25/01/20

Luka Itu Masih Ada


Malam minggu adalah jadwal saya menonton film sampai menjelang subuh. Biasanya, saya memulai kegiatan setelah Aksara tertidur. Maklum, anak ini sudah mengerti “nonton” gara-gara pernah saya ajak menonton film “Frozen” di laptop.

Lagi asyik browsing film yang akan saya tonton, saya menemukan film “Posesif.”

Film yang menjadikan Putri Marino pemenang Piala Citra tahun 2017 di film perdananya.
Film yang menceritakan tentang problematika dua anak manusia zaman sekarang.
Film yang bersountracks dua lagu yang di manapun saya berada; baru mendengar intronya saja, airmata langsung mengalir deras.
Film yang pada tahun rilisnya, saya dilarang menonton oleh para sahabat saya.

Dan malam ini saya menantang diri sendiri, tepatnya memberanikan diri, untuk mengatasi semua ketakutan yang selama ini saya pendam.

Benar kata para sahabat saya.
Film ini berhasil membuat saya menelan ludah pada sepuluh menit pertama. Selanjutnya, airmata banjir, dada saya sakit, napas saya sesak.
Banyak adegan yang membuka luka lama. Banyak adegan yang membuat dejavu. Banyak adegan sama persis, seperti mengulang deretan peristiwa nyata sepanjang hidup.
Sakitnya masih terasa sampai detik ini. Duka yang lama tertutupi dengan senyum sok tabah.  
Menulis ini pun, tangan saya masih bergetar. Ingin saya menganggap ini cuma kelebay-an saya semata. Ini akibat saya yang memaksa menonton film yang sudah jelas-jelas dilarang oleh orang-orang yang mengerti masa lalu saya. Konyol memang.

Namun, benar kata para sahabat saya.
Ternyata, saya memang selalu dan akan selalu keras kepala.
Ternyata, saya memang belum memaafkan siapa-siapa.

Manado, 26 Januari 2020
04:17 WITA

17/01/20

Commitment isn't my thing!


“Kak Tet, did you married ur soulmate?”
“Perhaps not. But I must be happy with my destiny.”

Well, ini memang bukan tulisan pertama yang saya harapkan untuk jadi pembuka tulisan di awal tahun. Obrolan serius tentang perasaan memang agak saya hindari sekarang, mengingat keadaan hati yang sering ringsek bisa makin buruk jika melulu dipake ngebahas hal kayak ginian.

Obrolan tadi adalah obrolan lama saya dengan salah satu senior di kampus yang lumayan dekat dengan saya. Kepadanya, saya bebas bercerita apa saja, bahkan topik-topik ajaib yang mungkin buat orang lain geleng-geleng kepala. Beliau memang berpikiran terbuka dan tidak pernah menghakimi saya, apapun cerita yang saya utarakan.

Komitmen, momok menakutkan yang selalu menghantui saya sejak dulu. Entah saya yang terlalu percaya dengan ramalan bintang atau apalah, tapi ramalan tentang Sagittarius yang memang sulit berkomitmen itu memang banyak benarnya. Apalagi, saya senang dengan hal-hal romantis bodoh seperti di film komedi romantis Hollywood. Menemukan orang yang mau berkomitmen sehidup semati selamanya sampe mencri-mencri adalah impian terbesar kaum perempuan, termasuk saya. Sayangnya, sampai umur saya seehem ini, saya malah belum menemukan orang seperti itu. Orang yang bisa membuat saya percaya bahwa komitmen itu bukan tahayul. Bahkan tidak dengan orang yang kemarin telah “menghadiahi” saya sosok mungil yang menjadi miniatur saya. Well, to be honest, dia memang tidak pernah masuk dalam daftar orang yang sekiranya mau saya ajak berkomitmen serius sih, ahaha.

Pepatah Jawa mengatakan “Witing Tresno jalaran soko kulino”

Saya sih bukan tipikal kayak gitu. Saya tipikal pemburu. Menyukai terlebih dahulu. Bukan awalnya dari kenal, sering jalan bareng, makan gado-gado bareng, nonton konser bareng,  bobok bareng, lalu hati ambyar. 
Saya tipikal Sagitarian apa adanya. Kalau suka yah suka aja, ibarat makan ayam KFC, yang dimakan duluan ya kulitnya, karena itu bagian paling enaknya. Kalopun nanti belakang bakalan tidak enak akhirannya, ya diterima saja. Toh lagu bertema galau ada ribuan judulnya yang gak bakalan habis dinyanyikan sampai hati tenang kembali.

