dari semua asal air, air lautan posisinya berkejaran dengan air hujan dihati saya.

Entah mengapa, melihat air yang membentang membentuk lautan itu, berbagai buah pikiran singgah dibenak saya. Seakan air dari lautan itu membawa cerita dari berbagai penjuru dunia, menjadikan samudera sebagai perantara milyaran kisah dari ujung cakrawala.

Berenang pun menjadi salah satu cara untuk bersatu dengan unsur favorit saya itu. Mencoba mengerti, dengan berada didalamnya. Jadi, jangan ditanya betapa sakitnya hati ini ketika saya tidak bisa total bersatu dengannya dikarenakan kemampuan berenang saya yang dulu pas-pasan, sebaliknya betapa gembiranya hati, perasaan, dan seluruh jiwa raga ini ketika saya sudah benar-benar menguasai cara yang bisa membuat saya menyatu dengannya (ok, tampaknya saya jadi terdengar agak lebay,hahaha).

Kemarin, saya berkesempatan untuk mengunjungi kembali pantai tempat keluarga saya dulu bermain. Banyak perubahan terjadi disana. Arus pasang yang membuat air laut lebih mesra mendekati bibir pantai, yang sekarang sudah dimodifikasi sedemikian rupa oleh pemerintah setempat menjadi objek wisata dan tempat makan penganan gorengan khas kota kecil kami, membuat saya sedikit kecewa karena banyak tempat kenangan yang hilang karenanya. Banyak kenangan yang singgah dan bermain sejenak dibenak saya. Kenangan tentang masa kecil, kenangan tentang keceriaan diberbagai pantai, serta tanpa bisa dicegah, kenangan tentang banyak orang yang pernah mampir dihidup saya.

Filosofi air tenang namun menghanyutkan, atau arus liar sungai maupun amukan ombak lautan yang bisa menghantam karang dan menenggelamkan apa
saja , tanpa sadar menjadi cermin perilaku saya selama ini. Belajar mengenal air, sama saja dengan belajar memahami diri saya sendiri. Bagaimana saya yang terlalu angkuh mengaku bahwa bisa berenang, padahal sama sekali nol besar, sampai pada akhirnya mawas diri dan belajar dari awal. Seperti halnya semua ilmu yang telah dikuasai pun, harus selalu dilatih berulang-ulang, untuk mendapatkan hasil maksimal, dan pola yang terekam itulah yang akan jadi pedoman untuk lebih memperdalam, agar benar-benar paham.


Akhirnya saya sadar, air itu sudah mengantar saya ke berbagai hal. Bahkan ketika duduk ditepi pantai, melihat deretan ban karet yang dahulu menjadi pegangan saya (jaminan keamanan bawah sadar untuk mengatasi ketakutan akan tenggelam dan terjebak pada dunia gelap dibawah sana), saya juga jadi mengingat seseorang, yang selalu menjadi "ban karet" saya. Seseorang yang selalu ada ditengah lautan berombak, kala air tak lagi ramah dengan saya.
Perasaan asing disuatu tempat paling menyenangkan yang seharusnya bisa menyatu dengan saya, tetapi sekaligus menjadi tempat paling menyeramkan karena bisa menenggelamkan dan membawa saya ketempat yang sama sekali hampa udara, seketika hilang, karena perasaan aman yang ditawarkan uluran tangan itu. Ketika rasa takut ditukar dengan rasa aman, rasanya tak ada lagi yang dibutuhkan. Sama seperti pelukan yang hanya menawarkan perasaan nyaman, tangan itu pun hanya menawarkan perasaan aman. Tetapi buat saya, aman dan nyaman itu melahirkan kolaborasi perasaan tentram.
Dia, sangat membantu saya dalam mengatasi perang pikiran, antara rasa suka berenang dan murka ketika air bersekongkol untuk menggoda saya.
Jadi, bisa dikatakan, kombinasi dia dan air itu, JUARA!!!
(mulai detik itu, air terutama dalam bentuk lautan, dibenak saya akan identik dengan seseorang. Melihat dia, laksana melihat kumpulan air favorit saya, sama seperti ketika saya kangen dia, cukup lari saja ke pantai terdekat, solusi yang sederhana namun indah kan? ahayyy).

“Water does not resist. Water flows. When you plunge your hand into it, all you feel is a caress. Water is not a solid wall, it will not stop you. But water always goes where it wants to go, and nothing in the end can stand against it. Water is patient. Dripping water wears away a stone. Remember that, my child. Remember you are half water. If you can't go through an obstacle, go around it. Water does.”
― Margaret Atwood



Memoar Pantai Malalayang dipenghujung hari yang cerah.


Manado, 15 Juni 2012 17.43 waktu BB


Ketika angin terbang manja, dan laut tenang seperti biasa.

01/02/12

PHK (Pacar Hari Kamis)


PHK, alias Pacar Hari Kamis. Sebuah judul yang tepat untuk menggambarkan keadaan manis saat ini (atau membingungkan?)..ahhh tak taulah.

Namaku Bella, ibuku yang gemar sekali semua hal berbau Prancis, menamaiku itu, artinya cantik, simpel tapi penuh doa dan harapan agar nama sesuai dengan rupa dan perangai anaknya kelak. Namanya Chaira, kata kakeknya yang menamainya dalam bahasa Persia artinya pesona, nama yang langsung disetujui oleh orang tuanya, karena kalaupun dipisah suku katanya, merupakan singkatan dari nama kedua orangtuanya, sangat kebetulan.

Kami, hanya sepasang anak manusia, yang punya kesepakatan unik, yang mungkin kata orang lain,gila... tapi masing-masing kami memang suka, bahkan bangga, dinamai seperti itu, gila, sinting, sableng, sakit jiwa, atau apalah nama bekennya. Kesepakatan itu sederhana sebenarnya, bahwa atas nama waktu, yang merupakan Tuhan kedua kami, sesuatu yang paling susah untuk anak metropolis, babu para ekspatriat seperti kami, untuk tetap berinteraksi disela kesibukan dan padatnya jadwal, maka kami pun memutuskan untuk menyediakan 1 hari untuk berdua, 1 hari rahasia, untuk 1 hubungan rahasia juga. Mengapa Kamis, karena Kamis merupakan hari keempat, dimana orang metropolitan butuh sesuatu untuk hiburan, sebelum terikat kembali dengan janji2 weekend yang sangat socialita.

Teringat perjumpaan kami sekitar hampir setahun yang lalu, ditengah acara pembukaan pameran fotografi, yang kebetulan merupakan hobi kami berdua. Dia, yang tertawa-tawa riang ketika datang bersama teman-temannya, tetapi tampak serius bahkan autis ketika pembicara menjelaskan tentang maksud pameran, menarik perhatianku. Sosok berkulit coklat, bermata cemerlang memancarkan kepandaian yang samar, senyum khas yang ramah, hmmm...favorit lah pokoknya.

Mungkin kalimat ” People with the same wavelength will always find each others” adalah kalimat yang pas untuk menggambarkan keadaan kami berdua. Disatu kesempatan, kembali kami dipertemukan dalam suatu acara konser kemanusiaan. Aku bersama teman-temanku, dan dia bersama teman-temannya. Di acara itu kami berkenalan, tapi tetap tak saling mencoba untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan bertukar nomer telpon ato sekedar bertukar alamat email atau bahkan bertukar account FB. Gengsi mungkin, aku juga sebenarnya belum begitu peduli.

Pertemuan ketiga terjadi ketika ada pameran yang iseng aku datangi sendirian, dan dia pun datang sendiri. Hahay, gaung bersambut. Jadilah hari itu hari ngakak bersama, menggoda para SPG, atau foto2 ditempat-tempat yang latar belakangnya bagus disekitar area pameran dengan gaya konyol kami masing-masing. A day with Chaira, begitulah bunyi status FB ku hari itu (oh yah, aku sudah nge-add dia di FB, langsung dari henpon canggih yang harus kubayar tiap bulan langganan internetnya).  Entah kenapa, walaupun kami sudah mempunyai akses untuk berkomunikasi, berupa FB maupun Yahoo Msg, selalu saja ada rasa kebosanan yang hinggap ketika harus menyapa satu sama lain setiap hari. Tetapi kalau setiap minggu tidak ada komunikasi juga, rasanya ada yang kurang. Tawa, canda, sedikit curhat mengenai masalah kerjaan, pribadi, maupun obrolan2 ringan, mengalir lepas, serasa bercerita kepada sahabat yang telah saling mengenal 5 tahun lamanya.

Tak hanya lewat dunia maya, kami juga rajin bertemu, entah untuk nonton film terbaru dibioskop, nongkrong dari cafe ke cafe, keliling hunting foto, ataupun sekedar jalan bareng teman kami lainnya. Ya, beberapa teman-temanku sudah mengenalnya, begitupun para sahabatnya sebagian sudah mengenalku. Sebenarnya tidak ada alasan bagi kami untuk tidak berpacaran, dari segi umur, kami bukanlah anak ABG yang harus sembunyi-sembunyi dari pihak orangtua, dari segi pergaulan, bisalah kami bisa saling mengisi, aku dari segi apapun tidak ada yang menghalangi. Tapi entah kenapa, selalu ada rasa sungkan, bahkan janggal ketika kami sudah berbicara terlalu dalam, masuk ke wilayah asmara. Serasa, ada pembatas yang menghalangi niat itu. Baik dari sisi pemikiranku, maupun dia. Akan tetapi, kami juga tidak bisa menolak bahwa sudah ada hal-hal aneh yang terjadi diantara kami. Meminjam bahasa anak gaul sekarang, chemistry itu udah klik, halah.

