03/11/13

Soputan, Karena Bahagia Itu Sederhana

Gunung dan Pencinta(alam)nya


“Nta, kamu jadi gak ikut anak-anak mendaki Soputan?”

Bunyi watsap Ican, sahabat nyentrik yang sedang keliling Indonesia dan kebetulan sempat menginap dirumah papa saya di Manado, waktu Lebaran kemarin. Berondongan watsap yang saya terima diatas tempat tidur ketika jam diponsel menunjukkan pukul dua siang itu membuat saya galau. Ican, yang saat itu sudah berada di Ternate, mengusik tidur siang saya yang indah dengan menanyakan kepastian saya untuk mendaki Soputan, salah satu gunung di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia disana. Ican memang tidak setengah-setengah dalam meracuni saya untuk mencoba kegiatan mengguncang adrenalin yang selalu saya hindari ketika berada di ibukota.

Saya memang senang jalan-jalan, datang ke tempat baru yang asing, sekedar untuk menikmati suasana tanpa pemandangan gedung pencakar langit, melarikan diri dari hiruk pikuk ibukota. Namun semua orang yang mengenal saya, pasti tau persis kalau saya seorang pencinta lautan. Istilah kerennya, anak pantai. Gunung, adalah hal tabu bagi saya. Dulu saya main ke gunung sewaktu jaman masih berseragam putih abu-abu, itu pun demi keperluan organisasi pencinta alam ketika saya menjabat sebagai pengurus, juga demi menarik simpati seorang kakak mahasiswa yang waktu itu jadi pembina disekolah kami, hahaha. Selain perjalanan menuju kesana yang membutuhkan ekstra perjuangan dan tenaga, letak gunung yang berada dekat dengan langit itu membuatnya bersuhu dibawah normal alias dingin, dan saya benci dingin!!! Dingin berarti malapetaka bagi saya yang bertubuh ringkih dan selalu didatangi berbagai penyakit ketika berada disuhu tersebut. Kesimpulannya, perjalanan ke gunung itu bukan liburan, karena saya hanya akan menyusahkan diri sendiri dan rekan seperjalanan.

Jangan ditanya tentang kesiapan perlengkapan saya untuk mendaki Soputan. Keputusan berangkat atau tidak saja baru bisa saya ambil beberapa menit setelah membalas “iya, kayaknya aku ikut” ke ponsel Ican, sementara rencana keberangkatan sekitar jam lima sore, sesuai dengan kesepakatan awal. Setelah berpikir “Kapan lagi bisa merayakan hari kemerdekaan Indonesia diatas gunung, toh tahun depan belum tentu kamu bisa bebas kayak sekarang Shin”, saya pun mengeluarkan ransel kuning kesayangan, hadiah ulang tahun dari sahabat saya di Jakarta, mengisinya dengan pakaian yang cukup untuk menginap tiga malam, alat mandi, serta menyediakan ruang kosong yang cukup banyak untuk mengisinya dengan bekal makanan yang belum juga saya beli disupermarket, seperti persiapan yang lazim dilakukan oleh para pendaki gunung yang sudah terbiasa.

Tidak biasanya saya tidak siap ketika akan melakukan sebuah perjalanan. Saya selalu bersemangat ketika hendak ke tempat baru yang belum pernah saya kunjungi. Jujur,ada perasaan kurang bersemangat yang saya rasakan saat itu, mungkin karena waktu itu keadaan hati sedang tidak stabil dan saya sendiri sudah lama tidak melakukan perjalanan dalam rangka liburan (isi otak saya beberapa bulan belakangan memang hanya ada kerja dan kerja). Entah apa yang merasuki otak saya ketika akhirnya saya memberanikan diri untuk menerima tantangan sahabat saya itu. Saya adalah manusia yang sangat mempercayai intuisi, dan hari itu ada perasaan sangat kuat yang membuat saya memutuskan untuk menghubungi Ikar, salah seorang anggota mapala yang direkomendasikan Ican, menyatakan saya siap untuk ikut rombongan mereka mendaki hari itu. Rencananya, kami akan naik truk bersama dengan teman-teman Ikar yang tergabung dalam organisasi Mapala Pah’yaga’an Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) lainnya yang akan turut merayakan hari kemerdekaan di Soputan. Ketika sedang bersiap-siap, tiba-tiba saya ditelpon oleh salah seorang rekan kerja, lagi-lagi masalah pekerjaan, dan membuat saya hampir membatalkan niat mendaki malam itu. Saya akhirnya menelpon Ikar, meminta maaf karena saya tidak bisa ikut dengan rombongan yang akan berangkat sore hari karena tanggung jawab pekerjaan yang harus saya selesaikan hari itu juga, sambil bertanya bagaimana caranya untuk bisa menyusul sendirian kesana. Ikar, yang mungkin masih waras dan tidak akan membiarkan saya yang sok tahu ini mati konyol dengan ide itu, akhirnya memutuskan kami menyusul saja pada malam hari, setelah pekerjaan saya selesai. Horee!!!
 
Perlengkapan saya ke gunung malam itu membuat Ikar tertawa. Betapa tidak, malam itu saya mengenakan celana legging ketat bergambar akar-akar dan bunga mawar, sandal karet berlambang buaya yang anti air berwarna oranye terang, kaus lengan panjang model kerah tinggi plus syal yang saya lilit dileher serta ransel kecil yang penuh berisi makanan ringan, kamera, sarung plus dua buah jaket serta sepasang kaus tangan dan kaus kaki (Ican mewanti-wanti saya tentang alergi dingin yang saya derita). Penampilan yang katanya hanya cocok untuk jalan-jalan ke mall. Tanpa sepatu gunung, tanpa senter (konyol karena kami akan mendaki tengah malam), dan tanpa peralatan mendaki lainnya. Sambil mengamati Ikar mengemasi barang-barangnya, saya pun hanya menyimpan dalam hati kegalauan saya ketika menyadari bahwa saya lupa membawa obat alergi dan persediaan obat cidera lutut. Saya hanya tidak mau menambah kekhawatiran calon teman perjalanan saya yang malam itu tampak siap dengan tenda, senter, kamera, serta beberapa perlengkapan lainnya (Ikar bahkan menyiapkan kantung tidur terwangi seumur hidup buat saya,haha).

Setelah menunggu hampir dua jam di sekretariat Pahyagaan, mengawasi Ikar yang hilir mudik berkemas, memastikan kelengkapan kami, akhirnya saya dan Ikar berangkat menggunakan sepeda motor, tepat jam satu tengah malam, setelah terlebih dahulu berdoa bersama sebelum berangkat yang dipimpin oleh seorang senior di Pahyagaan (saya selalu salut dengan kebiasaan mereka berdoa sebelum berangkat). Perjalanan malam yang tadinya menyiksa karena hawa dingin yang menusuk tulang, lumayan terobati dengan celotehan Ikar yang tak jarang membuat saya terbahak ditengah jalan. Perlahan, kekhawatiran saya mengenai perjalanan ke gunung kali ini memudar, seiring dengan obrolan kami sepanjang perjalanan. Kami sempat memutar arah beberapa kali ketika mencari rombongan mapala Aesculap (mapala Fakultas Kedokteran Unsrat) yang malam itu juga menyusul mendaki Soputan. Ikar yang ternyata juga belum pernah mendaki Soputan melalui jalur desa To’ure, tampak tenang dan terus menghubungi Rifa, ketua rombongan Aesculap. Setelah akhirnya bertemu mereka, yang ternyata semuanya lelaki (dan entah kenapa saya sangat bersyukur ketika itu, menyadari saya bertemu dengan empat calon dokter yang pasti siap sedia dengan obat-obatan plus keahlian mereka bilamana saya semaput ditengah jalan), kami pun melanjutkan perjalanan ke Soputan menggunakan motor, yey!

Mimpi tinggal mimpi, ketika akhirnya sepeda motor yang dikendarai Rifa dan Bryan yang berada didepan kami berhenti dan mereka terlihat hendak memarkirnya. Saya yang dalam hati bersukaria membayangkan perjalanan yang mudah karena menggunakan sepeda motor, langsung loyo menyadari kenyataan kami harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Untung saat itu gelap dan satu-satunya sumber penerangan kami hanya senter yang ada dikepala lima lelaki didepan saya, agak memalukan jika mereka bisa melihat dengan jelas raut muka pucat pasi saya yang membayangkan perjalanan mendebarkan (dan yang pasti sangat melelahkan) yang akan kami mulai malam itu. Berbagai pikiran ngawur menghampiri otak saya. Bagaimana kalau saya terpeleset dan jatuh ke jurang? Bagaimana kalau diatas sana ada harimau yang akan memangsa saya yang kegendutan setelah kalap memakan semua hidangan Lebaran kemarin? Bagaimana kalau ternyata diatas ada psikopat yang berniat menghabisi kami para pendaki satu persatu dengan tombak?  Terima kasih Tuhan, terkadang dikaruniai daya imajinasi berlebihan itu sangat tidak membantu dalam situasi seperti ini. Namun, melihat Ikar yang dengan cekatan memakai senter kepala, mengatur tas dipunggung saya agar nyaman, dan hal-hal lain dengan teliti, serta melihat senyum ramah keempat calon dokter yang bahkan belum berkenalan dengan saya waktu itu, saya menguatkan hati saya, dan mengusir semua imajinasi liar tadi. Saya yang hanya berbekal senter korek api gas yang dibeli Ikar dalam perjalanan, disuruh berjalan diposisi ketiga, diapit oleh mereka berlima yang berjalan didepan dan dibelakang saya. Cahaya senter korek api yang seadanya, membuat saya harus ekstra hati-hati pun sukses membuat saya berjalan tertatih-tatih karena beberapa kali terantuk batu dihadapan saya. Baru berjalan sepuluh menit, napas saya sudah turun naik seperti habis lari keliling lapangan bola tujuh kali. Lagu “Hidup Kan Baik-Baik Saja” milik Ican yang biasanya menjadi mantra ajaib saya ketika berada dalam kondisi memprihatinkan, agaknya tidak mempan malam itu. Ikar yang kasihan melihat kondisi saya, memberikan senter dikepalanya untuk saya pakai, dan menyuruh rombongan Aesculap untuk berjalan saja lebih dulu tanpa harus menunggu kami. Sesampainya diketinggian tertentu, saya sedikit terkesima dengan pemandangan yang disuguhkan oleh cahaya lampu yang berasal dari deretan kampung dikaki gunung Soputan yang malam itu tampak indah sekali. Saya yang tadinya berceloteh sendiri sepanjang perjalanan, mulai berdiam diri, menyadari kegiatan itu hanya akan menghabiskan tenaga sia-sia. 

