Bidikan matanya, melalui perantara seperangkat alat, membuat saya pertama kali terpesona dengan sosoknya. Aneh memang, karena sampai saat ini, saya tidak pernah bertemu dengan sosok yang hampir setahun yang lalu mengajukan permintaan pertemanan dengan saya melalui akun jejaring sosial. Biasanya, saya malas sekali menyetujui ajakan pertemanan, jika saya tidak pernah bertemu muka ataupun kenalan langsung. Untung waktu itu, beliau tidak melindungi dinding akun pribadinya, yang memamerkan hasil-hasil karyanya, dan satu kata "wah!!!", menjadikan satu "klik" dan...voilaa...jadilah kami bersahabat maya sampai saat ini.
Beliau juga selama ini menjadi pembaca setia beberapa kicau ramai yang saya tuangkan dalam rangkaian kata. Sekedar memberi jempol, kadang memberi komentar pendek, cukup membuat saya senang, karena merasa karya saya dihargai, oleh orang yang bahkan tidak mengenal saya langsung. Terkadang juga beliau menulis ulasan tentang daerah kami tercinta, bumi nyiur diujung utara.
Saya memang bukan pembaca aura, atau semacam peramal raut wajah, tapi hanya dengan melihat foto beliau, saya tau, sosok ini lebih dari sekedar idola.
Hari ini, menurut pengingat di akun pribadi saya, beliau rupanya bertambah usia, satu tahun lagi karunia untuk mengubah dunia sekitarnya, agar semakin berdaya guna, sesuai sumpah jabatan yang dipercayakan padanya.
Selamat Hari Jadi Tante Lini (tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum saya, cuma sekedar ingin menyapa akrab), semoga tetap sehat, terus bahagia, dan tambah sejahtera...
Beribu doa, berjuta harapan, bermilyar berkat, semoga melimpah dihari indahmu kali ini...
Semoga Tuhan selalu menemani disetiap langkah dan lari...
24/09/11
12/09/11
Satu itu Waktu, Waktu itu Rindu, Rindu itu Kamu...
Hari ini, ketika langit biru bersih tanpa pelangi,
Beribu jam berlalu tanpa melihat tawa dari wajah itu, omelan panjang tanpa suara yang keluar dari sorot mata yang tak pernah melahirkan jemu.
Beribu sesal berpacu ketika dulu tak kumanfaatkan waktu saat sosok itu masih lalu lalang disampingku.
Beribu rindu bermain dan bergelayut dipelupuk mata senduku, ketika hanya bisa melihat bayang dalam pigura yang kenyataannya terbang melayang, jutaan mil, tak jelas kapan akan bertemu.
Beribu cerita yang terkumpul diujung lidah kelu, yang tak tahu kapan bisa meluncur bebas ceria dari mulutku laksana dulu, ketika argumen kita beradu.
Beribu tanya berbaris rapi, menunggu giliran meluncur dialunan nyanyian sunyi, ketika kabarmu tak kunjung menghampiri.
Kamu, tak lekang oleh waktu.
Bahkan ketika hanya mendengar tawa sepersekian detik, seminggu sekali, membuatku merasa hidup dan siap untuk terbang menghampiri.
Bahkan ketika hanya bercerita lewat untaian kata lewat jutaan huruf tanpa suara, membuatku merasa sedang berada didepanmu, dikedai kopi langganan kita, tertawa, bercanda, ceria.
Bahkan ketika hanya mendengar kisah seribu satu dari balasan surat canggihmu, membuatku merasa turut berjalan, tanpa bergandengan tangan, khas kita, menemanimu kemana saja.
Bahkan ketika hanya menerima kabar dari orang lain tentangmu, meninggalkan sejuta jejak semu dibahtera alam sadarku, menetaskan bahagia, yang mengiringi sebaris doa tulus agar Dia menjaga dan melindungimu selalu.
Terima kasih,
Untukmu, yang selalu datang tepat waktu ketika hati ini dilanda rindu.
Menara BCA, lantai 55, ketika angin dan awan bersekongkol menimbulkan aura menggemaskan.
Jakarta, 12 September 2011, 1:39 P.M waktu kompie kantor yang seharian dipake nulis blog :p
Beribu jam berlalu tanpa melihat tawa dari wajah itu, omelan panjang tanpa suara yang keluar dari sorot mata yang tak pernah melahirkan jemu.
Beribu sesal berpacu ketika dulu tak kumanfaatkan waktu saat sosok itu masih lalu lalang disampingku.
Beribu rindu bermain dan bergelayut dipelupuk mata senduku, ketika hanya bisa melihat bayang dalam pigura yang kenyataannya terbang melayang, jutaan mil, tak jelas kapan akan bertemu.
Beribu cerita yang terkumpul diujung lidah kelu, yang tak tahu kapan bisa meluncur bebas ceria dari mulutku laksana dulu, ketika argumen kita beradu.
Beribu tanya berbaris rapi, menunggu giliran meluncur dialunan nyanyian sunyi, ketika kabarmu tak kunjung menghampiri.
Kamu, tak lekang oleh waktu.
Bahkan ketika hanya mendengar tawa sepersekian detik, seminggu sekali, membuatku merasa hidup dan siap untuk terbang menghampiri.
Bahkan ketika hanya bercerita lewat untaian kata lewat jutaan huruf tanpa suara, membuatku merasa sedang berada didepanmu, dikedai kopi langganan kita, tertawa, bercanda, ceria.
Bahkan ketika hanya mendengar kisah seribu satu dari balasan surat canggihmu, membuatku merasa turut berjalan, tanpa bergandengan tangan, khas kita, menemanimu kemana saja.
Bahkan ketika hanya menerima kabar dari orang lain tentangmu, meninggalkan sejuta jejak semu dibahtera alam sadarku, menetaskan bahagia, yang mengiringi sebaris doa tulus agar Dia menjaga dan melindungimu selalu.
Terima kasih,
Untukmu, yang selalu datang tepat waktu ketika hati ini dilanda rindu.
![]() |
| Satu Waktu, Waktu Rindu, Rindu Kamu... |
Menara BCA, lantai 55, ketika angin dan awan bersekongkol menimbulkan aura menggemaskan.
Jakarta, 12 September 2011, 1:39 P.M waktu kompie kantor yang seharian dipake nulis blog :p
12/08/11
Hey Soul Sister (Selamat Hari Jadi Santi Arwati Saloewa)
Hari ini ulang tahun si ibu Jendral, yang saya sebut dengan penuh hormat (sambil muntah-muntah tentu saja), Santi Arwati Saloewa. Produk “sepabrik” dengan saya, bahkan nama saya hanya dibalik dari namanya (dalam hal pemberian nama anak-anaknya, memang ayah saya kehilangan daya kreatifitasnya yang selangit itu).
Semalam, saya tidur seperti mati, akibat pulang kemalaman dari kantor. Maka habislah niat menjalankan momen sok romantis dengan menelpon si pirang alami yang tiga bulan terakhir ini menutup auratnya akibat satu alasan yang ketika pertama saya mendengarnya, hampir terjatuh dari tempat tidur saking hebohnya tertawa terbahak-bahak (tidak perlu saya sebutkan disini, kalau tidak, bisa habis saya dimaki dan dirajam mahluk kejam berbaju Mango dan bertas Hermess KW 1 ini,hahahaha). Bukannya saya lupa juga untuk sekedar mengucapkan “selamat hari jadi” di dinding jejaring sosial miliknya, tetapi hari ini, sejak pagi sampai menjelang sore, lumayan banyak masalah yang ditimbulkan “si duo kerjaan” alias dua jenis pekerjaan yang mati-matian saya jalani sekarang.
Ketika sudah agak santai, saya membuka akun jejaring sosial milik saya, bermaksud ingin sekedar liat-liat dan mengintip aktifitas pergaulan di dunia maya. Di halaman yang memuat “recent update”, saya melihat beberapa sahabat saya, menulis di “dinding”nya kakak saya, yang notabene hari ini memperingati kejadian bersejarahnya, 33 tahun yang lalu. Waduh, bahkan para sahabat itu sudah meluangkan waktu mereka untuk sekedar mengucapkan selamat, sekedar mengirimkan doa lewat kumpulan kata sederhana. Dan saya, si adik manis yang agak jahil namun ngangenin ini, agak-agak tidak tau diri, karena belum menyampah di dindingnya sama sekali.
Santi, saya sadar bahwa dia adalah satu-satunya kakak kandung yang harus saya tulis dibiodata, ketika masuk kelas 1 sekolah dasar. Dulu dirumah kami, banyak sekali saudara sepupu baik dari pihak ayah maupun ibu, yang tinggal bersama kami, dan Shinta kecil menganggap bahwa semuanya adalah “kakak” (si kecil polos yang tidak mengerti tentang definisi kakak kandung dan kakak sepupu). Santi, yang sewaktu SMP lebih beken dengan nama Sasha, diambil dari singkatan namanya “Santi Saloewa” (sampai sekarang saya masih penasaran dengan asal muasal huruf H dinama itu). Sejak masuk Sekolah Dasar, buat saya, jadi adik dari si Santi ini adalah “totally sucks!!!”.
Santi yang selalu juara kelas, Santi yang selalu masuk dalam sepuluh besar lulusan terbaik sesekolahan (dari dulu ibu saya selalu memaksa saya masuk sekolah bekas kakak saya dulu, dengan alasan selain sekolah itu memang sekolah negeri terbaik dikota saya, ibu saya juga sudah mengenal sebagian gurunya, jadi bisa lebih lega melepas anak bontotnya yang agak hiperaktif dan mengkhawatirkan ini), dan yang paling penting…Santi yang sejak TK sudah ada yang mengirimi surat cinta dari teman sekolahnya…alias Santi yang cantik jelita bak bidadari turun dari pohon cemara. Jujur saya kesal sekali dengan predikat “adiknya si Santi”. Saya ingin orang-orang mengenal saya sebagai si Shinta, bukan sekedar bayang-bayang dari si Santi yang serba blablabla.
Lupa bikin PR dan disetrap didepan kelas waktu SD “Aduh Saloewa kecil…kamu ini kok malas sekali, beda banget sama si Saloewa besar yang rajin” (cihh…dia kerjaannya dikit Bu, saya punya kerjaan lain dirumah, menggembala anjing tetangga misalnya), naik di atas meja dikelas waktu SMP, kepergok guru “Kamu ini Shintaaaaa….beda sekali sama kakak kamu yang anggun dulu” (bah…apa salahnya naik dimeja jaman SMP), kepergok bolos dan ketahuan merencanakan rencana “jahat” untuk mempengaruhi teman-teman sekelas untuk rame-rame bolos,lalu kemudian masuk ruang BP waktu SMU “Ya Tuhan Shintaaaa…kamu itu harusnya mencontohi prestasi kakak kamu, bukannya menuh-menuhin buku catatan BP dengan kenakalan kamu” (ya elah bu, namanya juga hasil pabrikan, bisa aja donk ada produk gagal dikit). Belum lagi komentar nyinyir dari teman-temannya kalau melihat “penampakan” si adik imut ini “Ya ampun, beneran ini adiknya Santi? Kok beda yah? Kok gak sebagus kakaknya?” (heh, maksudnya apaan tuh, sembarangan). Sampai dulu saya mengutuk iklan salah satu cairan pemutih kulit yang mempunyai jargon "kulit Santi tak seputih Shinta" yang pada kenyataannya berbanding terbalik dengan keadaan kulit saya yang sawo kematengan dibanding dengan kulit putih susu khas sang kakak.
Ketika masuk kuliah, kami masuk universitas yang sama, fakultas yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Kakak saya yang sejak kecil memang mempunyai hobi belajar (tuh kan, dia itu aneh tau, belajar kok hobi sih, heran saya), masuk jurusan akuntasi dengan pelajaran mayoritas hitung-hitungan. Dan karena umur ketika masuk kuliah sudah memungkinkan untuk saya memilih sendiri jurusan, dengan kewarasan tingkat dewa, saya memilih jurusan internasional yang merupakan program baru difakultas tersebut. Alhamdulillah, saya mulai menemukan jati diri saya dan berhenti menjadi bayang-bayang si nona cantik yang setiap mantan pacarnya dulu selalu membawakan oleh-oleh sebagai upeti wajib buat adik judesnya jika ingin selamat bertamu dirumah kami,hehehe.