Kembali ke obrolan saya dengan senior saya kemarin. Saya lumayan takjub dengan orang yang bersedia berkomitmen seumur hidup dengan orang yang bukan belahan jiwanya. Tidak bisa saya bayangkan jika saya harus bangun tidur setiap hari dengan orang yang sama, yang bahkan bukan “kind of my fav human on earth.” 

Gosh, harus seumur hidup menolelir seseorang yang sama adalah episode horor tak berkesudahan yang malas saya bayangkan bisa terjadi dalam hidup saya yang memang sudah pelik ini. Bukankah ada pilihan kita dalam menjalani hidup? Salah satunya dengan memilih siapa yang akan mendampingi hidup kita nanti? Atau bahkan memilih untuk tidak memilih siapapun merupakan sebuah pilihan. Rasanya, tidak adil jika mengorbankan perasaan penuh kebebasan hanya demi perasaan takut sendirian.

Berkomitmen dengan seseorang berarti mempercayakan perasaan kita untuk bertoleransi dengan pemikiran orang lain. Pemikiran yang terkadang tidak sesuai dengan hati nurani kita. Saya ngeri membayangkan harus seiya sekata dalam memilih tempat makan, atau warna cat dinding rumah, atau gaya mengasuh anak, bahkan menyelaraskan antara kewajiban dalam berkomitmen dan keinginan untuk menggapai impian pribadi satu per satu.
Harus sosok orang yang benar-benar "klik" dan nyambung satu sama lain, biar tektok-nya enak. Soalnya saya bukan penganut paham "beda itu biasa, kan biar saling melengkapi." Elahh.. basi.

Dan kayaknya emang mustahil ada orang yang beneran cocok sama saya di dunia ini. Kalaupun ada, mungkin juga gak mau sama saya. Hahahahahahahanjenggg.. #kray

Ah...saya pusing. Mo makan choipan aja sampe mabok! Mumpung belum ada yang melarang! #lho


Manado, 18 Januari 2020

01:29 WITA
Lagi kesambet nulis sambil donlot film

29/09/19

Merencanakan Impian (Bagian 1)


Malam ini saya lagi kurang kerjaan dan ingin menulis blog untuk memanggil kantuk. Sudah semingguan jam tidur saya jadi kacau gara-gara film Midsommar. Anehnya, film ini justru sudah saya tonton sejak tiga minggu yang lalu, tapi efek susah tidurnya telat dua minggu. Well, saya emang tipikal cewek yang telat pekanya, gaes. Jangan heran kalo anaknya teh suka telat nangkep signal hati, hahay.

Nah, karena saya kemarin susah tidur, saya jadi punya kebiasaan baru, yaitu membaca blog salah seorang traveller lokal yang sering melakukan perjalanan ke Nepal. Duh, saya yang cupu ini memang dari dulu suka memimpikan bisa mendaki pegunungan Himalaya.

Hah? Serius lu, Shin? Lu kan penyakitan!
Emberan, Malih. Maka dari itu dibilang tadi ngimpi pan. :))

Himalaya, adalah mimpi yang hampir mustahil dari seorang tukang jalan-jalan berfisik agak lemah seperti saya. 
Dulu, pertama kali mendengar nama Himalaya, saya langsung jatuh cinta. Saya yang memang tergila-gila dengan Sanskrit a.k.a bahasa Sanskerta, otomatis terpukau dengan arti kata Himalaya, yaitu Hima (Salju) dan Aalaya (tempat kediaman). Terbayang oleh saya keagungan tempat itu. Tapi yang paling terbayang sih jujur dinginnya, hahaha.
Ah elah, kena suhu AC 19 derajat aja udah teriak-teriak lu, Shin.

Lalu, di blog si traveler ini, saya menemukan sisi lain dari pegunungan Himalaya tersebut. Sisi humanis dari para pendakinya. Kisah-kisah yang menambah ketertarikan saya untuk mencari tahu tentang apa saja yang bisa saya dapati jika kelak saya berkesempatan mengunjungi Himalaya, bahkan jika saya hanya sanggup menjajaki kaki gunungnya saja. Rasanya, impian saya untuk ke sana sudah selangkah lebih dekat. Apalagi dengan mengetahui bahwa untuk pergi ke sana, banyak opsi mudah dan murah yang memungkinkan saya pergi membawa Aksara.

