27/08/13

Melangkah Sampai Ke Batas Waktumu

Lebaran kali ini sedikit berbeda untuk saya. Tahun ini, saya kedatangan salah satu sahabat yang dulu saya kenal melalui cerita dari mulut ke mulut oleh para sahabat petualang. Kami pertama kali bertemu didunia maya. Melalui layar ponsel pintar, kami sering mengobrol. Sesama mahluk nokturnal, aktif dikala malam hari, betah berdiskusi berjam-jam, dan hanya akan berhenti jika salah satu tertidur.

Melalui obrolan demi obrolan, perlahan saya mulai mengenal sosok yang tenar dengan nama Fiersa Besari. Anak pendiam yang sering menyebut dirinya sendiri gila, tetapi selalu membuat saya tertawa dengan topik berat yang dia bahas dengan gaya bahasa unik ala anak muda. Musik, fotografi, petualangan ala ransel, serta baca buku adalah hal-hal yang menyatukan isi kepala kami. Saya, yang sering merasa teralienasi dengan dunia sekeliling, merasa menemukan salah satu teman sejiwa yang bisa memahami alur pikir otak saya yang terkadang sering tidak sejalan dengan lingkungan sekitar.

istri pertama = ponsel, istri kedua = rokokistri pertama = ponsel, istri kedua = rokok

Fie, Icha, Pika, dan banyak nama lain yang disematkan para sahabatnya untuk penanda kedekatan mereka. Saya, sejak pertama melihat foto profilnya, memutuskan untuk memanggil si pencinta cemilan ini dengan nama Ican, singkatan dari Icha Cantik (hahaha, dan dia selalu kesal dengan nama ini). Berpostur tinggi kurus ala model, berambut sebahu (kala itu), berwajah kuning langsat dan mulus khas anak Bandung, sepertinya tidak berlebihan untuk berpredikat cantik. Dulu pertama kali bertemu, saya yang berpotongan rambut pendek tomboy malah terlihat lebih macho dari dia, hahaha.

Karimun Jawa adalah petualangan kami yang pertama, sekaligus kali bertatap muka pertama secara langsung tanpa perantara ponsel kesayangan. Saya bersama rombongan dari Jakarta, bertemu dengan Ican yang membawa rombongan dari Bandung dipelabuhan Kartini Jepara, untuk kemudian bertolak ke kepulauan Karimun Jawa. Enam jam perjalanan kami habiskan dengan tidur, makan, mengobrol sesama anggota rombongan, dan bernyanyi riang ala anak pramuka dengan ukulele yang dia bawa. Ican bahkan sempat mengerjai saya dengan mengirimkan pesan ke semua kontak BBM saya yang isinya saya boker dicelana. Dasar anak iseng!!! Empat hari tiga malam berlalu dengan sangat cepat namun menyenangkan. Dari mulai berenang dilaut, bercengkrama dengan hiu dipenangkaran, bermain memutar botol minuman “Truth or Dare” dan tertawa tidak tau diri sampai ditegur oleh warga sekitar karena rombongan terlalu ribut, sampai api unggun tengah malam ditengah hutan yang menyeramkan. Satu lagi fakta tentang dia yang saya ketahui, bahwa Ican tidak sependiam dan seaneh bayangan saya sebelumnya (karena banyak cerita yang beredar kalau dia itu mahluk aneh dan galau sedunia). Celotehan dan candaan selalu keluar dari mulutnya ketika kami berhadapan langsung. Sejak saat itu saya belajar untuk tidak menilai orang lain tanpa mengenalnya terlebih dahulu.

penampilan perdana Duo Maia diatas kapal menuju Karimun Jawapenampilan perdana Duo Maia diatas kapal menuju Karimun Jawa

Sejak dulu, saya juga mempunyai kebiasaan yang menurut teman-teman saya yang lain aneh, yaitu berdoa dan menyebutkan satu harapan ketika kebetulan melihat jam, entah ditangan, didinding, diponsel, ataupun dikomputer, menunjukkan angka yang sama, yaitu 11:11. Kenapa 11:11, karena selain 11 adalah bulan lahir saya, angka tersebut merupakan simbol istimewa buat saya, entah kebetulan atau tidak, deretan angka tersebut selalu membawa keberuntungan buat saya. Mungkin itu hanya sebuah sugesti, tapi saya sangat percaya dengan kekuatan magis dari deretan angka tersebut. Betapa terkejutnya saya ketika dulu pertama kali mendengar judul album perdana sahabat saya. Deretan angka tersebut juga ternyata mempunyai kisah tersendiri buat dia dan mantan pacarnya waktu itu (bisa dibaca diblog pribadinya Ican). Akhirnya, kami sepakat menamai deretan angka tersebut dengan deretan angka harapan, perantara mimpi dan logika, penyambung daya imajinasi dan ilmu pengetahuan.

cover album 11:11 yang happening itu ;)cover album 11:11 yang happening itu ;)

Pertemuan kedua kami sewaktu saya mengunjungi Bandung, dan menginap dirumahnya. Nongkrong diwarung roti bakar yang menjadi favorit anak gaul Bandung dikala malam minggu, nonton dvd dan akhirnya tidur berdesak-desakan dengan anak-anak rombongan Bandung dikamar Ican yang super berantakan (beda tipis dengan keadaan kamar saya lah, makanya kami cocok, hahaha), ngobrol ngalor ngidul dengan menggunakan bahasa Inggris acak adut ala saya dan lancar jaya ala dia (dan sekarang menjadi kebiasaan kami berdua ketika membicarakan hal yang serius, haha! gaya banget!!!), sampai beramai-ramai menemani teman kami yang waktu itu melancarkan serangan PDKT (dan akhirnya gagal,haha) disalah satu warung kopi didaerah Lembang.

Ican, menjadi lebih sering berpetualangan kesana kemari, karena waktu kerjanya yang fleksibel, sementara saya yang waktu itu kembali kerja kantoran hanya bisa mendengus kesal melihat foto-foto yang dia unggah di akun jejaring sosial miliknya. Sebelum film 5cm heboh dibuat, sahabat saya ini menghubungi saya dan mengatakan “Nta, aku mo ke Semeru, kita ketemu di Sarinah yah. Aku naik kereta dari Jakarta ke Malang esok pagi. Siang ini naik travel dari Bandung”. Isi pesan singkat yang mampu membuyarkan konsentrasi saya yang sedang rapat koordinasi dikantor. Buyar karena teramat sangat iri dengan rencana perjalanannya, sekaligus senang karena artinya saya bisa sejenak bercerita dengan teman sesama penikmat imajinasi walaupun hanya beberapa jam, karena dia hanya transit di Jakarta. Duduk di jalan Sabang, menikmati makan malam sambil mendengar nyanyian belasan pengamen bersama seorang vokalis dihadapan saya, membuat suasana hati yang siangnya seperti padang tandus menjadi sedikit sejuk mendengar celotehan bersemangatnya yang menceritakan tentang rencana dia dan komunitas yang baru dikenalnya di dunia maya untuk mendaki puncak tertinggi dipulau Jawa tersebut.

Pertemuan ketiga, ketika dia harus manggung disebuah acara musik di Jakarta. Saya yang selalu merasa bersalah ketika selalu tidak bisa menghadiri konser kecil-kecilannya di Bandung, kali itu berjanji untuk datang dan menonton. Seperti biasa, banyak sekali cerita ketika kami bertemu. Seperti lelaki normal lainnya, dia terpukau melihat penampilan beberapa band yang manggung dipanggung utama, juga histeris minta difoto dengan latar belakang band yang personelnya cewek ABG berpakaian mini dan bergaya kenes manja. Ican memang selalu punya cerita menarik untuk dibahas, sambil menemani saya makan, dia berceloteh panjang lebar tentang pertemuannya dengan salah seorang legenda Wanadri yang sudah tua namun kuat menaklukkan puncak gunung-gunung tertinggi didunia. Saya selalu tersenyum ketika melihat raut muka riangnya ketika sedang bertutur kata. Ibarat bocah lelaki yang antusias menceritakan pengalaman barunya disekolah. Hari itu saya sengaja mengajak dia untuk berfoto bareng dengan alasan “Kalo kamu ntar sok ngartis, setidaknya aku kan udah punya foto bareng, jadi kali aja bisa aku jual, hahaha”.

anak alay yang ganjen minta difoto ama girl band -_-anak alay yang ganjen minta difoto ama girl band -_-

Akhir tahun 2012, Ican sempat mengutarakan niatnya untuk keliling Indonesia, dan mengajak saya untuk ikut serta. Jujur, saya ingin sekali ikut berpetualang, tetapi apa daya, saat itu saya terikat dengan pekerjaan yang sangat menyita waktu. Saya hanya bisa mendoakan agar sahabat saya dan rombongannya selalu sehat sepanjang perjalanan, mengingat tubuh ringkihnya yang sangat akrab dengan rumah sakit, serta menitipkan salam kepada tanah Nusantara lewat langkah mereka itu, kemanapun mereka singgah.

Ketika dia mengunduh video rekamannya di Youtube sewaktu konser di Makassar, saya ikut merasakan euforia kegembiraan sahabat saya itu. Ribuan kilometer dari kota Bandung, ketika seisi restoran disana turut menyanyikan lagu ciptaannya, sahabat saya ini tampak bernyanyi dengan berbagai emosi yang campur aduk. Ican, membuktikan kata-katanya bahwa musik bisa jadi pemersatu dunia. Sewaktu Ican tiba di Manado untuk pertama kali, dia mengirimkan pesan singkat dengan bunyi “Udah dikotamu nih Nta, gak nyangka yah bisa nginjek Manado, kota kebanggaanmu nih”. Mereka lalu bertolak ke titik Ter-Utara Indonesia, pulau Miangas. Saya yang waktu itu berada di Semarang untuk kerja, lagi-lagi merasa iri dan berkata dalam hati “sial, gw aja yang orang Manado belum pernah ke Miangas, ni bocah udah nyampe kesana aja”. Beberapa hari setelah saya kembali ke Jakarta untuk persiapan mudik Lebaran ke Manado, Ican kembali mengirimkan pesan singkat “Nta, aku boleh Lebaran bersama keluargamu?”, saya kaget campur gembira, karena berarti Lebaran kali ini akan sedikit berbeda, dan tentu saja saya sangat antusias membayangkan berbagai petualangan seru ketika kami bertemu nanti, dikota kelahiran saya!!! Wohoooooo!!!!!

Entah bagaimana melukiskan betapa terharunya saya ketika pertama kali melihat sahabat saya ini muncul diteras rumah saya di Manado, diantarkan oleh temannya yang berwajah khas Manado pula. Ah, sampai juga niat kami dulu untuk bertemu di kota kelahiran saya yang rasanya tidak mungkin terjadi mengingat kesibukan kami masing-masing dulu. Ican nampak sangat kurus, hitam terbakar matahari jalanan, dekil, tapi terlihat semakin dewasa. Pengalamannya selama dijalan membuat dia terlihat sangat kumal namun bahagia. Gembel ceria, pikir saya sambil tertawa. Saya awalnya kecewa karena melihat dia datang tanpa ditemani Prem dan Baduy, kawan seperjalanannya, namun akhirnya hanya bisa mengangguk maklum ketika Ican menceritakan alasannya. Ican datang dengan tidak membawa ransel raksasa khas pengelana, melainkan hanya satu tas plastik berisi baju kotor dan seperangkat alat mandi. Katanya sih dua hari lagi dia diajak mendaki gunung Klabat, salah satu gunung tertinggi di Sulawesi Utara. Rambut basah dan muka berkilat terkena cahaya matahari karena baru pulang dari Pulau Siladen, membuatnya tampak seperti putri duyung berkumis yang terdampar dan kelaparan.