Jujur, saya justru mulai dekat dengan kakak saya ini, malah ketika saya sudah memutuskan untuk hijrah keluar daerah. Kakak yang selalu menanti kisah-kisah konyol saya ketika saya pulang mudik, bercerita sejak malam (sejak saya tiba dari bandara) sampai pagi menjelang (padahal terkadang dia harus bangun pagi untuk pergi menjalankan tugasnya sebagai tukang ngitungin duit Negara).
Kakak yang selalu siap sedia mengatur masalah keluarga kami ketika almarhumah ibu saya terserang penyakit kritis yang menyebabkan semua masalah rumah tangga keluarga saya harus diserahkan kepadanya. Kakak yang akhirnya memutuskan memboyong kembali keluarga kecilnya dirumah ayah ibu saya, untuk mengurus ayah saya sepeninggalan ibu yang akhirnya menyerah pada penyakitnya tiga tahun yang lalu, karena melihat tampak sia-sia mengharapkan si bontot untuk pulang dan kembali mengabdi dikota kelahiran kami. Kakak saya yang selalu mempunyai saran-saran hebat, ditengah pemikirannya yang sederhana itu. Kakak yang mempunyai sepasang bocah super manis, yang selalu mengeluhkan keajaiban anak-anaknya yang katanya entah turunan dari siapa (yelowwww….lupa apa punya tante yang super ajaib pula..hahaha). kakak, yang selalu mendukung saya, dalam situasi apapun, seperti ketika tahun lalu saya mengabarkan keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan dan memutuskan untuk bersenang-senang, atau ketika pulang mudik lebaran dan mengabarkan berita buruk (buat mereka sih), bahwa saya sudah mengakhiri hubungan saya dengan seseorang “calon anggota keluarga inti”, yang merupakan “titipan” ibu saya sebelum beliau menghadap sang Maha Tinggi, atau yang paling gres adalah ketika mengetahui potongan rambut ajaib saya sejak bulan bulan Januari sampai sekarang yang total sudah lima kali ganti model dan warna. Tanggapan kakak saya pada awalnya memang selalu agak-agak histeris layaknya Maria Mercedes ketika mendengar masalah Soraya Montenegro, tapi pada akhirnya, dia pun selalu muncul dengan kata-kata bijak khas orang tua yang membuat saya terkadang tercengang “astaga…bisa juga ni orang punya ide brilian” lalu kemudian “iya juge ye,susah emang kalo ngemeng ama orang pinter”.
Sampai pada akhirnya, saya benar-benar menyadari, tidak ada tempat terbaik didunia ini selain berada di rumah, dan kakak saya, melalui suara cempreng khasnya (yang kadang dibagus-baguskan kalo ada maunya) membuat saya selalu merasa nyaman dan merasa berada benar-benar diberanda teras rumah kami, tempat saya dan dia ber-haha hihi bergosip ala pembantu rumah gedongan. Melalui sambungan telepon yang membuat jarak antara Jakarta dan Manado menjadi begitu dekat (walaupun terkadang kualitas jaringan telepon yang membuat emosi jiwa naik ke level tingkat jahanam), kakak saya selalu berceloteh lincah, mengabarkan semua cerita tentang perkembangan keluarga dan kota kami tercinta. Kakak yang selalu berusaha meluangkan waktu, untuk sekedar mendengarkan keluh kesah penting gak penting adiknya yang tidak pernah beranjak dewasa ini,hahaha.
Kami, memang bukan kakak beradik yang romantis. Bukan juga kakak beradik yang sangat akrab sejak kecil. Tapi saya, hari ini, bersyukur sekali kepada Sang Kekasih Abadi, untuk menghadiahkan salah satu karya terbaikNYA sebagai teman saya dalam keluarga, orang yang waktu kecil sering saya rusak boneka dan semua permainannya, sampai mungkin nanti kami menjadi tua, dan tetap menggila bersama, bergandengan tangan untuk meneruskan garis keturunan keluarga kami tercinta.
Hari ini, dengan tulus saya mengucapkan “Selamat Hari Jadi buat si cantik Santi Arwati Saloewa”, Semoga Tetap Sehat, Terus Bahagia, dan Tambah Sejahtera. Belum bisa beliin kado mahal apa-apa, tapi Insya Allah, doa dan permohonan saya lebih berarti dari segalanya (basiiii gak sihhh…hahahaha).
“A sister is a gift to the heart, a friend to the spirit, a golden thread to the meaning of life”. ~Isadora James~
Jakarta, 12 Agustus 2011
Untuk si cantik yang hari ini sedang merobek 1 kalender untuk jatah umurnya.
Menara BCA, masih putus asa melihat macet dijalanan ibukota.
Semalam, saya tidur seperti mati, akibat pulang kemalaman dari kantor. Maka habislah niat menjalankan momen sok romantis dengan menelpon si pirang alami yang tiga bulan terakhir ini menutup auratnya akibat satu alasan yang ketika pertama saya mendengarnya, hampir terjatuh dari tempat tidur saking hebohnya tertawa terbahak-bahak (tidak perlu saya sebutkan disini, kalau tidak, bisa habis saya dimaki dan dirajam mahluk kejam berbaju Mango dan bertas Hermess KW 1 ini,hahahaha). Bukannya saya lupa juga untuk sekedar mengucapkan “selamat hari jadi” di dinding jejaring sosial miliknya, tetapi hari ini, sejak pagi sampai menjelang sore, lumayan banyak masalah yang ditimbulkan “si duo kerjaan” alias dua jenis pekerjaan yang mati-matian saya jalani sekarang.
Ketika sudah agak santai, saya membuka akun jejaring sosial milik saya, bermaksud ingin sekedar liat-liat dan mengintip aktifitas pergaulan di dunia maya. Di halaman yang memuat “recent update”, saya melihat beberapa sahabat saya, menulis di “dinding”nya kakak saya, yang notabene hari ini memperingati kejadian bersejarahnya, 33 tahun yang lalu. Waduh, bahkan para sahabat itu sudah meluangkan waktu mereka untuk sekedar mengucapkan selamat, sekedar mengirimkan doa lewat kumpulan kata sederhana. Dan saya, si adik manis yang agak jahil namun ngangenin ini, agak-agak tidak tau diri, karena belum menyampah di dindingnya sama sekali.
Santi, saya sadar bahwa dia adalah satu-satunya kakak kandung yang harus saya tulis dibiodata, ketika masuk kelas 1 sekolah dasar. Dulu dirumah kami, banyak sekali saudara sepupu baik dari pihak ayah maupun ibu, yang tinggal bersama kami, dan Shinta kecil menganggap bahwa semuanya adalah “kakak” (si kecil polos yang tidak mengerti tentang definisi kakak kandung dan kakak sepupu). Santi, yang sewaktu SMP lebih beken dengan nama Sasha, diambil dari singkatan namanya “Santi Saloewa” (sampai sekarang saya masih penasaran dengan asal muasal huruf H dinama itu). Sejak masuk Sekolah Dasar, buat saya, jadi adik dari si Santi ini adalah “totally sucks!!!”.
![]() |
| Jaman Belanda, Kala Remaja (Masih lucu-lucunya) :))) |
Santi yang selalu juara kelas, Santi yang selalu masuk dalam sepuluh besar lulusan terbaik sesekolahan (dari dulu ibu saya selalu memaksa saya masuk sekolah bekas kakak saya dulu, dengan alasan selain sekolah itu memang sekolah negeri terbaik dikota saya, ibu saya juga sudah mengenal sebagian gurunya, jadi bisa lebih lega melepas anak bontotnya yang agak hiperaktif dan mengkhawatirkan ini), dan yang paling penting…Santi yang sejak TK sudah ada yang mengirimi surat cinta dari teman sekolahnya…alias Santi yang cantik jelita bak bidadari turun dari pohon cemara. Jujur saya kesal sekali dengan predikat “adiknya si Santi”. Saya ingin orang-orang mengenal saya sebagai si Shinta, bukan sekedar bayang-bayang dari si Santi yang serba blablabla.
Lupa bikin PR dan disetrap didepan kelas waktu SD “Aduh Saloewa kecil…kamu ini kok malas sekali, beda banget sama si Saloewa besar yang rajin” (cihh…dia kerjaannya dikit Bu, saya punya kerjaan lain dirumah, menggembala anjing tetangga misalnya), naik di atas meja dikelas waktu SMP, kepergok guru “Kamu ini Shintaaaaa….beda sekali sama kakak kamu yang anggun dulu” (bah…apa salahnya naik dimeja jaman SMP), kepergok bolos dan ketahuan merencanakan rencana “jahat” untuk mempengaruhi teman-teman sekelas untuk rame-rame bolos,lalu kemudian masuk ruang BP waktu SMU “Ya Tuhan Shintaaaa…kamu itu harusnya mencontohi prestasi kakak kamu, bukannya menuh-menuhin buku catatan BP dengan kenakalan kamu” (ya elah bu, namanya juga hasil pabrikan, bisa aja donk ada produk gagal dikit). Belum lagi komentar nyinyir dari teman-temannya kalau melihat “penampakan” si adik imut ini “Ya ampun, beneran ini adiknya Santi? Kok beda yah? Kok gak sebagus kakaknya?” (heh, maksudnya apaan tuh, sembarangan). Sampai dulu saya mengutuk iklan salah satu cairan pemutih kulit yang mempunyai jargon "kulit Santi tak seputih Shinta" yang pada kenyataannya berbanding terbalik dengan keadaan kulit saya yang sawo kematengan dibanding dengan kulit putih susu khas sang kakak.
Ketika masuk kuliah, kami masuk universitas yang sama, fakultas yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Kakak saya yang sejak kecil memang mempunyai hobi belajar (tuh kan, dia itu aneh tau, belajar kok hobi sih, heran saya), masuk jurusan akuntasi dengan pelajaran mayoritas hitung-hitungan. Dan karena umur ketika masuk kuliah sudah memungkinkan untuk saya memilih sendiri jurusan, dengan kewarasan tingkat dewa, saya memilih jurusan internasional yang merupakan program baru difakultas tersebut. Alhamdulillah, saya mulai menemukan jati diri saya dan berhenti menjadi bayang-bayang si nona cantik yang setiap mantan pacarnya dulu selalu membawakan oleh-oleh sebagai upeti wajib buat adik judesnya jika ingin selamat bertamu dirumah kami,hehehe.
Jujur, saya justru mulai dekat dengan kakak saya ini, malah ketika saya sudah memutuskan untuk hijrah keluar daerah. Kakak yang selalu menanti kisah-kisah konyol saya ketika saya pulang mudik, bercerita sejak malam (sejak saya tiba dari bandara) sampai pagi menjelang (padahal terkadang dia harus bangun pagi untuk pergi menjalankan tugasnya sebagai tukang ngitungin duit Negara).
Kakak yang selalu siap sedia mengatur masalah keluarga kami ketika almarhumah ibu saya terserang penyakit kritis yang menyebabkan semua masalah rumah tangga keluarga saya harus diserahkan kepadanya. Kakak yang akhirnya memutuskan memboyong kembali keluarga kecilnya dirumah ayah ibu saya, untuk mengurus ayah saya sepeninggalan ibu yang akhirnya menyerah pada penyakitnya tiga tahun yang lalu, karena melihat tampak sia-sia mengharapkan si bontot untuk pulang dan kembali mengabdi dikota kelahiran kami. Kakak saya yang selalu mempunyai saran-saran hebat, ditengah pemikirannya yang sederhana itu. Kakak yang mempunyai sepasang bocah super manis, yang selalu mengeluhkan keajaiban anak-anaknya yang katanya entah turunan dari siapa (yelowwww….lupa apa punya tante yang super ajaib pula..hahaha). kakak, yang selalu mendukung saya, dalam situasi apapun, seperti ketika tahun lalu saya mengabarkan keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan dan memutuskan untuk bersenang-senang, atau ketika pulang mudik lebaran dan mengabarkan berita buruk (buat mereka sih), bahwa saya sudah mengakhiri hubungan saya dengan seseorang “calon anggota keluarga inti”, yang merupakan “titipan” ibu saya sebelum beliau menghadap sang Maha Tinggi, atau yang paling gres adalah ketika mengetahui potongan rambut ajaib saya sejak bulan bulan Januari sampai sekarang yang total sudah lima kali ganti model dan warna. Tanggapan kakak saya pada awalnya memang selalu agak-agak histeris layaknya Maria Mercedes ketika mendengar masalah Soraya Montenegro, tapi pada akhirnya, dia pun selalu muncul dengan kata-kata bijak khas orang tua yang membuat saya terkadang tercengang “astaga…bisa juga ni orang punya ide brilian” lalu kemudian “iya juge ye,susah emang kalo ngemeng ama orang pinter”.