Pada suatu hari, pada pembicaraan yang biasa terjadi pada jam-jam bosan dikantor (baca: sekitar jam 3 sore) tiba-tiba Chaira mengangkat topik konyol, tentang ide hang out seminggu sekali. Menarik, agak menggelitik, dan tentu saja penuh ide asik. Aku memilih Kamis, karena hanya dihari itu jadwalku agak lega, alias bebas dari segala rutinitas ini itu, les bahasa, latihan tari, acara wajib kumpul dengan gank, olahraga rutin, klop lah. Chaira pun menyetujui, karena dia juga bebas dengan segala rutinitas mingguannya, bermacam olahraga favoritnyanya (dia selalu berkhotbah tentang ”cintailah olahraga itu, karena dengan cinta semuanya dijalani dengan penuh kesenangan....halah), pertemuan mingguan club backpackers, les piano (hadeuhh, lelaki ini memang agak2 ajaib minatnya), hari wajib berburu kuliner seantero Jakarta bareng teman2 kantornya, bla bla bla. Yah, kami memang sama2 sibuk, socialita ibukota. Kami menyerah untuk menyamakan jadwal weekend, karena masing-masing sudah mempunyai jadwal socialita masing2, penuh dengan hasrat untuk memuaskan hobi dan mencari jati diri. Kamis, adalah hari bernafas, sekarang bisa dikatakan hari mencari cinta. Jiahahaha, membayangkan akan menjalani satu hari yang aneh dalam seminggu, membuat perutku bergejolak. Semangat, hanya itu satu kata yang membuatku tersenyum sore itu, dan entah kenapa berharap bahwa dia juga seantusias diriku. Aku dan Chaira pun janjian pada hari Kamis, yang artinya 2 hari lagi, untuk bertemu, first technical meeting untuk rencana ajaib kami.

Setelah 2 hari, yang herannya terlewatkan begitu saja tanpa perasaan apapun, kami pun bertemu di tempat biasa. Sengaja memilih tempat agak tersembunyi, karena takut bertemu dengan salah seorang teman yang mengenal salah satu atau bahkan kami berdua sekaligus. Bukannya takut, tapi salah satu syarat asik hubungan Kamis ini adalah, tidak boleh ada teman yang tau, baik temanku ataupun temannya.

Kami sepakat, hubungan antara orang dewasa, apalagi orang dewasa yang konyol seperti kami berdua, harus dijalani dengan cara yang konyol juga, cara yang unik, yang tidak biasa, agar nantinya, kalaupun kami tidak berjodoh, pertemuan kami bisa menjadi salah satu koleksi sejarah perjalanan hidup yang tak lekang dimakan penyakit lupa. Yahhh, seperti ide awal yang unik ini pun, kami memilih Rumah Sakit sebagai tempat awal kami bertemu. Hahaha, kenapa Rumah Sakit? Karena menurut kami, selain tempatnya berada di tengah-tengah antara kantorku dan Chaira, di Rumah Sakit juga kami bisa melihat berbagai pola tingkah manusia, hal yang asik untuk diamati (baru tau juga, kami sama2 punya minat mengamati sifat dan sikap makhluk Tuhan yang paling sempurna itu) dan juga kami bisa melihat banyak ekspresi cinta yang terlukis lewat tawa para suster di pos jaga, canda para penjenguk yang mencoba menghibur saudara atau rekan mereka yang sedang sakit, tangis para keluarga yang tinggalkan pasien yang baru mengalami musibah, kecewa yang terlihat diraut wajah para pasien yang duduk manis diruang tunggu dokter jaga, semangat seorang adik yang berlari-lari mengurus keperluan kakaknya yang terbaring lemah , kegembiraan seorang kakek yang dengan bangganya memeluk cucunya yang baru lahir kedunia,  raut lelah para dokter, suster petugas kebersihan, dan smua yang bekerja disana, potret-potret yang diperlihatkan orang-orang dirumah sakit untuk menggambarkan perasaan demi cinta mereka kepada orang yang mereka kasihi atau demi profesi yang mereka jalani. Alasan lainnya sih, supaya kalopun sesial-sialnya kami bertemu dengan teman yang mengenal kami berdua, kami bisa ngeles kalo kebetulan ketemu pas lagi menjenguk rekan yang sakit. Hahaha.

Kami pun menghabiskan obrolan Kamis pertama kami, dengan berjalan menyusuri lorong Rumah Sakit, mengamati keadaan sekeliling yang penuh kejutan. Melihat adegan seorang ibu yang telaten menyuapi anaknya, terharu dengan pemandangan mesra penuh kasih yang diperlihatkan kakek nenek di bangku taman depan kolam air mancur, dua-duanya memakai gelang Rumah Sakit, pertanda mereka dua-duanya sedang dirawat disana. Terbahak dengan kelakuan seorang lelaki paruh baya yang tampak merajuk ketika sedang disuapin makan oleh istrinya tapi sambil diomelin. Trenyuh dengan seorang petugas kebersihan yang dengan sabar membersihkan sampah-sampah yang dibuang sembarangan oleh para manusia yang lalu lalang, padahal disetiap sudut  Rumah Sakit itu dilengkapi fasilitas tempat sampah dan disetiap dinding dituliskan ”Buanglah sampah pada tempatnya. Setelah puas berjalan-jalan, sambil tertawa-tawa pastinya, kami pun duduk dikantin Rumah Sakit, memenuhi hasrat kami yang lain, LAPAR, hahaha.

Dibangku kantin Rumah Sakit yang sederhana ini, dihadapan seorang lelaki luar biasa yang sedang menghabiskan gado-gado sampai piringnya benar-benar bersih dari saus kacangnya, aku tersenyum sambil berpikir ”Tuhan...karunia apalagi yang coba kau beritahukan pada hambamu ini?”. Terlalu manis kebetulan yang merangkai beragam kejadian membahagiakan ini. Kalaupun ini cobaan, alangkah indahnya cobaanMu kali ini. Untuk seseorang dihadapanku ini, aku berterima kasih dengan segala sujudku padaMu. Untuk sebuah kejadian nyata yang akan menjadi kenangan tak terlupa.  Senyumku kemudian dibalas kerlingan jenaka, seraya berkata ”Kemana lagi kita Kamis depan?”....Sambil senyum menggunakan sorot mata tak kalah nakal menantang, aku membalas ”Ragunan asoy juga kali yeee???”


Jakarta,  1 Februari 2012

Menara BCA Lantai 55, meja pojokan yang dipenuhi warna kuning tercinta ^^
Hari-hari terakhir saya disini, ketika sebentar lagi kaki ini akan melangkah pergi untuk mengikuti kata hati :)

07/12/11

30 November 1984 - 30 November 2011, 27 Tahun Meramaikan Dunia (Memoar Shinta Irawati Saloewa Part.1)

Dua Puluh Tujuh Tahun…
Bukan waktu yang singkat untuk dilewati. Banyak cerita dibalik perjalanan seorang anak manja yang dilahirkan di Manado, tanggal 30 November, dua puluh tujuh tahun yang lalu.

Saya, yang dilahirkan dari seorang ibu berdarah Minahasa campuran, dan dibesarkan bersama dengan ayah yang berdarah campuran dari berbagai suku di Indonesia, merasakan bahwa aliran darah campur-campur ini lah yang membuat hidup dua puluh tujuh tahun saya semakin unik dan berwarna.

Sejak kecil, saya dibesarkan ditengah keluarga multi ras dan agama. Shinta kecil terbiasa membantu mamanya membuat kue dan berbagai makanan manis khas hari raya setahun dua kali. Papa juga membelikan kami anak-anaknya baju dan sepatu hari raya setahun dua kali. Kami diajarkan untuk selalu saling menghormati kebebasan beragama satu sama lain. Terkadang otak kecil saya selalu bertanya-tanya, kenapa ribet sekali, sibuk merayakan hari raya dua kali dalam setahun? Melihat kesederhanaan hidup kami dulu, pantas lah saya merasa bahwa mama papa saya sedikit berlebihan dalam merayakan hari raya. Begitu pula dengan masalah pulang kampung. Kami lebih sering pulang ke kampung halaman mama yang letaknya lebih dekat dengan kota tempat kami tinggal, daripada pulang ke kampung papa yang harus menempuh delapan jam perjalanan darat (waktu itu belum ada pesawat menuju kesana). Lagi-lagi saya menganggap, pulang kampung itu melelahkan (mengingat saya yang lincah ini tidak didukung oleh badan yang kuat dan sehat) selain juga merupakan suatu tindak pemborosan. Tetapi walaupun kami jarang pulang ke kampung papa, entah bagaimana caranya, papa dan mama selalu bisa membuat saya dan kakak saya dekat dan akrab  dengan keluarga di Gorontalo, tempat papa numpang lahir dan dibesarkan sampai SMP. Pesan papa mama yang selalu saya tanamkan dalam diri saya adalah “Memberi dengan hati senang kepada keluarga dan sahabat tidak akan membuat kita hidup sengsara”.