Sudahkah saya menceritakan kalau sejak Aksara lahir dan berusia empat bulan, dia sudah saya ajak ke gunung Mahawu? Sebuah gunung yang memang hanya membutuhkan waktu sepuluh menit menaiki tangga untuk ke puncaknya. Namun, untuk ukuran perempuan berfisik lemah sejak kecil, dengan posisi pernah masuk rumah sakit paska melahirkan karena infeksi, saya merasa bangga dengan diri saya sendiri untuk pencapaian itu. Mengapa saya memilih Mahawu? Karena memang tidak ada seorangpun kawan saya yang sudi meladeni permintaan sinting saya untuk mendaki gunung di usia Aksara waktu itu, dengan kondisi ibunya yang juga seperti “itu.” Beberapa bulan kemudian, saya kembali mengajak Aksara hiking ke gunung Tumpa, untuk mengikuti kegiatan penanaman pohon oleh mapala di kampusnya sepupu saya.

Mengapa saya harus sekeras kepala itu; membawa anak sekecil Aksara ke gunung, membiarkan dia merangkak dan mengeksplorasi gunung? Semata karena keinginan saya yang ingin membawanya mewujudkan impian gila saya menjajaki Himalaya.
Saya memang terlalu cupu untuk pergi ke sana sendirian. Entahlah, menurut saya Himalaya terlalu besar untuk saya “nikmati” sendirian. Well, saya memang nanti berniat untuk ikut open trip, tapi seperti perjalanan-perjalanan saya yang dulu, sebisa mungkin saya akan mengambil kesempatan untuk memisahkan diri dari rombongan (dengan pamit ke penyelenggara tentunya) untuk sekadar duduk dan mencari “Tuhan dalam diri” di sekitar situ. Duduk diam, mata nyalang berkeliling, namun tatapan seakan kosong. Enjoying moment of solitude.

Sampai hari ini, satu-satunya orang yang saya anggap mengerti “sikap penyendiri” saya tersebut hanyalah Aksara. Jangan salah, di usianya yang sekecil itu, bocah itu tahu persis bagaimana “menjaga” ibunya yang sering “menghilang” di tengah keramaian. Aksara akan menyibukkan dirinya dengan bermain hal-hal yang tidak membahayakan dirinya, di saat saya sedang asyik dengan ritual tersebut, tanpa harus meminta perhatian dari saya. Itulah mengapa, saya berniat mengajak Aksara ke Himalaya, agar bisa “mengawasi” saya yang mungkin akan terlena akan ritual kegemaran saya, yang didukung oleh pemandangan magis selama di sana.

Saya sudah bisa membayangkan semua latihan fisik yang harus saya persiapkan selama kami di sana. Mulai saat ini, saya pun harus merencanakan semuanya dengan matang. Memperkirakan waktu yang tepat, menyelaraskan usia yang tepat antara saya dan Aksara agar siap berangkat. Jangan terlalu muda di sisi Aksara, dan terlalu jompo di sisi emaknya, hahaha. Itu sangat penting, karena saya tidak mau egois dalam memaksakan kehendak saya ke sana. Menjaga pola makan dan pola tidur demi stamina kami berdua. Membiasakan Aksara memakan makanan selain nasi dan teman-temannya. Pokoknya berusaha sekuat tenaga agar impian remaja saya bisa terlaksana dengan kerjasama antara kami berdua. Semoga semesta mendukung kami.



Manado, 30 September 2019

Di atas ranjang, sambil menatap si bocah yang beranjak gede dan membayangkan petualangan kami nanti.

22/01/19

Mari Awali 2019 Dengan Nge-blog (lagi), Esmeralda!


Hai Gaes… Jumpa lagiiii...dengan Meissy di sini…

Well, itu adalah kata pembuka terabsurd yang bisa saya pikirkan. Menggabungkan dua era dalam satu kalimat pembuka itu agak miris. Maksudnya sih pengin jadi blogger lucu ala-ala Alitt Susanto atau Bena Kribo, apadaya jadinya maksa. Haha #kray

Malam ini sebelum mulai menulis, hal pertama yang saya lakukan adalah tentu saja nungguin Aksara molor bukain blog sendiri yang udah lama banget tidak dibuka. Mungkin kalo itu rumah, sudah berdebu dan bau apek. Mungkin kalo itu hati, sudah kebas dan bingung bagaimana caranya mencintai. #masihpagiudahcurcol

Ternyata, sejak tahun 2016 saya jarang menulis. Postingan di blog hanya berupa rangkaian “Surat Untuk Februari Tahun 2016.”