![]() |
| kala si komandan belom Insap...haahahaha |
Sampai pada akhirnya, saya benar-benar menyadari, tidak ada tempat terbaik didunia ini selain berada di rumah, dan kakak saya, melalui suara cempreng khasnya (yang kadang dibagus-baguskan kalo ada maunya) membuat saya selalu merasa nyaman dan merasa berada benar-benar diberanda teras rumah kami, tempat saya dan dia ber-haha hihi bergosip ala pembantu rumah gedongan. Melalui sambungan telepon yang membuat jarak antara Jakarta dan Manado menjadi begitu dekat (walaupun terkadang kualitas jaringan telepon yang membuat emosi jiwa naik ke level tingkat jahanam), kakak saya selalu berceloteh lincah, mengabarkan semua cerita tentang perkembangan keluarga dan kota kami tercinta. Kakak yang selalu berusaha meluangkan waktu, untuk sekedar mendengarkan keluh kesah penting gak penting adiknya yang tidak pernah beranjak dewasa ini,hahaha.
Kami, memang bukan kakak beradik yang romantis. Bukan juga kakak beradik yang sangat akrab sejak kecil. Tapi saya, hari ini, bersyukur sekali kepada Sang Kekasih Abadi, untuk menghadiahkan salah satu karya terbaikNYA sebagai teman saya dalam keluarga, orang yang waktu kecil sering saya rusak boneka dan semua permainannya, sampai mungkin nanti kami menjadi tua, dan tetap menggila bersama, bergandengan tangan untuk meneruskan garis keturunan keluarga kami tercinta.
![]() |
| banyak yang bilang kami sama, kalo kata saya "pergilah beli kacamata dulu" hahahaha |
Hari ini, dengan tulus saya mengucapkan “Selamat Hari Jadi buat si cantik Santi Arwati Saloewa”, Semoga Tetap Sehat, Terus Bahagia, dan Tambah Sejahtera. Belum bisa beliin kado mahal apa-apa, tapi Insya Allah, doa dan permohonan saya lebih berarti dari segalanya (basiiii gak sihhh…hahahaha).
“A sister is a gift to the heart, a friend to the spirit, a golden thread to the meaning of life”. ~Isadora James~
Jakarta, 12 Agustus 2011
Untuk si cantik yang hari ini sedang merobek 1 kalender untuk jatah umurnya.
Menara BCA, masih putus asa melihat macet dijalanan ibukota.
11/08/11
Creating Destiny Part. 1
Jam di layar computer yang sudah hampir dua bulan ini membantu saya mencari sekedar uang untuk makan dan bersosialita, telah menunjukan angka 7.26 PM.
Lampu kelap-kelip kota Jakarta terlihat sangat indah dari jendela lantai 55, disalah satu gedung pencakar langit yang berdiri angkuh dibilangan Bundaran Hotel Indonesia, jantung kota ibukota polusi ini, dimana disalah satu sudut persis disamping kaca terletak meja kerja saya yang berantakan dengan berbagai dokumen dan barang-barang berwarna kuning khas saya, lengkap dengan tiga buah pigura berwarna kuning yang berisi foto-foto orang-orang terdekat saya.
Masih banyak deadline yang harus saya kejar minggu ini. Kerjaan kantor formal menjelang Lebaran gini sibuknya nauzubillah. Kerjaan lepas informal minggu ini belum mencapai target yang sudah saya susun diawal minggu. Pengen nangis rasanya, sama pengen jambakin rambut orang (hahaha).
Padahal, masih segar diingatan, 2 bulan yang lalu, saya masih berfoya-foya disalah satu gugusan pantai diujung pulau Jawa. Tertawa-tawa ditengah sapuan ombak, meliuk lincah pada kedalaman air laut yang walau jam 12 siang, terasa sejuk dikulit. Pantai, angin, dan langit biru, serta bintang malam, merupakan sinergi unik yang selalu menenangkan syaraf dan otot lelah saya menghadapi kerasnya Jakarta (apa coba).
Hampir dua bulan saya kembali bekerja, beraktifitas layaknya “orang normal”, bahkan sekaligus mengerjakan dua pekerjaan yang sama-sama menyita waktu dan tenaga. Kenapa? Karena kali ini saya tidak mau kecolongan rencana dan waktu. Hidup saya 2 tahun belakangan benar-benar jauh melenceng dari “milestone” yang sudah saya susun, akibat ketidakdisiplinan saya dalam menyusun dan menjalankan rencana. Dan akibat dari ketidakdisiplinan itu sungguh menyakitkan, dan membuat saya harus rela mengulangnya lagi dari awal. Setiap hari saya menghibur diri dengan kata-kata positif yang jadi afirmasi untuk pelaksanaan tujuan saya tahun depan. Tapi tiap hari saya juga harus rela melihat status teman-teman saya di akun jejaring sosial milik mereka tentang perjalanan-perjalanan menyenangkan mereka keliling Indonesia dan dunia. Benar-benar membuat batin saya memaki dan terkadang berpikir kembali, apakah benar keputusan saya sekarang?
Tetapi, banyak hal yang akhirnya membuat saya bangkit dari mimpi dan hal-hal manja lainnya. Semua hal menyenangkan yang diperlihatkan teman-teman sesame petualang, saya jadikan sebagai suplemen, dan referensi , dan saya berjanji, tahun depan, ketika “kerajaan” saya sudah lumayan stabil, saya akan menjalankan kembali mimpi-mimpi saya yang sekarang saya paksa “istirahat sejenak”.
Tidak ada pencapaian tanpa sebuah pengorbanankan? Tidak ada hasil yang spektakuler tanpa sebuah rencana yang brilian yang diiringin disiplin yang luar biasa kan? Tuhan itu tidak pernah tidur. Dan sekali lagi saya percaya dengan kata-kata, semua kejadian terjadi karena suatu alasan. Hanya saja, saya masih harus bersabar, untuk mengetahui apa alasan dibalik jungkir baliknya saya sekarang.
Seperti kata idolanya idola saya (hahaha), “Life is what happens to you while you’re busy making other plans (John Lennon)”. Jadi, sekarang inilah hidup saya. Seorang Shinta yang sibuk bangun pagi, kembali membangun mimpi dan merencanakan kehidupannya dengan lebih pasti. Tidak ada jalan lagi untuk berbalik dan lari. Itu hanya cara seorang pecundang yang memilih pergi dan bersembunyi. Mudah-mudahan Tuhan, si Kekasih Hati yang abadi, akan selalu membimbing dan menuntun saya kearah jati diri yang sesuai dengan mimpi.
Jakarta, 11 Agustus 2011
8.25 PM waktu si kompie
Menara BCA, masih berkutat dengan komputer dan deretan lagu dari headset si KuBee, seluler pintar yang hampir kehabisan tenaga.
Lampu kelap-kelip kota Jakarta terlihat sangat indah dari jendela lantai 55, disalah satu gedung pencakar langit yang berdiri angkuh dibilangan Bundaran Hotel Indonesia, jantung kota ibukota polusi ini, dimana disalah satu sudut persis disamping kaca terletak meja kerja saya yang berantakan dengan berbagai dokumen dan barang-barang berwarna kuning khas saya, lengkap dengan tiga buah pigura berwarna kuning yang berisi foto-foto orang-orang terdekat saya.
Masih banyak deadline yang harus saya kejar minggu ini. Kerjaan kantor formal menjelang Lebaran gini sibuknya nauzubillah. Kerjaan lepas informal minggu ini belum mencapai target yang sudah saya susun diawal minggu. Pengen nangis rasanya, sama pengen jambakin rambut orang (hahaha).
Padahal, masih segar diingatan, 2 bulan yang lalu, saya masih berfoya-foya disalah satu gugusan pantai diujung pulau Jawa. Tertawa-tawa ditengah sapuan ombak, meliuk lincah pada kedalaman air laut yang walau jam 12 siang, terasa sejuk dikulit. Pantai, angin, dan langit biru, serta bintang malam, merupakan sinergi unik yang selalu menenangkan syaraf dan otot lelah saya menghadapi kerasnya Jakarta (apa coba).
![]() |
| menikmati hidup digugusan pantai |
Hampir dua bulan saya kembali bekerja, beraktifitas layaknya “orang normal”, bahkan sekaligus mengerjakan dua pekerjaan yang sama-sama menyita waktu dan tenaga. Kenapa? Karena kali ini saya tidak mau kecolongan rencana dan waktu. Hidup saya 2 tahun belakangan benar-benar jauh melenceng dari “milestone” yang sudah saya susun, akibat ketidakdisiplinan saya dalam menyusun dan menjalankan rencana. Dan akibat dari ketidakdisiplinan itu sungguh menyakitkan, dan membuat saya harus rela mengulangnya lagi dari awal. Setiap hari saya menghibur diri dengan kata-kata positif yang jadi afirmasi untuk pelaksanaan tujuan saya tahun depan. Tapi tiap hari saya juga harus rela melihat status teman-teman saya di akun jejaring sosial milik mereka tentang perjalanan-perjalanan menyenangkan mereka keliling Indonesia dan dunia. Benar-benar membuat batin saya memaki dan terkadang berpikir kembali, apakah benar keputusan saya sekarang?
Tetapi, banyak hal yang akhirnya membuat saya bangkit dari mimpi dan hal-hal manja lainnya. Semua hal menyenangkan yang diperlihatkan teman-teman sesame petualang, saya jadikan sebagai suplemen, dan referensi , dan saya berjanji, tahun depan, ketika “kerajaan” saya sudah lumayan stabil, saya akan menjalankan kembali mimpi-mimpi saya yang sekarang saya paksa “istirahat sejenak”.
Tidak ada pencapaian tanpa sebuah pengorbanankan? Tidak ada hasil yang spektakuler tanpa sebuah rencana yang brilian yang diiringin disiplin yang luar biasa kan? Tuhan itu tidak pernah tidur. Dan sekali lagi saya percaya dengan kata-kata, semua kejadian terjadi karena suatu alasan. Hanya saja, saya masih harus bersabar, untuk mengetahui apa alasan dibalik jungkir baliknya saya sekarang.
Seperti kata idolanya idola saya (hahaha), “Life is what happens to you while you’re busy making other plans (John Lennon)”. Jadi, sekarang inilah hidup saya. Seorang Shinta yang sibuk bangun pagi, kembali membangun mimpi dan merencanakan kehidupannya dengan lebih pasti. Tidak ada jalan lagi untuk berbalik dan lari. Itu hanya cara seorang pecundang yang memilih pergi dan bersembunyi. Mudah-mudahan Tuhan, si Kekasih Hati yang abadi, akan selalu membimbing dan menuntun saya kearah jati diri yang sesuai dengan mimpi.
“I believe that everything happens for a reason. People change so that you can learn to let go, things go wrong so that you appreciate them when they’re right, you believe lies so you eventually learn to trust no one but yourself, and sometimes good things fall apart so better things can fall together.”
Jakarta, 11 Agustus 2011
8.25 PM waktu si kompie
Menara BCA, masih berkutat dengan komputer dan deretan lagu dari headset si KuBee, seluler pintar yang hampir kehabisan tenaga.