Sepanjang perjalanan, saya terus merutuki Ican sahabat saya, karena telah berhasil menghasut saya untuk melakukan kegiatan pendakian itu. Saya bersumpah akan meninju si lelaki cantik itu kalau nanti saya menyambangi studionya di Bandung. Ikar pun terus menyemangati saya dengan kalimat-kalimat ala motivator pembangkit semangat. Saya kesal dengan kalimat “Dikit lagi, udah dekat banget” yang selalu dia ulang setiap lima puluh meter kami berjalan, tapi kenyataannya kami tak kunjung tiba. Ditengah perjalanan menuju pos Pinus Satu, kami mendengar suara ribut-ribut. Ikar langsung berjalan mendahului saya dan menyuruh saya untuk berhenti sejenak agar dia bisa bertanya kearah pondokan yang terdengar ramai tadi. Ternyata disitu ada beberapa pendaki senior yang membawa serta keluarga kecilnya untuk turut merayakan peringatan hari kemerdekaan di Soputan. Saya tertegun mendengar penuturan Ikar tentang kebiasaan para pendaki senior itu, yang ternyata setiap tahun selalu membawa keluarga mereka untuk menghadiri upacara 17-an digunung. Teringat kata-kata Ican dulu, bahwa nanti kalau dia menikah dan punya anak, dia ingin membawa keluarga kecilnya untuk mendaki gunung, sama seperti saya yang ingin membawa anak saya nanti berenang dilaut dan berkemah ditepi pantai. Kami sesama petualang punya impian yang sama, ingin mengenalkan alam sejak dini kepada keturunan kami kelak. 

upacara 17-an pertama seumur hidup yang membuat saya nangis terharu,hahaha

Sesampainya kami di Pinus Dua, saya langsung merebahkan badan diatas rumput sambil menutup mata sepersekian detik karena kelelahan. Ketika saya membuka mata, saya melihat banyak sekali bintang dilangit, disela-sela pohon pinus diatas saya. Entah karena faktor kelelahan atau terharu, tidak terasa airmata saya mengalir melihat pemandangan itu. Seketika saya merasa sangat kecil dihadapan Sang Pencipta keindahan. Sebuah ungkapan syukur pertama sejak saya menginjakkan kaki disana. Alhamdulillah. Ikar pun memberitahu bahwa medan selanjutnya berair karena kami akan melewati sungai berarus sedang. Saya pun tetap memakai sandal buaya karet yang konyol itu, tetapi melepas kaus kaki yang tadinya saya pakai. Saya teringat hanya membawa satu celana panjang, yang saat itu sedang dipakai (saya akhirnya memakai celana dua lapis, mengingat suhu gunung yang tidak bersahabat). Dengan berat hati dan menahan malu, saya pun melepas celana panjang yang saya kenakan, dan hanya memakai legging bermotif memalukan itu, demi menjaga celana panjang saya tetap kering, mengingat saya lebih membutuhkannya ketika nanti tidur diatas gunung yang berhawa mematikan (buat saya). 

Ternyata saya memang anak air!!! Melewati medan berair selama hampir sejam, pada waktu hampir menunjukkan pukul empat subuh, saya malah seperti disuntikkan suplemen penambah energi. Semangat saya bertambah berkali lipat melewati sungai kecil yang kadang jernih kadang berlumpur itu. Tak ada rasa lelah sama sekali, hanya perasaan riang ketika kaki lagi-lagi menyentuh air sungai. Saya bahkan menolak ketika Ikar menyuruh saya memilih jalur disamping sungai yang kering. Ikar hanya tersenyum melihat kelakuan saya yang seperti anak kecil bermain-main dengan air sungai pada jam ayam jago bersiap untuk dinas pagi. Ketika kami beristirahat sejenak sebelum mencapai lokasi perkemahan, kami bertemu dengan beberapa pendaki, yang beberapa anggotanya juga wanita. Mereka melihat celana legging saya dengan takjub. Melihat itu, saya bertanya pada Ikar apakah dia tidak malu ketika berjalan dengan saya yang berdandan ajaib kala itu, dan jawaban ngawurnya membuat saya ingin terbahak namun terpaksa menahannya karena tidak ingin mengusik “penghuni” gunung dengan suara tertawa saya yang lantang. “Aku juga terkadang memakai legging panjang kok kalo ke gunung, kan yang penting keselamatan, daripada kaki tergores dimana-mana, makin susah jalannya kalau luka”. Membayangkan Ikar yang bertampang ala tentara Mongolia kelebihan berjemur, rambut gondrong diikat ala samurai, dan bercelana legging ala Cherrybelle, membuat saya hampir terjungkal ke sungai karena menahan luapan tertawa.

Setiba dilokasi perkemahan, saya terkejut melihat banyaknya tenda yang sudah terlebih dahulu didirikan disana. Suasana yang lebih mirip perumahan subsidi pemerintah daripada lokasi perkemahan, saking banyaknya tenda disitu. Warna warni tenda-tenda tersebut seperti menggambarkan Indonesia yang juga terdiri dari beragam suku, yang membuat negara ini semakin semarak dengan keberagaman yang ada. Saya yang melihat pemandangan itu langsung antusias membayangkan keseruan upacara kami pada pukul sepuluh pagi nanti. Rifa yang ternyata lumayan terkenal dikalangan anak pendaki, langsung menyapa kanan kiri, layaknya pak Lurah yang sedang menyambangi warganya. Lain dengan Ikar yang waktu itu langsung mencari lokasi tempat teman-teman sesama mapala Pah’yaga’an yang telah terlebih dahulu berangkat sore kemarin. 

warna warni tenda "Nusantara"


Sesuatu yang menyenangkan memang membuat kita bisa lupa akan keadaan. Waktu hanya kumpulan angka yang tidak terlalu dipedulikan. Tiga hari dua malam saya habiskan waktu bersama para pendaki di Soputan. Derai tawa dan candaan mengalir lepas diantara kami, membuat saya tetiba dirasuki perasaan nyaman. Kegiatan mendaki puncak Soputan yang melelahkan (dan membuat saya berjanji untuk lebih rajin olahraga), serta masak memasak dan bersenda gurau didepan api unggun, menihilkan perasaan stres akut yang melanda pikiran. Lagu “Hidup Kan Baik-Baik Saja” dan “Edelweiss” karya Ican pun selalu didendangkan disana, diiringi petikan gitar mini kesayangannya yang sengaja dititipkan kepada para “keluarga” barunya di Manado, menemani saya yang menikmati hamparan bintang yang terasa dekat ketika berada diatas gunung. 

Api Unggun, dapur dan ruang keluarga bagi para pendaki :')


Saya terharu melihat rasa persaudaraan para pencinta alam yang kuat selama saya berada disana. Rasa solidaritas yang terlihat nyata dihadapan saya, keramahan yang tidak dibuat-buat, kebaikan tanpa tendensi apa-apa, tanpa harus memperhitungkan untung rugi seperti yang kerap terjadi dikota-kota besar. Mereka menghargai alam dengan tulus, tertawa dan bergembira bersama sesama pencinta alam yang baru mereka temui diatas gunung, pemandangan tak ternilai yang jarang saya lihat di ibukota, dimana manusia dinilai berdasarkan latar belakang serta tingkat ekonomi mereka. Aroma kopi dan mie instan, santapan sederhana yang menjadi mewah karena disantap dengan rasa kebersamaan yang indah. 

rombongan pengacau Soputan :')

Mungkin memang saya harus sering-sering naik gunung. Aura positif yang saya bawa dari Soputan, membuat saya sedikit lebih santai dalam menjalani hidup. Melihat segala sesuatu itu dari berbagai sisi, menghargai setiap langkah yang saya capai setiap hari, memaknai setiap peristiwa yang terjadi. Mensyukuri sekecil apapun nikmat dan karunia Pencipta yang selama ini kurang saya maknai. Bahkan sepulangnya dari gunung Soputan, saya yang dijuluki “shio bantal” karena selalu gagal bangun pagi, bisa menikmati hangatnya mentari pagi karena selalu sukses terjaga setiap jam enam pagi.

“Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah, hanya karena dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya” –Soe Hok Gie-

“Cieee….yang baru turun gunung. Jadi udah menemukan tempat untuk pulang nih sekarang?” ledek Ican ketika saya menelpon bocah sableng itu, sepulangnya saya dari Soputan. Ingin rasanya saya menimpuknya dengan sendal, sekaligus memeluknya sampai dia terbatuk-batuk, sebagai ganjaran karena memaksa saya “mengenal” gunung. Ikatan persahabatan yang membuatnya mengenal saya dengan baik, menjadi dasarnya dalam memaksa saya untuk belajar tentang makna hidup melalui hal yang saya anggap mustahil sebelumnya. Gunung dan pencintanya, mengobati luka saya yang menganga tentang kehidupan. Mengajari saya bahwa mengejar suatu keinginan yang besar itu memang tidak mudah, namun setidaknya itu bernilai pada akhirnya. Kita akan bertumbuh dewasa, ketika kita merubah presepsi tentang hal yang tadinya kita anggap susah. Ternyata, bahagia itu sederhana.

Jakarta, 3 November 2013 20:20 WIB

Diatas kasur kamar tercinta, ketika jemari menari ditemani suara merdu sang sahabat yang sedang onair di radio internet mempromosikan lagu single terbarunya. 

karena bahagia itu sederhana

17/09/13

Aku, Kamu, dan Sebuah Cerita Tentang Rindu

suatu waktu


Tangkoko - Bitung, 2000

“Kamu tau, kamu itu cantik, emang sih agak tomboy, tapi suatu saat, kamu pasti akan sadar bahwa kamu cantik, dan tau mempergunakannya untuk memikat pria lain, siapapun dia”.

Ucapan bernada memuji cenderung merayu yang keluar dari mulut seorang mahasiswa tingkat tiga, kepada seorang gadis lugu, ditengah hutan, disebuah perkemahan, ketika tangannya yang kekar merangkul pundak kurus seorang gadis yang kala itu menjadi adik binaannya disebuah organisasi pencinta alam tingkat sekolah menengah atas. Gelap malam tak mampu menyembunyikan rona merah yang menyemburat dari pipi gadis itu.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu hanya mencibir. Katamu itu hanya gombalan basi yang lazim diobral seorang mahasiswa kepada siswi SMU yang minim pengalaman. Percaya akan omongan manis seperti itu, hanya akan membuatku terlena dan lupa diri. Lidahmu memang tajam, tapi aku tidak pernah marah, aku hanya membalasmu dengan melemparimu buku.

Jl. Siswa – Manado, 2001

“Beb, lu tuh asyik,gak rewel kayak cewek-cewek lain. Ngobrol ama lu, bisa bikin gw tertawa dan lupa waktu. Sayang kita beda agama, kalo gak udah lama gw tembak lu”

Percakapan yang terjadi dikantin sekolah, dikala kelas sedang berlangsung, terlontarkan dari mulut seorang siswa berseragam abu-abu kepada teman seangkatannya yang sedang asyik menyeruput minuman dingin. Kami memang senang bercanda, tapi siang itu, aku mengerti teman yang baru saja dekat denganku itu serius dengan pernyataan ditengah canda tawanya. Aku hanya bisa tertawa menanggapinya, sadar dengan perbedaan mendasar yang ada, dan umur yang tertera dikartu pelajarku saat itu, berbanding lurus dengan besarnya nyali untuk melanggar peraturan orang tua dan lingkunganku kala itu.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu mendelik marah. Katamu jangan pernah sekalipun terpikir untuk mengorbankan prinsip dasar yang kita anut sejak lahir hanya demi orang yang baru kita kenal. Aku tau kamu pun jarang beribadah, tapi entah kenapa, dengan segala khotbahmu mengenai dosa dan segala tetek bengeknya itu, aku hanya tertunduk pasrah dan terdiam seribu bahasa. Memilih untuk bersungut dalam hati, tanpa bisa protes lebih lagi.

Pandu – Manado, 2003

“Maaf, aku tidak tahu kalo ayahku datang tiba-tiba. Sepupuku itu memang brengsek, lupa memberitahu kalau ayahku akan datang membawa kiriman ibu dari kampung. Kamu gak apa-apa cinta? Mau aku ambilkan minum dulu?”

Pernyataan maaf yang keluar dari wajah pucat seorang lelaki yang saat itu berstatus pacar pertamaku dikampus, ketika dia membopongku yang pingsan karena ketakutan. Kami hampir tertangkap basah sedang berduaan dikamar oleh ayahnya yang tiba-tiba datang berkunjung. Keadaan konyol dua insan yang mencoba nakal tetapi hampir kehilangan akal ketika Tuhan mengirimkan sekedar peringatan. Aku yang meringkuk dibelakang pintu, mungkin pingsan karena terlalu lama menahan napas karena tegang. Lelakiku, mendadak menjadi binaragawan yang mampu mengangkat beban gadisnya yang lunglai. Kami hanya bisa saling menatap mata, tanpa bisa banyak bicara.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu terpingkal-pingkal dan menatapku dengan geli. Katamu aku bodoh dan masih harus banyak belajar. Ucapan sok tahu dari seseorang yang waktu itu bahkan belum pernah berstatus jadi pacar orang. Sambil sesekali menyeka airmata dari sudut matamu karena terlalu banyak tertawa, kamu lagi-lagi menasihatiku dengan berbagai kalimat ala jaman kolonial. Katamu, kelak aku akan menertawakan kebodohanku ketika teringat dengan peristiwa itu. Kamu memintaku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Aku hanya bisa mengangkat dua jariku, simbolisasi sebuah janji, tapi hatiku merasa bahwa jari tidak cukup kuat untuk menjadi tali pengikat janji.

Megamas – Manado, 2005

“Kita memang udah gak cocok lagi. Kamu selalu membuatku merasa seperti berpacaran dengan polisi yang selalu mengawasi dan menginterogasi. Padahal dulu kamu orang yang menyenangkan, kita dulu pernah bahagia. Sekarang terserah maumu apa, aku lelah”.

Suara bernada tinggi penuh emosi, yang jarang terdengar dari mulut lelaki dihadapanku,membuatku menangis. Lelaki tampan yang membuatku berpindah hati dengan sengaja dari pacarku yang sebelumnya. Perih yang terpenjara lama, membuat mulutku tidak kuasa membantah. Airmata tidak mampu menyapu bersih luka, ketika mengetahui dia lebih memilih wanita selingkuhannya, dan menyalahkanku yang tidak lagi menyenangkan dihatinya. Hilang sudah mimpi muluk dua anak muda yang saat itu sedang beranjak dewasa. Berganti dengan duka nestapa, menyisakan kenangan pahit dikepala.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu hanya diam tak acuh. Katamu itu karma yang berlaku, ketika aku memilih meninggalkan kekasih lamaku, dan juga merebut lelakiku dari wanitanya yang terdahulu. Sakit hatiku, ketika kamu menolak kujadikan sekutu. Semesta seakan turut memusuhiku, ketika kamu dengan wajah masam menatapku tanpa bermaksud menghibur. Kamu membiarkanku belajar dari akibat perbuatanku yang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain demi kesenanganku sendiri. Suka ria semu yang berakhir pilu.

Grogol - Jakarta – 2006

“Sebaiknya kamu disini saja, aku tidak bisa menjamin apakah kita bisa terus bersama jika berbeda kota. Semarang terlalu jauh dari Jakarta. Aku bisa mengusahakan tempat untukmu disini, melalui beberapa kenalanku. Tapi semua terserah kamu sih, aku hanya memberikan opini”.

Suasana diatas bus angkutan umum yang membawaku bersama sosok lelaki dihadapanku itu mendadak menjadi suram. Anehnya, pernyataan bernada mengancam yang keluar dari mulut lelaki yang dulu menjadi idola para gadis dikampusku ini tidak sedikitpun membuatku mengurungkan niatku untuk mengambil kesempatan bekerja dikota yang sama sekali asing bagiku. Membayangkan serunya berbagai petualanganku kelak dikota yang akan menelurkan banyak pengalaman baru, membuat ucapan sang lelaki yang dulu mati-matian kuperebutkan itu seakan angin lalu yang sekedar lewat.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu hanya mengeluarkan bunyi aneh dari seberang sana. Suaramu ditelpon terdengar mengantuk, karena aku menelponmu ketika waktu menjelang hampir subuh. Aku tidak perduli dengan responmu yang acuh tak acuh. Kamu sangat mengerti aku, bahwa tidak seorang lelaki pun yang mampu membendung niatku. Keputusanku untuk pergi merantau jauh dari kampung halaman kita, sudah membuktikan betapa keras kepalanya diriku. Kamu tahu, aku hanya butuh kamu untuk mendengarkan, tanpa perlu meminta jawaban. Katamu ketika aku telah mengambil keputusan, jangan pernah lari dari resiko yang akan datang. Susah ataupun senang, harus kuhadapi dengan dada lapang.

Simpang Lima – Semarang, 2006

“Maafkan tunanganku yang sudah lancang menerormu. Dia tiba-tiba datang kesini, mengamuk dirumahku, membanting semua barang-barang ketika melihat foto kamu di ponselku. Kamu gak apa-apa kan? Untuk sementara jangan menghubungiku dulu, aku takut dia semakin nekad mencarimu. Aku takut kamu dilukai wanita gila itu”

Belum hilang keterkejutanku akan suara teriakan ditelpon oleh seorang wanita yang tidak kukenal sama sekali, mencaci maki tanpa henti, tiba-tiba terdengar suara lelaki yang baru dua bulan akrab denganku berbicara dengan nada perlahan. Dunia sekitarku serasa buram, selentingan gambar demi gambar bermain dibenakku malam itu. Peristiwa unik nan menarik yang belum pernah kualami. Seumur hidup, dilabrak oleh calon istri seorang lelaki yang setiap hari tidak pernah absen menelponku untuk sekedar mengingatkan makan, adalah pengalaman absurd yang membuatku sejenak amnesia kosa kata.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu malah menanyakan apakah aku malam itu sudah menghabiskan makan malamku. Kamu persis tau, kalau aku sedang bingung memikirkan sesuatu, aku tidak akan menyentuh makananku. Kamu hanya menyuruhku pulang dan melupakan kejadian aneh dimalam minggu itu. Aku yang kesal, terus-terusan mengomelimu dengan segala sumpah serapah yang tadi tak kuasa kutumpahkan kepada sepasang tunangan gila yang sudah berani mempermainkanku. Diseberang sana kamu tergelak dan balik meledekku untuk lebih selektif dalam memilih teman dekat baru.