“Hah? Apaan tuh, mak?”
“Itu lho, lomba di Instagram yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecandu Buku setiap tahun sejak 2016. Aku jadi salah satu dari tiga pemenang lho.” #mulairiya

Tadinya mikir posting itu di blog biar suatu saat kalo Instagram hilang dari peredaran kayak nasib Friendster, saya masih punya satu media buat nanti dibaca-baca kelak kalo lagi pengen pamer sama anak cucu iseng. Tapi kok sekarang mikir lagi, ah jadinya malah curang euy. Blog ini kan isinya tulisan panjang yang (dulu) tidak muat kalau ditulis di beranda Facebook.

Sebelum buka dan bacain satu per satu, saya sudah siap dengan air minum, cemilan, dan handuk kecil. Bukannya apa-apa, siapa tahu saya emosi sendiri bacain cerita yang saya tulis beberapa tahun yang lalu, yekann..
Dan benar saja, baru buka dan ngerapihin tulisan Surat Untuk Februari saja saya sudah lumayan termenung. Ternyata saya pernah sepuitis itu mengekspresikan kegamangan hati zaman alay dulu, bahahahangcyad.

Hampir seluruh postingan saya bertema cinta; pada mantan pacar, sahabat, atau orang-orang terdekat yang mampu membangkitkan inspirasi untuk menulis. Dan semakin kesini, isi tulisan saya “meningkat.” Dari segi makna maupun kaidah penulisan. Tsahhh…

Awal mula bikin blog ini juga lucu sebenarnya. Dulu, zaman saya masih sering ngangon dinosaurus di halaman kostan, saya punya sahabat yang tergolong “laku” alias jarang jomblo. Ada aja pacarnya. Padahal, mukanya toh gak cakep-cakep amat. *Ok, tulisan ini sudah mulai berbau dengki.

Hampir setiap minggu masuk beragam cerita ala novel percintaan yang sering saya baca. Sayangnya, dia ini spesialisasi sad ending alias patah hati muluk. Etdah! Kalo gak pacarnya selingkuh sama temen sekantor, hubungan tanpa restu orang tua, pacarnya lebih milih main motoran touring keliling Mars, sampai hal sepele kayak pacarnya yang lama balas chat di pukul 17:10 padahal dia chat pada pukul 17:09. Drama emang! Ckck..

Sebagai sahabat yang baik, saya selalu menanggapinya dengan santai, tanpa harus menganggapnya lebay. Tapi, sebagai manusia yang normal, lama-lama jadi bosan juga. Mau cerita ke teman yang lain, kasihan. Jadilah saya kepikiran ide buat nulisin semua kisahnya dalam bentuk kisah fiksi yang terinspirasi dari semua curhatannya. Di mana? Ya di blog lah, masa di hatimu. Nanti betah! #eh
Tapi, jadinya malah saya yang keasyikan nulis. Serasa menemukan dunia lain di luar rutinitas di dunia maya. Mungkin ini yang dirasakan Dee Lestari ketika dia mulai menulis dulu. #mulainyamanyamain

Blog jadi tempat saya nyampah, menulis semua keruwetan dalam kepala. Melatih saya menyampaikan isi hati dan pikiran dengan lebih terstruktur. Ciee..
Andai dulu sudah ada media sosial lain seperti Facebook yang bisa menulis uneg-uneg lalu dikomentari semua orang, mungkin saya termasuk anak alay yang menulis hal ngaco yang sepuluh tahun kemudian sangat saya sesali. Toh manusiawi jika kita ingin jadi pusat perhatian ketika sedang terlibat masalah.

Ada periode dimana saya patah hati parah. Benar-benar parah sampai saya sendiri jijik binti malu hati kalau diingatkan tentang masa tersebut. Makan males, tidur susah (ahaa…saya jadi tahu kapan mulai menderita insomnia), dan mandi jarang. #itumemanghobi.
Waktu itu, saya punya seorang sahabat yang setia jadi “buku harian hidup.” Dese sabar mendengarkan semua keluh kesah saya dari yang terberat sampai yang menye-menye doang. Suatu hari, dese nyuruh saya menuliskan semua curhatan tadi ke dalam blog yang saya punya. Katanya, siapa tahu nanti bisa dibukukan. Daripada cuma jadi kenangan usang, mendingan dijadikan uang. Ide bagus, Markonah!

Saya lalu menghabiskan hari-hari keliling ibukota naik kopaja dari satu terminal ke terminal lain, duduk bengong di halte bus sambil liatin orang lalu lalang, dan kalau ada duit lebih, jalan-jalan ke beberapa daerah di Indonesia. Semuanya untuk menambah inspirasi saya dalam menulis. Biar patah hatinya produktif, kata sahabat saya lagi. Soalnya kalau diam terus di kostan, saya bisa mati mengenaskan karena jarang makan, tidur dan mandi. Udah jelek, bau pula! Gimana dapet gebetan baru kalo gitu? Huaaaa...