Karena itu bulan puasa, spontan pertanyaan saya adalah “Kamu puasa gak Can?”

Dengan muka serius dia menjawab “Gak euy, semalam aku gak sempat sahur jadi hari ini gak puasa, lagian lemes banget beberapa hari ini”

Jadilah setelah dia mandi dan saya membereskan cuciannya, saya mengantarkan dia ke mall dikota kami untuk mencari makan. Sepanjang jalan, Ichan mengomentari tentang penampilan orang Manado yang menurutnya bisa mengurangi pahala orang puasa, hahaha. Ican juga bercerita betapa terkesannya dia tentang toleransi umat beragama disini, ketika dia di Pulau Miangas dan Pulau Siladen yang notabene penduduknya mayoritas Nasrani, dan kawan-kawannya yang juga mayoritas non Muslim.

“Jadi mereka kan ngerokok ato makan minum didepan aku, pas tau aku puasa, spontan langsung minta-minta maaf dengan agak berlebihan gitu dan dengan tampang gak enak banget lho. Padahal di Bandung mah orang makan depan orang puasa juga cuek-cuek aja. Gila, keren lho disini”.

Saya hanya tersenyum melihat antusiasmenya dalam bercerita. Lelaki cerewet dan heboh ini masih Fiersa yang sama dengan sosok yang saya kenal tiga tahun yang lalu. Begitu memasuki parkiran mall, dia berteriak “Arghhh…akhirnya aku nginjek peradaban lagi!!! Nanti kita makan dimana atuh??? Trus keliling ahh liat-liat”. Bagaikan anak kecil yang diajak ke pusat perbelanjaan, siang itu dia tampak segar dan berbinar-binar. Ican memesan soto ayam dan memakannya dengan sangat menghayati. Mungkin buat dia, soto ayam itu mengingatkannya akan masakan ibunya tercinta di Garut, yang saya tau persis, adalah orang yang selalu
dikangeninya setiap hari, dimanapun sahabat saya ini berada.

“Aku bosan makan ikan Nta, sejak di Sulawesi, aku makan ikan ikan dan ikan. Bisa-bisa pulang Bandung aku jadi pinter saking keseringan makan ikan”.

Mau tidak mau saya terbahak mendengar celotehannya yang konyol itu. Ican, adalah salah satu sahabat saya yang bisa diajak ngobrol tentang apa saja karena berkapasitas otak diatas rata-rata. Bernama belakang Besari, membuatnya cerdas dan lancar membahas soal sastra, filsafat dan fisika dengan bahasa yang mudah dicerna, bahkan oleh keponakan lelaki saya yang masih berusia lima belas tahun. Ican bahkan pernah membahas sejarah film Superman dengan berbagai dalil dan ragam informasi yang membuat film pahlawan bercelana dalam diluar itu tampak seperti film kolosal serius dan sarat ilmu sejarah. Luar biasa!!!

“Nta, udah tidur?” adalah bunyi sms ato whatssap konyol yang tiap malam dia kirimkan ke ponsel saya, ketika kami tidur terpisah. Akhirnya pada malam selanjutnya dia menginap dirumah, saya memutuskan untuk ikut tidur dengannya dikamar saya agar kami bisa bercerita tentang apa saja sampai masing-masing tertidur, sama seperti dulu, hanya bedanya kali ini kami berhadapan secara langsung. Tidak usah ditanya dimana dan bagaimana posisi kami tidur, yang pasti kami tidak pernah melewati batas norma dan melupakan esensi sahabat yang telah tiga tahun kami jalani. Sangat menyenangkan ketika sama-sama menutup mata, tetapi mulut terus bercerita tentang impian dan cita-cita, tentang kehidupan, tentang cinta, tentang petualangan, tentang politik, tentang imajinasi terliar, bersama seorang sahabat yang mengenal kita. Kembali pada kebiasaan anak kecil, berkisah tentang angan dan impian, tanpa banyak pertimbangan. Satu hal yang tidak menyenangkan adalah dia yang selalu tidur paling akhir dan selalu bangun lebih awal, paginya membangunkan saya dengan semena-mena, tetapi selalu tidak bisa membuat saya marah, karena dengan tampang polosnya dia selalu tersenyum dan menyapa “Sudah siang Nta, mandi sana”, dan ketika selesai Lebaran berganti dengan “Sudah siang Nta, sarapan yuk”.

Sejak keliling, Ichan selalu ingin dipanggil Bung. Katanya, Bung itu sangat Indonesia, tanpa mengenal suku maupun ras. Bukan kang, kaka, mas, atau abang. Sebelum saya pulang mudik, Ican dan rombongannya menginap disekretariat Mapala Pahyagaan, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Katanya, disana lagi-lagi diajak berfoto oleh salah satu anggota yang kebetulan mengunduh lagu-lagunya dari internet, dan lagi-lagi saya hanya tertawa mendengarnya. Saya pun akhirnya dikenalkan kepada para anggota Mapala tersebut. Ada empat orang yang sangat akrab dengan sahabat saya. Ikar, si anak perantau asal Luwuk yang super wangi, fotografer yang juga jago masak dan bertampang cantik, Billy, pemuda asli Minahasa yang berambut panjang ala bintang iklan sampo yang hobi menceritakan kisah-kisah lucu namun selalu galau, Adhi yang akrab dipanggil Jibie, si seniman pembuat tato yang bertampang seperti Bob Marley muda, serta Valent atau Tebo, humas Mapala yang bertampang manis berambut kribo ala Kaka Slank. Seketika mereka juga menjadi teman baru saya, yang selalu membuat saya terbahak dengan tingkah konyol mereka yang spontan memanggil saya dengan sebutan “Kak” ketika mengetahui umur kami yang terpaut lumayan jauh, Siyal!!! Hahaha…

Gadis-gadis bintang Iklan sampo dari Mapala Pahyagaan =))))Gadis-gadis bintang Iklan sampo dari Mapala Pahyagaan =))))

“Kayaknya kamu butuh anak secepatnya. Orang yang bisa kamu suruh-suruh, tanpa bisa melawan. Kamu gak butuh suami sih, karena kamu itu kebiasaan ngatur orang, tapi hati susah menetap pada satu orang, hahaha”.

Ican, membuat jiwa ibu-ibu saya makin kuat. Saya selalu menyuruhnya makan banyak, sering mandi (padahal saya sendiri jarang mandi) dan ganti baju, memaksanya minum madu campur jeruk dua kali sehari gara-gara kasihan melihatnya tersiksa dengan batuk, serta ingin tahu dengan hal-hal kecil yang tidak diceritakannya.
“You are starting like my mom. Please, stop it!! Yolanda banget deh (tau lagu Kangen Band berjudul Yolanda? Yang liriknya Kamu dimana, dengan siapa, sedang berbuat apaaa)!!!” ujarnya memprotes tindakan pemaksaan saya yang dia anggap terlalu membuatnya merasa seperti anak kecil.Perdebatan yang diakhiri dengan saya yang tertawa melihat muka memelas campur kesalnya.
Dia menjuluki saya “emak-emak bawel”, bahkan berkonspirasi dengan keponakan saya untuk meledek saya karena kebiasaan tersebut. Saya pun jadi sangat menghargai pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, karena dengan kedatangan Ican menginap dirumah, otomatis saya harus bisa jadi tuan rumah yang baik. Bangun lebih dulu untuk menyiapkan teh dan makanannya, menemani dia makan, memastikan dia betah ketika berada disini. Percayalah kawan, itu sangat menguras energi (apalagi untuk gadis pemalas dan berjiwa lelaki seperti saya), dan akhirnya membuat saya teringat akan jasa besar para asisten rumah tangga.

Bahkan ketika hari Lebaran pun, saya harus menyeretnya ke kamar mandi (padahal saya juga waktu itu lelah plus mengantuk tingkat kecamatan) dan mengetuk pintunya setiap lima menit sekali (dan dijawab dengan erangan sebal olehnya,haha) , was-was kalau saja dia tertidur didalam, karena kami baru selesai menyiapkan hidangan Lebaran pada pukul setengah empat pagi, dan bakal mengakibatkan kami terlambat mengikuti sholat Ied. Syukurlah kami bisa hadir tepat waktu dimesjid, dan Ican tampak bersahaja dengan baju koko putih gading yang dikenakannya (walaupun tetap saja dimobil kami berdebat tentang rambutnya yang kusut dan basah tapi dia menolak untuk dirapikan, huh!).

Duo Maia mengucapkan Selamat Lebaran 1434HDuo Maia mengucapkan Selamat Lebaran 1434H

Malam takbiran memang Ican berjanji untuk membantu saya memasak, tetapi tiba-tiba dia minta ijin untuk nongkrong dengan Billy dan kawan-kawan. Sebenarnya saya tidak marah ketika dia belum pulang, padahal waktu sudah tengah malam, dan makanan belum ada yang dimasak, tetapi karena ponsel saya letakkan dikamar, beberapa kali panggilan Ican tidak terjawab, dan mungkin dia mengira saya merajuk lalu tidak mau mengangkat telepon darinya. Ican akhirnya memboyong rombongan Billy, Ikar, Jibi, Tebo, dan beberapa anak Mapala lainnya untuk membantu saya memasak dirumah. Terbayang kehebohan kami malam itu, para anggota Mapala cantik yang cekatan dalam hal dapur, membuat pekerjaan kami cepat selesai. Alhasil, malam itu Ican justru bebas tugas sama sekali. Akal bulusnya mengajak anak-anak, membuatnya yang memang malas memasak itu bisa berleha-leha diteras depan rumah saya, merokok dan mengobrol bersama Billy, yang saat itu baru mengalami kecelakaan sehingga tangannya luka, jadi tidak bisa ikut membantu kami didapur. Cakep!!!

rombongan asisten malam Lebaranrombongan asisten malam Lebaran

Saya juga merasa sangat terbantu dalam mengenalkan tentang dunia luar pada keponakan saya, Jordan, yang baru berusia lima belas tahun. Kebetulan, tahun ini Jordan dibelikan kamera profesional oleh ayahnya. Ican yang memang hobi fotografi, sering mengobrol dengan Jordan. Mereka berdua juga punya bahasa khas “lelaki” yang asing buat saya. Orang luar mengenal Jordan sebagai anak yang jarang mengobrol jika belum akrab, begitupun Ican, jadilah mereka seperti menemukan benang merah penghubung. Terkadang mereka tertawa dan melihat kearah saya dengan tampang jahil. Ican jadi om favorit baru buat Jordan. Dimana ada Ican, disitu Jordan menempel. Bahkan kebiasaan Ican makan nasi dicampur saus mayones pun dijadikan percontohan buatnya. Ketika Ican bermain gitar diteras, Jordan pun selalu disampingnya. Suatu malam Jordan merengek mengajak keluar untuk membeli pulsa, ketika saya dan Ican sedang asik mengobrol. Saya langsung menolak melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Spontan Ican yang waktu itu asyik bermain dengan ponselnya, menanyakan berapa nomor ponsel Jordan, dan langsung mentransfer sejumlah pulsa dinomor itu. “Kamu mah gak tau perasaan gantung cowo yang lagi pedekate tapi pulsa abis. Itu tersiksa banget tau”. Sejak malam itu, posisi saya langsung turun satu peringkat dimata keponakan saya, digantikan om-om cantik yang mengerti perasaannya hahaha.