Dulu kami harus pindah dari pusat kota Manado, kearah pinggiran kota. Saya sempat protes karena sekolah saya juga dipindahkan ke sekolah pinggiran yang waktu itu saya anggap sedikit kampungan. Anak-anak yang pulang pergi sekolah jalan kaki, sedikit aneh dimata saya yang terbiasa diantar dan dijemput oleh para sepupu saya yang lebih tua. Ketika sepupu saya dari ibukota datang berlibur, saya sedikit iri, kenapa saya tidak lahir dan dibesarkan diibukota, tampaknya keren kalau saya bergaya dan berbicara dengan bahasa gaul seperti mereka. Saya sedih dengan cap anak daerah yang tidak ada keren-kerennya menurut saya waktu itu. Perayaan ulang tahun saya juga jarang dirayakan bersama teman-teman sebaya. Mama papa lebih suka merayakan ulang tahun saya dirumah bersama keluarga, atau kalau ada sedikit rejeki, mama papa lebih suka merayakannya disekolah bersama para guru dan teman sekelas, atau  mengajak saya ke panti asuhan dikota kami, untuk mengantarkan sedikit makanan pokok yang akan disambut senyum ceria para penghuninya. Saya yang masih kecil selalu merasa tidak adil, ketika melihat foto-foto ulang tahun kakak saya yang selalu meriah bersama kerabat dan teman sebaya, penuh hiasan, balon dan penganan khas perayaan ulang tahun.

jaman kadal imut :D


Ketika beranjak dewasa, saya mulai disekolahkan disalah satu sekolah menengah terbaik dikota kami. Jarak dari rumah yang berada dipinggiran kota ketengah kota tempat sekolah itu berada, membuat saya yang amat sangat pemalas untuk bangun pagi, terpaksa bangun pagi dan berlari-lari mengejar angkutan umum (sejak setahun setelah pindah ke SD dekat rumah, saya sudah tidak dibiasakan untuk diantar jemput lagi). Disekolah itu, saya yang memang agak tomboy, bertemu dengan para sahabat yang kebanyakan laki-laki, tetapi herannya tidak ada satu pun yang nyantol untuk jadi pacar saya. Pernah saya diolok oleh salah seorang saudara sepupu saya, bahwa apa gunanya punya banyak sahabat laki-laki kalau tidak ada satu pun yang bisa menetap dihati. Untunglah pembawaan saya yang cuek dan ceria membuat saya tidak memperdulikan satu pun ejekan orang-orang. Mama saya tidak pernah melarang saya untuk bergaul dengan berbagai macam orang, termasuk lawan jenis, jadi saya malah tidak terlalu memusingkan dengan hal-hal berbau lelaki, yang sejak jaman purba sampai jaman ipad kata orang hanya berujung pada sakit hati :D.

Duduk dibangku sekolah menengah atas, saya mulai belajar lebih dalam mengenai agama yang saya anut sejak lahir. Banyak sahabat yang saya temui juga dimasa ini, dan masih bersahabat baik sampai sekarang, Disitu juga saya mulai mengenal keindahan alam lewat berbagai kegiatan pencinta alam. Saya suka sekali dengan adrenalin yang terpacu dengan pola tingkah ekstrim para pencinta alam. Walaupun lagi-lagi saya harus protes kepada Tuhan akan kondisi badan yang tidak selalu bisa diajak kerja sama, membuat saya terkadang harus rela tidak ikut berkemah ato berbagai kegiatan seru lainnya.

Masuk ke jenjang kuliah, saya ingin sekali sekolah diluar negeri. Tampak keren, membayangkan betapa banyaknya hal baru yang akan saya temui. Atau paling tidak, kuliah diluar kota, supaya saya bisa bebas laksana burung lepas dari sangkar. Tetapi karena alasan biaya dan kondisi saya yang sering sakit, mama dan papa meruntuhkan harapan saya tersebut. Seperti biasa, saya lalu memprotes dengan berbagai cara. Tapi apa mau dikata, mama ternyata selangkah lebih maju, dengan membayar uang pangkal untuk saya tanpa saya ketahui, melalui om saya, disalah satu jurusan yang sedang tren saat itu dikota kami, ekonomi internasional. Akhirnya saya pun pasrah hanya kuliah dikota ini lagi. Terbayang bosannya hari-hari saya yang akan bertemu dengan orang-orang yang sama sejak saya sekolah. Ternyata, dunia kampus itu begitu semarak. Saya mengenal banyak sekali teman baru, serta mencoba banyak kegiatan yang melatih saya untuk lebih bertanggung jawab, dan tanpa sadar, saya bertumbuh pesat bersama dengan kampus ini. Dikampus ini saya juga bertemu dengan beberapa buku bernyawa saya, orang –orang yang mengajarkan saya betapa cinta itu bukan melulu diisi derita, betapa patah hati itu bukan selalu berarti mati. Berorganisasi untuk sekedar menambah deretan prestasi pun terpuaskan dikampus ini. Berbagai kegiatan beragam komunitas resmi, menjadi salah satu ajang untuk mengasah kemampuan bersosialisasi. Kuliah dijurusan internasional juga membuat saya bisa melanglang buana, dalam rangka memenuhi prasyarat mata kuliah magang dibeberapa perusahaan terkenal di ibukota.

Dunia kerja, kembali membuat saya terpana. Impian untuk tinggal dipulau Jawa terwujud sudah. Program magang semester akhir membuat saya akhirnya diterima bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi ternama. Modal nekad dan doa dari keluarga, saya akhirnya terbang ke ibukota, untuk belajar hidup didunia yang sama sekali asing buat saya. Semarang, Solo, Jogya, Batam, dan akhirnya Jakarta, adalah kota-kota yang akhirnya membuat polah tingkah saya lebih mendewasa. Belajar kehidupan, jauh dari sanak keluarga, membuat saya mau tidak mau harus bertahan untuk tidak manja. Kesempatan untuk ditempatkan dikampung halaman pupus dikarenakan atasan saya menganggap saya lebih cocok bekerja dikantor pusat yang letaknya ditengah keramaian jantung kota. Dunia saya benar-benar berubah. Mama papa yang waktu itu datang untuk berobat, sampai terenyuh melihat perjuangan anak bungsunya menaklukkan ganasnya ibukota. Saya pun bertemu dengan banyak sekali keluarga baru, anak-anak seperjuangan demi mencari sesuap nasi dan seember berlian serta sekarung titanium. Buku bernyawa saya pun lumayan bertebaran kala saya kerja, hahaha. Mungkin karena saya sendirian disini, merasa dunia ini begitu sepi jika tidak ada seseorang yang menemani disisi. Hidup saya dimasa ini benar-benar menyenangkan. Bebas dan berjalan apa adanya. Semua sesuai dengan yang saya mau. Keluarga yang menyayangi, sahabat yang menyenangkan, kekasih yang mencintai, serta uang yang sangat memadai.

Tetapi selama saya hidup, ada satu masa lagi dimana saya benar-benar diuji. Masa yang saya namai “Sekolah Menghargai“. Masa dimana saya benar-benar menghargai artinya waktu, artinya uang, arti kasih sayang serta arti persahabatan dan persaudaraan. Hal-hal yang selama ini hanya menjadi sekedar motto klise kehidupan. Masa itu adalah satu setengah tahun selama saya “nekad” mengambil keputusan untuk resign alias berhenti bekerja. Tinggal di ibukota, diwaktu yang tepat dan dalam keadaan yang menurut saya juga sangat tepat. Masa yang sangat mendidik saya untuk benar-benar mengerti dan menghargai makna hidup yang diberikan Sang Maha Mulia. Hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan terjadi dimasa-masa itu. Tuhan selalu punya cara unik untuk membuat saya belajar mengerti arti semua peristiwa yang Dia gariskan untuk kehidupan saya. Satu pedoman yang saya pegang sampai sekarang “Semuanya terjadi karena satu alasan”. Untuk semua yang terjadi diperiode satu setengah tahun itu, satu pelajaran yang benar-benar bisa mewakilkan semuanya, yaitu “Belajar Ikhlas”.

Maha Besar Allah….Terima kasih atas semuanya….semua hal yang engkau berikan, selalu tepat pada waktunya. Dua puluh tujuh tahun Engkau berikan saya nikmat yang luar biasa. Semua masa perjalanan yang tidak bisa disebut indah, tapi yang pasti sangat sarat makna.

Saya yang senang dengan keanekaragaman, dilahirkan ditengah keluarga yang menganut dua agama besar di dunia. Bisa merasakan meriahnya Ramadhan dan Lebaran ditengah keluarga tercinta, plus keluarga dan teman-teman yang turut meramaikan walau tidak merayakan, serta kehangatan pesta keluarga besar ditengah dinginnya musim hujan di bulan Desember dalam rangka memperingati hari Natal dan Tahun Baru. Sebuah cara belajar toleransi yang mudah dan menyenangkan.

Saya yang senang dengan alam, disekolahkan dipinggiran kota, setiap pulang sekolah selalu melewati perkebunan pala, goa dari rimbunnya pohon salak, sungai kecil yang masih jernih, peternakan sapi, ataupun bermain dipantai dekat sekolah. Selalu ada permainan baru, selalu ada petualangan baru, bersama para teman-teman di sekolah yang selalu punya hal baru untuk diperkenalkan pada saya. Kenangan masa kecil yang sampai sekarang selalu membuat saya bersyukur betapa beruntungnya dulu bisa bersekolah dipinggiran kota, bisa bercengkrama dengan para murid beraura ceria, bisa merayakan ulang tahun bersama tawa canda bersahaja para penghuni panti asuhan yang setiap tahun tulus berdoa bersama untuk hari bahagia saya. Sebuah kenangan indah yang tak lekang dimakan usia.

Saya yang tomboy, dipertemukan dengan banyak sekali sahabat lelaki, yang masih akrab sampai sekarang, bahkan mereka sudah seperti keluarga, dan menjadi penghuni tetap rumah saya dikala Lebaran tiba. Mereka juga adalah rombongan sahabat pertama yang menjemput saya dibandara ketika kami sekeluarga tiba dari Jakarta bersama jenasah almarhumah mama saya, serempak memeluk dan menghibur saya, membuat saya terharu dan merasa ternyata saya banyak yang menjaga. Bayangkan kalau saya dulu memacari mereka semua, dan semua hubungan kami kandas ditengah jalan, betapa sepinya rumah saya dikala Lebaran, dan betapa sedihnya saya menderita karena kehilangan. Sebuah memoar remaja tanggung yang ceria dan tanpa beban.