Semua ide yang muncul di perjalanan saya tuliskan di catatan kecil. Bukannya tidak mau nulis di ponsel (waktu itu saya udah punya BlackBerry #pamer), tapi gak lucu juga kalo pas lagi nulis tiba-tiba ponselnya disambar copet. Ponselnya bisa dibeli lagi, tapi idenya keburu hilang. #bilangajakere

kalo lagi di Kopaja suka nemu fans gini :))


Tulisan yang dihasilkan tidak melulu curhatan. Ada yang berupa cerita tentang hal-hal yang saya lihat di jalan pada hari itu. Ada pula fiksi yang nasibnya kebanyakan masih mengendap di file laptop saya karena tulisannya belum selesai lalu saya keburu lupa untuk melanjutkan tulisan tersebut karena kesibukan di kantor. Kalau dibuka satu per satu, saya suka ngakak sendiri. Kok bisa yah nulis kayak gini dulu.
Lambat laun, menulis jadi semacam candu buat saya. Sehari tanpa menulis, bagai taman tak berbunga..oh begitulah kata para pujangga saya merasa hampa. #halah
Dengan menulis, otak serasa dipacu untuk terus berpikir. Lumayan lah, biar diri ini tidak cepat terserang alzeimer gara-gara keseringan minta dilumpuhkan ingatan tentang mantan kepada Tuhan. Hahaha.

Menulis banyak kegunaannya buat kehidupan saya yang random ini, misalnya menyelamatkan saya dari kegiatan kurang berguna seperti stalking akun sosial medianya mantan yang sering memamerkan kebersamaannya dengan pacar barunya sambil nyanyi lagu Pamer Bojo atau sebagai obat melek pas kejebak macet di jalan (gara-gara saya yang hobinya pelor alias nempel molor di perjalanan, sering ketiduran, alhasil suka kelewatan kalo mo turun, hiks).

Hal yang paling saya ingat adalah, ketika saya harus dirawat di rumah sakit dalam kondisi sendirian di kampung orang. Menulis tentang keseharian di rumah sakit membuat saya lupa akan rasa kesepian yang berbahaya buat orang yang fisiknya sedang down. Tanpa sadar, saya juga menyelamatkan para dokter dan perawat sampai cleaning service yang sering saya perlakukan semena-mena (baca: nyuruh motoin pasien yang narsis akut), dari kebosanan mereka di rumah sakit. Apaaaaa???? #pasientaktaudiuntung


lagi waras, jadinya nulis.




lagi kumat nyuruh2 suster motoin :))

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, blog bukan lagi menjadi tempat curhat istimewa saya. Entahlah, rasa malas ditambah dengan kesibukan menjadi manusia ibukota menjadikan saya enggan untuk sekadar mengetik di komputer. Blog saya pun lama tak tersentuh dengan tulisan acak adut khas seorang Shinta yang ternyata banyak pembaca fanatiknya.

Sampai awal tahun 2019 kemarin. Saya yang sedang membaca buku, sambil menidurkan Aksara-si bocah miniatur emaknya itu, tiba-tiba berpikir untuk membuat resolusi, salah satunya adalah kembali aktif menulis, dan blog ini adalah jalan ninja saya!

Saya tidak tahu, sampai kapan saya bisa konsisten menulis demi mewujudkan resolusi saya tersebut. Jujur, saya bukan tipikal orang yang bisa menjaga komitmen makanya jomlo melulu. Sebuah konsistensi butuh perjuangan besar agar bisa tercapai. Semoga semesta turut mengambil bagian dalam niat ini. Semoga esok masih banyak hal spektakuler yang terjadi dalam hidup saya yang bisa saya tuangkan dalam bentuk tulisan di blog. Dan yang paling penting, semoga fisik saya selalu sehat agar bisa terus memelihara konsistensi ini. #fingercross

Jangan bosan untuk mengingatkan saya kelak jika saya mulai malas, gaes...



Manado, 22 Januari 2019.

Di kamar remang-remang ketika Aksara sudah pulas sejak tadi.


31/01/16

Surat Untuk Februari Tahun 2016: Hari Ketujuh

Kepada: Lelaki Ksatria yang Setia Menjaga.

Aku mengenalnya di sebuah kamar rumah sakit berlantai tiga.
Sosok tampan yang tertawa riang sambil menggendongku kemana-mana, memamerkanku dengan bangga.
Katanya, aku adalah bidadari kecil yang dikirim khusus dari surga.
Saking sayangnya, tak jarang ia menurutiku yang merengek agar bisa duduk di pundaknya; mencoba menggapai bintang, ataupun hanya sekedar memetik buah mangga.