Jordan and his new auntie -_-Jordan and his new auntie -_-

Pengalaman seru lainnya ketika kami menonton salah satu film horor yang sedang tren saat ini. Saya yang memang tidak bisa dikagetkan dengan suara keras, selalu berteriak latah dan mencengkram lengan Ican yang juga duduk ketakutan disamping saya, hahaha. Dia malah mengajari saya tips menonton film horor, yaitu memakai jaket yang bertudung, agar tidak kelihatan terlalu memalukan ketika menutup mata saat adegan menyeramkan, atau menutup wajah dengan jari yang terbuka dibagian mata. “Biar ngerasa lebih aman Nta, kalo ditutupin gini entah kenapa aku ngerasa aman aja”. Tentu saja saya tidak ikut mempraktekkan tips konyolnya, karena toh tinggal menutup mata kalau setannya keluar. Seperti kelakuan dua anak kecil yang tidak mau kalah, diakhir film kami saling meledek tentang siapa yang lebih ketakutan selama film diputar.

Bersama Ican, saya menghabiskan waktu di Manado dengan keseruan yang berbeda. Saya, seperti kembali terbang ke masa beberapa tahun silam, ketika hidup terasa lebih ringan dan menyenangkan. Ceria dan penuh canda, membuat hari-hari terasa begitu cepat berlalu. Nongkrong dimall, berbuka puasa di Jarod (tempat nongkrong dipusat kota yang berisi semua lapisan masyarakat, dari politisi, musisi, seniman, maupun mahasiswa dan warga biasa) yang merupakan tongkrongan paling juara ketika saya masih mahasiswa, bangun sahur dan heboh menonton acara sahur yang sedang tren dengan goyangan cesarnya, berdebat dengan bahasa campur aduk tentang hal-hal sepele yang diakhiri dengan saling meminta maaf kemudian tertawa ngakak, keliling kota naik angkot Manado yang memutar musik sekencang-kencangnya, makan martabak dipinggir jalan protokol sambil menunggu angkot yang tak kunjung datang sambil membahas filsafat (dan selalu dilirik pengendara yang lewat karena dikira dua wanita yang menunggu “jemputan”, haha), serta banyak hal menarik lainnya. Ican sampai kecapaian menemani tamu dirumah kami ketika Lebaran, menemani teman-teman keluarga saya yang tidak henti-hentinya datang, bercerita berulang-ulang tentang perjalanannya keliling Indonesia kepada setiap kerabat yang bertanya kenapa dia sampai bisa terdampar berlebaran dirumah kami, haha…kasihan sekali melihatnya waktu itu.

Hari terakhir dikota ini, Ican dan saya hanya dirumah saja. Ican yang memang waktu itu merasa kurang enak badan, membatalkan rencana hari itu untuk mencari perlengkapan perjalanannya. Sepanjang hari kami hanya duduk diteras, bercanda, mengobrol, berdebat, menonton youtube dan bernarsis ria dengan kamera sampai subuh. Malam itu juga Ican “merampok” koleksi buku-buku saya untuk menemaninya bertualang. Berat rasanya melepas buku-buku yang sebagian saya dapat dari hasil buruan diluar kota, tapi hanya kepada mereka saya bisa menitipkan Ican, sahabat yang sebentar lagi akan melanjutkan perjalanannya mengelilingi tanah air yang dicintainya. Ican berjanji akan mengembalikannya dengan selamat sepulangnya dia berkelana, dan saya juga berjanji akan menjemput buku-buku itu dirumahnya, sambil mendengar oleh-oleh kisah spektakulernya nanti.

Keesokan harinya, setelah terlebih dahulu berdebat tentang persoalan ganti baju dan soal waktu makan saya yang (kata Ican) sangat amat lambat, kami berkejaran membereskan hal-hal untuk keberangkatannya pada sore hari. Saya dan Ican menuju sekretariat Mapala Pahyagaan untuk menjemput beberapa teman yang akan mengantar ke pelabuhan. Bersama Ikar dkk, kami mengantar Ican dan Qnoy, seorang gadis tomboy yang memiliki kecantikan khas perempuan Timur, teman perjalanan barunya menuju Indonesia Timur, melalui pelabuhan Manado. Di dermaga pelabuhan, Ican masih sempat menyanyikan tiga lagu dialbumnya sambil direkam oleh kamera saya dan Ikar, melantunkan nyanyian dengan penuh penghayatan menggunakan ukulele tua kesayangannya. Sebelum naik kapal, Ukulele itu diminta oleh Jibie, si seniman tato yang juga jago memainkan ukulele. Ican, dengan sangat berat hati merelakan ukulele itu untuk tinggal di Manado, menemani kami para sahabatnya disini, menggantikan hadirnya yang akan pergi jauh. Kami juga sempat mengabadikan momen dengan berfoto narsis ala model menggunakan kamera Ikar yang hasilnya selalu sukses membuat saya berkata “F*CK”.

rombongan pengantar pengacau pelabuhanrombongan pengantar pengacau pelabuhan


Bunyi peluit kapal baru berbunyi dua kali, ketika ponsel saya berbunyi, panggilan kerja dari atasan saya. Alasan yang tepat untuk pamit, karena jujur walaupun saya tau beberapa bulan lagi saya pasti sudah berada diatas kasur dikamar Ican di Bandung, tiduran sambil ngemil cakwe dan mendengarkan dia berceloteh tentang cerita perjalanannya, tetap saja berat rasanya melihat kapal itu menjauh dari dermaga membawa sahabat saya besertanya. Saya memang membenci perpisahan, meskipun itu merupakan resiko istimewa sebuah pertemuan. Saya, pamit untuk pulang duluan, melayangkan salam tinju ulat bulu dadah kupu-kupu ala anak alay kepada Ican, kemudian berjalan tanpa menoleh lagi, takut tidak bisa menahan airmata dan jadi memalukan. Malam itu saya kembali tidur sendirian, dan tiba-tiba merasa sangat kehilangan.

til we meet again dude :')til we meet again dude :')

“Whenever you make a mistake or get knocked down by life, don’t look back at it too long. Mistakes are life’s way to teaching you. Your capacity for occasional blunders is inseparable from your capacity to reach your goals. No one wins them all, and your failures, when they happen, are just part of your growth. Shake off your blunders. How will you know your limits without an occasional failure? Never quit. Your turn will come” –Og Mandino-

Ukulele tua, saksi sejarah :))Ukulele tua, saksi sejarah :))

Ican, tidak pernah benar-benar meninggalkan saya dengan tenang (tentu saja). Teman-teman yang dia kenalkan, sekarang bersahabat dekat dengan saya. Ukulele yang dia tinggalkan, selalu dimainkan oleh Jibie disetiap kesempatan. Bahkan ketika merayakan hari kemerdekaan di gunung Soputan, (ya!!! saya yang anti gunung berhasil diracuni oleh Ican untuk ikut mendaki bersama para Mapala dalam rangka merayakan hari kemerdekaan RI disana), saya sangat terharu ketika sore itu, diantara pepohonan pinus yang menjulang, ditengah sapuan angin gunung yang super dingin menusuk tulang, didepan api unggun yang menghangatkan para pendaki, ada salah seorang pendaki bernama Valent, anak punk super gaul nan galau, yang sama sekali tidak saling mengenal dengan Ican, memainkan ukulele kesayangan sahabat saya dan menyanyikan lagu berjudul Hidup Kan Baik-Baik Saja, salah satu lagu milik Ican. Pesimisme takut mati kedinginan karena alergi (dan yang pasti bakal menyusahkan anggota rombongan), seketika meluap berganti kehangatan dipelupuk mata yang setengah mati saya tahan. Sahabat saya seakan berada disitu, tepat disamping saya, melalui media lagu dan ukulele tuanya, menguatkan raga terlebih jiwa, bahwa hidup itu indah, nikmatilah setiap hal yang ada didalamnya.


Melangkahlah kawan, selama kaki tanganmu belum kaku dan jiwamu belum merengek untuk pulang kepelukan ibu. Kami titip debu, cerita seru, gambar samudera biru, bau harum belantara hutan yang sederhana itu, serta kisah tentang Nusantara kita yang hanya bisa dilihat melalui buku. Kami memang selalu rindu, tapi tenanglah, doa ini selalu terpanjat untukmu Bung, semoga Tuhan selalu besertamu.

Sehat Bahagia Selalu, Fiersa Besari. Titip salamku, bersama enam partikel itu. Sampai jumpa lagi dilain waktu.


Manado, 27 Agustus 2013 15:15 WITA
Teras rumahnya papa, diatas kursi oranye, ketika angin bertiup manja :D

10/04/13

Kembali ke Jogja

Jogjakarta, kota dengan sejuta rahasia.

Hujan yang menyambut kedatanganku hari minggu kemarin, seakan mengatakan “Selamat Datang kembali…Shinta”.

Entah apa yang membuatku selalu ingin kembali ke kota ini. Entah orang-orangnya yang ramah, atau suasananya yang masih santai, atau makanannya yang murah untuk ukuranku, si anak ibukota.

Jogja yang berhasil mengusir insomniaku dihari pertama. Jogja telah berhasil membuatku minum kopi dua pagi berturut-turut. Jogja juga berhasil membuatku mengantuk ketika berhadapan dengan internet dimalam hari dan membuat imajinasi menulisku seakan hilang entah kemana padahal malam sedang lucu-lucunya. Hal-hal yang bertolak belakang dalam hidupku.

Mirip kamu bukan? Satu-satunya orang yang selama ini bisa melakukan semua hal ajaib yang aku anggap hampir mustahil kulakukan. Entah apa rahasiamu dan Jogja. Entah bagaimana caranya kalian bekerjasama. Mungkin Tuhan mengirimkan kalian sebagai paradoks dunia.


Tulisanku kali ini tersendat, entah karena suaramu hanya berupa rekaman lama terkenang di dalam ingatan ataukah celotehanmu hanya tertuang dalam pesan singkat yang selalu rapi ku simpan.

Aku pun tak puas membaca tulisanku sendiri. Tampaknya imajinasi liar ini memang butuh senyummu agar sempurna tertuang dalam bentuk karya abadi. Seperti selama ini, kamu yang tidak pernah mengomentari langsung ketika aku memuat kicau kacauku didunia maya, tapi aku tau kamu selalu membaca, menganalisa, mengkritik, memberi saran langsung melalui sikapmu padaku didunia nyata.


Maaf kalau selama ini kamu lelah. Aku juga sepertinya. Ibukota membuat kita sama-sama lupa akan arti hadir sesama. Rekayasa waktu dan peristiwa, membuat kita terlena terlalu lama.
Kecewa itu memang tidak pernah lahir dalam rangkaian kata, tetapi aku tau pasti, sorotmu kala itu, penuh duka yang sudah terangkum lama.