Saya yang kebingungan mencari jati diri, diberikan masa SMU yang menyenangkan. Belajar untuk menjadi seorang anak manis dirumah, tapi menjadi setan bandel yang bergaul riang kesana kemari. Tuhan memberikan saya teman-teman satu kelas yang terkenal seangkatan karena kebandelan dan kekompakkan kami. Anak-anak yang dulu pernah dikatai oleh salah seorang guru kami, gerombolan tidak bermasa depan baik karena kelakuan jahanam kami. Anak-anak yang menjadi juara satu dalam lomba taman antar kelas, bukan karena kami rajin bercocok tanam, tetapi karena kami lebih senang bermain ditaman daripada belajar didalam kelas. Puncak keaktifan remaja yang belum terlalu memusingkan perbedaan positif maupun negatifnya sebuah tindakan, semuanya dilakukan atas dasar keinginan tanpa pikir panjang. Disini juga saya menyadari kelebihan saya yang lain, saya sama sekali tidak takut dengan binatang apapun, bahkan cenderung suka pada jenis binatang yang membuat wanita lain lari terbirit-birit. Saya mulai belajar mengenal karakteristik diri sendiri yang lain dari biasanya. Sebuah pengalaman remaja labil yang menggairahkan.

Saya yang aktif namun sakit-sakitan, dikuliahkan dikampus yang menghadirkan semilyar peristiwa. Tetap berada dikampung halaman tercinta, ternyata tak seburuk prasangka. Berbagai kenangan berlatar telenovela campur komedi situasi terukir disini. Kecintaan terhadap buku, organisasi, dan beragam aktifitas, dipuaskan dalam kurun waktu empat tahun. Saya angkatan 2002, tetapi sejak Februari 2006 saya magang dan kebablasan bekerja dikantor tempat saya magang itu selama empat tahun, dan terpaksa mengambil sistem kebut sebulan untuk menyelesaikan skripsi ditengah kesibukan bekerja dan berleha-leha diibukota, pergi pulang Jakarta - Manado, menghabiskan sebagian tabungan saya, demi janji kepada almarhumah mama tercinta. Alhamdulillah saya dinyatakan lulus Desember 2008 dan diwisuda pada bulan Maret 2009. Menjadi anak daerah tak selalu jadi objek derita ternyata. Sebuah euforia anak muda yang manis nan romantis.

Saya yang punya mimpi segudang dan maniak berpetualang, dititipkan rejeki utuk bekerja ditempat yang mengharuskan saya keliling beberapa kota di Indonesia untuk keperluan pekerjaan. Tinggal dipulau Jawa yang sarat tempat bersejarah. Hidup terpisah dari keluarga yang mengharuskan saya belajar hidup mandiri. Pindah ke ujung Sumatera yang berdekatan dengan beberapa negara tetangga, berkesempatan mengunjungi negara-negara tersebut dengan biaya murah meriah. Terpaksa pindah ke Jakarta, yang sempat membuat saya menangis dua minggu ala perawan dusun ditinggal kekasih kawin lari. Perasaan takut sendiri dan jauh dari kekasih hati membuat saya meratap dan mengutuk keberadaan saya dikota ini. Tetapi tanpa saya duga, ternyata kota ini akhirnya membuka mata saya. Bisa dibilang, kota ini membuat saya menjadi lebih bijak menatap dunia. Bertemu para sahabat sejiwa. Berjibaku dengan kerasnya ibukota. Berdamai dengan takdir yang digariskan Sang Pencipta. Sekarang, entah kenapa, justru saya merasa, inilah rumah saya sebenarnya. Sebuah perjalanan istimewa seorang anak manusia yang beranjak dewasa.

Saya yang suka tantangan, diberikan keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak bisa diolah akal sehat. Keputusan yang membuat saya jatuh bangun menjalani berbagai kejadian selama delapan belas bulan lamanya. Menikmati pelannya alur hidup ketika saya sedang tidak terikat dengan apa-apa. Memaknai waktu yang semuanya milik saya. Mempelajari bahwa tidak selamanya keinginan berjalan bersama dengan kenyataan. Menyadari bahwa rencana Tuhan itu selalu indah pada waktuNya. Sebuah pencapaian hidup yang sarat makna.

CARA SAYA MENIKMATI HIDUP ^_^v


Ya Allah, nikmatMu apalagi yang hamba dustakan. Subhannalah , jalan yang Engkau berikan kepada saya sungguh tak terduga. Terima kasih untuk keluarga dan sahabat fantastis yang menemani hari,  terima kasih untuk cerita dan pengalaman dasyat selama ini. Menyadari betapa kerennya takdir saya, lahir dari keluarga sederhana namun berlimpah pelajaran berharga, menuntut ilmu disekolah yang penuh warna, dan dikaruniai berbagai pengalaman luar biasa. Terima kasih untuk sebuah kecerian dipagi hari, 30 November 2011, karena hari itu saya, kembali dibangunkan dengan tidak kurang suatu apapun, bertambah satu lagi jatah umur, untuk kembali menuliskan lembaran menjadi sebuah kumpulan cerita dalam umur baru saya, melangkah keujung cakrawala, sekedar menikmati indahnya dunia. Alhamdulillah, saya bangga dilahirkan sebagai seorang Shinta Irawati Saloewa.

klapertart jam 12 malam, kado dari para orang tercinta, kue ultah untuk para novemberian dikantor



Jakarta, 7 Desember 2011

Menara BCA Lt.55 jam 17.17 WIB

ketika bos lagi cuti nonton Mr.Big ke Surabaya, dan langit cerah seperti biasa ^_^

*telat beberapa hari diposting gara-gara gak punya waktu ngeblog #soksibuk #gigitlaptop

21/11/11

Surat singkat untuk Mama ( Jouke Femmy Rotinsulu dalam Kenangan: 26 Juni 1953 - 21 November 2008)

Dear mam,

Genap 3 tahun mam, sejak Jumat pagi ade menerima telepon dari Papa, mengabarkan tentang kepergianmu.

Gak percaya mam, kalo hari Kamis pagi, terakhir kali ade liat senyum teduh diwajahmu ketika melepas ade pergi ke kantor.

Tapi Alhamdulillah mam, penderitaan ragamu selama hampir dua tahun, akhirnya terbang ke langit bersama jiwamu.

Sedih juga mam, setiap lebaran sudah tidak ada lagi pudding sirup orson orange kebanggaanmu (yang tidak bisa kami buat lagi, karena dua anak perempuanmu ini sukses menghilangkan buku kumpulan resep masakan andalanmu).

Kocak yah mam, inget obrolan dihari-hari terakhirmu tentang niat dan pencapaian, soal skripsi dan impian masa depan, yang kayaknya sampai sekarang masih sulit ade wujudkan (skripsi sih udah mam, jadi sukses itu yang masih belum kesampaian,hahaha).

Maaf yah mam, soal salah satu titipanmu yang tidak bisa ade pelihara sesuai janji. Kami sudah mempunyai jalan sendiri-sendiri, tapi jangan khawatir, ade masih memelihara satu tali silaturahmi.

Kangen deh mam, sama harum parfum melati dan teriakan dipagi hari menyuruh ade untuk segera mandi dan bergegas menyongsong hari.

Kehilangan banget mam, dengan berondongan pertanyaan “De, sudah makan? Lagi dimana? Jakarta hujan ato panas sayang?”

Sedih juga mam, tiap ketemu saudara jauh dan mendengar kata “Wajahmu mirip sekali mamamu, mudah-mudahan beliau tenang disana yah sayang”.

Khawatir juga mam, melihat belahan jiwamu kini selalu sendiri. Beliau yang lebih senang menutup diri, seperti kehilangan permata hati, selalu menerawang dan menyepi. Maaf mam, kami belum bisa sepertimu, mendampingi beliau sebagai bentuk pengabdian sejati.

Bangga juga mam, mendengar berbagai cerita pujian tentang kebaikanmu yang sampai saat ini belum bisa ade atau kakak warisi dengan baik.

Kesel juga mam, kalau setiap ketemu saudara dan handai tolan, mereka selalu bertanya “Kapan kamu menikah, kasian mamamu disana gak tenang karena gak ada yang jagain kamu?” haduhh, emang belum cukup yah mam, umur ade sekarang, masih harus dikhawatirin seperti anak kecil pulang petang.

Waktu cepat sekali berlalu mam, banyak cerita tentang tanaman-tanaman hiasmu yang tak pernah sukses ade pelihara, dan akhirnya mati, tentang duo cucu perusuh rumahmu yang sangat mama sayangi, Jordan si pemalu yang beranjak dewasa dan mulai unjuk gigi, Zhania centil yang otoriter, manja dan gemar menyanyi, tentang koleksi berbagai keramik dan guci, dan tentang baju-bajumu dalam lemari yang ternyata kembali populer dan sukses ade pakai kesana-kemari.

Ahhh mam….andai engkau masih disini, banyak  cerita seru nan lebay khas anak tomboimu ini, soal kenapa dulu ade yang tadinya kerja tapi lebih memilih berhenti, soal teman-teman hebat yang ade kenal setelah mama pergi, tentang perjalanan-perjalanan seru mencari jati diri, tentang impian-impian yang ingin ade lakoni, tentang cita-cita yang satu per satu sudah ade raih, tentang hujan yang selalu membawa pikiran ini melayang pergi, dan tentang cinta abadi yang sampai sekarang masih belum ade temui, hahaha.

Doaku mam, semoga tenang diperaduanmu yang baru. Jangan khawatirkan duo peri  kesayanganmu, karena kami akan terus mengejar mimpi tanpa ragu, demi janji terbaik kepada sosok wanita tercantik yang akan kami puja selalu, yang kami sebut dengan penuh cinta kasih, Jouke Femmy Rotinsulu.

Jakarta, 21 November 2011

With Love,

Anakmu tersayang ^_^



mama,how are you today?


foto kami, saat masih lucu2nya, hahaha....


mama, dalam kenangan ^_^

11/11/11

Sebuah cerita biasa untuk seorang sahabat luar biasa (Selamat Ulang Tahun Harry Sudirman Kawanda)

“Hey bday boy”, bunyi sapaan saya hari ini.