Papa, begitulah beliau kerap kusapa. Lelaki biasa yang irit suara, senang membaca, serta rajin berolahraga.
Guratan di wajah tuanya menandakan betapa keras kehidupan menerpa.
Pola pikirnya sederhana, asalkan kami sekeluarga bahagia, tak ada lagi yang perlu dipinta.

Pendapatnya sering kubantah, kusela dengan beribu kata tanpa rasa bersalah.
Tak kupedulikan sorot matanya yang terlihat lelah.
Yang kutahu, orangtua pasti akan selalu mengalah.

Hari ini aku pulang, kembali ke rumah yang pintunya selalu terbuka.
Seperti prajurit yang kalah perang, raga letih dan jiwa yang terluka.
Beliau menyambutku dengan senyum tenang, tanpa banyak bertanya maupun menasehatiku dengan beragam retorika.
Hanya duduk menemaniku di teras yang lenggang, membaca buku yang kubawakan dari ibukota.

Untukmu, lelaki pertama yang mengorbankan semestanya agar aku bisa menggapai bintang, maafkan aku yang jarang mengabarimu ketika dulu terlalu asyik bertualang.
Kepadamu, lelaki setia yang senantiasa menjaga, maafkan aku yang menukar segala jasamu dengan sikap durhaka.
Bagimu, lelaki ksatria yang merupakan cinta pertamaku di dunia, kupintal doa agar dirimu senantiasa sehat dan bahagia.
Sampai nanti akan datang penggantimu yang cukup sigap untuk menjagaku selalu.

Salam Hangat,

Perempuan Kecil yang Tak Bisa Apa-apa.

30/01/16

Surat Untuk Februari Tahun 2016: Hari Keenam

Kepada: Lelaki yang Terkikis Waktu.

Kamu selalu bilang, semua bisa dibicarakan tanpa meradang. Nyatanya, sosokmu selalu menghilang ketika persoalan menghadang. Apa salah jika aku mulai bimbang?

Tadinya, aku selalu menyugesti diri bahwa senyum teduhmu terlalu berharga untuk ditukar dengan emosi dangkalku. Tetapi, kali ini aku memilih untuk diam dan perlahan meninggalkanmu. Jangan dikira melepas genggamanmu seringan mengetik pesan singkat berakhiran logo senyum itu. Aku tidak sekuat prasangkamu.

Melupakanmu, laksana menulis di hamparan pasir pantai yang kerap tersapu ombak; bisa, tapi susah. Aku akan mengingat renyah tawamu di setiap film komedi yang kelak kutonton. Merasakan pedasnya argumen sarkasmu di semua hidangan batagor bertabur sambal yang kutemui di seluruh penjuru negeri. Mengenang wajah tenangmu yang tertidur damai dalam hembusan angin malam yang menerpa kulitku.

Kita masih akan melihat langit bertabur bintang yang sama. Hanya saja tempat kita berbeda, hati kita terpisah. Aku akan menitipkan sisa rinduku pada hangatnya mentari, ada pesan kuselipkan untuk memelukmu selalu. Kamu akan terus bersamaku di setiap molekul air asin yang menyapa lembut telapak kaki ketika aku bertandang di bibir samudera tempat kita kerap bercanda.

Kita masih bisa berteman dalam kenangan, karena berpisah tidak mutlak untuk saling bermusuhan. Walau nanti akan tiba saatnya, semua kan terasa biasa pada akhirnya. Jangan lupa untuk berbahagia, wahai lelaki kelima dalam deretan aksara.

Salam Hangat,

Perempuan yang Tersapu Realita.

29/01/16

Surat Untuk Februari Tahun 2016: Hari Kelima

Kepada: Lelaki yang Terlalu Pandai Bersembunyi.

Pagi hari kusapa mentari, kepadanya kucelotehkan perihal film komedi terbaru yang semalam kutonton sendiri. Tidak lucu sama sekali. Saking bosan, di tengah adegan aku malah terlelap. Mendengarnya, ia hanya tersenyum dan bersinar hangat, seakan takut jika aku bertanya apa kabarmu. Aku tahu kalian pasti sekongkol dalam hal ini. Konspirasi tingkat tinggi yang malas untuk aku selidiki.