Hari ini, ijinkan aku sejenak menyendiri. Ada dua kabar gembira yang aku terima disini, rumah keduaku selain kamu. Ceria yang hampa, ibarat sepatu Louboutin hilang sebelah, tetap mahal namun tidak berarti. Sebab buatku yang terbiasa denganmu, menerima kabar bahagia tanpamu disisi yang seperti biasa selalu memahami, lengkap dengan repetan doa konyolmu itu, adalah kolaborasi emosi; senyum senang dan airmata sedih.

Merindukan masa itu, ketika aku diwisuda, ketika jaman video call sedang hangat-hangatnya, ketika mamaku tiada, ketika ibukota penuh barang setengah harga yang siap dijamah dan dijarah dengan keranjang belanja, ketika semua tempat puas kita jajah, semua yang kulewati dengan tawa dan airmata, bahagia dan duka. Sepertinya, bersamamu, aku kan baik-baik saja…

Siang ini, ketika Jogja kutapaki sendiri, semesta masih tersenyum, langit masih terang bersinar, dan pasti bumi kita masih berputar. Tidak ada yang berubah sejak saat itu, begitu pula dengan rasaku.


Kepadamu, Jogjaku dalam wujud manusia, aku ingin pulang. Aku rindu :’)

Jogjakarta, 10 April 2013 15:30 WIBG


Didepan komputer pinjaman, ditemani lagu2 kang Fiersa Besari  di www.soundcloud.com/fiersabesari, belum mandi dari pagi, kecapekan menemani seseorang yang lincah berlari riang dipikiran.

14/02/13

Kita Hanya Bertumbuh Dewasa

Aku ingat caramu tertawa
Aku juga ingat caramu membuatku tertawa


Sosokmu sederhana
Cintamu luar biasa


Celoteh riang pencetus canda
Sapaan hangat penyejuk jiwa
Pelukan erat penghapus nestapa
Tatapan teduh pengganti aksara
Senyum bersahaja peredam duka
Luapan amarah penghias riak asmara
Tahun -tahun panjang penggores cerita istimewa penuh warna


Buatku, kamu selalu menjadi sosok yang sama
Buatku, aku juga tetap sosok yang sama


Bila kini kita tak berada dalam satu dunia
Bukan berarti tujuan kita berbeda
Mungkin hanya jalan kita yang berlainan arah saja
Aku Utara, kamu Tenggara, susah berjumpa di alam fana.


Asa itu perlahan hilang tergerus masa
Impian menguap termakan lupa
Beribu usaha sia-sia menyisakan luka
Rentetan anugerah berubah bencana
Peralihan gembira menuju sengsara
Rangkaian kisah klasik berujung lara
Melodrama hitam bak jelaga


Ketika permainan rasa berganti wahana logika
Rahasia dua anak manusia yang tak lagi terbaca
Bukti bahwa rencana sempurna cuma milik Sang Pencipta
Tak ada yang salah, jangan pernah menyalahkan apa dan siapa, ini bukan lomba mencari dosa
Ikhlaskan semua, apa gunanya menyimpan murka

Ini bukan "cinta kita", ini hanya cinta saya

Buatmu, selamat bertambah usia. Dariku, sepintal doa, agar tetap sehat dan terus bahagia, walau kini tak ada lagi kata "kita".

Jakarta, ketika 2012 tinggal menghitung hari

Menatap hujan turun ke bumi, tanpamu disisi, denganmu dihati. Sukacita abadi.

Untukmu, seseorang yang telah bertahun-tahun menemani, memahami dan menginspirasi dengan caramu yang takkan pernah terganti.  Terima kasih (walau hanya lewat puisi).

*catatan: puisi ini pertama kali dibacakan pada acara Kopdar Budaya edisi Kopdar Diskusi Valentine, 14 Februari 2013.
Dimuat di dunia maya untuk merayakan Hari Puisi Sedunia 21 Maret 2014

08/12/12

Deretan Ucapan Selamat Para Kerabat dan Sahabat (Memoar Shinta Irawati Saloewa Part.2)


Berikut adalah daftar ucapan dari orang-orang yang saya tau persis, menyayangi saya dalam berbagai ekspresi cara pengucapan…cekidot temans….

“Shinta Saloewa Rotinsulu, Happy Birthday yah. 27 toh? Masih muda kang mar so bukan belia. Tapi belum cumu 3 kwa :-P panjang umur neh buu…sehat selalu. Ditunggu kabar baik darimu.  (Translate: 27 kan? Masih muda tapi udah bukan belia. Tapi belom 30 kok, panjang umur yah.)” 29 November 11.48 WITA via FB *Ade Febriani Saloewa* -->sepupu seperjuangan sejak sanak-sanak -.-“

@Tanggapan saya: Jiahhh…dia lupa kalo Gorontalo dan Jakarta beda sejam. Jiahaha…makasih De. Soal Kabar baik? Widih..selalu cinggg… anak manis manja ini masih hidup dan bernafas juga sudah merupakan kabar baik kan yak, hahaha. Wokeh, angka “3” itu bukan nakutin kok, yellowww…im forever young u know!!! :p

“Selamat Ulang Tahun makkk….ya owohhh…gw telat 3 menit yak…huaaaa…jangan bilang gw keduluan. Semoga sehat dan bahagia mak, semoga cepet mimpi-mimpi lu tercapai, semua yang terbaik deh nekk….ehh…tapi bener kan gw yang pertama neh, secara ntar gw pasti keduluan…kagak redho gw”  00.03 WIB via telpon langsung *Kharisti Melati* --> seorang sahabat sableng yang suka salah menempatkan hati, hahay.

@Tanggapan saya: Anjritt…sumpah niat gilak nih anak…udah gitu jadi kontributor pertama dalam daftar “dosa awal tahun” gara-gara gossip jam 12 malam yang agak gak penting *sigh*

“Selamat ulang tahun calon manager. Semoga kita bisa berjuang sama-sama buat jadi sukses dan kaya. We are number one *pasang kacamata item” 00.07 WIB via BBM *Sisilia Reni Kristina* --> mantan teman kantor lama, mantan teman kostan, sekarang kembali satu tim meraih impian.

@Tanggapan saya: Jiahahaha…beda emang ucapannya sekarang. Makasih mak, sukses juga buat kamu. Perbesar kemampuan demi impian besar, jangan perkecil impian karena ketidakmampuan. Merdeka!!!

"Makkk...selamat ulang tahun mak...noh dikulkas ada klapertart, tapi gak pake lilin yak, gw males belinya. Lu kok ultah-ultah malah molor sih. Makan-makan yak mak, dimana kek, gw request di Sushi boleh gak" 00.15 WIB ketika saya terbangun dan bertandang ke kamar tetangga *Novie Yanti* --> tetangga kamar, ratu nyolot, sesama murid gagal di Centre Culture Francais, saingan saya dalam pemilihan nyai ronggeng galau Genteng Ijo 86

@Tanggapan saya: Ahh...emang gak pinter -.-"  Malah mau menyiksa lagi dengan deretan makanan mentah laknat itu. Tapi yah, makasih banyak mak, untuk semua kesabaran yang dikau persembahkan setiap hari, untuk kehebohan tawa tengah malam yang bisa membangunkan macan kelaparan, untuk setiap kebodohan yang tanpa disadari selalu menghibur hati saya yang terkadang galau tak bertuan.

“Dalam sujudku ini, kuberdoa agar semua yang terbaik Engkau turunkan untuk sahabat terbaikku ini Ya Allah. Semoga dia selalu Engkau bimbing, jaga, dan tuntun untuk menuju surgamu. Semoga didekatkan dengan jodoh yang halal baginya dan dimudahkan rejeki yang berlimpah dan berkecukupan” 02.15 WIB via BBM *Yulianti Suwarsi” --> sahabat sejak kuliah, teman “seotak” yang walaupun tanpa kita bicara, sudah saling mengetahui isi otak kotor kami sejak dulu, hahaha.

@Tanggapan saya: Wah, ini ucapan paling khusyuk hari ini. Alhamdulillah otaknya sudah lebih dulu diservis daripada saya, jadi dia sudah bisa mengajak saya untuk kembali ke jalan yang benar. Makasih Jin, jadi mau terharu nih. Doa-doanya berat banget sumpah. Semoga Allah melindungi lembaran  barumu dikota yang baru yah. Amin.

“Happy b'day...kkQu..shinta saloewa rotinsulu... smoga umurnya smakin berkah,segera menemukan belahan jiwanya,pkknya all d best for u sista....” 04.35 WIB via BBM dan FB * Elisye Puspita Rahim* --> anggota Power Ranger (si Ranger Blue), salah seorang bunga kampus yang sekarang senang sekali berdagang.

@Tanggapan saya: saya suka part belahan jiwanya. Susah susah gampang sih, nyari belahan jiwa didunia yang nauzubillah edan ini, hahaha *ngeles

 “Happy wonderfull birthday dear my lovely twinnie... Wish u all the best in everythings u wanna do n u needed... *hugs*” 5.10 WIB via BBM dan FB *Eko Setiawan* --> saudara “kembar” yang lahir dari rahim yang berbeda :)

@Tanggapan saya:  Times goes by yah twin… Gak kerasa kita udah 27 aja. Makasih doanya, selamat hari jadi juga buatmu, plus selamat ulang tahun perkawinan juga buat dirimu dan Maria, semoga langgeng yak :)

“Happy bday kudsss…semoga panjang umur. Stop kelakuan melek (ikan basi-red)” 06.20 WIB via BBM *Faizah Rezki Septyawati* --> sahabat gokil dari jaman SMU, si penggalau sejati.

@Tanggapan saya:  Woeee…kalau saya berhenti menggila, anda tentu saja akan bunuh diri karena tidak ada lagi yang menanggapi galau gak jelas itu dengan canda tawa, hahaha.

“Met pagi k’Shinta. Pa kabar nih? Slamat Ulang Tahun ya. Panjang umur sehat selalu. Amin” 06.53 WIB via SMS ke 2 nomer selular kesayangan saya, plus via BBM juga. Komplit lah *Chairul Akbar* --> mantan teman kantor juga tetangga kostan yang pernah jadi abang kesayangan plus satpam 24 jam.

@Tanggapan saya: Doelah bang, niat bener ngucapinnya. Saya tau kok kadar sayang abang itu kalo ditimbang dipegadaian pasti ngalahin kadar emas Antam, hahaha. Makasih bang, atas doanya yang beruntun, mudah-mudahan Allah selalu menjagamu juga dimanapun berada. PS: Kado tahun ini boleh dobel lagi gak bang? Hahaha #temenbiadab

“Selamat ulang tahun Shinta Irawati Saloewa.  Semoga tetap sehat dan terus bahagia. Cita-citanya cepet terwujud. Jaga kesehatan. Semoga selalu mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.” 07.00- 07.49- 09.00 WIB via BBM dan Messages FB  *Roy Priyatno Asona, Juhan Willyanto, Gerry Bob Heltent Sirait* --> para buku bernyawa saya, orang-orang yang akan selalu punya tempat istimewa disudut bilik hati.

@Tanggapan saya: Terima kasih, untuk kalian yang selalu ada. Doa tulus kalian, menjadi penyejuk hati saya dihari yang bahagia. Jejak kalian, menjadi sebuah sejarah langka yang tidak mungkin saya lupa. Terima kasih, untuk semua tawa, tangis, rindu, amarah, yang membuat saya jauh lebih bijaksana.