![]() |
| Jakarta pada malam hari, dari jendela disamping meja kerja saya ^_^ |
![]() |
| Karena si KuBee bener-bener lowbat, saya akhirnya browsing pemandangan yg mirip dgn apa yg saya liat dari jendela |
| berasa berkunjung dimarkas salah satu parpol gak sih,hahaha |
![]() |
| mimpi pertama saya tahun depan...semoga terwujud...aminn aminnn |
09/08/11
Menikah itu pasti bradaaahh...Jomblo itu (baru) pilihan ^_^
“Gw jemput yee…kita buka bareng dirumah bos besar gw”, bunyi bbm dari salah seorang sahabat terdekat saya yang sembunyi-sembunyi saya baca diwaktu training sedang berlangsung dihari Sabtu yang panas kemarin.
“Heee?? Trus gw mo nyolong boy ditengah-tengah orang kantor lu gitu?” jawab saya sambil pura-pura mencatat materi training.
“Udeee….kagak bakal ada yg kepo nanya-nanya kok…paling juga mereka ngiranya lu cewe gw yang baru apa istri gw yang gak pernah gw publish” balesan yang masuk agak-agak bikin saya ingin memukul kepala si lelaki perlente yang sudah saya kenal sejak jaman kuliah dulu.
“Jiahahahaha…ciyalannn…berani bayar brape lu, diluaran sana ngajak cewe buat pura-pura gitu mehong (mahal-red) tau!!! Ogah ahhh..lagian gw ada janji ketemu calon klien gw ntar sore,skalian dinner bareng. Abis dinner aje kita nongkrong dimana gitu”, Alhamdulillah saya ingat kalau ada janji sore itu, sehingga tidak mengurangi pahala puasa saya nanti, berbohong didepan ratusan teman-temannya yang seperti biasa memberondongi dengan pertanyaan “kapan kawin bro?”.
“Bah…gitu yee…sekarang sibuknye udah ngalah-ngalahin Ani Yudhoyono yee…ckckck…ya udah,last minute gak jadi meeting, lu bbm gw, tar gw segera meluncur jemput ndoro putri. Lagian malam minggu kok meeting!!!” tetep dong dia meracuni dengan segala godaan dibulan puasa itu, hahahaha.
Hmmmm….bukan pertama kali sih, saya…yang masih berstatus jomblo gembira ini dipinjam ato dimintai tolong, bahkan tak jarang dipaksa oleh beberapa sahabat yang merasa status jomblo mereka itu adalah masalah besar dalam lingkup pergaulan. Masalah khas para kalangan sosialita ibukota (halah), yang menjadi momok ketiga terbesar setelah tagihan kartu kredit di awal bulan dan pemutusan kontrak kerja bagi para karyawan kontrak (yak..dan saya makin ngelantur,hahaha).
Pernah suatu ketika, diminggu pagi yang indah, tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi selular pintar kesayangan. Ternyata dari salah seorang sahabat (lagi), yang meminta saya segera mandi tanpa memperbolehkan saya bertanya, kemana gerangan saya akan dibawa. Dijalan dia cuma menginstruksikan untuk berpura-pura jadi calon tunangannya dia didepan keluarga besar ayahnya yang datang dari Jawa, sambil sibuk memperingatkan saya untuk berperilaku ayu bak putri keraton terutama cara berjalan saya jika berkebaya. What?!?! Emang ada acara apaan yah!?!?
Jrengg…jrenggg…sesampainya saya disana, langsung digiring kekamar rias gedung, disuruh mengenakan pakaian seragam khusus keluarga besar (kata sahabat saya “gak sia-sia gw nemenin lu beli baju selama 2 tahun mak, gw jadi tau ukuran lu yang rata depan belakang itu”…sialan), dimana didalamnya penuh dengan keluarga calon penganten yang merupakan sepupu dari pihak ayahnya, dan sebagian besar berisi ibu-ibu priyayi cerewet yang memberondong saya dengan segala pertanyaan khas keluarga yang ingin tau babat bibit bobot calon anggota baru keluarga mereka.
Hohoho… Jangan bilang nama saya Shinta kalau saya tidak bisa berdiplomasi dan menjawab dengan jawaban super manis plus tampang super kalem, sambil dalam hati mengutuk sahabat saya dan berjanji akan meminta “bayaran” yang sangat amat besar untuk peran dadakan kali ini. Hasilnya, seminggu penuh saya bebas makan direstoran seantero Jakarta manapun yang saya pilih, karena ternyata semua keluarganya puas dengan “hasil wawancara dadakan” mereka, dan membuat sahabat saya bebas dari upaya perjodohan yang akan dilakukan oleh keluarganya jikalau di acara tersebut sahabat saya datang sendirian. Ketika saya tanya “Lhaa…kalo nanti mereka nanya kapan kawin, lu mo jawab apa?”, dengan enteng sahabat saya menjawab “Ya gw jawab aja ntar “Aku masih mencoba ngenalin karakternya dia Bu De, nanti tak kabari kalau udah pasti tanggalnya. Lagian cewe jaman sekarang udah mandiri Bu De,nda bisa dipaksa, nanti lari, saya bingung nyari yang cocok lagi”….beresss, tar didiemin aja sampe sodara gw ada lagi yang kewong, baru nyari lagi yang laen. Kalo pas lu kebetulan ada di Jakarta, ya siap2 lagi ajah…hahahaha”.
Fenomena pasangan kagetan dikalangan anak Jakarta memang bukan hal baru. Diantara beberapa komunitas saya, memang banyak yang masih betah melajang, tentunya dengan berbagai alasan khas penghuni kota besar misalnya masih ingin bebas lah, belum ketemu yang pas lah, masih mengejar karir lah, dan lain lain, dan lain lain. Saya merupakan salah satunya yang mempunyai berjuta alasan untuk berkelit jika ditanyain “kok belum punya pacar?”. Untung saja di KTP tidak ada spesifikasi status seperti punya pacar atau tidak, hahahaha.
Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan dari menjomblo seperti sekarang, apalagi dengan jiwa sosial yang rajin menolong seperti saya ini,hahahaha. Banyak teman dan sahabat yang sudah saya “tolong” ketika berada dalam keadaan “malas sendiri” ato “tidak boleh sendiri”. Sebenarnya sih, pada pelaksanaannya, saya tidak pernah meminta bayaran dalam bentuk apapun kok, karena saya tau persis, apa rasanya menghadapi berondongan tatapan sinis ingin tau atopun pertanyaan menghakimi dari “orang luar” yang ngasih makan pun tidak tapi sangat pengen tau urusan orang lain yang sangat banyak bertebaran disekeliling kami, para jomblo gembira ini. Cuma yah, mereka tau diri kok, ditengah jadwal saya yang padat merayap ala jalan Sudirman Thamrin jam 6 sore, ada rayuan plus upeti khusus yang wajib mereka siapkan agar saya mau meluangkan waktu *minta dilempar,hahaha.
Sebenarnya yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah “emang kenapa gitu harus jomblo? Takut dibilang gak laku? Takut dibilang penyuka sesama jenis? Takut dibilang terlalu sibuk lalu gak punya waktu nyari pasangan?”… Yellowwww… banyak banget hal yang harus ditakutkan dalam hidup kita tiap harinya, seharusnya yang harus kita takutin itu misalnya 5 tahun lagi, hal besar apa yang sudah kita capai yang beda daripada orang lain?, atau apakah kita sudah bisa membuat orang tua kita bahagia (setidaknya 1 hal yang benar-benar bisa dia banggakan kepada teman-temannya lah).
Buat saya, hidup terlalu biasa itu malah tidak masuk dalam kamus saya. Semakin ajaib, semakin menyenangkan. Untung keluarga inti saya sangat menghargai keputusan saya jomblo sampai sekarang. Semuanya kan memang tergantung kita menjelaskan kepada keluarga inti, mau dibawa kemana alur hidup kita. Pencapaian dan tujuan yang jelas, dijalani dengan cara unik khas saya, membuat saya tenang menghadapi segala pertanyaan seputar kejombloan ini. Tidak pernah lupa, sujud menyembah Sang Maha Pencipta segala keajaiban otak saya ini, karena tanpa kuasaNya, semua tidak akan pernah seindah dan semenyenangkan sekarang.
Sebagai sahabat yang baik, tentunya saya sering bertukar pikiran dengan para sahabat yang sering merasa kelabakan dengan status lajangnya itu. Tidak harus diterima mentah-mentah sih, namanya juga bertukar pendapat. Tak jarang, ada adu argumentasi untuk itu, karena saya juga sadar, masing-masing orang punya latar belajang yang berbeda, tergantung pemahaman mereka saja. Hidup itu pilihan, mau hanya sekedar menjalani dengan cara biasa untuk bertahan hidup atau mau ekstra berkreasi untuk menikmati hidup? Pilihan ada ditangan kita masing-masing kawan.
Walaupun ujung-ujungnya, tetap ada saja hal seperti ini:
Mereka: “Oke Shin, mulai sekarang gw akan bangga dan pede dengan status gw, peduli setan siapa yang nanya”
Saya: “Baguss!!! Gitu donk…kalo bukan kita yang mengawali rasa bangga terhadap diri sendiri, mo mengharapkan dari siapa lagi?” jawaban khas motivator dadakan saya keluar
Mereka: “Tapi Shin…hehehe…in case ada neh…kalo kalo neehh..gw lagi kejepit gak bisa ngeles, lu tetep mau gw ajak kan Shin?” diucapkan dengan mata berbinar kayak kucing ngarep ikan dari bawah meja
Saya: “Hadehhh…terserah lah!!! Asal lu pade mampu bayar tariff guwehhh!!!!”
“Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter, and those who matter don’t mind.” *Dr. Seuss*
Didedikasikan untuk para sahabat lelaki saya, yang menganggap jomblo itu 3 P, Pilihan, Prestasi, dan Populer....jiahahahaha
Jakarta, 9 Agustus 2011
Menara BCA, ditengah meja kerja yang berantakan nauzubillah ditemani berbagai berkas dan deretan foto para orang kesayangan ^_^
“Heee?? Trus gw mo nyolong boy ditengah-tengah orang kantor lu gitu?” jawab saya sambil pura-pura mencatat materi training.
“Udeee….kagak bakal ada yg kepo nanya-nanya kok…paling juga mereka ngiranya lu cewe gw yang baru apa istri gw yang gak pernah gw publish” balesan yang masuk agak-agak bikin saya ingin memukul kepala si lelaki perlente yang sudah saya kenal sejak jaman kuliah dulu.
“Jiahahahaha…ciyalannn…berani bayar brape lu, diluaran sana ngajak cewe buat pura-pura gitu mehong (mahal-red) tau!!! Ogah ahhh..lagian gw ada janji ketemu calon klien gw ntar sore,skalian dinner bareng. Abis dinner aje kita nongkrong dimana gitu”, Alhamdulillah saya ingat kalau ada janji sore itu, sehingga tidak mengurangi pahala puasa saya nanti, berbohong didepan ratusan teman-temannya yang seperti biasa memberondongi dengan pertanyaan “kapan kawin bro?”.
“Bah…gitu yee…sekarang sibuknye udah ngalah-ngalahin Ani Yudhoyono yee…ckckck…ya udah,last minute gak jadi meeting, lu bbm gw, tar gw segera meluncur jemput ndoro putri. Lagian malam minggu kok meeting!!!” tetep dong dia meracuni dengan segala godaan dibulan puasa itu, hahahaha.
Hmmmm….bukan pertama kali sih, saya…yang masih berstatus jomblo gembira ini dipinjam ato dimintai tolong, bahkan tak jarang dipaksa oleh beberapa sahabat yang merasa status jomblo mereka itu adalah masalah besar dalam lingkup pergaulan. Masalah khas para kalangan sosialita ibukota (halah), yang menjadi momok ketiga terbesar setelah tagihan kartu kredit di awal bulan dan pemutusan kontrak kerja bagi para karyawan kontrak (yak..dan saya makin ngelantur,hahaha).