Parapat – Medan, 2007

“Resiko ini, kita yang pilih. Aku akan tetap menjagamu, bahkan sampai nanti rambutmu memutih, atau ragaku mudah letih. Buatku, asal ada kamu disini, kita bisa sama-sama menghadapi dunia. Toh kita yang menjalani, peduli setan dengan tanggapan orang tentang kita yang berbeda”.

Ungkapan bernada tegas yang pagi itu keluar dari bibir lelaki manis bertatapan teduh dihadapanku. Berlatar belakang sebuah danau yang menambah keromantisan suasana sore itu. Perjanjian dua anak manusia yang gentar menghadapi sanksi sosial masyarakat disekitar mereka. Perbedaan adat, budaya, serta prinsip dasar yang menjadi jurang menganga, membuat kekhawatiran semakin beranak pinak dari waktu ke waktu. Kata-kata penghiburan seperti itu, hanya semacam angin surga yang ditiupkan sekedar untuk menambah persediaan nyawa sementara.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu mengirimkan gambar simbol kuning berbentuk wajah yang memeluk lewat percakapan kita didunia maya. Saat itu kamu sudah lebih mengerti perasaanku, karena kudengar kabar bahwa kamu juga telah melewati pengalaman itu. Kamu memang tidak pernah berbagi cerita mengenai kisah cinta berbeda itu, tapi dari berbagai kalimat bernada simpati yang kamu ketikkan dilayar komputer malam itu, aku tau kamu bisa merasakan pedihnya perasaan ingin memiliki namun diperhadapkan dengan kenyataan bahwa cinta harus segera diakhiri. Konsekuensi sebuah perjalanan hati yang nekad dijalani.

Kuta – Bali, 2007


“Aku tidak bisa secepat ini menikah. Kita masih muda, masih banyak yang bisa kita lihat, masih banyak mimpi yang bisa kita gapai. Bukannya aku tidak mencintaimu, toh aku sudah berjanji pada mamamu untuk menjagamu selalu. Kamu tau aku sayang kamu, tapi jangan dulu membicarakan hal-hal serius seperti itu. Aku takut”

Kejujuran yang keluar dari mulut lelaki yang waktu itu mengisi hari-hariku, mendadak membuat lututku kaku. Aku bahkan belum memintanya kepastian, hanya mengutarakan pesan keluargaku secara sambil lalu. Namun ego yang sudah menempel erat disetiap penjuru tubuhku, mampu membuat raut wajah ini tetap terlihat ceria, bahkan mendukung pernyataan itu dengan berbagai kalimat tentang optimisme masa muda. Perasaan tertolak perlahan menghampiriku, mengisi setiap sel dalam diriku, membentuk luka yang menganga. Ketenangan mengerikan yang ternyata menyisakan dendam dalam dada. Liburan yang seharusnya menyenangkan, tetap terlewati dengan tawa canda, namun menyisakan bara neraka yang nantinya menjadi amunisi perang dua sejoli yang berujung malapetaka.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu hanya sibuk mengagumi oleh-oleh dari perjalanan liburanku. Tanpa menatapku, kamu berkata bahwa tidak seharusnya aku selalu mengikuti kata hatiku. Keegoisan seorang gadis yang melindungi dirinya secara keterlaluan karena takut dilukai, tanpa berpikir panjang tentang akibat dari perasaan berlebihan. Lagi-lagi kamu berpetuah tentang karma dan segala teori percintaan yang kamu baca entah dimana. Kamu menyuruhku menghitung untung dan rugi ketika aku melepaskan kekasihku yang satu ini. Perasaanmu mengatakan bahwa lelaki ini baik dan bisa aku jadikan pegangan dimasa depan.

Gajahmada - Semarang, 2008

“Entahlah, sudah lama aku tidak pernah memeluk seorang gadis tanpa berbuat lebih seperti sekarang. Hangatnya nyata. Terima kasih sudah mengenalkanku dengan pengalaman seperti ini. Kamu memang berbeda, aku suka”.
Setengah samar aku masih mendengar suara berat dibelakangku. Lelaki yang sudah kukenal baik selama dua tahun sebelum kejadian itu, memelukku dari belakang ketika fajar hampir menyingsing. Kami bertemu untuk sebuah acara reuni, dikota yang mempertemukan kami untuk sama-sama mencari sesuap nasi. Tidak ada kejadian lain ala tayangan film dewasa setelah itu. Posisi kami yang tidak berhadap-hadapan, serta logika yang mengatasnamakan pertemanan, membuat aku maupun dia memutuskan kami hanya berbagi kehangatan melalui pelukan.

Ketika aku bercerita tentang itu, terdengar nada sedikit ragu dibalik suara datarmu diseberang sana. Kamu memang tidak lagi menghakimiku dengan pernyataan-pernyataan ala jaksa penuntut ketika aku berceloteh tentang kejadian subuh itu, tetapi ucapan skeptis yang kamu lontarkan meyakinkanku kalau kamu tidak seratus persen percaya dengan ceritaku. Kamu tau aku tidak perlu memangkas ceritaku demi membuatmu terkesan. Pelan, kamu menambahkan agar aku lebih menahan hasratku, dan memperingatkanku lagi dan lagi soal konsekuensi dibalik semua perbuatanku dikemudian hari. Menurutmu, pertemanan mesra tanpa tendensi apa-apa hanya ilusi belaka. Aku hanya tertawa lirih dan menenangkanmu dengan berkata aku tau apa yang harus kuperbuat. Kamu mengakhiri perbincangan dipagi itu dengan menyuruhku segera mandi dan sarapan.

Sudirman  – Jakarta, 2009

“Mungkin menyenangkan rasanya menjadi orangtua tunggal. Tidak banyak orang yang bisa mengerti kita apa adanya seperti hubungan murni antara anak dan orang tua. Manusia itu terlalu egois untuk mencintai orang lain tanpa berharap balasan yang dia inginkan. Seperti ungkapan kita bahagia ketika melihat orang lain bahagia, bukankah itu artinya kita justru mengedepankan pemuasan rasa kita terlebih dahulu, dan menjadikan orang lain alat pemuas belaka?”

Dialog panjang tentang pemikiranku mengenai ide menjadi orang tua tunggal, disambut dengan berbagai teori menakjubkan oleh lelaki yang mendadak menjadi tumpangan gratisku dari tempat kursus menuju rumah tinggalku. Lelaki bertampang kekanakkan, tengil namun berwawasan luas ini awalnya memang membuatku terpesona karena pola pikirnya. Walaupun akhirnya aku lebih menyayanginya sebagai saudara tidak sedarah yang dikirimkan Tuhan, sosoknya tetaplah menjadi salah satu panutanku untuk menentukan kriteria lelaki nyaris sempurna.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu hanya berkelakar bahwa aku terhipnotis oleh kata-kata indah yang menurutmu tanpa makna. Kamu memang tidak pernah berbakat menjadi pujangga, melainkan pencinta logika. Aku pun tak pernah memaksamu untuk mengerti seleraku tentang kicauan jari yang tertuang dalam tautan puisi yang dipakai para lelaki untuk memikat lawan jenisnya seperti padaku kali ini. Aku bersikeras kami hanya berteman biasa, dan kamu memandangiku dengan tatapan menyebalkan.

Kemandoran – Jakarta, 2010

“Jaga diri baik-baik nyet. Titip salam kepada setiap tanah negeri kita yang nanti akan kamu jejaki. Tetap sehat dan terus bahagia dimanapun kamu berada nanti.”

Aku hanya bisa tersenyum dan memeluk lelaki bertato yang hari itu sedang mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk menaklukkan dunia, mewujudkan mimpinya. Dadaku seketika sesak menyadari sahabatku ini akan pergi dan entah kapan kembali. Kemajuan jaman yang bisa setiap saat menghubungkan kami, seakan tidak ada artinya dibandingkan dengan pertemuan langsung yang menyenangkan. Rasa haru yang setengah mati kutahan, demi memperlihatkan senyuman terbaikku sebagai bentuk dukungan penuh kepada saudara tidak sedarahku ini.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu sedang sibuk mengutak-atik gadget barumu. Aku yang hampir menangis karena merasa kehilangan sahabat yang selalu membuatku terbahak dengan segala tingkah konyolnya itu, merasa terhibur dengan kata-katamu yang sejuk seperti embun pagi. Katamu sahabat itu seperti bintang, tidak selalu terlihat wujudnya, tapi akan selalu ada disana untuk kita. Kata-kata yang membuatku menempatkan bintang menjadi benda langit  favoritku sejak saat itu.