“Hey Babz…hepi besday. Kadonya adalah pernikahankuuu *nari jingkrak” 07.30 WIB via BBM *Rahmawati Hulinggi* --> sahabat sejak kuliah, DJ radio gaul yang selalu merasa kere sepanjang masa.

@Tanggapan saya: Dasar Kirimaru!!! Entah kenapa otak ini masih saja menyayangimu teman, mungkin dulu ketika kita kenal, saya kerancunan bulu hidung gajah Lampung, sehingga seancur apapun dirimu, diri ini tetap akan selalu tertawa melihat namamu memanggil dilayar selular saya #nunduk lesu.

 “Panjang umurnya serta mulia, serta muliaaaaa…Happy Bday, sukses selalu ya, Shinta Saloewa. Panjang umur, sehat, bahagia, bertambah rejeki, happy selalu, sukses, selalu disayang ortu, dapat jodoh sesuai kategori. Amin. Wish you all the best darl” 07.42 WIB via BBM *Nancy Kawanda* --> cece cantik nan gaul kesayangannya sahabat jiwa saya, si Pak Kepala Sekolah Terhappening.

@Tanggapan saya: Makasih Ce, ternyata kita cuma beda sehari yah ulang tahunnya. Pantes sama-sama cantik dan aduhai. Mudah-mudahan Tuhan terus memberkatimu dan kedua putri kecil kesayangan kami itu.

“Met milad tante…semoga apa yang direncanakan dapat tercapai n sukses selalu. Inget ada calon suami yang udah nunggu siap2 mo nglamar” 08.22 WIB via BBM *Saipule* --> sahabatnya mantan yang beruntung ditugaskan dikampung halaman saya, sekarang jadi sahabat yang selalu setia menemani setiap saya pulang mudik.

@Tanggapan saya: He??? Calon?? Waduh…kok saya malah gak tau yak?! #tepok jidat,usep pantat. Ahhh dirimu…walaupun sudah tidak seromantis tahun lalu yang pake acara nyanyi Happy Birthday dengan khidmat diiringi gitar, dan lupa kalo Manado-Jakarta itu beda sejam lebih dulu (aahahaha), doamu tetap bermakna kok bro. Mudah-mudahan doa agak lumayan sotoy itu didengar malaikat dan dibisikkan ke telinganya Channing Tatum ato Gerard Butler, ato paling gak Rio Dewanto aja lah,jiahahhaha.

“Happy bithday ya tante shinta...wishing a never ending happiness...kiss..kiss” 09.07 WIB via BBM dan FB *Ririn Damayanti* --> sahabat seperjuangan sekamar dan sepersetanan di Solo dan Batam, haha.

@Tanggapan saya: Wow!! 1 kalimat yang sangat bermakna Cuy. Makasih banget. Mudah-mudahan kita selalu bisa berbahagia bersama seperti janji kita kepada langit Solo dulu :)

“Happy bday cantik... Smoga bahagia selalu sampe memutih rambutmu.. Btw jang lupa undangan sama deng ceni neh hehehe.. GBU” 10.37 WIB via FB *Ingrit Tompodung* --> rekan dalam kejahatan  semasa SMU, yang sekarang sama-sama sudah bertobat, hahaha.

@Tanggapan saya: Hmmm…saya suka bagian kejujuran…makasih lho, saya memang cantik dari sananya. Saya tau kamu pasti mengumpulkan keberanian besar untuk mengakui itu dari lubuk hati terdalam, hahahaha *lemparin pake sandal.

“Mat ulang tahun Chyinnnnn...You know am no good with words, jadi doanya diborongin aja. Terbaik bt you olang!! Selalu bahagia!! Dan mimpi2 akan tercapai!! Laksana pungguk rindukan bulan!! *eh?? Salah peribahasa. --'  Bagai mencari jarum di tumpukan jerami!!! *masih salah tampaknya. --'  Bagai air di daun talasss!!! *emang ga jago berperibahasa. --'  Sekiyan.  PS: doanya yg diaminkan yg bagus2 aja. Bagian peribahasanya, ntar gw belajar lbh gigih dulu. --' “ 10.59 WIB via email *Harry Sudirman Kawanda* --> Kepala Sekolah Sedeng Terhapenning sejagad raya, sahabat sejiwa yang senang berpetualang baik badan maupun perasaan, jiahahaha.

@Tanggapan saya: Nyiengg…sumpah ucapan lu biking gw pengen loncat dari lantai 55 pake trampoline warna warni ala pelangit dilangit yang biru alangkah indahnya saking frustasinya. Well, aminnn…makasih mak, mudah-mudahan tahun depan ada 1 negara yang ultahnya juga November, trus kita bisa kesana, jadi sepanjang bulan bakalan ada perayaan, kita bisa makan sepuasnya, foto-foto sepuasnya, sama kawin sepuasnya #ehh . --'

“Cung,,,,,,phie besdee dear....ehm semoga apa ya....semua cita2 lo bisa tercapai ,jiwa loe makin sehat.mewujudkan cita2 nyokap Amin.” 11.00 WIB via FB *Yuniar Carmelita Wowor* --> sesama anak Manado, anggota gank Anak Bebek, kumpulan para karyawan SITAC sakit jiwa di PT. Siemens Semarang, keluarga saya yang paling berharga diawal karir, halahh…

@Tanggapan saya: Kalimat terakhirmu hampir membuat saya meneteskan liur, eh airmata dimeja kantor, kalau saja tidak melihat suasana kantor yang ricuh ramai dengan berbagai teriakan. Makasih Cupu, jiwa saya semakin sehat kok setelah jauh dari kalian, cuma sayang, otak saja yang berkurang banyak kapasitasnya, jiaahaha…mohon doanya juga yah untuk mama.

“Suster Shinta Saloewa Rotinsulu...Selamat hari lahir.. depe paket wish lengkap, private jo kang. Huahaha. Love, pray, hope” 11.46 WIB via FB dan YM *Cyanthi Manoppo & Sonny Mumbunan*  --> sepasang koper dan ransel penikmat buku dan pemuja keindahan alam lewat mata lensa.

@Tanggapan saya: Ahh…terima kasih bumil, “paket wish” anda mudah-mudahan sudah diterima dengan baik oleh para malaikat pencatat keinginan dan doa lebay saya, jiahahaha. Berharap yang terbaik untukmu dan si mungil yang pasti mirip saya lucunya, hohoho.

“The first time I met Shinta was in my Senior High. She was one of the famous girls in the school. Even though, we spent 3 years in the same school, I never had the chance to know her well. I wasn't surprise to meet her again in the best Collage in town, by knowing her from a distance; I knew that she is a smart young girl. That’s why she was assigned in the "A" class, which was the contrary with ...me in "C" Class. Years in Collage also moved fast, I liaised with her in several organization/committee. Her active, pleasant, and outgoing personality made her one of the best student in Collage. I lost contact with her after her graduation. She moved to Jakarta for living. Meanwhile, I was stuck to finish my study, until I met her again in this Big City Jakarta. In this city, our friendship becomes closer. Some facts that I found out in here that she is a moody and often come late to almost every group meeting with ManDja. I also knew that travelling is the way she enjoy her life. In addition, I just found out recently that she has the talent in writing. I enjoyed the way she expressed her thoughts through her notes. Sometimes I open my FB friends' notes just to see if she writes something new. Okay, unlike Shinta, now I don't know how to close this testimonial, hehe.. So, thank you Shinta for being a friend to me in this Big City far away from our beloved hometown, especially when I have no friend to go to music concerts (the place where your loudness cannot match). Joyeux Anniversaire, mon amie..” 12.13 WIB via FB *Jibie Henri Tengko* --> Chief of Student Association batch 2005-2006, International Business Administration, Economic Faculty, Sam Ratulangi Univ. Penangkap bayangan keindahan melalui lensa kesayangannya, sahabat senasib sepenanggungan di ibukota, salah seorang anggota gank ManDja”

@Tanggapan saya: Well, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa akan diberi kado kejutan seperti ini. Teman mana yang tidak senang dipuji, tapi pujian anda kali ini benar-benar diluar ekspektasi saya. Ahhh sobat… betapa beruntung lagi-lagi saya diberikan “harta berharga” sepertimu. Ternyata memang tidak salah kami memilihmu dulu sebagai “Bapak Ketua Himpunan”, karena  selain wajah indo penggoda imanmu itu, banyak sekali talenta dan keunikan yang mendukung, hahahaha.Tuhan memberkatimu ganteng :)

“Happy B'day De, inga rumah ne. moga panjang umur, sehat-sehat, mudah rejeki, mudah jodoh, makin baik, tidak sombong, rajin menabung, makin sayang orang tua dan kakak-kakak, plus ponakan :D pokoknya semua yang baik khusus didoakan hari ini dengan harapan diaminkan Allah. Insya Allah... best wishes for u *kissnhug” 12.54 WIB via FB dan BBM *Santi Arwatie Saloewa* --> sejak kecil sekamar, mainannya sering saya rusakin, entah berapa baju dan sepatu dan bukunya sering saya balik nama, mantan pacarnya sering saya galakin, tapi dia akan selalu ada disana, karena dia saudari terbaik saya, kakak tercantik (bweehhhh) yang pernah ada :)

@Tanggapan saya: Jiahahaha, makasih ibu jendral. You are the best!!! Jangan lupa jaga kesehatan, dan yang paling penting, jangan malas menabung *pasang kacamata item, kibas poni.

“Si tomboy ultah? Happy bday De sayang. Sukses selalu. Jangan lupa kirim hasil dari Jakarta” 12.54 WIB via wall kakak saya *Marina Moki* --> teman segank kakak saya, yang sudah dianggap kakak sendiri.

@Tanggapan saya: Makasih Kak, buat doa terbaik untuk si cewek ganteng ini. Sukses selalu juga untukmu.


 “Saudariku yg sering mengingatkan saia...Selamat Hari lahir dang tooo, Happy lahir batin dang tooo...
Sukses smw dalam hal ini...” 13.07 WIB via FB *Auditya Herdana* --> sahabat sekampung, anak Gank ManDja yang lagi galau-galaunya, jiahahaha.

@Tanggapan saya: Mari kita saling mengingatkan sobat, mengingat jumlah dosa dan doa kita masih sering berbanding terbalik *sigh*

“Selamat berhari ulang tahun yah, so ke berapa kote ini? Tetap semangat dan sukses selalu. Sehat2, panjang umur en cpt married :). (Translate: Selamat Ultah, ini udah yang keberapa gitu? dst)” 13.08 WIB via FB *Agnes Rosaline Tumewu* --> dosen gaul dan gokil.

@Tanggapan saya: Hmm…kalo diliat dari muka sih, masih 7 tahun, dari kelakuan, errr…masih 17 tahun, dari rejeki yang udah 27 tahun, hahay. Aminnnnn *tereak dari atas monas*

“Happy bday dear shinta...pnjg umur,sukses di ibukota...sampai jumpa lebaran next year *wink..wink...” 13.27 WIB via FB *Natalia Arwandi* --> anggota Gerphed, rombongan pemeriah suasana Lebaran dirumah saya, sejak saya masih duduk dibangku kuliah, sampai sekarang sudah hijrah ke ibukota.

@Tanggapan saya: Makasih lhooo darlll….Lebaran tak pernah meriah tanpa kehadiran kalian. Mudah-mudahan tahun depan rumah saya bisa lebih canggih, dapet stempel sekali datang, kalau sudah terkumpul lima stempel, bisa tukar ciuman manis saya, jiahahaha.