Pernah suatu ketika, diminggu pagi yang indah, tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi selular pintar kesayangan. Ternyata dari salah seorang sahabat (lagi), yang meminta saya segera mandi tanpa memperbolehkan saya bertanya, kemana gerangan saya akan dibawa. Dijalan dia cuma menginstruksikan untuk berpura-pura jadi calon tunangannya dia didepan keluarga besar ayahnya yang datang dari Jawa, sambil sibuk memperingatkan saya untuk berperilaku ayu bak putri keraton terutama cara berjalan saya jika berkebaya. What?!?! Emang ada acara apaan yah!?!?
Jrengg…jrenggg…sesampainya saya disana, langsung digiring kekamar rias gedung, disuruh mengenakan pakaian seragam khusus keluarga besar (kata sahabat saya “gak sia-sia gw nemenin lu beli baju selama 2 tahun mak, gw jadi tau ukuran lu yang rata depan belakang itu”…sialan), dimana didalamnya penuh dengan keluarga calon penganten yang merupakan sepupu dari pihak ayahnya, dan sebagian besar berisi ibu-ibu priyayi cerewet yang memberondong saya dengan segala pertanyaan khas keluarga yang ingin tau babat bibit bobot calon anggota baru keluarga mereka.
Hohoho… Jangan bilang nama saya Shinta kalau saya tidak bisa berdiplomasi dan menjawab dengan jawaban super manis plus tampang super kalem, sambil dalam hati mengutuk sahabat saya dan berjanji akan meminta “bayaran” yang sangat amat besar untuk peran dadakan kali ini. Hasilnya, seminggu penuh saya bebas makan direstoran seantero Jakarta manapun yang saya pilih, karena ternyata semua keluarganya puas dengan “hasil wawancara dadakan” mereka, dan membuat sahabat saya bebas dari upaya perjodohan yang akan dilakukan oleh keluarganya jikalau di acara tersebut sahabat saya datang sendirian. Ketika saya tanya “Lhaa…kalo nanti mereka nanya kapan kawin, lu mo jawab apa?”, dengan enteng sahabat saya menjawab “Ya gw jawab aja ntar “Aku masih mencoba ngenalin karakternya dia Bu De, nanti tak kabari kalau udah pasti tanggalnya. Lagian cewe jaman sekarang udah mandiri Bu De,nda bisa dipaksa, nanti lari, saya bingung nyari yang cocok lagi”….beresss, tar didiemin aja sampe sodara gw ada lagi yang kewong, baru nyari lagi yang laen. Kalo pas lu kebetulan ada di Jakarta, ya siap2 lagi ajah…hahahaha”.
Fenomena pasangan kagetan dikalangan anak Jakarta memang bukan hal baru. Diantara beberapa komunitas saya, memang banyak yang masih betah melajang, tentunya dengan berbagai alasan khas penghuni kota besar misalnya masih ingin bebas lah, belum ketemu yang pas lah, masih mengejar karir lah, dan lain lain, dan lain lain. Saya merupakan salah satunya yang mempunyai berjuta alasan untuk berkelit jika ditanyain “kok belum punya pacar?”. Untung saja di KTP tidak ada spesifikasi status seperti punya pacar atau tidak, hahahaha.
Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan dari menjomblo seperti sekarang, apalagi dengan jiwa sosial yang rajin menolong seperti saya ini,hahahaha. Banyak teman dan sahabat yang sudah saya “tolong” ketika berada dalam keadaan “malas sendiri” ato “tidak boleh sendiri”. Sebenarnya sih, pada pelaksanaannya, saya tidak pernah meminta bayaran dalam bentuk apapun kok, karena saya tau persis, apa rasanya menghadapi berondongan tatapan sinis ingin tau atopun pertanyaan menghakimi dari “orang luar” yang ngasih makan pun tidak tapi sangat pengen tau urusan orang lain yang sangat banyak bertebaran disekeliling kami, para jomblo gembira ini. Cuma yah, mereka tau diri kok, ditengah jadwal saya yang padat merayap ala jalan Sudirman Thamrin jam 6 sore, ada rayuan plus upeti khusus yang wajib mereka siapkan agar saya mau meluangkan waktu *minta dilempar,hahaha.
Sebenarnya yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah “emang kenapa gitu harus jomblo? Takut dibilang gak laku? Takut dibilang penyuka sesama jenis? Takut dibilang terlalu sibuk lalu gak punya waktu nyari pasangan?”… Yellowwww… banyak banget hal yang harus ditakutkan dalam hidup kita tiap harinya, seharusnya yang harus kita takutin itu misalnya 5 tahun lagi, hal besar apa yang sudah kita capai yang beda daripada orang lain?, atau apakah kita sudah bisa membuat orang tua kita bahagia (setidaknya 1 hal yang benar-benar bisa dia banggakan kepada teman-temannya lah).
Buat saya, hidup terlalu biasa itu malah tidak masuk dalam kamus saya. Semakin ajaib, semakin menyenangkan. Untung keluarga inti saya sangat menghargai keputusan saya jomblo sampai sekarang. Semuanya kan memang tergantung kita menjelaskan kepada keluarga inti, mau dibawa kemana alur hidup kita. Pencapaian dan tujuan yang jelas, dijalani dengan cara unik khas saya, membuat saya tenang menghadapi segala pertanyaan seputar kejombloan ini. Tidak pernah lupa, sujud menyembah Sang Maha Pencipta segala keajaiban otak saya ini, karena tanpa kuasaNya, semua tidak akan pernah seindah dan semenyenangkan sekarang.
Sebagai sahabat yang baik, tentunya saya sering bertukar pikiran dengan para sahabat yang sering merasa kelabakan dengan status lajangnya itu. Tidak harus diterima mentah-mentah sih, namanya juga bertukar pendapat. Tak jarang, ada adu argumentasi untuk itu, karena saya juga sadar, masing-masing orang punya latar belajang yang berbeda, tergantung pemahaman mereka saja. Hidup itu pilihan, mau hanya sekedar menjalani dengan cara biasa untuk bertahan hidup atau mau ekstra berkreasi untuk menikmati hidup? Pilihan ada ditangan kita masing-masing kawan.
Walaupun ujung-ujungnya, tetap ada saja hal seperti ini:
Mereka: “Oke Shin, mulai sekarang gw akan bangga dan pede dengan status gw, peduli setan siapa yang nanya”
Saya: “Baguss!!! Gitu donk…kalo bukan kita yang mengawali rasa bangga terhadap diri sendiri, mo mengharapkan dari siapa lagi?” jawaban khas motivator dadakan saya keluar
Mereka: “Tapi Shin…hehehe…in case ada neh…kalo kalo neehh..gw lagi kejepit gak bisa ngeles, lu tetep mau gw ajak kan Shin?” diucapkan dengan mata berbinar kayak kucing ngarep ikan dari bawah meja
Saya: “Hadehhh…terserah lah!!! Asal lu pade mampu bayar tariff guwehhh!!!!”
“Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter, and those who matter don’t mind.” *Dr. Seuss*
Didedikasikan untuk para sahabat lelaki saya, yang menganggap jomblo itu 3 P, Pilihan, Prestasi, dan Populer....jiahahahaha
Jakarta, 9 Agustus 2011
Menara BCA, ditengah meja kerja yang berantakan nauzubillah ditemani berbagai berkas dan deretan foto para orang kesayangan ^_^
01/08/11
Warna-Warni Cerita Ramadhan 1432H ala Shinta (Part 1)
Ramadhan buat saya, adalah bulan penuh cerita. Yeap, seperti cerita2 Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang berwarna warni, bukan hanya melulu cerita sedih dan mendayu.
Semalam, saya sholat tarawih dimushala dekat dengan kostan. Menurut hasil survey saya selama empat tahun menjadi penghuni daerah kuningan dan sekitarnya, mushala yang terletak disamping SD Inpres itu, mempunyai beberapa keuntungan yang menjadi pertimbangan “layak tidaknya” menjadi mushala favorit saya (halahhh). Rakaatnya yang berjumlah 23 (sejak kecil terbiasa sholat dimesjid yang juga melaksanakan shalat taraweh plus witir sebanyak itu), tempat wudhunya yang dekat dengan tempat jamaah wanita, wc nya bersih dan banyak airnya (kalo kebelet bisa gampang kabur ke wc), para warga yang ramah dan bersahaja (raut wajah tulus dengan pakaian sederhana namun bersih, lebih berkesan buat saya, ketimbang para penghuni mesjid elit yang selesai sholat jamaah sibuk dengan gadget masing-masing ato sibuk memoles kembali riasan mereka), juga alasan yang mungkin gak penting buat sebagian orang tapi sangat amat penting sekali buat saya, dimushala sekecil itu, disediakan air minum kemasan dalam gelas yang bisa diambil sebanyak-banyaknya (sampai sekarang saya penasaran,siapa penyumbang mulia yang selalu berbaik hati menyediakan minuman untuk para jamaah tersebut).
Saya yang hobi datang mepet setelah adzan, pada hari-hari pertama selalu saja kebagian di saf belakang. Semalam, seperti biasa, saya juga datang telat (bangga…hahahaha). Tapi bukan Shinta namanya kalo tidak bisa menemukan tempat nyaman, strategis plus dinamis diantara para jamaah wanita yang sudah siap untuk sholat. Selip kiri, selip kanan, dapatlah tempat lumayan cihuy dideretan kedua….lumayan :D
Sholat Isya dan Tarawih dijalanin seperti biasa, tidak ada adegan salah berdiri atopun salah baca hafalan dari sang imam (maklum, salah satu khasnya mushalal ini adalah imamnya yang sudah lumayan sepuh, setahun sekali selama Ramadhan, pasti ada aja ulah lucu sang imam disebabkan factor “U”).
Cerita lucu pertama diawal Ramadhan tahun ini terjadi ketika sholat selesai. Saya, yang malas terburu-buru, melipat mukena dan sajadah dengan khusyuk dan syahdu, kalem bak permaisuri raja menyisir rambut alias pelan sepelan angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil “Dri…Dri…ayok pulang”….sambil melipat dan tanpa melihat kearah datangnya suara, saya membatin “kasian amat Dri ini, masih mau maen tapi udah diajak pulang sama bapaknya”. Lambat laun, panggilan itu berkurang hanya dengan kata-kata “Dri...Dri…Dri…” tapi dengan intonasi yang makin lama makin tinggi. Saya, lagi lagi membatin “doelahh pak…esok mo puasa…sabar nape…kesian anaknya, jarang-jarang main dimalem Ramadhan, ntar kalo udah gede, biar bisa ada ceritanya, tentang kenangan Ramadhan”. Tapi kok lama-lama saya jadi berpikir, ini anak kok memang agak-agak kurang hajar, daritadi dipanggil, sekalipun dia tidak menyahut. Padahal, saya dulu waktu masih bocah (dan mungkin pengalaman semua anak-anak dijaman saya), sekali mendengar orang tua memanggil, harus menyahut, tanda bahwa kita menghormati orang yang lebih tua (bukankah semua norma dimuka bumi ini memang mengharuskan seperti itu). Apalagi, nda suara si bapak makin meninggi, dan sudah lumayan mengusik saya daritadi.