“Hey almost bday girl”, balasnya sejam kemudian.

Cengiran saya melebar ketika membaca balasan pesan itu, mengiringi lamunan yang terbang ke 3 tahun silam. Bulan Juni 2009. Jam 18.30 WIB. Centre Culture Francais. Kelas A1. Celingak-celinguk masuk ke kelas yang berisi segerombolan manusia yang (saya pikir) hampir semuanya sebaya dengan saya. Tempat duduk paling belakang, dua kursi paling sudut adalah kursi favorit yang beruntung diduduki pantat saya yang aduhai ini.

Tiba-tiba “bwahahahahahaha…kampret lu..eh nyettt…buruan buruan…kelas mao mulai” suara toa menggelegar tanpa kelihatan pemiliknya, tiba-tiba membahana dari luar kelas.

“Busyet…toa bener, ini beneran di Salemba,apa gw yang nyasar dihutan yee” pikir saya saat itu yang kebetulan lumayan ngantuk, dan kaget bukan kepalang dengan suara bak petasan bawang disiang tentram.

Dan munculah dari balik pintu, dua sosok yang cengengesan masuk kelas dengan grasa-grusu dan hmmm… hebohnya kedua bocah bertampang super tengil itu bikin tampang saya mendadak terlipat semi jajaran genjang. Saya tidak menyangka, saat itu saya melihat dua sosok spektakuler yang nantinya akan mengisi daftar panjang deretan orang-orang yang sengaja didatangkan Tuhan untuk menemani dan mewarnai hari saya, yang saya sebut dengan penuh kasih….SAHABAT.

duo bocah ajaib yang menjadi soulsista saya, jiahahah...SOULSISTA Cyinnn!!! SOULSISTAHHH


Harry Sudirman Kawanda, salah satu bocah ajaib yang saya lihat malam itu. Berbaju formal, bergaya fenomenal alias amburadul, sekelumit ingatan yang merupakan kesan pertama saya pada si kulit hitam bermata sipit ini. Aura ceria jelas terpancar buat mata orang-orang yang pertama kali melihatnya. Tetapi entah mengapa, sejak awal melihat dia, saya melihat sosok serius dan keras kepala yang tersembunyi dibalik sosok kocak dihadapan saya itu (hehehe, gak salah-salah banget kan tebakan saya waktu itu).

Harry, sejak saya mengenalnya, selalu membuat orang yang mengenal dia cepat merasa nyaman, menjadi akrab lalu menganggapnya seperti keluarga. Kedekatan kami berawal ketika saya mulai menumpang alias nebeng motornya untuk pergi dan pulang ke tempat les di daerah Salemba, karena kebetulan kantor kami berdekatan, dan pulangnya juga searah.

Kuning, Perancis, Novemberian, suara toa, hujan, pantai dan laut dan karang, mood naik turun, selam, jalan-jalan dan bertualang, fotografi, buku, film, konser musik, malas mandi, memasak, ceroboh, keras kepala, eksperimental, radang tenggorokan, rame, senang berteman, cinta anak kecil, teh dan klapertart, pelor alias bisa tidur dimana saja dalam sekejap mata, bosan dengan kenyamanan, adalah sedikit dari persamaan saya dan si hitam yang lahir dan besar Makassar ini.

Awalnya saya kira Tuhan punya pengecualian untuk menciptakan manusia sempurna (setidaknya versi pada umumnya). Pintar (walaupun selalu mengaku berkapasitas otak tiga tetes, dan sering absen, bocah sialan ini selalu mendapatkan nilai tertinggi diantara anak-anak gank kami dalam ujian di tempat les), berwawasan luas (kadang saking happeningnya, dia punya berbagai pengetahuan unik, misalnya tau lebar dan panjang jalan jendral Sudirman ato jumlah bintang dilangit alangkah indahnya), errrhhh…dengan tinggi hampir 180cm, kulit sawo kematengan, berat badan yang diolah dengan squash,renang, main holahop dan deretan olahraga super eksisnyaa yang bejibun itu, plus kegemaran melahap sayur ala domba Afrika, ditambah suara berat-berat basah (hadeuhh), membuat si hitachi ini bisa dikategorikan lelaki sejuta penggemar (yaa yaaa…saya akui dia memang punya banyak sekali penggemar, tua muda, miskin kaya, wanita maupun pria, hahahahaha), tapi diluar semua kelebihan itu, yang paling membuat dia dicintai oleh semua orang yang kenal dengannya adalah, dia sangat tau caranya untuk membuat orang lain bahagia, lewat candaan, perhatian, perlakuan, atau mungkin sekedar lewat tutur kata yang meluncur dari mulut manis penuh kenistaanya itu.

Bumi seperti berputar disekitar Harry. Andaikan dia iseng nyalonin diri jadi pak Camat, mungkin dia bisa berkuasa beberapa dekade. Kalau saya mau iseng bikin kuisioner tentang sobat saya ini, mungkin hasilnya bisa bikin hidung jeleknya itu kembang kempis gak karuan (tentunya saya tidak seiseng itu juga, disamping males liat hidung kembang kempis ala dia). Jangan ditanya soal para penggemarnya. Dari anak kecil, anak tanggung alias ababil, orang dewasa (bertebaran layaknya bintang dilangit dan pasir dipantai), sampai emak-bapak yang berambisi mengangkat dia jadi menantu. Belum lagi deretan para lelaki yang amat sangat doyan sekali dengan dirinya yang dianggap “super duper” (bukan saya yang member nama dia dengan 2 kata spektakuler itu, tapi salah seorang teman saya yang ajaibnya suka teramat sangat dengan dia, dan ehemm…dia lelaki lho, hahaha). Sempat terpikir kalau saya benar-benar kehabisan duit dan tenaga untuk kerja, saya tinggal “menjual” sahabat saya ini ke para penggemarnya, dan tradaaa….saya pasti langsung bisa beli rumah dan mobil dan sapi dan sawah dan keliling Eropa, hahahaha...

Soal sosok idola, tidak berlebihan saya bercerita. Boleh percaya, boleh juga anggap saya berlebihan mendeskripsikan karena saya sahabatnya. Tetapi, waktu tiga tahun cukup membuat saya jadi saksi mata, betapa dia punya semilyar pesona. Jiwa, raga, seakan punya kharisma yang tiap hari bertambah. Andaikan cinta cenderung gila dari para wanita itu bisa saya uangkan, lagi-lagi saya bisa beli semuanya yang sudah saya sebutkan tadi,hahaha. Pernah suatu kali, saya dan dia jalan-jalan disalah satu mall dipusat Jakarta, lalu kami iseng menghitung, berapa banyak pria yang melirik saya atau dia, dan sialnya, banyakan pria yang meliriknya daripada saya, huaaaaa……

my bestie with his girls


Tetapi, semakin hari, saya jadi tau, Tuhan itu maha adil. Sahabat saya ini tetaplah manusia biasa, bahkan bukan juga sosok setengah dewa. Semakin kami dekat, semakin pula saya tau betapa tidak sempurnanya sahabat saya ini. Dia masih bisa marah sampai hampir bisa menelan “beruang” sekaligus saking emosinya, atau bisa sedih sampai tidak bisa lagi berkata-kata (diam dan menghilang seperti wanita malam kehilangan pelanggan, hahahaha), bisa kecewa sampai kehilangan selera makan dan berceloteh (ingat kejadian batal ke Timor Leste, dan sambil menghibur diri dia bilang “at least gw bisa ikut Ramadhan-an tahun ini ama kalian), bisa sakit sampai hampir dipanggil Sang Maha Segalanya (waduh, kalau mengingat itu, gantian saya yang deg-degan mengingat kecerobohan saya,dan sialnya selalu merasa bersalah sampai sekarang, maap banget yak boy L ). Tetapi seperti kata pepatah, manusia hadir untuk melengkapi sesamanya, demikian juga Harry yang diciptakan tidak sempurna agar bisa menyempurnakan diri dengan orang sekitarnya.

Momen tertawa, hohoho…. Bersama Harry Kawanda, jaminan anda akan sering sekali tertawa. Lumayan, tidak perlu repot-repot beli obat anti penuaan yang mahalnya nauzubillah. Cukup bersahabat dan sering-sering jalan bareng dia, dijamin anda cukup menyediakan satu kotak tisu (jaga-jaga kalo tertawa sampai keluar air mata), obat keram pipi dan obat suara serak yang banyak dijual bebas diapotik, hahaha. Dia punya sejuta cara untuk membuat hal yang biasa menjadi luar biasa. Tempat curhat sejuta umat, bisa jadi peluang usaha untuk buka praktek dan jadi kaya raya (dasar c***, hahahaha).

laugh and fun with that fuckin' boy


Momen sedih, ahhh…tak terhitung tangan itu memeluk kami para sahabat, ketika rundung duka menghadang. Sorot mata teduh yang menentramkan selalu hadir jika dibutuhkan. Tutur kata damai, hiburan disaat hati dalam keadaan perang. Candaan ringan, yang membuat kami akhirnya tertawa, dan sejenak lupa dengan hadangan masalah.