“Heyyyyy ms. shinta.... slamat ulg tahun!! pjg umur, tambah lincah, tambah toa dg cpt kawenggggg... :D” 14.16 WIB via FB *Stella Ponumbol” --> juga anggota Gerphed, pacar sahabat saya sejak SMP, nyong Marcil Powa.

@Tanggapan saya: Jiahahaha…u know me so well :p  Nanti akan ditingkatkan, untuk kepuasan para penggemar setia seperti kalian, ahaha. Waduhhh…itu doa bukan curcol diri sendiri juga kan??

“Aiiiisssshhh...Usia Baru pasti dapet Pacar Baru lageee neeh!!Haahahaha... :p Happy B'day yak Jlex... Semoga Sehat2 dan makin Sukses di usia yg baru ini. God Bless u!!! www.cepetankawin.com” 14.23 WIB via FB *Fransiskus Xaverius Stanly Manus” --> sepupu songong, pasangan akal bulus saya sejak kecil, si Cassanova yang sebentar lagi melepas masa lajangnya, saya turut berduka cita untukmu wahai Kunti Ambar Dewanti, hahaha.

@Tanggapan saya: Hey Jlex, makasih doanya. Walaupun ada kalimat yang agak sotoy, saya menganggap itu cuma karena kadar kecintaanmu kepada sepupu termanismu ini sudah tak terhitung banyaknya #tertawa jumawa. Maaf yak, sekedar informasi, saya sudah insaf dari segala tindak penipuan berkedok cinta yang selama ini kita junjung tinggi, jiahahaha.

“Shinta, hepi bday! :D Smga panjang umur,sehat selalu,lancar rejeki+jodoh, sukses karir, tambah dewasa, tambah cantik, gak gampang galau hehe. WYATB lah pokoknya” 15.55 WIB via SMS *Zainul Husein* --> kembaran lain saya, teman sepergulatan dibawah air kolam Senayan, sesama anggota Jakarta Underwater Hockey Club.

@Tanggapan saya: Jiahahaha…galau? Aduhhh…saya malah sudah lupa artinya apa #sombong. Makasih yak Inul, harapan saya juga sama untukmu. Sukses terus yah, jangan malas latihan donk, kolam sepi tanpa hadirmu #halah.

“Happy birthday yaaa buuu eh mas eh...... ^^”  17.38 WIB via FB *Anih Wijaya* --> teman meliuk setiap senin-kamis dikolam renang senayan, sesame anggota Jakarta Underwater Hockey Club.

@Tanggapan saya: jiahahahahaha....ciyalannnn -.-" :)) makaseh lho jeung, eh bang :p :)) sesama banci jangan saling mendahului..jiahahahaha…

“Selamat ulang tahun, feliz cumpleanoos, happy birthday, alles gute zum Geburtstag, tavallodet mobarak Shinta” 18.27 WIB via BBM *Eko Primabudi* --> mantan bos sadis sekaligus salah satu sahabat yang saya temukan didunia kerja.

@Tanggapan saya:  S=“itu yang terakhir bahasa apaan yak?”, E=”Persia”,S=”Lu tuh di Jerman gaulnya ama orang apa ama kucing sih?, E=”Orang Iran cyungg,mereka kan bahasanya Persia”, S=”Err…maapin gw yang bodoh ini”. Makasih Cot, berasa dikasih ucapan sama berbagai orang dibelahan bumi dengan ucapan spektakulermu ini.

“Ya Allah, mudahkanlah segala urusan sahabat hamba ini, lancarkanlah pekerjaannya, bimbinglah setiap pilihannya, berkahilah semua langkahnya, jadikanlah dia manusia yg pandai menjaga amanah,pertemukanlah dia dgn jodoh terbaiknya. Dan yg terpenting, ingatkanlah dia bahwa SESUNGGUHNYA DOA UCAPAN SELAMAT ULTAH INI SAMA SEKALI TIDAK GRATIIIIISS. Traktiraannn wwoyyyy” 20.21 WIB via BBM dan FB *Indah Amalia* --> belatung senasib seperjuangan semenjak kantor masih bernama “PT. Siemens Indonesia” lalu berubah “PT.Nokia Siemens Networks”.

@Tanggapan saya:  Wuakakahajakajahakakkaka.....that's why I loveeee u soooo darlinggg!!!! Sumpah Belz,ini ucapan paling terhappening abad ini!!! Ngakak-ngakak  guling-guling-guling plus mencri-mencri  pas baca =))))) Amin Ya Allah doa dr saudara saya yg sama kiyutnya ma hambaMu ini...Insya Allah barokah jg buat keluarganya...Jamaahhhh...woyy Jamaah…..Alhamdulillah :))))

“Kk..Joyeux anniversaire..Gbu..:)” 21.49 WIB via FB *Ivonna Malonda* --> malaikat penjaga salah satu buku bernyawa saya :)

@Tanggapan saya: Merci beaucoup, belle. Terima kasih nona cantik. Senang mendengar semua cerita menyenangkan tentang kalian, semoga terus bahagia yak ^_^v

“Happy b’day Shinta…semoga tambah sholehah, cepet nikah, sakinah mawadah waromah” 21.56 WIB via BBM. *Achmad Husni Agung Nugraha* --> mantan bosnya mantan pacar saya #belibetlibet, sekarang jadi sahabat dan tempat bergantung ketika liburan ke pulau dewata.

@Tanggapan saya: Makasih doanya mas. Mungkin kalo saya sudah terima undangan bertulis namamu dan mbak yu yang khilap matanya, baru akan balapan untuk mencari calon idaman. Oh yah, aturan saya soleh, bukan solehah, hahaha.

“Happy  Birthday, Wish You All The Best, Semua yang terbaik untukmu, semua impian tercapai dan mengaminkan semua doa yang baik hari ini, God Bless You”. 00.00 – 23.59 WIB alias sepanjang hari via FB, SMS dan BBM *Resy Novelia Sirait, Ivan Telwe, Jeiniva Elizabeth M Wowor, Mayasari Suratinoyo Isa, Tine Agustina, Rionne Chika Awuy, Dewi Ratih Maharani, Patsy Laura, Nurdian Tanjung, Neneng Andriani Djuanda, Chairullah, Surya Rahardja,  Eduardus Daniel, Cecilia Setiawan, Cynthia Sugeng, Dias Putri Ratnasari, Tri Lestari Pratiwi Taharuddin, Juffry Maykel Manus, Meidy Yolanda Tumbelaka,  Nadya Eka Prihatni, Ratna Setyawati, Sari Lora Nia Wowor, Shelty Christine Marentek, Angel Eirene Doodoh, Mario Lengkey, Eka Feriyan Galgarine, Astried Wiendhy Rahardja, Susan Rory, Stella Mamentu, Sylvia Kountul, Sondang Napitupulu, Windhy Monique Pelupessy, Risalia Tydara,  Novik Ari, Marissa Fitriasyah, Arimanda Gayatri Saloewa* --> para saudara dan sahabat, harta saya yang paling berharga.

@Tanggapan saya: Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk mengenal kalian. Semoga semesta mengaminkan semua doa baik kalian yak. Semoga Tuhan selalu bersama kalian dalam setiap perjalanan.

“Selamat ulang tahun sayang, sukses selalu, semoga cepat dapet jodoh, biar cepat nikah (bukan kawin yah darling) biar ada yang jagain” 09.00 – 20.00 WIB, via FB dan BBM *Nurafni Saluwa, Merlyn Angela Sidabutar, Nervi Manembu, Faramitha Rizky Putri Monoarfa* -->  para teman dan saudara yang sedari dulu tidak sabar menjadi panitia pesta perkawinan gokil ala Shinta.

@Tanggapan saya: Makasih yak semuanyaaaaaa…..tapi lhooo…jodoh itu ditangan Tuhan, pasti ada waktu terbaik ketika Channing Tatum atau Rio Dewanto sadar ternyata selama ini mereka sedang bersama wanita yang salah dan akhirnya mencari saya keujung dunia, hahahaha.

“Happy Birthday, semoga sehat dan bahagia darling” siang hari WIB via BBM *Rezki Amalia Dunggio dan Rouline Panjaitan* --> duo sahabat sepermucikarian diranah hiburan tanah air, hahaha.

@Tanggapan saya: Makasih makkk….ini juga adalah salah satu kalimat ucapan favorit saya kepada semua kerabat yang berulang tahun, karena bagi saya, sehat dan bahagia adalah pangkal semuanya bukan ^_^

“Selamat Ulang Tahun, semoga panjang umur, semoga semua impian tercapai, semoga tambah ceria, semoga jiwanya tambah waras, semoga sukses selalu, semoga toanya berkurang, semoga jadi cewek sejati, semoga tambah kaya, semoga cepet dapat jodoh”. -à siang hari via beberapa grup BBM yang kocaknya justru saya sudah tidak ada di grup itu dikarenakan BB jadul ini sudah meratap-ratap minta diganti.

@Tanggapan saya: Guys, makasih yah pujiannya, saya merasa sangat bangga dengan “sakit jiwa” ini, yang membuat kalian cinta teramat sangat pada saya, hahahaha. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mempunyai teman-teman bodoh nan gokil macam kalian, yang ribut memberi ucapan lucu-lucu padahal orangnya sudah tidak disitu, kalian memang spektakuler!!!

“Happy bday Cuy, Semoga cepat kembali ke jalan yang benar (Chitra Juwita), Omo…Happy Many Returns, makin eksis and makin berkah sisa umurnya (Rini Surantini), Hai kuning, happy belated birthday. Happy always (Heidy Destriani), Happy Beerday, ketek dari jauh..cup cup muach (Adinda Natasya), Happy Birthday yellow girl, ol de best 4 u (Pravita Isna Putri), Happy Bday Koneng, God Bless You (Catherine Pelawi, Idha Ratri, Yenni  Andri), Shinta…Happy B’day yah,Wish u all the best.(Laris Simatupang), Wah ternyata juragan nasi kuning ternyata ulang tahun ya hari ini…HAPPY B’DAY yah….be healthy, be happy…  (Theresia Sovia), Jiyaaaaaaaaaaaa….Ultah dia rupanyaahhhh…Hepi besdei yaahh Shinta Saloewa..Smoga umur baru smuanya dapet baru yg baek2.. ^^v (Sekar Ayu K)” 12.00 WIB, sesaat setelah HRD mengirim email tentang daftar anak kantor yang berultah dibulan November plus tulisan dikartu ucapan kado kejutan --> para teman kantor gokil yang sekarang menemani hari-hari saya.

@Tanggapan saya: Terima kasih yak, untuk tabah menjalani hari-hari bersama rekan baru yang super ajaib ini, semoga jiwa kalian makin tenang, hahaha.