Siang hari kusapa angin, kepadanya kukisahkan perihal jalanan kota yang kacau balau. Kurangajarnya, ia malah balik bertanya, apa kabar dengan hatiku? Masihkah rapi menyimpan sunyi? Tegurannya membuatku tersadar, ada ruang hampa yang telah tersusun lama. Bangunan hasil timbunan dusta dan murka.

Sore hari kusapa awan, kepadanya kuwartakan tentang pertemuan dengan para sahabatku. Mereka yang tak pernah lupa bertanya kapankah kamu kembali. Seakan mereka benar peduli. Aku hanya bisa tertawa dan mengarang cerita tentangmu yang sedang sibuk bertarung dengan beruang madu. Kami terbahak bersama. Candaan konyol yang membuatku terlihat seperti pecundang bahagia.

Malam hari kusapa bulan, kepadanya kututurkan tentang perasaanku padamu yang perlahan menghilang. Hiasan langit itu bertanya apa kabarmu. Katanya mentari sedang pelit informasi, karena harus berbagi gosip dengan hujan. Mataku kosong kala menatap, mulutku kelu kala meratap. Leluconnya tak lagi menarik kali ini.

Lihatlah sayang, betapa mengerikannya keputusasaan manusia.
Betapa cinta berhasil membuang kita ke dasar jurang keterasingan.
Kata orang, menunggu itu meletihkan.
Kataku, menunggu itu mematikan.

Salam Hangat,

Perempuan yang Terlalu Bodoh Mencari.

28/01/16

Surat Untuk Februari Tahun 2016: Hari Keempat




Kepada: Lelaki yang Ditelan Bumi.

Lelakiku, apa kabarmu?
Bolehkah aku bercerita tentang seseorang yang belakangan hadir menemaniku?

Aku berjumpa dengannya di acara nonton bareng piala dunia, dua tahun yang lalu. Sosok periang di sebelah meja yang ribut menggodaku yang terlalu heboh bersorak-sorai. Berawal dari saling meledek negara jagoan, kami pun akhirnya berkenalan. Seperti katamu, sepakbola adalah pemersatu nomer dua di dunia selain musik tentunya.

Hobinya bermain gitar, menyanyikan lagu Sheila On 7 kesukaan kita; favoritnya juga. Jemarinya lincah memetik gitar sambil bersenandung, menyihirku untuk kembali ke masa beberapa tahun silam, membuatku termenung di dekatnya. Walau setelah itu, dia selalu mengagetkanku dengan rengekan meminta bayaran per lagu. Alhasil, aku selalu berhasil tertawa melihat ekspresi jenakanya; mencibir sambil melemparinya barang yang bisa kujangkau.

Aku sering mengajaknya ke toko buku. Sifatnya yang tak bisa diam, selalu iseng menggangguku yang sedang serius membaca; menyodorkan buku yang berisi kalimat konyol yang membuatku terbahak. Tak jarang kami dipelototi pengunjung lain karena cekikikan sambil bermain petak umpet di antara deretan rak buku.

Masih ingat dengan daun Mapel dari negeri Sakura yang kamu laminating untuk dijadikan hadiah ulang tahunku?
Daun berwarna merah itu kini ada temannya. Waktu aku berceloteh semangat tentang keromantisan minimalis khasmu itu, dia hanya mangut-mangut tanpa berkomentar apapun. Beberapa bulan setelahnya, dia membawakanku daun Gedi -sayuran hijau berjari lima mirip Mapel- yang dibelinya di pasar. Daun itu sudah rapi terlaminating.
Aku terpana, lalu tertawa kencang sekali. Wajah tengil bercampur kelakuannya yang ajaib adalah keceriaan pertamaku di pagi yang mendung itu.

Lelakiku, kamu pasti menyukai sikapnya yang tulus menemaniku saat dirimu terlalu sibuk dan sering lupa untuk sekedar berkabar. Bersamanya, duniaku lumayan gembira. Aku di sini baik-baik saja, walau akhir-akhir ini terlalu lelah untuk berbahagia.

Salam Hangat,

Perempuan yang Dibunuh Sepi.

27/01/16

Surat Untuk Februari Tahun 2016: Hari Ketiga



Kepada: Lelaki Pelarung Harapan.

Beribu rasa bergelayut di pelupuk mata senduku, ketika hanya bisa melihat bayang dalam pigura. Seseorang yang raganya sedang berpetualang, jutaan mil di tanah seberang, tak jelas kapan akan pulang.

Beribu cerita terkumpul di ujung lidah kelu, tak tahu kapan bisa terlontar bebas langsung dari mulutku ke arah telingamu. Laksana dulu, ketika argumen kita beradu. Tak puas hati ini ketika hanya melihatmu lewat perantara teknologi.