Momen seru dan konyol, jiahahahaha…bisa habis masa pemerintahan presiden SBY kalau saya merunut satu persatu kekonyolan dia bersama para sahabat. Tertidur dan hampir ditabrak kopaja ketika naik motor, diloncatin monyet diperempatan Matraman dan ditertawakan semua orang dilampu merah, nyanyi joget-joget didepan banyak orang, berburu objek foto ditempat-tempat eksotik, keliling kota sambil bernyanyi riang gembira diatas motor kebanggaan, belum lagi berbagai kisah perjalanan seru ke seluruh penjuru Nusantara dengan berbagai komunitas petualang.

everyday is a fun day with my damn bestie :))


Anjing beruntung, julukan yang disematkan teman-temannya. Kadang saya iri seubun-ubun dengan segala keberuntungannya. Hampir jadi salah satu penasihat pribadi Xanana Gusmao (walaupun gak jadi karena alasan Xanana tiba-tiba sadar dia salah pilih,hahaha), perjalanan ke Singapura gratis hanya untuk membeli permen karet milik bosnya, terpilih menjadi salah satu finalis ACI (Aku Cinta Indonesia, program jalan-jalan gratis dari salah satu media elektronik), dan mendadak selebritis gara-gara dipilih untuk jadi finalis yang diwawancarai bareng Nadine Chandrawinata dan Nicholas Saputra (entah satu tim dengan Nicholas Saputra ke Maluku selama hampir tiga minggu bisa dibilang beruntung ato bencana ya jeung,hahaha), dapat Macbook gratis hasil hibah dari mantan bos (Cuma dari hasil si bos bilang “ahh…saya bosan nih,pengen ganti yang terbaru” dan si jahanam itu nyeletuk “kalo gitu yang ini boleh donk buat gw bos”..cihhh…sialannn), dan entah keberuntungan apalagi yang malas untuk diingat (iri mampus, pengen jambak rambut sendiri).

Lelaki sejuta impian, julukan saya untuknya. Impiannya untuk keliling dunia, belajar banyak bahasa indah, berlari keujung cakrawala, berenang berbagai aliran sungai sampai keujung samudera, mengenal berbagai karakter manusia, menapaki semua tanah ciptaan Sang Maha Pencipta, membuatnya berkeputusan untuk berkelana, berbekal doa dan rencana.  Meninggalkan posisi nyaman di ibukota tercinta, meninggalkan keluarga yang setia menanti dirumah, meninggalkan sahabat yang selalu merindukan hadirnya.

Harry Sudirman Kawanda 8 November 1984 - 8 November 2011


“The world is a book, and those who do not travel read only a page”. (Saint Augustine)

Malam ini alarm pengingat ulang tahun di ponsel saya berbunyi.  Dilayar tertulis “Harry Kawanda’s Birthday, 8 November 2011”. Ahhh kawan, apa kabarmu disana, masih semangatkah kaki itu berjalan dan berpetualang?  Hari ini patut dirayakan, karena hari ini, 27 tahun silam, Tuhan mengirimkan malaikat kecilnya, banyak tawa bahagia dan gembira, dihadirkan menandai kedatanganmu, ditengah para kerabat. Hari ini, 27 tahun kemudian, Tuhan juga telah mengaruniakan setan kecilnya, menebar banyak canda ceria, berbagai kegilaan yang menciptakan warna warni gradasi kenangan tak terlupakan, dibenak kami para sahabat.

“Count your life by smiles, not tears. Count your age by friends, not years”(Unknown)




Joyeux Anniversaire Mon Amie, Happy Birthday Boy, Selamat Hari Jadi Kawan… tidak akan cukup satu halaman untuk menuliskan berbagai cerita tentangmu. Seperti tak habis satu hari dua puluh empat jam menceritakan tentang berbagai kenangan konyol hasil jejakmu dihati kami. Sehat dan bahagia selalu yah Boy, dimanapun kakimu melangkah. Bersinarlah terus laksana bintang diujung sana, sehingga tidak susah bagi kami untuk melihat terang itu walau jauh hadirmu. Buat kami, para kerabat dan sahabat bangga, bahwa kami berkesempatan pernah mengenal seorang manusia hebat bernama Harry Sudirman Kawanda.

Jakarta, 8 November 2011 20.10 (masih waktu Indonesia Barat Area Jakarta)
Diatas Commuter Jakarta-Serpong, ketika ide tulisan berlari secepat roda kereta kebanggaan kota tercinta.

#sorry Nyingg, gw postingnya baru hari ini. Bukannya sok mau latah 11-11-11, tapi karena kebodohan gw, laptop yang ada si tulisan ini 2 hari ketinggalan mulu -.-“ (better late than never, but never late is better :p )

27/10/11

Melipir Kenangan


REVE
Hujan plus petir menggelegar ini, membawa saya terbang ke hari itu, beberapa tahun yang lalu, asal kenangan yang telah lama tinggal dan beranak pinak dibenak saya.
“Nyet…dimana lu? Buruan sihh…keujanan kita ntar”
Suara itu, suara yang pada waktu itu hampir setiap hari menghiasi gendang telinga saya, lagi-lagi menyapa saya lewat sambungan telepon.
“Doelah...baru juga gluduk-gluduk...bentaran sih, nanggung ini, lagian kalo ujan yah ujan aja, basah tinggal mandi, ato kejar-kejaran dihalaman kantor lu kayak Rahul ama Anjali”
Saya menjawab sekenanya sambil tetap sibuk mengetik laporan yang harus dikirim ke email bos sebelum saya pulang.
“Najisss keripissss… sampe jaman kuda makan es krim juga jangan pernah ngarep gw bakal ngelakuin hal itu yeee… ”
Umpatan khas yang terbiasa keluar dari mulut kurang hajarnya itu membuat saya tertawa-tawa.
“Ya kalo najis guling-gulingan dipasir aja, sekalian ngebersihin dosa lu yang banyaknya ngalahin butir pasir pantai”
Pembicaraan-pembicaraan konyol kami, selalu menjadi saat-saat yang saya tunggu disore hari, ketika rentetan email, dokumen, dan laporan berebutan masuk ke otak saya, menguras semua isinya yang tak seberapa, kemudian membuat wajah manis saya ini tidak berbentuk jajaran genjang teratur lagi.
Terlalu banyak hal yang kami lalui. Sore cerah ketika kami menikmati dua piring batagor plus dua mangkok bubur ayam didepan kantornya sambil mengobrol dengan abang penjualnya tentang politik negara ini, sore mendung ketika saya hanya sanggup menahan nafas malu ketika dia dengan seenaknya berteriak-teriak sambil joget ditengah jalan karena visa liburannya disetujui, sore berawan ketika wajah yang selalu ceria itu tiba-tiba semendung langit ketika dia bercerita tentang salah seorang temennya yang sedang dirawat karena sakit parah, sore gerimis ketika kami berlarian sambil tertawa-tawa karena dikejar anjing yang lepas ketika kami mampir disebuah kompleks perumahan terkenal didaerah pusat kota yang kami sambangi demi niat mencari bakwan tersohor seantera ibukota yang mangkal disekitar situ, sore badai ketika kami terpaksa berteduh disebuah halte karena takut motor yang biasa kami kendarai mogok kena air diskonan dari langit, dan kegiatan berteduh itu dihabiskan dengan acara bernyanyi lagu-lagu berbagai genre sambung menyambung dan terkadang ditambahi dengan tarian-tarian konyol yang membuat seisi halte menoleh dan menganggap kami berdua pasien yang lepas dari rumah sakit jiwa.
Saya rindu sekali. Rindu suara berat itu, rindu suasana riang itu, rindu sosok tengil yang membuat saya harus selalu menonjok atau melempar sandal kearahnya ketika kami sedang bercanda.

Hmmm…Va…andai kamu masih disini…
CHUVA
Debur ombak yang terdengar bagai lirik lagu rock yang mengalun cadas mengagetkanku, membuat lamunan panjang tentang sosok riang berambut sebahu itu terhenti.  Jiwaku ini seakan terbang lepas dari raga, melanglang ke seberang lautan yang berada tepat didepan tempat tinggalku sekarang, berlayar jauh ke tempat si bawel itu berada.
“Nyonggg…dimenong??? Guweh udah karatan neh, dikit lagi jadi putri batu yang bakal jadi objek wisata tercihuy dikota ini”
Repetan suara sumbang khasnya membuatku tersenyum disela meeting panjang sejak pagi tadi yang membuat saraf-saraf kepalaku seperti diikat jadi sapu lidi lalu dipake membersihkan kandang ayam.
“Dihatimu donkkk….mo dimana lagi si ganteng ini berada..gwelaa lohhh”
Jawabku sekenanya, sambil mengambil bullpen untuk menulis ide untuk bahasan materi meeting lanjutan esok, yang tiba-tiba muncul dikepala sepersekian detik setelah mendengar omelan panjang barusan.
“Mana ada, dihati gak ada, dipikiran gak ada juga, apalagi direlung jiwa…gw ini sendiriannn…sendiriaannnn…ihhh…amit-amit jabang bakso deh,mending gw mati ditabrak truk sampah bantar guring deh”
Balasan yang super jayus yang selalu keluar dari mulutnya itu, spontan membuatku hampir jatuh dari kursi saking gak lucunya.
“Ya ampun REVE!!!! Itu gak lucu sama sekaliii….pengen nangis gw nyett saking putus asa ama lelucon jayus lu itu…stop it phuweleesss!!!!!  Lagian yah, gak pake curhat juga bayar berape yeee???
Yah, si anak ceria ini terkadang membuatku putus asa dengan segala leluconnya yang cuma bisa dipahami oleh dia dan PenciptaNya.
Kami, selalu berbagi semangat lewat pembicaraan-pembicaraan ala kami. Lucu, hangat, dan bersahabat. Tidak banyak yang bisa ku ingat tentangnya selain tawa cerianya, omelan panjang disertai sandal yang selalu melayang kearahku ketika dia sudah tidak sanggup lagi membalas ledekan-ledekan yang gencar kulemparkan. Sebenarnya, aku hanya takut kehilangan momen ceria, atau terjebak diantara cerita cinta cengeng yang bisa membuat dua jiwa yang tadinya konstan berjalan beriringan kea rah yang sama menjadi lari kocar kacir ke arah yang berbeda.
Ketika aku memutuskan untuk hijrah ke tempat yang jauh dari kota asal kami, untuk merubah nasib dan sekedar melakonkan apa yang aku sebut "perjalanan kaki, petualangan diri", dia hanya tertawa dan dengan bola mata berbinar mengatakan “Wahh…seriusan??? Hebattt…anjritttt…iri abis gw ama lu…pasti gw dukung nyong, kira-kira lu butuh apa aja???”
Rencanaku, melebur dengan semangat dia membantu mencari info disana sini, membuat ku benar-benar merasakan seluruh alam raya turut serta dalam pelaksanaan rencana hijrahku ini. Aku, hanya membawa sedikit bekal ego dan pengalaman, benar-benar berniat ingin mencari jati diri yang belum juga kutemukan dikota ini. Akhirnya, ketika saat keberangkatanku tiba, dia yang tadinya paling sibuk mengkoordinir semua hal tentang keberangkatanku, mendadak jadi seperti hilang ditelan bumi.