Mau tidak mau, untuk memenuhi rasa penasaran, saya pun mendongak untuk melihat kearah suara. Tampak didepan saya kepala bapak-bapak yang sedaritadi memanggil-manggil anaknya, menyembul dari arah pembatas antara tempat sholat jamaah pria dan wanita. Ekspresi kaget dari wajah si bapak, membuat saya heran. Saya pun bertanya “Kenapa Pak?” dan tau apa jawabannya si bapak “Eh…maaf mas, saya kira Andri ponakan saya”….Yakkk Jlesekkkkk…kalo diandaikan adegan film kartun, ada puluhan pisau yang nancap dikepala saya. Ternyata eh ternyata, yang dipanggil-panggil oleh si bapak tadi itu saya, yang dikira ponakannya. Dan yang lebih parah lagi, walaupun saya sudah menengadah keatas, tetap saja saya dipanggil mas sama si bapak-bapak itu….Jiahahahaha…antara ingin ketawa ngakak sama manyun, kira-kira itulah ekspresi campuran wajah saya semalam…sambil berharap dalam hati, mudah-mudahan si Andri yang sebenarnya itu beneran cakep kayak saya…jiahahahaha…eitzzz…jangan pada protes, lagi puasa neh…mohon maaf lahir batin yeee ^_^v
*ini lho sosok si cutie dan manis yang semalam dikira Andri -.-"
Semalam, saya sholat tarawih dimushala dekat dengan kostan. Menurut hasil survey saya selama empat tahun menjadi penghuni daerah kuningan dan sekitarnya, mushala yang terletak disamping SD Inpres itu, mempunyai beberapa keuntungan yang menjadi pertimbangan “layak tidaknya” menjadi mushala favorit saya (halahhh). Rakaatnya yang berjumlah 23 (sejak kecil terbiasa sholat dimesjid yang juga melaksanakan shalat taraweh plus witir sebanyak itu), tempat wudhunya yang dekat dengan tempat jamaah wanita, wc nya bersih dan banyak airnya (kalo kebelet bisa gampang kabur ke wc), para warga yang ramah dan bersahaja (raut wajah tulus dengan pakaian sederhana namun bersih, lebih berkesan buat saya, ketimbang para penghuni mesjid elit yang selesai sholat jamaah sibuk dengan gadget masing-masing ato sibuk memoles kembali riasan mereka), juga alasan yang mungkin gak penting buat sebagian orang tapi sangat amat penting sekali buat saya, dimushala sekecil itu, disediakan air minum kemasan dalam gelas yang bisa diambil sebanyak-banyaknya (sampai sekarang saya penasaran,siapa penyumbang mulia yang selalu berbaik hati menyediakan minuman untuk para jamaah tersebut).
Saya yang hobi datang mepet setelah adzan, pada hari-hari pertama selalu saja kebagian di saf belakang. Semalam, seperti biasa, saya juga datang telat (bangga…hahahaha). Tapi bukan Shinta namanya kalo tidak bisa menemukan tempat nyaman, strategis plus dinamis diantara para jamaah wanita yang sudah siap untuk sholat. Selip kiri, selip kanan, dapatlah tempat lumayan cihuy dideretan kedua….lumayan :D
Sholat Isya dan Tarawih dijalanin seperti biasa, tidak ada adegan salah berdiri atopun salah baca hafalan dari sang imam (maklum, salah satu khasnya mushalal ini adalah imamnya yang sudah lumayan sepuh, setahun sekali selama Ramadhan, pasti ada aja ulah lucu sang imam disebabkan factor “U”).
Cerita lucu pertama diawal Ramadhan tahun ini terjadi ketika sholat selesai. Saya, yang malas terburu-buru, melipat mukena dan sajadah dengan khusyuk dan syahdu, kalem bak permaisuri raja menyisir rambut alias pelan sepelan angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil “Dri…Dri…ayok pulang”….sambil melipat dan tanpa melihat kearah datangnya suara, saya membatin “kasian amat Dri ini, masih mau maen tapi udah diajak pulang sama bapaknya”. Lambat laun, panggilan itu berkurang hanya dengan kata-kata “Dri...Dri…Dri…” tapi dengan intonasi yang makin lama makin tinggi. Saya, lagi lagi membatin “doelahh pak…esok mo puasa…sabar nape…kesian anaknya, jarang-jarang main dimalem Ramadhan, ntar kalo udah gede, biar bisa ada ceritanya, tentang kenangan Ramadhan”. Tapi kok lama-lama saya jadi berpikir, ini anak kok memang agak-agak kurang hajar, daritadi dipanggil, sekalipun dia tidak menyahut. Padahal, saya dulu waktu masih bocah (dan mungkin pengalaman semua anak-anak dijaman saya), sekali mendengar orang tua memanggil, harus menyahut, tanda bahwa kita menghormati orang yang lebih tua (bukankah semua norma dimuka bumi ini memang mengharuskan seperti itu). Apalagi, nda suara si bapak makin meninggi, dan sudah lumayan mengusik saya daritadi.
Mau tidak mau, untuk memenuhi rasa penasaran, saya pun mendongak untuk melihat kearah suara. Tampak didepan saya kepala bapak-bapak yang sedaritadi memanggil-manggil anaknya, menyembul dari arah pembatas antara tempat sholat jamaah pria dan wanita. Ekspresi kaget dari wajah si bapak, membuat saya heran. Saya pun bertanya “Kenapa Pak?” dan tau apa jawabannya si bapak “Eh…maaf mas, saya kira Andri ponakan saya”….Yakkk Jlesekkkkk…kalo diandaikan adegan film kartun, ada puluhan pisau yang nancap dikepala saya. Ternyata eh ternyata, yang dipanggil-panggil oleh si bapak tadi itu saya, yang dikira ponakannya. Dan yang lebih parah lagi, walaupun saya sudah menengadah keatas, tetap saja saya dipanggil mas sama si bapak-bapak itu….Jiahahahaha…antara ingin ketawa ngakak sama manyun, kira-kira itulah ekspresi campuran wajah saya semalam…sambil berharap dalam hati, mudah-mudahan si Andri yang sebenarnya itu beneran cakep kayak saya…jiahahahaha…eitzzz…jangan pada protes, lagi puasa neh…mohon maaf lahir batin yeee ^_^v
*ini lho sosok si cutie dan manis yang semalam dikira Andri -.-"
16/06/11
Bersinarlah Terang, Bintang Kecilku :)
Waktu itu, saya lupa tepatnya bulan apa. Tapi yang saya ingat persis, sosok itu berdiri ditangga mall yang sedang ramai,mengamati orang lalu lalang, terlihat mencolok karena perawakannya yang ajaib. Berdiri tersembunyi dibelakang teman-teman seangkatannya, bergerombol menyongsong kakak tingkat se-fakultas mereka,yang kala itu sedang "dekat" dengan saya.
Sosok urakan, berambut kribo mengembang layaknya Edi Brokoli, penyanyi yang lagi happening jaman kami kuliah dulu. Gaya cuek, berwajah garang, dan sangat sangat sangat menunjukkan kepremanannya, yang menyapa kakak kebanggaan mereka, yang saat itu sedang jalan-jalan di mall bersama saya. Maka saya pun dikenalkan dengan segerombolan mahasiswa baru fakultas yang bangga dengan warna merahnya tersebut, termasuk salah satunya dengan sosok unik yang menarik perhatian saya itu. Ketika itu dia menyebut namanya dengan pelan namun penuh penekanan "Chiko".
Itulah awal perkenalan saya dengan lelaki berwajah garang, namun kelak menjadi adik kecil saya yang sangat manja dan senang merengek. Adik lelaki yang tidak pernah saya dapatkan sejak kecil, yang membuat saya merasa "saya jadi kakak lho...saya udah gede lhoo". Teman-teman saya dulu mungkin banyak yang mencibir, bahkan meledek, untuk apa dekat dengan preman, paling-paling adik seperti itu, hanya akan kuat sampai semester kedua, dan berakhir di ukm pencinta alam dan akhirnya jadi mahasiswa abadi yang kerjaannya nongkrong dan mabuk dikampus. Tapi entah kenapa, sorot mata tegas dibalik sosok preman kribo itu, menjadi magnet saya untuk terus membelanya, dan menegaskan kepada diri saya sendiri, bahwa saya tidak salah dalam memilih teman sekaligus saudara seorganisasi.
Chiko, diambil dari nama pemain bola kegemaran ayahnya, Zico. Tapi Zico kecil tidak bisa melafazkan dengan baik huruf Z, jadilah dia menamai dirinya "Chiko". Chiko, si preman yang senang berkelahi, sampai-sampai harus pindah sekolah pas kelas 3 SMU, gara-gara kenakalannya yang katanya sering membuat mamanya pusing tujuh keliling. Chiko, yang saat pertama menjadi anak baru, hanyalah seorang mantan preman SMU, yang mencoba peruntungan dibangku kuliah. Menjadi dekat dengan saya, sejak saya sering meminta tolong dirinya untuk menyetirkan mobil orang tua saya, yang sering saya pinjam, baik untuk kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus, maupun untuk kegiatan pdkt saya dengan si kakak tingkatnya yang tadi saya sebutkan diawal cerita.
Chiko, adalah penyemangat saya kala itu, bersama kata-kata motivasi khas mak comblang, dia selalu berhasil membuat saya tertawa dikala derasnya airmata ketika saya putus asa dalam usaha pdkt yang selalu saja ada halangannya. Anak yang lucu dan pintar, itulah kesan pertama saya. Selalu menganggap saya kakak panutan tempat dia berkiblat, tanpa ragu memuji-muji saya didepan teman-temannya (sampai-sampai saat itu dia sempat dibenci teman-teman cewek sefakultasnya yang ngefans dengan si kakak tingkat yang nauzubilah ngetop seantero mesjid kampus), dalam rangka menjadi tim sukses demi keberhasilan pdkt saya, si kakak angkat, dengan si kakak tingkat.
Chiko, adik saya yang manis, selalu ringan tangan, membantu apapun yang saya minta, sehingga terkadang saya malah suka keterlaluan untuk menyuruh ini itu kepadanya. "De, tolong ambilin ini-itu", "De, kakak nanti mo kesini,kamu ikut yah anterin", "De,ntar malam ajarin kakak nyetir", "De...De...De..." Blablabla...pokoknya tak terhitung kalimat-kalimat bernada perintah yang tak jarang membuat dia kesal,kemudian merajuk,hahaha.
Kami juga sering melakukan hal gila berdua, seperti bermain bilyard, nongkrong di mall, sampai ngebut dijalan raya pada saat jam sudah menunjukkan dini hari, dan pernah berhasil dengan sukses menabrak mobil pengangkut sayur plus mikrolet yang sedang parkir (tak terlukiskan kepanikan diwajah saya dan Chiko waktu menghadapi si empunya mikrolet yang ternyata anggota kepolisian,ahahaha).
Kami juga sering bertengkar, layaknya hubungan kakak dan adik kandung, yang juga pasti tertimpa masalah. Walaupun begitu, kami berdua selalu menemukan cara untuk meminta maaf, dan akhirnya bisa tertawa kembali. Chiko juga pelan-pelan belajar berproses dalam berorganisasi, baik organisasi intra, maupun ekstra kampus. Sosoknya yang urakan, perlahan mulai terbentuk menjadi sosok yang berwibawa. Sosok manja dan kekanakkan, perlahan mulai menjadi dewasa, seiring dengan proses dia di organisasi yang dia geluti.
Dalam hal percintaan, saya juga sempat mendampingi adik tersayang saya ini dalam masa-masa pedekate, sampai masa-masa dimana dia berusaha menyembunyikan raut frustasinya karena persoalan cinta ecek-ecek khas mahasiswa kami dulu,hahaha.
Akhir 2005, setelah berkelana kesana kemari, pacaran sana sini, dia mengenal sosok gadis seangkatannya, yang kebetulan sefakultas dengan saya, gadis yang awalnya merupakan incaran saudara sekaligus sahabat Chiko sedari kecil, namun entah kenapa bisa juga kepincut dengan kemanismaduan mulut si kribo lucu kesayangan saya ini. Entah darimana kesaktian ilmunya sampai berhasil membuat gadis imut itu bertekuk lutut padanya. Suka duka mereka berdua, kadang menjadi hiburan bagi saya (hahaha), tapi juga tak jarang menjadi menjadi bahan pelajaran untuk kumpulan cerita pengalaman kehidupan saya. Kami, saling mengajarkan berbagai ilmu. Ilmu berorganisasi, ilmu bersosialisi, ilmu bertoleransi, dan berbagai ilmu-lmu yang sangat berguna dalam kehidupan kami.
Awal 2006, saya meninggalkan kota kelahiran saya untuk mengadu nasib dipulau Jawa. Pagi-pagi benar saya sudah menjemput Chiko di asrama. Mata berair, rambut acak-acakan, dan muka lecek seperti biasa, tetapi dengan semangat 45 menyambut saya, mama, dan pacarnya (si imut yang juga sangat dekat dengan saya, dan memang sengaja menginap dirumah saya untuk mengantar pagi-pagi), menjemputnya untuk bersama-sama mengantar di bandara. Lelucon-lelucon selama kami menunggu pesawat, tidak menyurutkan raut sedih dimata saya, yang sedikit tersembunyi dibalik canda tawa ceria khas saya. Di Jawa, saya akan memulai perjuangan sendiri, memulai pertemanan baru, dan saya khawatir, tidak akan menemukan sosok adik sekaligus sahabat seperti Chiko. Tetapi, melihat dia yang tampak gembira dengan pacar barunya, perlahan saya lega, setidaknya ada yang menjaga dan memperhatikan adik saya itu.