Perbanas -  Jakarta, 2011

“Maaf kalau aku sudah mengecewakan. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Tetapi kata-katamu barusan membuatku sakit hati, membuatku merasa tidak dihargai. Maaf kalau aku bukan orang yang sempurna, aku tetap saja bisa salah, walaupun itu merupakan pekerjaanku sehari-hari”

Rangkaian kalimat yang muncul dilayar ponselku, sesaat setelah aku dan lelaki yang tabah mendengarkan semua keluh kesahku sejak kami duduk dibangku sekolah menengah atas, bertengkar hebat karena suatu alasan yang membuat emosi kami tersulut. Aku benar-benar merasa bersalah waktu membaca pesan singkat itu, tetapi entah mengapa egoku memaksaku untuk melupakan rasa sayang yang terjalin selama hampir satu dekade itu.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu menggelengkan kepalamu dan menyuruhku menurunkan emosi. Katamu perbuatan menyakitkan ibarat kita memaku sebatang pohon. Walaupun pakunya telah kita cabut, tapi bekasnya akan lama tertinggal disitu. Memang akan hilang seiring waktu, tapi membutuhkan proses panjang dan melelahkan. Katamu meminta maaflah lebih dulu, karena dalam pertemanan, tidak ada pihak yang salah maupun benar, yang ada hanyalah proses untuk sama-sama saling mengerti dan memahami. Aku hanya mangut-mangut sambil memakan coklat yang kamu berikan.

Mampang – Jakarta, 2012

“Aku akan menikah sebentar lagi. Maaf kemarin aku tidak bisa menjengukmu, kata mama kamu sekarang kurus sekali. Aku ingin sekali kamu datang, kamu sudah seperti bagian murni dari keluarga besarku. Aku sayang kamu, tapi isi kepalamu terlalu rumit untuk pemikiranku yang sederhana. Semoga nanti kamu bertemu orang yang bisa mewujudkan impianmu”.

Hampir saja ponselku terlepas dari genggaman mendengar kabar itu. Aku memang sudah menduga hari itu akan datang cepat atau lambat. Kabar dari seseorang yang dulu pernah setia menjadi penjaga hatiku ditengah kerasnya kehidupan ibukota. Emosi yang kulatih selama bertahun-tahun lamanya membuatku menjawab kabar darinya dengan suara yang penuh canda. Aku berusaha melawan derasnya airmata yang hanya akan menghancurkan sandiwaraku sore itu.

Ketika aku bercerita tentang itu, kamu tetap serius menatap layar laptopmu. Membiarkanku menangis tersedu-sedu, kali ini benar-benar membiarkanku menumpahkan segala uneg-uneg yang menyesakkan dadaku, tanpa sekalipun memotong apa yang aku cecarkan. Setelah puas meraung dan meratap, kamu menatapku dengan senyuman yang menenangkan. Katamu itu resiko untuk mencintai sebuah ciptaan Tuhan dengan berlebihan. Bahkan sepasang suami istri pun bisa berpisah karena proses kematian. Kamu memintaku untuk mengikhlaskan sebuah hubungan yang berbeda tujuan, karena hanya semata menyisakan angan.
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Soputan – Minahasa, 2013

“Menikah itu memang harus dipikirkan matang, karena orang itu yang akan kamu lihat sebelum kamu tidur dan ketika kamu bangun, seumur hidup. Tidak seperti baju, ketika salah beli, kita bisa memberikan kepada orang lain atau menjualnya kembali”.

Percakapan yang terjadi sore hari didalam tenda yang menjadi sarangku ketika hawa dingin menyerangku. Saran yang keluar dari sosok modis nan wangi serta berlidah setajam parang, duplikat dirimu. Menasihatiku sambil sibuk mengerjakan hal lain, membuatku terbahak dan melemparinya dengan kaus kaki. Kenyataan yang membuatku kesal karena tiba-tiba kamu seakan hadir lagi ditengah kedamaian suasana gunung yang bahkan sama sekali tidak kamu sukai.

Siladen – Manado, 2013

“Suatu saat, aku ingin hidup sederhana. Membangun rumah ditepi pantai, menjadi nelayan dan hidup bersama keluargaku disana selamanya. Aku bercita-cita menikmati hidup dimasa muda, berkelana keliling dunia untuk melihat sampai batas cakrawala, kemudian menetap dirumahku yang berhalamankan samudera. Kelak, meninggalkan dunia disamping keluarga tercinta, ditengah alam bebas yang membuat hati tentram, damai yang paripurna”.

Curahan hati seorang teman ditepi pantai ketika kami sedang asyik menikmati malam didepan api anggun yang menghangatkan suasana. Untaian cerita yang sontak membuat perhatianku yang sejak tadi memandangi bintang, mendadak teralih padanya. Senyumku tersamar pekatnya malam ketika mendengar penuturannya tentang impianku yang sama persis dengan yang dia gambarkan. Impian yang menurut sebagian orang itu gila dan terlalu sederhana dijaman yang serba maju ini. Impian yang membuatku dulu selalu terlihat bodoh dihadapanmu.

Bahumall  – Manado, 2013

“Jangan pernah sekali-kali berpikir untuk meninggalkan pasanganmu hanya karena ada orang lain yang lebih dari dirinya. Ingatlah, bahwa masih banyak yang lebih dari dirimu diluar sana dan dia tetap memilih untuk bertahan denganmu”

Status dari akun jejaring sosial seorang kawan berambut lurus panjang ala bintang iklan sampo. Lelaki melankolis yang hobi melarikan sepeda motornya tanpa perduli dengan nyawa sebagai taruhannya. Status yang malam itu kubaca disaat sedang duduk sendiri diresto pinggir pantai, membuatku tertegun, seperti mendengarmu sedang berbicara padaku melalui media orang lain. Layaknya telepati karena turut merasakan perasaan aneh yang melandaku akhir-akhir ini.

Kampus Unsrat - 2013

“Mendekati perempuan itu ibarat berburu ikan menggunakan senjata air. Ketika kamu memberikan umpan pertama kali, pantang untuk langsung membidiknya. Sabar dan biarkan dia menikmati umpanmu yang pertama, karena ketika dia telah merasakan rasa yang berbeda, apapun umpan yang kamu berikan kedua kalinya, dia akan mengikutimu kemana saja”.

Sambil menegak minuman keras tradisional yang menjadi penghangat mereka malam itu, lelaki yang senang bernyanyi itu bertutur lancar dihadapanku tentang pelajaran serius berdasarkan pengalamannya. Lelaki yang dijuluki Piala Hitam karena kepiawaiannya dalam membidik ikan dan tentu saja perempuan. Aku hanya bisa tertawa mendengarnya bercerita dengan mimik meyakinkan tentang teori ikan dan perempuan ala dia. Sosok yang dewasa nan bersahaja dibalik segala kelakuan minusnya, pantas menjadi idola dengan segala kelebihannya. Andai kamu ada disitu bersama kami, matamu tentu saja akan melihat kearahku dengan tatapan penuh arti.

Berbagai cerita unik tentang orang-orang yang baru kutemui. Komunitas baru yang membawaku menapaki berbagai sudut daerah yang sama-sama kita cintai. Menemaniku menjalani hari tanpa harus menghitung berapa detik yang kulewati tanpamu disisi, seperti bulan kehilangan arah matahari.

“Tampaknya aku harus pulang, aku sudah kelamaan disini”, tuturku melalui pesan singkat yang kukirimkan kepada sahabatku yang sedang berburu pengalaman dengan keliling negeri kita yang eksotik. Tiga kata balasannya, seketika membuatku terdiam. “Definisikan kata pulang”. Pulang, menjadi kata yang kehilangan esensinya buatku saat ini. Mungkin, ketika pulang tidak lagi menjadi sebuah keharusan untukku ketika aku terlalu lama berjalan. Mungkin, ketika rasa nyaman yang menjadi satu paket dengan kata itu, telah lama menghilang bersamaan dengan bentangan tanganmu dan senyum lebar khasmu yang menyambutku setelah lelah berjalan atau sekedar peringatan bernada candaan “hoyyy…kapan pulang? Jangan kelamaan berpetualang”.

Hidup itu pilihan, aku tau persis kamu harus terus berjalan. Aku mulai melatih diri, berusaha tidak lagi mencarimu untuk sekedar berbagi kisah perjalananku, seperti selama ini. Banyak hal yang telah terjadi, peristiwa nyata dan sandiwara satu babak kehidupan yang penuh warna, kali ini akan mulai kusimpan rapi dalam hati. Belajar untuk tidak membuatmu menjadi poros hidupku lagi, awalnya terasa berat untuk dilakoni. Butuh ribuan atau jutaan, mungkin milyaran bahkan satuan tak terhingga untuk mengumpulkan serpihan keyakinan dan rasa percaya diri, sekedar mandiri tanpa merasa sepi, sampai nanti kutemukan tempat untuk kembali.

“I’d talk to you if only I could speak, and I’d dream of you if I could fall asleep. Then I stand up and go talk to you. You start to smile like you want me to. And we stay together for the end of time, but this is only happening in my mind” –If Only I : John McLaughlin-

Aku, menyayangimu dengan caraku yang berbeda. Kamu menemaniku dengan caramu yang sederhana. Kita hanya butuh berbahagia, walaupun tak lagi bersama.
Ini bukan cerita tentang cinta pangeran dan putri raja. Ini juga bukan sebuah melodrama yang berakhir duka.
Aku hanya mencoba bercerita tentang rindu yang membelenggu, tentang sebuah kisah semu, tentang masa yang telah berlalu.

Aku, kamu, waktu, nostalgia masa muda. Kita hanya bertumbuh dewasa. Itu saja…


Manado, 17 September 2013 18:51 masih waktu Indonesia Bagian Kita :)

Disini, masih menatap laut yang dulu pernah sama-sama kita arungi, kita selami sambil bertukar mimpi, menatap bulir hujan yang turun ke bumi, tanpamu disisi, denganmu dihati. Sukacita abadi.