Sehari sebelum hari “H”, dia datang kerumahku, seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa. Tapi kali ini tidak ada lagi perang ledekan, hanya diskusi semi serius yang terjadi diantara kami. Hampir tengah malam ketika dia memintaku memanggilkan taxi. Tidak mau diantar pulang olehku seperti biasa, dengan alasan aku katanya harus menyimpan tenaga demi perjalanan panjangku esok. Didepan pagar, dia hanya tersenyum, tiba-tiba bola matanya berbinar khas dan berkata “Hey boy, jaga diri baik-baik yah. Jangan ngotorin tanah leluhur orang dengan sampah-sampah otak busuk lu itu. Jiahaha, makan yang teratur, banyak minum air putih, sama jangan lupa telpon nyokap lu sering-sering buat ngabarin. Oke?
Repetan panjang yang membuat aku bengong selama sepersekian detik. Belum juga habis bengong diwajah ini, ketika dia tiba-tiba memelukku, sebuah pelukan hangat khas anak itu, dengan bisikan lirih yang membuat hatiku berkerut, entah terharu entah apa, aku sendiri pun tidak jelas dengan maknanya.
“Semoga Tuhan memberkatimu disetiap nafas dan langkah. Sehat dan bahagia terus yah Boy, dimanapun lu berada. Jangan kangen ama gw yak”.
Doa pendek khas si ceria, membuat aku kembali merasakan rasa hangat yang tiba-tiba menjalari wajah dan dadaku. Pelukan erat kubalaskan, bukan sekedar untuk membalas pelukan sahabatku ini, tetapi untuk menambah rasa hangat yang menciptakan satu kesimpulan buatku, nyaman.
Repetan ceplas-ceplos dengan mulut yang perlu disekolahkan, tampang kucel yang gak ada cantik-cantiknya, senandung naik turun yang kebanyakan nada fals dibanding merdunya, gaya bicara sotoy campur songong yang terkadang membuatku ingin menendang pantatnya atau menjitak kepalanya yang dihiasi rambut sebahu yang kadang diikat seadanya. Eh kampret, demi dewa laut yang membuat deburan ombak semakin kencang ini....kayaknya aku kangen bocah itu.
Ahhh…Ve, seandainya kamu ada disini….


Jakarta, 26 Oktober 2011  waktu kompie 17.43 WIT

Menara BCA, kala hujan badai menampar-nampar kaca jendela kantor *efek magis air dan petir mengukir getir.




18/10/11

My Bos, My Bestie, My Brother (Happy Birthday Golden Boy)

Saya sedang asyik mengetik dan belajar membuat laporan anak lapangan, ketika wangi serupa melati itu hinggap mengganggu hidung saya. Dan seketika ada suara "eh,kamu anak baru yah? Yang jadi sitac admin baru?"

Alhamdulillah,wangi melati itu bukan sosok hantu disiang bolong yang iseng bertamu dikantor baru saya. Ternyata wangi itu berasal dari sesosok pria-berbaju-rapi-ala-esmud-tapi-agak-maksa-biar-keliatan-berwibawa. Kemeja abu-abu, celana hitam, sepatu pantopel hitam, jam tangan besi ala esmud (bukan jam sporty untuk seusianya), membalut tampang polos yang saya tau pasti umurnya tidak beda jauh dengan saya. Sangat kontras dengan teman-teman setimnya yang sama-sama baru sampai dari lapangan, anak-anak berbaju sporty dengan gaya khas anak Jakarta yang nyasar ke Semarang. Si anak rapi wangi melati tadi tanpa basa-basi langsung meminta saya untuk berdiri karena komputernya mau dipake untuk membuat laporan. Ok, agak-agak menyebalkan kesan awal saya tentangnya. Seperti biasa, saya suka sok tau sekali menebak karakter orang pada awal bertemu, dan menurut saya, si abu-abu wangi melati ini orangnya cuek, suka semaunya dan agak-agak egois (damn rite, sampai sekarang saya selalu bangga dengan insting saya yang hampir 80 persen benar dalam menilai orang,hahaha). Tiba-tiba "Ko...Eko...mana laporan tadi"...dan hampir saja saya tertawa ngakak mendengar namanya...Eko?waduhh...gaya keren wangi bodyshop white musk, tapi kok bernama seperti OB kantor mama saya di Manado (sorry bos,no offense,hahhaha).

Well, itulah awal pertemuan saya dengan sosok yg tingginya beda 5 centi dengan saya itu (kami pernah iseng mengukur tinggi dari kaca busway, hahaha). Perkenalan formal saya dengan si abu-abu melati ini, adalah pada saat kami akan sama-sama sholat ashar.
Dia dengan tampak kaget luar biasa melihat saya dimushalla dan nanya "lho,kamu sholat mbak?" Yeahh...saya sudah terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan kayak gini (dengan tampang cenderung putih kala itu,rambut panjang marun, memang agak-agak mengherankan sebagian orang ketika saya masuk mesjid ato mushalla).
Saya pun menjawab "mbak? Emang gw setua itu ye?".
Dia "abis gak tau nama juga,masa panggil hey hey. oke...mo salaman,udah wudhu. Nama gw Eko, lu siapa?".
Saya "maunya sih Tamara Blezinsky, tapi apadaya yang bener Shinta. Salam kenal,gw baru nyampe kemarin dari Jakarta".
Dia "nama bagus bagus kok pengen ganti, kesian ortu lu, Shinta nama bagus,pasti ada artinya"...denggg...baru kenal, saya sudah diajak adu mulut,pas mo sholat pula, bener-bener harus nahan bete, mentang-mentang dia anak lama, ketus amat jawabnya.
Akhirnya adu mulut berakhir karena kami sepakat kembali ke niat awal masuk mushalla,yaitu menghadap Sang Maha Agung. Selesai sholat, kami sedikit ngobrol tentang latar belakang, basa-basi sebentar. Saya jadi tau, si wangi melati ini blasteran kalimantan-jambi, lulusan UNDIP fakultas teknik lingkungan angkatan 2000 ( walaupun sebenarnya untuk tahun kelahiran 1983, anak bungsu dan satu2nya laki-laki dari tiga bersaudara ini pantas masuk kuliah angkatan 2001).

Esoknya, saya lagi-lagi ketemu dia di mushalla. Benak saya bernyanyi sumbang "haduhh...kenapa lagi ketemu ni anak, tar berantem lagi". Ternyata, dia cuma diam, dan langsung mengangkat takbir untuk sholat, bersedia jadi imam tanpa saya minta. Yeah rite, awal yang bagus setidaknya. Selesai sholat, seperti biasa kami salaman, dan apa yang terjadi, dia menyuruh saya mencium tangannya dengan alasan "lu anak kecil, mesti nyium tangan orang yang lebih tua". Sialan, tengil bener ni anak. Saya "hey, gw nyium tangan ke bokap nyokap, kakak gw, ama ntar ke imam gw, alias laki...enak aje nyium2 tangan lu". Dia "heh!!! Barusan gw jadi imam lu, jangan banyak ngebantah" dan dalam sepersekian detik tangan itu sukses mendarat (karena didorong sama yang punya tangan) diwajah saya yang cantik nan rupawan ini, siyalannnn...saya kalah adu mulut sekali lagi!!!!

Sebulan kemudian, kami akhirnya jadi lumayan bersahabat. Saya yang harus mengumpulkan laporan anak-anak lapangan, akhirnya mau tidak mau harus bisa berakrab ria dengan mereka. Saya juga jadi lebih mengenal kepribadian mereka satu per satu. Eko kala itu, adalah anak pintar namun manja yang minta dituruti kemauannya. Tapi yang saya senangi, dia selalu mengumpulkan laporan lengkap, tanpa perlu saya perbaiki (seperti beberapa anak lapangan yang harus saya teriaki karena bandel dalam hal laporan). Hal yang paling saya ingat, dia bisa menulis laporan dengan kedua tangannya, sama baiknya tangan kiri dan kanan.


Dua bulan kemudian, saya resmi jadi asisten pribadinya Eko, dikarenakan dia yang tadinya bekerja sebagai anak lapangan yang bertugas untuk survey, diangkat menjadi koordinatornya anak-anak lapangan. Otomatis, saya yang jadi sitac admin, harus membantu dia dalam mengkoordinir para anak lapangan. Hmmmm....jangan ditanya kenapa dia bisa naik jabatan, tapi tanya apa yang dia perbuat untuk "memperbudak" saya ketika jabatannya naik. Berbagai tabel excel yang harus saya perbaharuin isinya setiap hari, tatapan tegas khas atasan (bukan karena dia gila jabatan, tapi karena dia tau, saya memang harus agak "dicambuk" karena kemalasan akut yang datang hampir tiap hari), ataupun berbagai tugas yang saya dan Fanny (rekan saya yang baru, sesama asisten yang bertugas membantu tugas Eko) harus kerjakan.