Hari, bulan, tahun terasa sangat cepat berlalu. Awal-awal kepulangan saya untuk mudik ke kampung, masih menghibur saya. Chiko, seperti biasa selalu menyambut saya dengan canda tawa dan ledekannya yang menyindir hubungan saya dengan si kakak tingkat yang juga menyusul ke pulau Jawa, yang kandas ditengah jalan. Chiko juga, masuk dalam prioritas daftar oleh-oleh ala kadarnya yang saya bawa setiap mudik ke kampung halaman. Wajahnya yang riang memamerkan oleh-olehnya pada teman-teman asramanya, membuat saya merasa "benar-benar pulang". Tetapi, pada tahun-tahun kepulangan saya berikutnya, saya seperti kehilangan sosok adik saya. Chiko, seiring dengan kegiatan organisasinya yang mulai menggerogoti waktunya, mulai menjadi sosok asing yang hampir tidak saya kenali. Sosok berwibawa yang disatu sisi membuat saya berbangga karena bisa melihat hasil kaderisasi kami para senior, tetapi disisi lain, membuat saya kehilangan sosok adik sekaligus sahabat saya. Entah kenapa, Chiko perlahan jauh dari jangkauan saya. Tapi ahhh...buat saya, selama itu semua demi perkembangan prestasinya, saya sebagai kakak hanya bisa turut memberi dukungan dan berdoa saja.
Tahun 2010 kemarin, Chiko sempat tinggal agak lama di ibukota, tempat saya juga mengadu nasib. Dia sedang berjuang untuk mencapai posisi puncak organisasi paguyuban kampung kami, di tingkatan nasional. Terharu rasanya melihat cara Chiko beradu argumen dan mengemukakan pendapat, sungguh terstruktur dan pola kalimat yang dipilih pun sudah sangat teratur. Ahh...adik saya hebat, begitu selalu kalimat yang saya ulang-ulang dalam hati. Bahkan, waktu itu Chiko juga sempat ikut dalam misi gila saya, membuat video sebagai hadiah ulang tahun mantan tunangan saya...hahaha. Saya masih ingat dengan jelas kalimat komplain darinya "kakak...kakak...kreatif cenderung gilanya kakak ternyata belum berubah", ketika saya nekad keliling Jakarta demi berburu "bahan2" video tersebut. Bahkan Chiko juga satu-satunya orang yang saya telepon ketika saya nekad ke tempat prostitusi waria terbesar di ibukota, lagi-lagi untuk berburu bahan video. Setengah berteriak dia menelpon saya "kak...udah sih...tengah malam gini mbok yah tidur, udah tua,masih aja nekad"..hahaha...kasian, dia hanya khawatir yang berlebihan kepada kakaknya yang lucu ini.
Adik saya itu, ternyata tidak pernah berubah. Dia hanya bertambah dewasa. Pengalaman hidup mengajarkan dia banyak hal yang berguna, yang membuat pola pikirnya makin terasah. Salah satu kebanggaan saya adalah ketika ditengah kesibukannya dalam suksesi pemilihan ketua umum, dia berhasil menyelesaikan sarjananya yang sempat tertunda-tunda. Dan sekarang, tampuk pimpinan ketua umum juga telah berada ditangannya. Tidak berlebihan bukan, jika saya sebagai kakak, bangga padanya?!?!
Hari ini, Chiko dikaruniai pertambahan usia. Dua hari lagi, dia akan mempersunting si gadis imut tambatan hatinya sedari kuliah. "Akhirnyaaaa"...itu kata pertama saya ketika kabar gembira tersebut mampir ditelinga saya. Perjuangan mereka berdua, mendewasa bersama, berujung dimeja penghulu dan KUA. Keputusan berani, mengingat saya saja sang kakak, belum terpikir untuk mengganti status lajang diberbagai kartu indentitas, dengan status menikah, hahahaha.
Terbang tinggi, adikku yang manis. Jadilah salah satu bintang yang bersinar terang dilangit, sehingga setiap orang bisa menikmati elok pijarmu. Buatlah kami, orang-orang yang menyayangimu, bangga dengan segala pencapaianmu. Kalau dulu dia selalu bilang dengan sesumbar kepada teman-teman sejawatnya "Ini kakak saya, kakak saya yang hebat, kakak yang sayang sama saya, mana kakak kalian?"...sekarang, malah saya yang dengan dada membuncah bangga mengatakan "Itu adik saya yang hebat, dari dulu sampai sekarang, apapun yang terjadi, saya bangga sekali bisa jadi kakaknya".
"Hidup anda berubah saat Anda menyadari bahwa teman-teman Anda, orang-orang terdekat Anda, memberikan hidup mereka supaya Anda tetap hidup". (Robert T. Kiyosaki)
Chiko dan Mitha, Selamat menyongsong perjalanan bahtera rumah tangga yang baru. Beribu sesal dihati ini karena tidak bisa menyaksikan langsung prosesi kalian memasuki jenjang prestisius sekali seumur hidup. Semoga Tuhan menjadikan kalian keluarga samara.
Selamat Ulang Tahun De'...dari ujung pulau Jawa, kakak cuma bisa berdoa, semoga selalu ingat pesan kakak, jadilah pemimpin yang amanah dan bijaksana. Amin
Jakarta, 16 Juni 2011. Pukul 03.12 a.m
Genteng Ijo 86, menahan ngantuk yang menggila, demi menyelesaikan sedikit hadiah, untuk salah seorang saudara sekaligus sahabat tercinta :)
Sosok urakan, berambut kribo mengembang layaknya Edi Brokoli, penyanyi yang lagi happening jaman kami kuliah dulu. Gaya cuek, berwajah garang, dan sangat sangat sangat menunjukkan kepremanannya, yang menyapa kakak kebanggaan mereka, yang saat itu sedang jalan-jalan di mall bersama saya. Maka saya pun dikenalkan dengan segerombolan mahasiswa baru fakultas yang bangga dengan warna merahnya tersebut, termasuk salah satunya dengan sosok unik yang menarik perhatian saya itu. Ketika itu dia menyebut namanya dengan pelan namun penuh penekanan "Chiko".
Itulah awal perkenalan saya dengan lelaki berwajah garang, namun kelak menjadi adik kecil saya yang sangat manja dan senang merengek. Adik lelaki yang tidak pernah saya dapatkan sejak kecil, yang membuat saya merasa "saya jadi kakak lho...saya udah gede lhoo". Teman-teman saya dulu mungkin banyak yang mencibir, bahkan meledek, untuk apa dekat dengan preman, paling-paling adik seperti itu, hanya akan kuat sampai semester kedua, dan berakhir di ukm pencinta alam dan akhirnya jadi mahasiswa abadi yang kerjaannya nongkrong dan mabuk dikampus. Tapi entah kenapa, sorot mata tegas dibalik sosok preman kribo itu, menjadi magnet saya untuk terus membelanya, dan menegaskan kepada diri saya sendiri, bahwa saya tidak salah dalam memilih teman sekaligus saudara seorganisasi.
Chiko, diambil dari nama pemain bola kegemaran ayahnya, Zico. Tapi Zico kecil tidak bisa melafazkan dengan baik huruf Z, jadilah dia menamai dirinya "Chiko". Chiko, si preman yang senang berkelahi, sampai-sampai harus pindah sekolah pas kelas 3 SMU, gara-gara kenakalannya yang katanya sering membuat mamanya pusing tujuh keliling. Chiko, yang saat pertama menjadi anak baru, hanyalah seorang mantan preman SMU, yang mencoba peruntungan dibangku kuliah. Menjadi dekat dengan saya, sejak saya sering meminta tolong dirinya untuk menyetirkan mobil orang tua saya, yang sering saya pinjam, baik untuk kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus, maupun untuk kegiatan pdkt saya dengan si kakak tingkatnya yang tadi saya sebutkan diawal cerita.
Chiko, adalah penyemangat saya kala itu, bersama kata-kata motivasi khas mak comblang, dia selalu berhasil membuat saya tertawa dikala derasnya airmata ketika saya putus asa dalam usaha pdkt yang selalu saja ada halangannya. Anak yang lucu dan pintar, itulah kesan pertama saya. Selalu menganggap saya kakak panutan tempat dia berkiblat, tanpa ragu memuji-muji saya didepan teman-temannya (sampai-sampai saat itu dia sempat dibenci teman-teman cewek sefakultasnya yang ngefans dengan si kakak tingkat yang nauzubilah ngetop seantero mesjid kampus), dalam rangka menjadi tim sukses demi keberhasilan pdkt saya, si kakak angkat, dengan si kakak tingkat.
Chiko, adik saya yang manis, selalu ringan tangan, membantu apapun yang saya minta, sehingga terkadang saya malah suka keterlaluan untuk menyuruh ini itu kepadanya. "De, tolong ambilin ini-itu", "De, kakak nanti mo kesini,kamu ikut yah anterin", "De,ntar malam ajarin kakak nyetir", "De...De...De..." Blablabla...pokoknya tak terhitung kalimat-kalimat bernada perintah yang tak jarang membuat dia kesal,kemudian merajuk,hahaha.
Kami juga sering melakukan hal gila berdua, seperti bermain bilyard, nongkrong di mall, sampai ngebut dijalan raya pada saat jam sudah menunjukkan dini hari, dan pernah berhasil dengan sukses menabrak mobil pengangkut sayur plus mikrolet yang sedang parkir (tak terlukiskan kepanikan diwajah saya dan Chiko waktu menghadapi si empunya mikrolet yang ternyata anggota kepolisian,ahahaha).
Kami juga sering bertengkar, layaknya hubungan kakak dan adik kandung, yang juga pasti tertimpa masalah. Walaupun begitu, kami berdua selalu menemukan cara untuk meminta maaf, dan akhirnya bisa tertawa kembali. Chiko juga pelan-pelan belajar berproses dalam berorganisasi, baik organisasi intra, maupun ekstra kampus. Sosoknya yang urakan, perlahan mulai terbentuk menjadi sosok yang berwibawa. Sosok manja dan kekanakkan, perlahan mulai menjadi dewasa, seiring dengan proses dia di organisasi yang dia geluti.
Dalam hal percintaan, saya juga sempat mendampingi adik tersayang saya ini dalam masa-masa pedekate, sampai masa-masa dimana dia berusaha menyembunyikan raut frustasinya karena persoalan cinta ecek-ecek khas mahasiswa kami dulu,hahaha.
Akhir 2005, setelah berkelana kesana kemari, pacaran sana sini, dia mengenal sosok gadis seangkatannya, yang kebetulan sefakultas dengan saya, gadis yang awalnya merupakan incaran saudara sekaligus sahabat Chiko sedari kecil, namun entah kenapa bisa juga kepincut dengan kemanismaduan mulut si kribo lucu kesayangan saya ini. Entah darimana kesaktian ilmunya sampai berhasil membuat gadis imut itu bertekuk lutut padanya. Suka duka mereka berdua, kadang menjadi hiburan bagi saya (hahaha), tapi juga tak jarang menjadi menjadi bahan pelajaran untuk kumpulan cerita pengalaman kehidupan saya. Kami, saling mengajarkan berbagai ilmu. Ilmu berorganisasi, ilmu bersosialisi, ilmu bertoleransi, dan berbagai ilmu-lmu yang sangat berguna dalam kehidupan kami.