31/08/13

Ketika Wangi, Bukan Hanya Milik Sang Putri

“You have to meet Ikar”

Kalimat promosi yang dilontarkan Ican, sahabat saya ketika saya menemani dia makan pertama kali disalah satu mall di Manado, membuat kening saya berkerut, sedikit penasaran mendengarnya.
Entah seistimewa apa mahluk bernama Ikar ini, sehingga membuat mulut seorang Ican sering kali menceritakan tentang dia. Saya malah sempat berpikir sahabat saya ini kehilangan orientasi seksual selama masa petualangannya keliling Indonesia, haha.

Otot kering ala Fauzi Badilah, kembaran Fiersa Badilah...ZzzzZzzOtot kering ala Fauzi Badilah, kembaran Fiersa Badilah...ZzzzZzz

Pertemuan pertama saya dengan Maychard R Pelambi (bagus yaa namanya), nama asli Ikar, ketika saya menemani Ican bertandang ke sekretariat alias markas Mapala Pahyagaan, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Ikar, yang kala itu bercelana khas anak gunung bermotif loreng tentara plus bertelanjang dada, dimata saya terlihat persis seperti Indian. Bocah bertubuh mungil namun kekar ala Fauzi Badila (pinjam istilah Ican “berotot kering”), mata sipit namun berkulit coklat mengkilat, hidung kecil mancung, rambut hitam pekat, ikal sebahu dan dipotong skin (pendek 1 centimeter) samping plus digulung keatas, nampak seperti tentara Mongolia kelebihan berjemur.

kemesraan yang tak terpisahkan hahahakemesraan yang tak terpisahkan hahaha

“Luwuk? Pantai Kilo 5 yah, ahh…dari dulu pengen kesana” kata saya ketika mendengar Ikar menyebut daerah asalnya. Entah kenapa, menyebut nama Luwuk, dan mendengar aksennya yang masih kental, membuat ingatan saya seolah terbang ke masa sepuluh tahun lalu, ketika saya mengenal dekat seseorang yang pernah melewati masa kecilnya disalah satu daerah di Sulawesi Tengah itu, dan sering bercerita tentang betapa indahnya laut disana.

“Aku mo jalan ama Ikar, gak bisa nemenin kamu” adalah kalimat yang sering dilontarkan Ican selama dia menginap dirumah saya. Ajaib memang, betapa sahabat saya ini terhipnotis oleh bocah itu, dan konyolnya, sebagai sahabat yang merasa mengenal Ican lebih lama, saya tadinya sedikit cemburu, haha. Sampai pada malam takbiran, Ican yang berjanji membantu saya untuk memasak hidangan Lebaran, sejak siang tak kunjung pulang, dengan alasan “masih sama anak-anak Pahyagaan lain, tapi Ikar belum datang, nunggu dia jemput dulu”. Kenapa sih, Ikar lagi…Ikar lagi!!! Saya yang agak kesal, akhirnya menyiapkan makanan terlebih dahulu. Ingin rasanya marah-marah karena Ican ingkar janji, tapi kok rasanya berlebihan, lagipula kan Ican juga tamu, dan ini malam Lebaran, terlebih marah karena Ican lebih memilih Ikar itu terkesan dangkal tanpa alasan. Mungkin karena merasa bersalah, Ican lalu memberikan kejutan dengan mengajak anak-anak Pahyagaan, termasuk Ikar untuk membantu saya malam itu dirumah. Betapa senang hati saya, bukan hanya karena banyak bala bantuan yang datang, tetapi karena rumah jadi ramai, seperti kenangan Lebaran jaman dahulu ketika almarhumah mama masih ada dan banyak saudara yang datang untuk membantu keluarga kami. Memasak sambil bercanda, membuat hati saya seketika hangat. Melihat ketulusan mereka untuk membantu saya, teman yang baru dikenal mereka, mata pun sepertinya ingin mengalirkan sejumlah air, namun setengah mati saya tahan, gengsi donk!! Hahaha. Alhasil, malam itu Ican justru bebas tugas membantu. Dia hanya sesekali memotret kami yang sedang memasak, kemudian mengobrol diteras bersama Billy.

Ican sering bercerita tentang Ikar yang selalu menyiapkan makanan sahur untuknya ketika Ican menginap disekretariat Pahyagaan, maupun selama perjalanan mereka ke Pulau Siladen dan Gunung Klabat. Saya pun membuktikan cerita Ican tentang Ikar yang jago memasak pada malam itu. Tangannya yang cekatan memotong-motong buah, serta mulutnya yang tidak pernah berhenti bertanya tentang bahan-bahan masakan yang kami masak, otomatis membuat Ikar jadi asisten memasak utama saya saat itu. Malam itu juga, satu fakta tentang Ikar yang saya perhatikan, dia adalah orang yang perfeksionis dan sangat bersih. Entah berapa kali Ikar mencuci tangannya ketika memegang makanan, dan setengah memaksa saya untuk mengambil alih memotong buah strawberi untuk salad. Mungkin Ikar tidak betah melihat saya yang mengerjakan apapun serba lama,  haha.

koki cantik yang bawel kalo digangguin lagi masakkoki cantik yang bawel kalo digangguin lagi masak

Keesokan harinya, Ikar bersama teman-teman lain dari Pahyagaan ikut berlebaran dirumah saya. Mereka datang bertamu pada jam 11 malam. Bukan jam yang tepat untuk bertamu, tetapi anak-anak nokturnal ini memang hanya bisa terkumpul bersamaan dengan jam bencong pergi melancong. Ican langsung keluar tabiat aslinya, kembali bersemangat setelah kecapaian berjaim ria menemani tamu-tamu keluarga saya sedari siang sehabis sholat Ied. Malam itu saya dan Ican menyematkan gelar baru untuk Ikar, yaitu “Lelaki Onani”. Bukan karena Ikar rajin melakukan pekerjaan masturbasi (eh tapi gak tau juga sih, haha), tetapi karena menurut pengamatan Ican yang diamini oleh saya, Ikar termasuk golongan lelaki yang perfeksionis, terlalu percaya dengan tangannya sendiri, jadi selalu melakukan hal-hal sendiri dengan sempurna sesuai standarnya. Ikar mengingatkan saya dan Ican pada Tama, salah seorang sahabat kami yang juga termasuk golongan lelaki seperti itu. Kami juga bertukar cerita tentang mimpi dan pengalaman masing-masing, dan malam itu Ikar berikrar, setelah lulus kuliah, ingin bekerja lalu menabung dan melakukan perjalanan keliling Indonesia seperti Ican, sebelum nantinya dia menetap dan hidup secara normal dan berkembang biak, haha. Senang sekali mendengar tentang mimpi optimis seperti itu, dan malam itu juga dalam hati saya berdoa dan mengaminkan niatnya.

Perkenalan saya dengan kamera Ikar, tepat pada hari saya akan mengantar Ican berangkat melanjutkan perjalanan keliling Indonesianya. Kami terlebih dahulu singgah ke sekretariat Mapala Pahyagaan, untuk menjemput Ikar (lagi-lagi yang keluar dari mulut Ican), dan anak-anak yang lain. Ketika saya asyik tiduran di hammock (kain yang digantung dengan tali, seperti ayunan tapi bisa ditiduri) sambil bermain dengan Noir, kamera kesayangan saya, sementara Ican dan Ikar sedang asyik bercengkrama (yaa, mereka tiduran, pelukan, cubit-cubitan, dan kegiatan lainnya yang membuat saya bergidik lalu tertawa), tiba-tiba Ikar mengambil kameranya, menyalakan lampu meja yang diarahkan kearah saya, dan memotret saya beberapa kali, kemudian selanjutnya memotret objek kipas angin didekatnya. Saya yang penasaran dengan hasilnya, meminjam kamera tersebut, dan seketika berseru dalam hati “F*CK”. Hasilnya lumayan keren, foto sederhana yang diambil dari sudut yang tidak biasa, membuat saya yang jarang mengganti foto profil di akun jejaring sosial mendadak ingin menggantinya dengan foto tersebut,haha. Ketika sampai didermaga tempat kapal yang akan membawa Ican menuju Ternate, Ikar kembali mengeluarkan kameranya, bahkan mengganti lensanya. Kali ini saya tidak kuasa untuk meminjamnya, sekali jepret dan “F*CK!!!”, saya spontan memekik (dan membuat orang disekeliling terperanjat kaget) ketika melihat hasil jepretan dari kamera tersebut. Kamera yang waktu itu diatur dengan profil hitam putih, benar-benar hanya mengeluarkan efek hitam putih, klasik dan jernih. Dua kali F*CK dalam sehari, tampaknya setimpal untuk hasil foto dari kamera dan lensa yang katanya murah oleh pemiliknya. Ican sampai menggoda saya akan “berpindah agama” (istilah dalam dunia fotografi, agama sama dengan merek kamera), karena akan beralih membeli kamera bermerek seperti kepunyaan Ikar, saking berbinar-binarnya mata saya ketika melihat hasil-hasil foto kami dikamera tersebut. Ikar sangat menyayangi kameranya, layaknya para pemotret (dia ogah saya sebut fotografer), dia menjaga kameranya seperti menjaga bayi. Bersih dan terawat, persis seperti dirinya. Tas kameranya tertata rapi, dengan kamper pengisap lembab disetiap kantongnya, lengkap dengan kain penutup tas kamera anti air berwarna kuning terang yang menambah cinta saya terhadap kamera tersebut, haha.