"Golden Boy" adalah sebutan untuk si anak ajaib dikantor kami ini. Kemampuan dia untuk menghafal riwayat setiap site yang kami tangani, mampu menjadikan dia andalan cenderung "tangan kanan" Regional Manager kami saat itu, yang saya sebut dengan inisial "JRH". Saya dan Eko pun, tergabung dalam satu gank, yang kami beri nama gank "Anak Bebek". Anak-anak muda yang terdampar di Semarang untuk mengadu nasib, demi sepiring nasi dan seember berlian juga segarasi mobil mewah (halah). Seringnya Eko ikut dalam meeting regional, menjadi ajang ledekan di gank kami. Istilah golden boy alias Anak Emas pun menyeruak (dan ada juga si anak perunggu, peluk ketjup yah Rudiiii,hahahaha).

Eko, lama kelamaan, saya kenal sebagai sosok sahabat yang bisa menjadi rekan diskusi sekaligus teman bercanda yang seru. Dia juga jadi seorang bos yang baik, dalam hal mendidik saya dan Fanny untuk disiplin dalam bekerja, walaupun rekan setim itu berumur sama. Dia bisa membuat saya hormat sebagai seorang bawahan, tapi sayang sebagai seorang sahabat. Berbagai cerita sudah saya lewati bersama sahabat saya ini. Mulai dari kisah kasih percintaan bodoh saya, menangis ditengah keramaian Simpang Lima karena diomelin pacarnya cowok yang waktu itu pedekate alias mendekati saya, dan sialnya saya sebagai korban pedekate gak jelas yang tidak tau apa-apa, malah dimaki-maki perempuan asing yang namanya saja saya tidak tau, dan Eko adalah orang pertama yang saya telpon untuk melampiaskan kekesalan saya itu, juga ketika saya jadian dengan salah seorang anak lapangan yang waktu itu dikomentari Eko dengan nada bercanda namun datar khas dia "Jangan bilang lu jadian ama dia gara-gara dia susah ngumpulin laporan" jiahaha...siyalann...gak lah, saya tidak sepicik itu kok dalam hal kerjaan.

Banyak kejadian konyol yang saya alami bersama anak itu. Salah satunya adalah ketika kami berdua dikerjain para Anak Bebek. Ceritanya, saya yang terkenal pelupa, waktu itu lupa mengunci pintu pas masuk ke WC. Eko, yang kadang suka datang keluguannya diwaktu yang tidak tepat, sukses ditipu salah seorang anak bebek yang mengantri tepat setelah saya. Eko yang kebelet pipis saat itu, dikerjain Decky (teman yang mengantri setelah saya), Decky bilang "masuk aja, kosong tuh WC". Dengan bodohnya Eko percaya, dan main nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu, dan karena letak pintu dan kloset yang berjauhan, saya yang asyik menghayati adegan pembuangan limbah cair tubuh (baca: pipis), jadi kebingungan antara pergi menutup pintu ato memakai celana lagi, dan hanya sanggup berteriak "ncotttt goblokkkkkk...ngapain lu masukkkkk", dan Eko dengan tampang bego melongo kebingungan (bukannya refleks tutup pintunya lagi) berteriak "lagian kenapa lu gak kunci pintu bodohhhhh..kebiasaan nihhhhh bocahhh"...dan setelahnya...sudah bisa ditebak adegan barusan menjadi bahan lelucon anak-anak selama beberapa hari, duhh....dan sedih mengatakan, kejadian itu berulang dua kali selama kami sekantor (ya ya ya, kami berdua memang kebo, alias dua bocah yang mengulang kesalahan yang sama persis).

Kawinan Bebe, reuni Terheboh para "Anak Bebek"


Kejadian lucu yang membuat Eko jadi bos favorit saya juga ada beberapa yang masih lekat di ingatan. Pernah saya tertidur diatas meja (untuk kesekian kalinya), dan sialnya waktu itu, Mr. JRH kebetulan lewat dan saking dia "ngefans" dengan Eko dan segala laporannya, dia berhenti untuk sekedar basa-basi nanya laporan, dan walaupun Eko sudah mencubit saya berulang-ulang, saya masih saja tertidur. Tau apa yang dia bilang ke Mr.JRH, "maaf Pak, Shinta kayaknya kurang enak badan, tadinya mau saya suruh pulang,tapi dia berkeras dikantor aja, mo bantuin kerjaan saya, kebetulan lagi padat, jadi saya suruh tiduran sebentar biar enakan". Mr.JRH yang memang sudah "kepelet" dengan Eko, hanya mangut-mangut dan langsung pergi keruangan beliau, dan setelah itu saya sukses dibangunkan dengan cara agak sadis, yaitu...dijewer dan dicubit (Eko dan mantan guru SD saya memang bisa disandingkan sadisnya dalam soal hukum-menghukum).

Saya juga pernah bergadang sampai jam 6 pagi dikantor, karena menyiapkan laporan untuk meeting regional. Bersama Eko dan seorang lagi anak lapangan yang (lagi2) mau "dipelet" Eko untuk membantu kami menyiapkan laporan, kami bertekad untuk menyelesaikan laporan itu dalam semalam. Walhasil,jam 4 mata saya sudah tidak kuat. Saya pun tertidur di mushala. Kali ini Eko tumben-tumbenan membangunkan saya dengan cara manusiawi. Pelan menepuk kepala saya (oke..itu tampak seperti membangunkan anjing peliharaan sih,hahaha), kemudian berbisik perlahan "udah subuh Shin,solat gih", Saya "ngantuk boss...tar ajaaa", Eko "gak boleh gitu, Allah itu nda pernah nunda rejeki,masa kita nunda melapor ke Dia". Dan dia pun menarik saya, memaksa mengambil wudhu.  Abis sholat, saya kembali tertidur (hahaha,asisten tidak berguna), sementara Eko dan Roffi (si anak lapangan), meneruskan kerja mereka membuat laporan. Jam 7,kami pulang ke kostan untuk mandi. Dan saya yang memang sangat cape, tidak mampu lagi ke kantor, dan Eko...wahhh...dia kembali lagi ke kantor jam 9 pagi lalu ikut meeting regional sampai sore. Harus saya akui, bos kecil saya ini memang hebat!!!

Kami berpisah setelah saya pindah tugas ke Batam, dan tidak lama, Eko memutuskan untuk mengundurkan diri dari kantor kami, dan pindah ke kantor lain di Jakarta, dengan alasan “lebih cocok dengan bidang ilmu pas kuliah”. Persahabatan kami masih berlanjut, tidak seseru dulu sih, tapi setidaknya kami masih saling mengabari kabar konyol masing-masing.

Sekarang, sahabat saya ini sedang “bertualang” di benua asal klub Barcelona kesayangannya. Beasiswa yang akhirnya dia terima, membuat dia mengundurkan diri (lagi) dari kantornya, memilih untuk sibuk belajar dan kadang jalan-jalan diberbagai negara yang sekarang sering saya lihat dihalaman akun jejaring sosialnya. Terbayang lucunya kejadian ketika saya menemani Eko berburu barang-barang murah sebelum dia berangkat. Adegan tawar menawar ikat pinggang imitasi (yang kalau tidak salah langsung rusak 2 minggu setelah dia tiba di Jerman, jiahahaha…harga gak pernah bohong bro!!!), milah milih baju kuliah yang berakhir dengan foto-foto dikamar ganti ala fotobox (tertawa-tawa ngakak yang menyebabkan kami dipelototi mbak-mbak pelayan), sampai desak-desakan di busway dengan obrolan serius mulai dari sekolah sampai penataan transportasi Jakarta yang semrawut.

kamar ganti yang berubah fungsi jadi tempat fotobox, jiahahaha


Selama merantau, dia hanya pulang setiap liburan semester, untuk sekedar melepas rindu dengan keluarga, teman, atau deretan makanan favoritnya (dan liburannya terakhir hampir membuat dia masuk RS gara-gara perutnya sudah tidak kebal dengan makanan pinggir jalan, hahahaha…gaya lu bosss). Bahkan Lebaran kemarin dihabiskan hanya memakan opor yang dia buat sendiri diapartemennya, kemudian dilanjutkan dengan belajar untuk persiapan ujian keesokan harinya.

Hari ini, ponsel saya berbunyi. Sebuah alarm pengingat ulang tahun. Ahh…sahabat saya ini rupanya berkurang lagi jatah usia di dunia. Hanya doa dari kami, teman-temanmu tercinta, yang akan selalu mengiringi langkah dan rencana dimanapun kau berada. Terselip harapan, semoga Sang Maha Segala akan menggantikan posisi kami, sahabat dan keluarga, untuk selalu mendampingi hari-harimu disana.


my bos, my bestie, my brother ^_^


Selamat hari jadi, Eko Primabudi….Ncot, Echo, Kodok, Dokie, Boi, Bozz, Golden Boy…apapun nama panggilan tersayang kami….Banyak doa, banyak harapan, banyak cinta dari kami disini dihari bahagiamu kali ini. Tetap semangat, tetap percaya bahwa Allah selalu akan buka jalan selama kita mau percaya dan terus berusaha.  Semoga tetap sehat, terus bahagia, dan tambah sejahtera… Aminnn.

"Youth is the gift of nature, but age is the work of art." - Garson Kanin 


metamorfosis si Golden Boy (selama saya mengenal dia.... Feb 2006- Okt 2011)



P.S: Jangan nakal disana yak, tetap rajin sholat, sering-sering telpon nyokap lu, secara doa terbesar dan tercepat sampainya dimeja para malaikat penghitung yah pasti doanya beliau, jiahahaha.

Jakarta, 18 Oktober 2011 13.20 WIB
Menara BCA lantai 55, ketika bos sedang dikeluar kota dan saya sibuk menghitung angka.