“Selamat ulang tahun Shinta Irawati Saloewaaaaaaa, semoga panjang umur, cepet dapeet jodoh, gak makin budek, dan peka terhadap sekitarnya (Teddy Rizaldi Muhammad), Happy Birthday Shinta..kisskiss, (Martina Silvia Rebecka Pardede), Makkkkkk selamat ulang taon yaa, cepet dapat jodoh, tapi kalo bisa setelah gw dapet jodoh baru boleh elo yang dapet *kecup basyahhhh (Dwiyani Hapsari), Wahhh….Sintah bday….Selamat ya nak…Semoga kembali ke jalan yang benar…heheh..happy terus makk (Pritha Auria Prameswari), Happy bday sintah jojo, semoga makin mateng…cepet dapet lekong dan bacotnya dikurang2in, dikit :p hahahahaha…sakseisss yahh makk *alawilian (Made Verthandi), Haaapppyyyy bdae makkkk, sing sakseus and sehat seeellalu dalam segala hal (Wilian Hengky), Eppyyy bdaeeee neng Sintahhh (Arnatt Ardianto)” 09.00 – 14.00 WIB *grup BBM Tukang Jalan-Jalan* --> para anak-anak sableng yang susah banget ketemunya kalo di Jakarta, tapi gampang dijumpai di pantai dan berbagai objek wisata murah, hahahaha.

@Tanggapan saya: Demi dewi pantai berkolor merah jambu, kalian benar-benar membuat saya tertawa ngakak hampir terjatuh dari kursi, membayangkan tampang rusuh kalian. Ayok kita kumpul-kumpul lagi temans...kemana kita???? Berlari ke hutan lalu belok ke pantai yokkkk... #film jadul gilak

Para kloter yang telat:

“kk...maaf terlambat...met ultah ka..pnjag umur n sukses ya bwt kk..” 2 Desember 2011 via FB *Amelia Rizky* à adik manis semasa kuliah, anggota genk Power Ranger (si Ranger Green).
“Shintaaa…Heppy bday yahhhhhh….Maaf too late…wish you health and success yahhhh” *Rahmi Banat* --> sahabat satu genk SITAC Realitas di Plaza Kuningan

“Met ultah ya cewe macho..maaf telat ^^ wish you all the very best dan cepet punya momongan...loh >.< " 2 Desember 2011 via FB *Fiersa Besari* --> Rocker cantik, anak Tukang Jalan-Jalan, salah satu sahabat klub insomnia yang selalu membuat saya geleng-geleng kepala karena ulah ajaibnya.

“Selamat ulang tahun ya shinta. Sori telat jg (jgn2 kemarin pas gw nelpon lu lagi pesta ultah --'') :D Sukses selalu dan cepet dapat pasangan :)” via komen FB di wall ucapannya Fiersa *Cecilia Astri * --> “kakak ipar” dadakan, hahahaha. Pencinta buku dan kecanduan jadi relawan yang juga tergabung di grup Tukang Jalan-Jalan.

“Awal desember yg bahagia nih... HBD shintaaaaaaaa... Smoga cepat nimang cucu... Ahayyyyy” 3 Desember 2011 via FB*Andhi Akbar* --> teman seperjalanan di Karimun Jawa, trip terakhir sebelum kerja (lagi).

@Tanggapan saya: Makasih Temans, better late than never, but never late is better sih, jiahahaha. Saya yakin, kalian bukannya sengaja lupa, mungkin kapasitas otak memang berkurang seiring usia yang semakin senja, jiahahahaha. Doa kalian yang tulus Insya Allah sampai ke Sang Maha Pencinta lebih cepat daripada kedipan mata :D.

“Kenapa gak jadi latihan? Actually I’m waiting for you, to say happy birthday to you directly. I was postphone to say it before. So, maybe you could take the gift on Monday. Happy birthday to you. God bless you” 2 Desember 2011, 06.00 pagi, via BBM, sepersekian detik setelah saya mengaktifkan Blackeberry kesayangan saya.

@Tanggapan saya: ……………………………………………… #hening #melongo #kaget #speechless *saya tau dia punya kemampuan bahasa Inggris diatas rata-rata, tapi entah kenapa dia jadi salah menulis 1 kata. Waduhhh…..errrrhhhh…… -.-“ #mendadak amnesia kata-kata

Well, you rock guys \m/

Terima kasih untuk semua doa dan ucapan gokil kalian. Saya senang sekali, sujud syukur nungging loncat adalah ekspresi yang bisa mewakilkan perasaan saya ketika membaca semua ucapan tulus ini. Insya Allah, tahun depan saya masih berkesempatan melihat segala ucapan seperti ini Ya Tuhan…Aminnnn

Jakarta, 8 Desember 2011

Menara BCA, 16.16 WIB

Lagi-lagi magabut sore-sore gara-gara bos masih cuti #maap mbak

07/12/12

30 November 1984 - 30 November 2011, 27 Tahun Meramaikan Dunia (Memoar Shinta Irawati Saloewa Part.1)


Dua Puluh Tujuh Tahun…
Bukan waktu yang singkat untuk dilewati. Banyak cerita dibalik perjalanan seorang anak manja yang dilahirkan di Manado, tanggal 30 November, dua puluh tujuh tahun yang lalu.

Saya, yang dilahirkan dari seorang ibu berdarah Minahasa campuran, dan dibesarkan bersama dengan ayah yang berdarah campuran dari berbagai suku di Indonesia, merasakan bahwa aliran darah campur-campur ini lah yang membuat hidup dua puluh tujuh tahun saya semakin unik dan berwarna.

Sejak kecil, saya dibesarkan ditengah keluarga multi ras dan agama. Shinta kecil terbiasa membantu mamanya membuat kue dan berbagai makanan manis khas hari raya setahun dua kali. Papa juga membelikan kami anak-anaknya baju dan sepatu hari raya setahun dua kali. Kami diajarkan untuk selalu saling menghormati kebebasan beragama satu sama lain. Terkadang otak kecil saya selalu bertanya-tanya, kenapa ribet sekali, sibuk merayakan hari raya dua kali dalam setahun? Melihat kesederhanaan hidup kami dulu, pantas lah saya merasa bahwa mama papa saya sedikit berlebihan dalam merayakan hari raya. Begitu pula dengan masalah pulang kampung. Kami lebih sering pulang ke kampung halaman mama yang letaknya lebih dekat dengan kota tempat kami tinggal, daripada pulang ke kampung papa yang harus menempuh delapan jam perjalanan darat (waktu itu belum ada pesawat menuju kesana). Lagi-lagi saya menganggap, pulang kampung itu melelahkan (mengingat saya yang lincah ini tidak didukung oleh badan yang kuat dan sehat) selain juga merupakan suatu tindak pemborosan. Tetapi walaupun kami jarang pulang ke kampung papa, entah bagaimana caranya, papa dan mama selalu bisa membuat saya dan kakak saya dekat dan akrab  dengan keluarga di Gorontalo, tempat papa numpang lahir dan dibesarkan sampai SMP. Pesan papa mama yang selalu saya tanamkan dalam diri saya adalah “Memberi dengan hati senang kepada keluarga dan sahabat tidak akan membuat kita hidup sengsara”.

Dulu kami harus pindah dari pusat kota Manado, kearah pinggiran kota. Saya sempat protes karena sekolah saya juga dipindahkan ke sekolah pinggiran yang waktu itu saya anggap sedikit kampungan. Anak-anak yang pulang pergi sekolah jalan kaki, sedikit aneh dimata saya yang terbiasa diantar dan dijemput oleh para sepupu saya yang lebih tua. Ketika sepupu saya dari ibukota datang berlibur, saya sedikit iri, kenapa saya tidak lahir dan dibesarkan diibukota, tampaknya keren kalau saya bergaya dan berbicara dengan bahasa gaul seperti mereka. Saya sedih dengan cap anak daerah yang tidak ada keren-kerennya menurut saya waktu itu. Perayaan ulang tahun saya juga jarang dirayakan bersama teman-teman sebaya. Mama papa lebih suka merayakan ulang tahun saya dirumah bersama keluarga, atau kalau ada sedikit rejeki, mama papa lebih suka merayakannya disekolah bersama para guru dan teman sekelas, atau  mengajak saya ke panti asuhan dikota kami, untuk mengantarkan sedikit makanan pokok yang akan disambut senyum ceria para penghuninya. Saya yang masih kecil selalu merasa tidak adil, ketika melihat foto-foto ulang tahun kakak saya yang selalu meriah bersama kerabat dan teman sebaya, penuh hiasan, balon dan penganan khas perayaan ulang tahun.

Ketika beranjak dewasa, saya mulai disekolahkan disalah satu sekolah menengah terbaik dikota kami. Jarak dari rumah yang berada dipinggiran kota ketengah kota tempat sekolah itu berada, membuat saya yang amat sangat pemalas untuk bangun pagi, terpaksa bangun pagi dan berlari-lari mengejar angkutan umum (sejak setahun setelah pindah ke SD dekat rumah, saya sudah tidak dibiasakan untuk diantar jemput lagi). Disekolah itu, saya yang memang agak tomboy, bertemu dengan para sahabat yang kebanyakan laki-laki, tetapi herannya tidak ada satu pun yang nyantol untuk jadi pacar saya. Pernah saya diolok oleh salah seorang saudara sepupu saya, bahwa apa gunanya punya banyak sahabat laki-laki kalau tidak ada satu pun yang bisa menetap dihati. Untunglah pembawaan saya yang cuek dan ceria membuat saya tidak memperdulikan satu pun ejekan orang-orang. Mama saya tidak pernah melarang saya untuk bergaul dengan berbagai macam orang, termasuk lawan jenis, jadi saya malah tidak terlalu memusingkan dengan hal-hal berbau lelaki, yang sejak jaman purba sampai jaman ipad kata orang hanya berujung pada sakit hati :D.

Duduk dibangku sekolah menengah atas, saya mulai belajar lebih dalam mengenai agama yang saya anut sejak lahir. Banyak sahabat yang saya temui juga dimasa ini, dan masih bersahabat baik sampai sekarang, Disitu juga saya mulai mengenal keindahan alam lewat berbagai kegiatan pencinta alam. Saya suka sekali dengan adrenalin yang terpacu dengan pola tingkah ekstrim para pencinta alam. Walaupun lagi-lagi saya harus protes kepada Tuhan akan kondisi badan yang tidak selalu bisa diajak kerja sama, membuat saya terkadang harus rela tidak ikut berkemah ato berbagai kegiatan seru lainnya.

Masuk ke jenjang kuliah, saya ingin sekali sekolah diluar negeri. Tampak keren, membayangkan betapa banyaknya hal baru yang akan saya temui. Atau paling tidak, kuliah diluar kota, supaya saya bisa bebas laksana burung lepas dari sangkar. Tetapi karena alasan biaya dan kondisi saya yang sering sakit, mama dan papa meruntuhkan harapan saya tersebut. Seperti biasa, saya lalu memprotes dengan berbagai cara. Tapi apa mau dikata, mama ternyata selangkah lebih maju, dengan membayar uang pangkal untuk saya tanpa saya ketahui, melalui om saya, disalah satu jurusan yang sedang tren saat itu dikota kami, ekonomi internasional. Akhirnya saya pun pasrah hanya kuliah dikota ini lagi. Terbayang bosannya hari-hari saya yang akan bertemu dengan orang-orang yang sama sejak saya sekolah. Ternyata, dunia kampus itu begitu semarak. Saya mengenal banyak sekali teman baru, serta mencoba banyak kegiatan yang melatih saya untuk lebih bertanggung jawab, dan tanpa sadar, saya bertumbuh pesat bersama dengan kampus ini. Dikampus ini saya juga bertemu dengan beberapa buku bernyawa saya, orang –orang yang mengajarkan saya betapa cinta itu bukan melulu diisi derita, betapa patah hati itu bukan selalu berarti mati. Berorganisasi untuk sekedar menambah deretan prestasi pun terpuaskan dikampus ini. Berbagai kegiatan beragam komunitas resmi, menjadi salah satu ajang untuk mengasah kemampuan bersosialisasi. Kuliah dijurusan internasional juga membuat saya bisa melanglang buana, dalam rangka memenuhi prasyarat mata kuliah magang dibeberapa perusahaan terkenal di ibukota.