Saya senang mengajak diskusi berbagai topik dengan lelaki yang polos namun sok dewasa ini. Salah satu cerita yang kami bahas adalah perjalanan menggunakan alat transportasi umum dengan biaya murah meriah. Ikar lalu menceritakan tentang dirinya yang beberapa kali pulang ke kampung halamannya dengan modal minim, bertukar pengalaman tentang taktik naik angkutan dengan cara yang membuat saya terbahak-bahak. Raut wajah tegas yang bercerita lugas namun penuh antusias, tanpa memandang lawan bicara, sambil sibuk mengerjakan hal yang lain, membuat dia tampak seperti ibu-ibu PKK yang multi talenta. Saya juga sempat menanyakan, jika Ikar diberi tiga pilihan antara wanita yang jago mempercantik diri demi dia, jago memasak makanan-makanan enak untuk menyenangkannya, atau jago mengelola uang demi masa depan mereka, mana yang akan dia pilih. Ikar memilih pilihan kedua dengan alasan sederhana, dia hobi makan, hahaha!

“Nanti kalo naik gunung ama Ikar aja ndak apa-apa, trusted mate kok. Kamu jangan khawatir”.

Kira-kira itu pesan Ican ketika saya mengutarakan ajakan anak-anak Pahyagaan untuk mengikuti upacara di gunung Soputan. Saya memang senang berpetualang, tetapi saya adalah anak pantai yang takut naik gunung. Fisik lemah dan akrab dengan rumah sakit ini, membuat saya ngeri membayangkan harus menyusahkan orang disana. Lagipula, gunung terkenal dingin, sama sekali bukan pasangan yang serasi dengan alergi yang saya derita. Belum lagi saya yang belum terlalu mengenal anak-anak yang akan menjadi teman perjalanan saya ke gunung. Bagaimana kalau mereka kerepotan dengan saya yang tidak cocok dengan situasi gunung? Kasihan juga kan. Akan tetapi, hasutan Ican yang setiap hari tidak bosan-bosannya menghampiri pikiran, membuat saya menguatkan hati untuk menghubungi Ikar dan menyatakan ikut mendaki. Saya memilih percaya dengan rekomendasi sahabat saya tentang Ikar. Sejak sore, saya dan Ikar tawar menawar untuk waktu keberangkatan kami. Seharusnya, kami ikut rombongan yang berangkat naik truk kesana, tetapi karena saya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan, jadi Ikar mengalah dan menunggu saya selesai kerja. Dia menjemput saya diberanda hotel tempat saya pelatihan, dan mengatakan baru selesai membeli kartu memori baru untuk kameranya, karena kartu memori yang dipakai kemarin untuk merekam Ican bernyanyi didermaga pelabuhan, tidak sengaja diformat oleh teman yang meminjam kameranya, dan Ikar belum menemukan perangkat lunak untuk mengembalikan file video tersebut, jadi mau tidak mau dia harus membeli lagi kartu memori untuk kami memotret digunung, demi menyelamatkan video sahabat barunya. Ahh, satu lagi alasan yang  membuat saya mengerti betapa sayangnya Ican terhadap anak ini.

Kejadian yang membuat saya hampir terbahak ditengah jalan malam itu, ketika Ikar menjemput saya, dan dia hanya membawa satu helm. Kami nekad naik motor menuju sekretariat Mapala Pahyagaan, dengan saya yang membonceng tanpa helm. Tadinya kami mengambil jalan memutar, tetapi sialnya, diperempatan jalan yang akan kami lewati, ada polisi. Karena hampir dicegat polisi, akhirnya membuat kami memilih kembali ke jalan utama (yang ternyata bebas polisi), lalu sampai disekretariat dengan selamat, fiuhh.

“Sudah terlanjur naik, ngapain turun. Tenang aja” ujar Ikar, menolak niat saya ketika kami memutar kembali melewati jalan utama tadi, dan saya mengatakan akan turun saja lalu naik mikrolet menuju sekretariat karena takut dicegat polisi lagi. Kalimat datar penuh penekanan yang keluar dari mulut seorang lelaki yang malam itu mampu membungkam saya yang senang membantah.

 “Ikar itu wangi banget, kamu bisa rajin mandi kalo jalan bareng dia”

Penyataan Ican tersebut ternyata tidak berlebihan. Beberapa hari mengenal Ikar, dan pada akhirnya menginap digunung selama tiga hari dua malam berada satu tenda dengannya, membuat saya mengamini pernyataan sahabat saya itu. Sepanjang perjalanan, berboncengan dengan Ikar adalah kegiatan memanjakan hidung. Ikar mengaku hanya menggunakan pewangi cucian, tetapi entah pewangi itu dicampur dengan apa, sehingga angin malam yang menerjang kami sepanjang perjalanan selama hampir dua jam itu, tidak melunturkan harum wangi yang menerpa hidung saya. Sarung tangan yang menjadi perantara tangan saya dan jaket Ikar juga mendadak sangat wangi karena hampir dua jam menempel dijaketnya. Untung saja saya tidak tertidur (seperti kebiasaan saya kalau naik motor dan perjalanannya jauh), karena terlena dengan kenyamanan yang ditawarkan oleh angin malam dan wangi semerbak kembang setaman yang berasal dari jaket pengemudi didepan saya. Belum lagi ketika dia membuka helm karena kami tiga kali berhenti untuk membeli keperluan yang tertinggal, aroma segar sampo dari kunciran rambutnya seketika membuat saya hampir amnesia, haha. Tidur di kantung tidur mungil dan tenda miliknya juga, serasa tidur dikamar putri raja. Bahkan kamar saya saja tidak pernah sewangi itu, haha. Harum lembut yang melekat diingatan siapapun yang pernah menciumnya. Saya mendoakan Ikar langgeng dengan pacarnya, karena kasihan membayangkan betapa susahnya menghapus ingatan tentang bau khas itu kalau mereka putus, haha (agak curcol).

“Katanya Backpacker?!?”

Kalimat menyebalkan yang selalu keluar dari mulut Ikar ketika melihat saya yang tertatih-tatih menyusul dia dan rombongan lainnya yang seperti bajing, meloncat-loncat dengan gembira menuju puncak anak gunung Soputan. Ikar memang senang sekali menggoda saya dengan kalimat-kalimat ejekan yang membuat saya ingin melemparnya dengan sepatu. Sejak awal kami diperkenalkan oleh Ican, saya memang melihat bakat tengil melekat kuat dalam diri lelaki trendi yang sangat dekat dengan sahabat saya itu. Tatapan jahil plus senyum isengnya, apalagi ditambah kalimat-kalimat ledekan yang dilontarkannya, membuat saya harus ekstra keras menahan diri untuk tidak menarik kunciran rambutnya ketika hobinya itu kumat.

Walaupun begitu, dibalik tampang jahil dan kelakuan minus khas bocahnya, Ikar adalah lelaki yang sabar dan bertanggung jawab (menurut saya lhooo). Dengan kesabaran seluas samudera Hindia, Ikar dengan tabah menemani saya yang selalu tertinggal jauh dibelakang rombongan. Tanpa banyak bicara, saya tau dia mengawasi saya dari belakang. Senter yang dibawanya juga diberikan kepada saya, dan dia hanya menggunakan senter dari korek api gas yang menyala ala kadarnya. Melihat pembawaannya, saya semakin menguatkan diri untuk tidak mengeluh manja dan benar-benar memperhatikan jalan didepan saya agar tidak terjatuh dan menyusahkan teman perjalanan yang selalu memanggil saya dengan sebutan “Senior” karena usia kami yang terpaut lumayan jauh. Karena kami berangkat terpisah dengan rombongan Pahyagaan, Ikar menitipkan saya ditenda rombongan Aesculap, Mapala dari Fakultas Kedokteran. Setelah memastikan saya sudah aman disitu, Ikar lalu berpamitan untuk menyusul rekannya yang mengambil jalur pendakian dari desa yang berbeda.

Ketika Ikar hampir hilang di gunung malam itu karena nekad menyusul rekan-rekannya yang kesasar, jujur saya sangat khawatir, karena selain hari sudah malam dan hujan, Ikar belum makan sejak pagi. Ketika dia akhirnya pulang dalam keadaan mengenaskan (haha), basah dan terlihat marah karena gagal bertemu rekan-rekannya, saya menanyakan bagaimana perasaannya, apakah dia menangis putus asa karena hari sudah gelap dan takut sendirian. Ikar hanya tersenyum dan berkata bahwa dia masih yakin akan Tuhan. Berdoa dan berserah hanya kepada Dzat yang menciptakan manusia, percaya penuh bahwa kita tidak akan pernah dibiarkan sendirian. Sambil lalu Ikar menambahkan, dia hanya menangis jika teringat mamanya yang jauh disana. Mendengar itu, saya hanya tersenyum maklum. Ikar, malam itu kembali menjadi perantara Tuhan dalam mengingatkan kembali tentang keyakinan dan kepercayaan terhadap sang Pencipta, tanpa sedikitpun keraguan. Ingin rasanya saya mengobati tangan mulusnya yang malam itu luka-luka karena menerobos hutan dikala matahari sudah istirahat berganti gelap malam plus kabut gunung yang mencekam, tetapi melihat kemandirian lelaki yang selalu sigap dengan kotak obat lengkap ditas nya itu, saya mengurungkan niat dan hanya menyuruhnya untuk makan dan segera beristirahat. Dasar lelaki pesolek, dia malah memilih untuk berganti baju dan celana terlebih dahulu sebelum akhirnya makan bersama saya dan rombongan Aesculap lainnya. Rifa, si calon dokter ketua rombongan Aesculap bahkan menjulukinya mirip artis Ayu Dewi, karena malam itu Ikar mengurai kunciran rambutnya, memakai jaket oranye yang menyala dikegelapan malam, tampak cantik diterangi cahaya api unggun didepan tenda. Fantastik!!!

si tengil nan wangi yang doyan meledeksi tengil nan wangi yang doyan meledek

Hal lain tentang Ikar yang membuat saya takjub adalah dia tidak menghiasi tubuhnya dengan seni tato, merokok dan minum minuman keras. Hal yang jarang terjadi ketika menjadi anggota Mapala. Suhu gunung dan laut yang dingin, menambah alasan panjang untuk mengkonsumsi dua hal terakhir itu sebagai penghangat. Apalagi dia berteman akrab dengan Jibie, salah satu seniman pembuat tato berbakat dikampusnya. Ikar punya alasan tersendiri yang tidak perlu saya ceritakan disini tentang prinsipnya itu. Alhasil selama digunung, saya dan Ikar hanya asyik melinting tembakau untuk para anggota rombongan yang lain, minum susu panas, lalu ikut tertawa-tawa melihat kelakuan anak-anak yang mabuk ketika meminum minuman keras tradisional yang sengaja dibawa untuk menghangatkan badan mereka.