Beribu tanya berbaris rapi, menunggu giliran meluncur lewat alunan nyanyian sunyi, karena berita dirimu tak kunjung menghampiri. Kepada langit kutanya kabarmu. Kepada angin kutitip rinduku.

Sabar, pintamu lewat pesan yang menenangkan.

Bahkan ketika hanya mendengar sekilas tawa merdumu, membuatku bersemangat dan siap untuk terbang menyambangimu di negeri sejuta pelangi yang konon menakjubkan itu.

Bahkan ketika hanya mendengar kisah seribu satu dari balasan surat canggihmu yang bercerita lewat untaian jutaan huruf tanpa intonasi, membuatku merasa sedang berada di hadapanmu, di kedai kopi langganan kita; tertawa dan bertukar kisah. Melarung harapan, mendulang impian. Apa saja, asal kita bersama.

Bahkan ketika hanya menerima kabar dari orang lain yang kebetulan berpapasan denganmu, meninggalkan sejuta jejak semu di bahtera alam sadarku, menetaskan bahagia.

Cemas, ujarku dalam setiap pesan yang kulayangkan.

Mungkin diriku hanya kelelahan menyelesaikan pertarungan perasaan. Curiga selalu meradang sebagai pihak lawan yang kerap menyerang. Percaya selalu datang sebagai pihak kawan yang sigap menantang. Siapapun yang menang, tetaplah dada ini dipenuhi rasa gamang.

Mungkin cinta memang membutuhkan banyak pengorbanan. Ribuan, bahkan milyaran. Doakan aku, semoga tegar bertahan.

Lelakiku, apa kabarmu?
Mentari sedang jarang bertandang untuk membisikan perihal sepak terjangmu. Belakangan memang sering hujan. Ah, mudah-mudahan kamu baik-baik saja, dimanapun kamu berada. Aku ada di tempat biasa, seandainya nanti kamu (mungkin) balik bertanya.

Salam Hangat,

Perempuan Pendulang Impian.

26/01/16

Surat Untuk Februari Tahun 2016: Hari Kedua



Kepada: Lelaki Penggila Mentari yang Menggenggam Malam.

Melihat senyum samarmu, aku jatuh cinta. Simpul bibir yang merekah perlahan, pemandangan langka yang kulihat secara sembunyi melalui sudut mata, ketika kita bergantian menyetir mobil, kala pertama kita berjumpa. Aku bahkan mengabadikan momen “permintaan pertemanan” yang kamu kirimkan malam itu juga di ponsel kuning kesayanganku, demi merasakan perasaan nyaman ketika melihat senyum itu lagi dimanapun, melalui perantara layar tak bernyawa, tanpa harus sembunyi seperti pencuri.

Menatap mata elangmu, aku jatuh cinta. Kolaborasi sorot tajam dan sinar lembut yang terpancar, seakan menyihirku untuk mendekam di sana. Mata yang menatap dunia ketika kaki membawamu berkelana. Mata yang menceritakan tentang harapan dan impian yang menakjubkan. Mata yang menjadi media penyampai pesan pikiran dan perasaan, ketika bicara bukanlah menjadi sebuah pilihan.

Memandang wajah teduhmu, aku jatuh cinta. Kamu ibarat permen gulali, polos dan klasik; selalu berhasil memaniskan dunia. Rona merah ceria terpancar ketika kamu bercerita mengenai khayalan liar yang terangkai melalui banyak celotehan di setiap malam panjang yang membuatku tak lagi peduli dengan satuan waktu. Ekspresi semangatmu ketika aku berkisah tentang hobi baruku yang mulai menyambangi gunung yang tadinya kutakuti setengah mati, adalah hal yang rela kutukar dengan apapun di muka bumi ini demi menyaksikannya lagi dan lagi.

Aku menjulukimu mentari, kamu menyebutku bintang. Kita bersatu menyinari malam, bersama menerangi kegelapan tanpa harus berselisih paham. Bergandengan tangan, saling menentramkan lewat media kata penuh cerita dan sorot mata yang selalu sama.

Hari ini kita memang terpisah. Namun, aku selalu menunggumu di tempat yang sama. Di dasar laut yang indah, dimana keajaiban adalah fakta. Di puncak gunung yang megah, dimana perjuangan adalah nyata. Semesta akan membantuku mengabarkan perihal rindu. Alam akan menjagamu agar tetap sehat dan bahagia selalu, dimanapun keberadaan ragamu.

Salam Hangat,

Perempuan Pecandu Malam yang Mencintai Mentari.