Dunia kerja, kembali membuat saya terpana. Impian untuk tinggal dipulau Jawa terwujud sudah. Program magang semester akhir membuat saya akhirnya diterima bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi ternama. Modal nekad dan doa dari keluarga, saya akhirnya terbang ke ibukota, untuk belajar hidup didunia yang sama sekali asing buat saya. Semarang, Solo, Jogya, Batam, dan akhirnya Jakarta, adalah kota-kota yang akhirnya membuat polah tingkah saya lebih mendewasa. Belajar kehidupan, jauh dari sanak keluarga, membuat saya mau tidak mau harus bertahan untuk tidak manja. Kesempatan untuk ditempatkan dikampung halaman pupus dikarenakan atasan saya menganggap saya lebih cocok bekerja dikantor pusat yang letaknya ditengah keramaian jantung kota. Dunia saya benar-benar berubah. Mama papa yang waktu itu datang untuk berobat, sampai terenyuh melihat perjuangan anak bungsunya menaklukkan ganasnya ibukota. Saya pun bertemu dengan banyak sekali keluarga baru, anak-anak seperjuangan demi mencari sesuap nasi dan seember berlian serta sekarung titanium. Buku bernyawa saya pun lumayan bertebaran kala saya kerja, hahaha. Mungkin karena saya sendirian disini, merasa dunia ini begitu sepi jika tidak ada seseorang yang menemani disisi. Hidup saya dimasa ini benar-benar menyenangkan. Bebas dan berjalan apa adanya. Semua sesuai dengan yang saya mau. Keluarga yang menyayangi, sahabat yang menyenangkan, kekasih yang mencintai, serta uang yang sangat memadai.

Tetapi selama saya hidup, ada satu masa lagi dimana saya benar-benar diuji. Masa yang saya namai “Sekolah Menghargai“. Masa dimana saya benar-benar menghargai artinya waktu, artinya uang, arti kasih sayang serta arti persahabatan dan persaudaraan. Hal-hal yang selama ini hanya menjadi sekedar motto klise kehidupan. Masa itu adalah satu setengah tahun selama saya “nekad” mengambil keputusan untuk resign alias berhenti bekerja. Tinggal di ibukota, diwaktu yang tepat dan dalam keadaan yang menurut saya juga sangat tepat. Masa yang sangat mendidik saya untuk benar-benar mengerti dan menghargai makna hidup yang diberikan Sang Maha Mulia. Hal-hal yang tidak pernah saya bayangkan terjadi dimasa-masa itu. Tuhan selalu punya cara unik untuk membuat saya belajar mengerti arti semua peristiwa yang Dia gariskan untuk kehidupan saya. Satu pedoman yang saya pegang sampai sekarang “Semuanya terjadi karena satu alasan”. Untuk semua yang terjadi diperiode satu setengah tahun itu, satu pelajaran yang benar-benar bisa mewakilkan semuanya, yaitu “Belajar Ikhlas”.

Maha Besar Allah….Terima kasih atas semuanya….semua hal yang engkau berikan, selalu tepat pada waktunya. Dua puluh tujuh tahun Engkau berikan saya nikmat yang luar biasa. Semua masa perjalanan yang tidak bisa disebut indah, tapi yang pasti sangat sarat makna.

Saya yang senang dengan keanekaragaman, dilahirkan ditengah keluarga yang menganut dua agama besar di dunia. Bisa merasakan meriahnya Ramadhan dan Lebaran ditengah keluarga tercinta, plus keluarga dan teman-teman yang turut meramaikan walau tidak merayakan, serta kehangatan pesta keluarga besar ditengah dinginnya musim hujan di bulan Desember dalam rangka memperingati hari Natal dan Tahun Baru. Sebuah cara belajar toleransi yang mudah dan menyenangkan.

Saya yang senang dengan alam, disekolahkan dipinggiran kota, setiap pulang sekolah selalu melewati perkebunan pala, goa dari rimbunnya pohon salak, sungai kecil yang masih jernih, peternakan sapi, ataupun bermain dipantai dekat sekolah. Selalu ada permainan baru, selalu ada petualangan baru, bersama para teman-teman di sekolah yang selalu punya hal baru untuk diperkenalkan pada saya. Kenangan masa kecil yang sampai sekarang selalu membuat saya bersyukur betapa beruntungnya dulu bisa bersekolah dipinggiran kota, bisa bercengkrama dengan para murid beraura ceria, bisa merayakan ulang tahun bersama tawa canda bersahaja para penghuni panti asuhan yang setiap tahun tulus berdoa bersama untuk hari bahagia saya. Sebuah kenangan indah yang tak lekang dimakan usia.

Saya yang tomboy, dipertemukan dengan banyak sekali sahabat lelaki, yang masih akrab sampai sekarang, bahkan mereka sudah seperti keluarga, dan menjadi penghuni tetap rumah saya dikala Lebaran tiba. Mereka juga adalah rombongan sahabat pertama yang menjemput saya dibandara ketika kami sekeluarga tiba dari Jakarta bersama jenasah almarhumah mama saya, serempak memeluk dan menghibur saya, membuat saya terharu dan merasa ternyata saya banyak yang menjaga. Bayangkan kalau saya dulu memacari mereka semua, dan semua hubungan kami kandas ditengah jalan, betapa sepinya rumah saya dikala Lebaran, dan betapa sedihnya saya menderita karena kehilangan. Sebuah memoar remaja tanggung yang ceria dan tanpa beban.

Saya yang kebingungan mencari jati diri, diberikan masa SMU yang menyenangkan. Belajar untuk menjadi seorang anak manis dirumah, tapi menjadi setan bandel yang bergaul riang kesana kemari. Tuhan memberikan saya teman-teman satu kelas yang terkenal seangkatan karena kebandelan dan kekompakkan kami. Anak-anak yang dulu pernah dikatai oleh salah seorang guru kami, gerombolan tidak bermasa depan baik karena kelakuan jahanam kami. Anak-anak yang menjadi juara satu dalam lomba taman antar kelas, bukan karena kami rajin bercocok tanam, tetapi karena kami lebih senang bermain ditaman daripada belajar didalam kelas. Puncak keaktifan remaja yang belum terlalu memusingkan perbedaan positif maupun negatifnya sebuah tindakan, semuanya dilakukan atas dasar keinginan tanpa pikir panjang. Disini juga saya menyadari kelebihan saya yang lain, saya sama sekali tidak takut dengan binatang apapun, bahkan cenderung suka pada jenis binatang yang membuat wanita lain lari terbirit-birit. Saya mulai belajar mengenal karakteristik diri sendiri yang lain dari biasanya. Sebuah pengalaman remaja labil yang menggairahkan.

Saya yang aktif namun sakit-sakitan, dikuliahkan dikampus yang menghadirkan semilyar peristiwa. Tetap berada dikampung halaman tercinta, ternyata tak seburuk prasangka. Berbagai kenangan berlatar telenovela campur komedi situasi terukir disini. Kecintaan terhadap buku, organisasi, dan beragam aktifitas, dipuaskan dalam kurun waktu empat tahun. Saya angkatan 2002, tetapi sejak Februari 2006 saya magang dan kebablasan bekerja dikantor tempat saya magang itu selama empat tahun, dan terpaksa mengambil sistem kebut sebulan untuk menyelesaikan skripsi ditengah kesibukan bekerja dan berleha-leha diibukota, pergi pulang Jakarta - Manado, menghabiskan sebagian tabungan saya, demi janji kepada almarhumah mama tercinta. Alhamdulillah saya dinyatakan lulus Desember 2008 dan diwisuda pada bulan Maret 2009. Menjadi anak daerah tak selalu jadi objek derita ternyata. Sebuah euforia anak muda yang manis nan romantis.

Saya yang punya mimpi segudang dan maniak berpetualang, dititipkan rejeki utuk bekerja ditempat yang mengharuskan saya keliling beberapa kota di Indonesia untuk keperluan pekerjaan. Tinggal dipulau Jawa yang sarat tempat bersejarah. Hidup terpisah dari keluarga yang mengharuskan saya belajar hidup mandiri. Pindah ke ujung Sumatera yang berdekatan dengan beberapa negara tetangga, berkesempatan mengunjungi negara-negara tersebut dengan biaya murah meriah. Terpaksa pindah ke Jakarta, yang sempat membuat saya menangis dua minggu ala perawan dusun ditinggal kekasih kawin lari. Perasaan takut sendiri dan jauh dari kekasih hati membuat saya meratap dan mengutuk keberadaan saya dikota ini. Tetapi tanpa saya duga, ternyata kota ini akhirnya membuka mata saya. Bisa dibilang, kota ini membuat saya menjadi lebih bijak menatap dunia. Bertemu para sahabat sejiwa. Berjibaku dengan kerasnya ibukota. Berdamai dengan takdir yang digariskan Sang Pencipta. Sekarang, entah kenapa, justru saya merasa, inilah rumah saya sebenarnya. Sebuah perjalanan istimewa seorang anak manusia yang beranjak dewasa.

Saya yang suka tantangan, diberikan keberanian untuk mengambil keputusan yang tidak bisa diolah akal sehat. Keputusan yang membuat saya jatuh bangun menjalani berbagai kejadian selama delapan belas bulan lamanya. Menikmati pelannya alur hidup ketika saya sedang tidak terikat dengan apa-apa. Memaknai waktu yang semuanya milik saya. Mempelajari bahwa tidak selamanya keinginan berjalan bersama dengan kenyataan. Menyadari bahwa rencana Tuhan itu selalu indah pada waktuNya. Sebuah pencapaian hidup yang sarat makna.

Ya Allah, nikmatMu apalagi yang hamba dustakan. Subhannalah , jalan yang Engkau berikan kepada saya sungguh tak terduga. Terima kasih untuk keluarga dan sahabat fantastis yang menemani hari,  terima kasih untuk cerita dan pengalaman dasyat selama ini. Menyadari betapa kerennya takdir saya, lahir dari keluarga sederhana namun berlimpah pelajaran berharga, menuntut ilmu disekolah yang penuh warna, dan dikaruniai berbagai pengalaman luar biasa. Terima kasih untuk sebuah kecerian dipagi hari, 30 November 2011, karena hari itu saya, kembali dibangunkan dengan tidak kurang suatu apapun, bertambah satu lagi jatah umur, untuk kembali menuliskan lembaran menjadi sebuah kumpulan cerita dalam umur baru saya, melangkah keujung cakrawala, sekedar menikmati indahnya dunia. Alhamdulillah, saya bangga dilahirkan sebagai seorang Shinta Irawati Saloewa.


Jakarta, 7 Desember 2011

Menara BCA Lt.55 jam 17.17 WIB

ketika bos lagi cuti nonton Mr.Big ke Surabaya, dan langit cerah seperti biasa ^_^

*telat beberapa hari diposting gara-gara gak punya waktu ngeblog #soksibuk #gigitlaptop