Tipikal lelaki idola kaum hawa beberapa tahun lagi, pikir saya ketika melihat sosok lelaki yang dengan gaya tenangnya memotret hamparan pemandangan yang terlihat dari atas puncak anak gunung Soputan. Ikar, mengingatkan saya akan seorang sahabat dekat saya yang sekarang sedang berkeliling dunia. Harry Sudirman Kawanda, si lelaki pemimpi yang berniat menaklukkan semesta. Mungkin seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman, Ikar akan bertransformasi menjadi lelaki idaman dengan segala pesonanya. Sorot mata tajam yang mampu membuat sejuta wanita bertekuk lutut, dan semilyar pria menyembah, haha. Tinggal menunggu tanggal mainnya.

kehilangan koneksi dengan dunia luar ketika asyik dengan mainannya :))kehilangan koneksi dengan dunia luar ketika asyik dengan mainannya :))

Malam terakhir didalam tenda, kami berdiskusi tentang pasangan. Ikar berceloteh tentang cerita cintanya yang unik, dan saya pun balik menceritakan sedikit kisah kasih saya yang absurd, haha. Saya tidak menyebut itu ajang curhat. Hanya berupa obrolan ringan, bertukar pikiran tentang pengalaman kami masing-masing. Lagi-lagi saya dibuatnya terkikik dengan cerita yang menurutnya konyol namun membuat saya teringat akan masa lalu. Kenangan lucu yang dulu juga pernah saya alami. Lelaki yang berusia jauh dibawah saya itu tampak jauh lebih dewasa ketika dia menatap saya dan mengatakan “Menikah itu memang harus dipikirkan matang, karena orang itu yang akan kamu lihat sebelum kamu tidur dan ketika kamu bangun, seumur hidup. Tidak seperti baju, ketika salah beli, kita bisa memberikan kepada orang lain atau menjualnya kembali”. Analogi seorang lelaki modis yang menggambarkan kehidupan perkawinan dengan filosofi membeli pakaian, membuat saya geli sendiri. Dia juga bertanya dengan heran (sambil sedikit meledek), kenapa saya belum juga mengakhiri masa lajang dan masih asyik berpetualang, dan saya hanya bisa tertawa dan melemparnya dengan kaus kaki.

Assalamualaikum mbak Ayu Dewi hahahahaahahAssalamualaikum mbak Ayu Dewi hahahahaahah

Ikar, selalu menenangkan saya dengan semua kalimat lugunya. Ketika saya mengutarakan tentang pandangan mata heran semua orang yang melihat saya tiba dibase camp menggunakan celana legging yang lebih cocok dipakai ke mall daripada ke gunung, tanpa melihat kearah saya Ikar berujar “Aku juga kalo naik kadang pake lapis celana legging kok, demi keselamatan kaki, daripada tergores ditengah jalan”. Hampir terbahak saya membayangkan lelaki dihadapan saya itu bersepatu khas pendaki, bertampang ala samurai, tetapi memakai legging ala Cherry Belle. Waktu alergi saya kambuh pun, Ikar selalu mengatakan “Gak apa-apa, ini gak dingin kok. Masuk aja ke dalam tenda, biar hangat”. Saya tau, Ikar hanya menghibur saja, mencoba mengalihkan perhatian saya yang mulai gelisah karena tersugesti dengan udara dingin. Ikar bahkan meminjam kantung tidur milik Panjul, teman perjalanan kami, sebagai tambahan selimut untuk saya yang sejak habis makan malam meringkuk ditenda karena tidak kuat dengan hawanya. Setengah sadar saya melihat Ikar menyelimuti saya, menutup resleting jendela tenda bagian atas, dan kembali bergabung dengan teman-teman lainnya diluar yang asyik bernyanyi dengan ukulele mengelilingi api unggun.


Satu kesamaan saya dengan Ikar, kami itu Pelor alias Nempel Molor, gampang tertidur dimana saja dan kapan saja ketika kantuk menyerang, plus sama-sama susah bangun pagi. Tertidur dalam posisi duduk, menyender di batu, atau ditengah keramaian sekalipun. Ajaibnya, dua malam tidur bersebelahan dengan Ikar, menyebabkan mata saya lebih cepat terjaga dipagi hari. Entah karena harum mewangi yang menguar darinya, atau keadaan tenda yang rapi karena selalu dia bereskan sebelum kami beranjak istirahat. Saya yang selalu terbangun lebih dulu, sering kehabisan cara membangunkannya. Awalnya saya menepuk tangannya dengan sopan sambil memanggil namanya perlahan, tidak berhasil. Mengguncangnya dengan semena-mena dan membuat tenda kami bergoyang hebat hanya akan membuat orang diluar tenda berpikiran macam-macam, hahaha. Tampang polos Ikar ketika tertidur pun tidak luput dari jepretan kamera saya. Ekspresi kekanakkan Ikar yang sedang pulas, menambah koleksi foto saya yang memang hobi memotret raut wajah orang ketika tidur. Segala cara saya lakukan, sampai akhirnya Ikar bangun dengan nyawa separuh, mendengus kesal dan menatap saya dengan garang ibarat macan siap menerkam mangsa karena dibangunkan secara terpaksa. Alih-alih ketakutan melihatnya marah, saya malah tertawa-tawa melihat wajah cemberut dan tatapan sinis yang ingin marah namun terpaksa ditahannya.


putri tidur, cantik dengan jemari lentik :Dputri tidur, cantik dengan jemari lentik :D

Saling menguji kesabaran juga terjadi disaat kami berkemas. Saya yang berniat membantu, merapikan tas kami berdua, sementara Ikar membongkar tenda. Ikar berkata untuk tidak membereskan miliknya, karena nanti pasti akan dirapikannya kembali. Jiwa cacing kepanasan yang tidak bisa diam milik saya, melawan jiwa lelaki perfeksionis miliknya, menjadi sangat kontras saat itu. Saya tetap membereskan tas miliknya, setelah terlebih dahulu membereskan tas milik saya, memilah pakaian dan barang-barang berlainan jenis kedalam kantong-kantong tas yang berbeda, dengan tujuan agar acara berkemas cepat selesai. Ikar menyaksikan kesibukan saya sambil melengos dengan tatapan “ini orang gak ngerti bahasa manusia apa yah? Udah gw bilang jangan diberesin!!”. Seperti pernyataan awalnya, selesai membongkar tenda, dia kembali merapikan tas miliknya, mengeluarkan semua barang yang sudah saya atur rapi, dan mengaturnya kembali, diiringi tatapan ingin menggampar dari saya, yang merasa pekerjaan saya barusan sia-sia dimata anak ini. Anehnya, saya yang biasanya kalau diperhadapkan dengan keadaan seperti itu akan mengomel ala ibu-ibu sinetron, sore itu memilih diam dan mendengarkan Ikar yang juga bertutur kata dengan sabar tentang kesalahan-kesalahan saya dalam pengaturan tempat barang-barang dalam tasnya tersebut. Sore itu, emosi menjadi hal tabu diantara kami. Menyenangkan!”

“Bahagia itu adalah ketika kita lebih sering tersenyum, lebih berani bermimpi, lebih mudah tertawa, dan lebih banyak bersyukur” –Merry Riana-

Maafkan saya yang terkesan sok tahu dalam membuat tulisan tentang sosok lelaki yang baru saya kenal kurang dari sebulan ini. Mungkin masih banyak sahabatnya yang lain yang jauh lebih mengenal pemuda yang tidak terlalu suka dengan makanan pedas ini. Masih banyak hal misterius tentang lelaki yang bernaung dibawah rasi bintang Taurus ini yang belum saya ketahui. Ikar juga bukan pria sempurna layaknya pangeran berkuda putih dicerita dongeng sebelum tidur. Dia masih berego tinggi khas lelaki, masih suka kontradiktif dengan perkataannya, masih cuek dengan keadaan sekelilingnya, serta masih bisa marah ketika saya berbuat hal yang menurutnya salah. Namun satu hal yang saya yakini, lelaki yang juga senang menyanyi sambil memainkan gitar dengan jemari lentiknya ini, adalah teman baru yang dikirimkan Tuhan, bukan karena kebetulan. Ada makna dan tujuan disetiap pertemuan. Buat saya, selalu menyenangkan bisa mengenal sosok seperti Ikar, layaknya buku, kami dipertemukan mengenal satu sama lain, sebagai media untuk saling belajar.

ukulele dan nyanyian, alat modus paling manjurukulele dan nyanyian, alat modus paling manjur



Manado, 31 Agustus 2013  13 : 31 WITA

Sabtu siang disebuah restoran pinggir pantai dengan pemandangan teluk Manado, ketikat langit cerah ceria, sambil skype-an dan cekikikan dengan seorang sahabat yang berada nun jauh dinegeri orang :)