Awal 2006, saya meninggalkan kota kelahiran saya untuk mengadu nasib dipulau Jawa. Pagi-pagi benar saya sudah menjemput Chiko di asrama. Mata berair, rambut acak-acakan, dan muka lecek seperti biasa, tetapi dengan semangat 45 menyambut saya, mama, dan pacarnya (si imut yang juga sangat dekat dengan saya, dan memang sengaja menginap dirumah saya untuk mengantar pagi-pagi), menjemputnya untuk bersama-sama mengantar di bandara. Lelucon-lelucon selama kami menunggu pesawat, tidak menyurutkan raut sedih dimata saya, yang sedikit tersembunyi dibalik canda tawa ceria khas saya. Di Jawa, saya akan memulai perjuangan sendiri, memulai pertemanan baru, dan saya khawatir, tidak akan menemukan sosok adik sekaligus sahabat seperti Chiko. Tetapi, melihat dia yang tampak gembira dengan pacar barunya, perlahan saya lega, setidaknya ada yang menjaga dan memperhatikan adik saya itu.
Hari, bulan, tahun terasa sangat cepat berlalu. Awal-awal kepulangan saya untuk mudik ke kampung, masih menghibur saya. Chiko, seperti biasa selalu menyambut saya dengan canda tawa dan ledekannya yang menyindir hubungan saya dengan si kakak tingkat yang juga menyusul ke pulau Jawa, yang kandas ditengah jalan. Chiko juga, masuk dalam prioritas daftar oleh-oleh ala kadarnya yang saya bawa setiap mudik ke kampung halaman. Wajahnya yang riang memamerkan oleh-olehnya pada teman-teman asramanya, membuat saya merasa "benar-benar pulang". Tetapi, pada tahun-tahun kepulangan saya berikutnya, saya seperti kehilangan sosok adik saya. Chiko, seiring dengan kegiatan organisasinya yang mulai menggerogoti waktunya, mulai menjadi sosok asing yang hampir tidak saya kenali. Sosok berwibawa yang disatu sisi membuat saya berbangga karena bisa melihat hasil kaderisasi kami para senior, tetapi disisi lain, membuat saya kehilangan sosok adik sekaligus sahabat saya. Entah kenapa, Chiko perlahan jauh dari jangkauan saya. Tapi ahhh...buat saya, selama itu semua demi perkembangan prestasinya, saya sebagai kakak hanya bisa turut memberi dukungan dan berdoa saja.
Tahun 2010 kemarin, Chiko sempat tinggal agak lama di ibukota, tempat saya juga mengadu nasib. Dia sedang berjuang untuk mencapai posisi puncak organisasi paguyuban kampung kami, di tingkatan nasional. Terharu rasanya melihat cara Chiko beradu argumen dan mengemukakan pendapat, sungguh terstruktur dan pola kalimat yang dipilih pun sudah sangat teratur. Ahh...adik saya hebat, begitu selalu kalimat yang saya ulang-ulang dalam hati. Bahkan, waktu itu Chiko juga sempat ikut dalam misi gila saya, membuat video sebagai hadiah ulang tahun mantan tunangan saya...hahaha. Saya masih ingat dengan jelas kalimat komplain darinya "kakak...kakak...kreatif cenderung gilanya kakak ternyata belum berubah", ketika saya nekad keliling Jakarta demi berburu "bahan2" video tersebut. Bahkan Chiko juga satu-satunya orang yang saya telepon ketika saya nekad ke tempat prostitusi waria terbesar di ibukota, lagi-lagi untuk berburu bahan video. Setengah berteriak dia menelpon saya "kak...udah sih...tengah malam gini mbok yah tidur, udah tua,masih aja nekad"..hahaha...kasian, dia hanya khawatir yang berlebihan kepada kakaknya yang lucu ini.
Adik saya itu, ternyata tidak pernah berubah. Dia hanya bertambah dewasa. Pengalaman hidup mengajarkan dia banyak hal yang berguna, yang membuat pola pikirnya makin terasah. Salah satu kebanggaan saya adalah ketika ditengah kesibukannya dalam suksesi pemilihan ketua umum, dia berhasil menyelesaikan sarjananya yang sempat tertunda-tunda. Dan sekarang, tampuk pimpinan ketua umum juga telah berada ditangannya. Tidak berlebihan bukan, jika saya sebagai kakak, bangga padanya?!?!
Hari ini, Chiko dikaruniai pertambahan usia. Dua hari lagi, dia akan mempersunting si gadis imut tambatan hatinya sedari kuliah. "Akhirnyaaaa"...itu kata pertama saya ketika kabar gembira tersebut mampir ditelinga saya. Perjuangan mereka berdua, mendewasa bersama, berujung dimeja penghulu dan KUA. Keputusan berani, mengingat saya saja sang kakak, belum terpikir untuk mengganti status lajang diberbagai kartu indentitas, dengan status menikah, hahahaha.
Terbang tinggi, adikku yang manis. Jadilah salah satu bintang yang bersinar terang dilangit, sehingga setiap orang bisa menikmati elok pijarmu. Buatlah kami, orang-orang yang menyayangimu, bangga dengan segala pencapaianmu. Kalau dulu dia selalu bilang dengan sesumbar kepada teman-teman sejawatnya "Ini kakak saya, kakak saya yang hebat, kakak yang sayang sama saya, mana kakak kalian?"...sekarang, malah saya yang dengan dada membuncah bangga mengatakan "Itu adik saya yang hebat, dari dulu sampai sekarang, apapun yang terjadi, saya bangga sekali bisa jadi kakaknya".
"Hidup anda berubah saat Anda menyadari bahwa teman-teman Anda, orang-orang terdekat Anda, memberikan hidup mereka supaya Anda tetap hidup". (Robert T. Kiyosaki)
Chiko dan Mitha, Selamat menyongsong perjalanan bahtera rumah tangga yang baru. Beribu sesal dihati ini karena tidak bisa menyaksikan langsung prosesi kalian memasuki jenjang prestisius sekali seumur hidup. Semoga Tuhan menjadikan kalian keluarga samara.
Selamat Ulang Tahun De'...dari ujung pulau Jawa, kakak cuma bisa berdoa, semoga selalu ingat pesan kakak, jadilah pemimpin yang amanah dan bijaksana. Amin
Jakarta, 16 Juni 2011. Pukul 03.12 a.m
Genteng Ijo 86, menahan ngantuk yang menggila, demi menyelesaikan sedikit hadiah, untuk salah seorang saudara sekaligus sahabat tercinta :)
11/05/11
65 Tahun Abdul Rauf Saloewa: Napak Tilas dimata anak-anaknya
Papa, begitu sosok gagah bertinggi 181cm dengan berat 70 kg itu akrab saya sapa.
Sejak kecil, saya tidak begitu akrab dengan papa, karena papa sosok yang pendiam. Jauh dari kesan hangat. Saya malah sempat iri mendengar penuturan teman-teman sekantornya dulu, bahwa betapa lucunya bayolan papa dikantor. Bayangkan, sosok dingin nan pendiam dirumah itu, menjadi seorang pelawak penuh humor dimata teman-temannya. Anak mana yang tidak akan iri mendengarnya. Tanpa sadar, karakter saya pun terbentuk seperti layaknya papa. Menjadi sosok yang cuek dirumah sendiri, tetapi sosok yang super gaul dimata teman-teman saya. Bahkan, tanpa saya dan kakak sadar, sosok lelaki tenang dan misterius seperti papa yang menjadi kriteria kami dalam mencari pendamping, hahaha. Sosok yang kata mama sulit dimengerti tapi bersorot mata meminta dipahami. Jadi, merupakan suatu kesempatan yang langka jika kami anggota keluarga inti bisa membuat papa sekedar tersenyum apalagi tertawa.
Saya, sebenarnya merupakan anak ketiga, kalau saja kakak kedua saya tidaklah meninggal dalam kandungan mama pada umur 5 bulan. Mungkin papa mengharapkan anak laki-laki yang bisa menemani beliau membetulkan genteng, lari pagi kemudian memancing ikan dipantai atau sekedar bermain badminton sore-sore. Dulu banyak saudara kami yang berkelakar "sebenarnya yang diharapkan lahir itu lelaki, nanti mo dinamain Sandi. Eh, yang lahir kamu". Sempat berpikir, cueknya papa kepada saya, karena saya bukan anak lelaki yang dia harapkan hadir sebagai miniatur dirinya.
Papa, ibarat nomer telepon siaga 24 jam. Mempunyai slogan "SIAGA dan LAKSANAKAN". Genteng bocor, tinggal teriak "Pa, genteng bocor". Ledeng rusak "Pa, air gak ngalir". Gigi goyang waktu kecil "Pa, cabut giginya ade". Tanaman mati "Pa, itu tanaman kok mati? Diapain yak?". Lemari bermasalah "Pa, lemari ade rusak, gimana enehhh?". Mobil mati "Pa, apanya mobil yang rusakkk?". Tugas prakarya sekolah "Pa, anterin beli bahan. Ajarin bikin prakarya". Pengen warna baru dikamar "Pa, tolong cat kamar donk". Mama pulang kantor "Pa, udah dimana? Mama udah selesai bih". Kakak butuh rak jilbab "Pa, bikinin rak besi yang dari kawat itu yak". Televisi rusak "Pa, ini tipi apa antena yang rusak?". Guci pecah "Pa, guci mama jatohhh". Butuh surat-surat dari kampus "Pa,tolong ke kampus, ade mo legalisir ama daftar-daftar". KTP abis masa berlaku "Pa, tolong urusin KTPnya ade". Mo pulang ke Manado "Pa, jemput dibandara". Bungkusin oleh-oleh "Pa, tolong bungkusin sama sekalian diiket tali rafia biar kencang dan rapi trus enak dipegangnya". Papa, sosok pendiam yang selalu mengedepankan "action". Tanpa banyak bicara, papa selalu berusaha mengerjakan semua kewajiban beliau tanpa diminta oleh mama dan kami anak-anaknya. Seperti memindahkan saya yang tertidur dikursi ke kamar tidur tanpa diminta oleh mama, dan mencuci sendiri semua pakaiannya ketika pembantu kami sedang sakit.
Papa memang pendiam, tetapi tidak ada istilah demokrasi apabila papa sudah bertitah. Waktu kecil, ketika televisi dirumah kami cuma 1, saya selalu mengutuk papa dalam hati, karena selepas isya, papa selalu menonton "Siaran Pedesaan" (membuat Shinta kecil lebih menguasai pelajaran IPS daripada Matematika, dan bermimpi bisa keliling Indonesia) dan "Dunia Dalam Berita" (membuat Shinta kecil mengetahui banyak hal tentang perang, politik dan kesenjangan sosial, ketika anak lain masih sibuk dengan kartun jaman dulu) dan siaran kegemarannya papa ini tidak bisa diganggu gugat, tidak pernah berubah, setiap hari, selama bertahun-tahun. Terpaksa, kakak memilih belajar atau membaca buku, dan saya yang malas belajar, akhirnya ikut menonton siaran itu, sambil sesekali bertanya tentang isi acara tersebut, yang seringnya hanya dijawab dengan suara "hmmm". Kebiasaan tidak menjawab pertanyaan anak seperti itu, membuat seorang Shinta kecil bertekad bahwa nanti ketika punya anak, akan jadi orang tua yang senang bercerita dan menjelaskan segala bentuk pertanyaan dari anaknya kelak (untuk orang-orang terdekat saya, sekarang pasti mengerti kenapa saya senang sekali menjadi seorang "story teller").
Menjelang dewasa, barulah saya menyadari betapa papa berusaha untuk dekat dan bersosialisasi dengan teman-teman saya. Mungkin salah satu usaha beliau untuk mengenal putri bungsunya yang sejak kecil tidak begitu akrab dengannya, melalui kacamata orang-orang terdekat. Dikalangan teman-teman saya, papa dikenal sebagai papa yang mau membaur dengan teman-teman saya. Para mantan pacar saya juga bisa dibilang akrab dengan papa. Mereka bercerita dan terkadang tertawa bersama. Mungkin dia menemukan sosok anak lelaki impiannya dulu.Peristiwa meninggalnya mama karena sakit yang dideritanya selama dua tahun juga membuat saya semakin yakin bahwa papa adalah mahluk Tuhan yang dikaruniai kedataran emosi tingkat tinggi. Ada untungnya sifat diamnya kala itu. Meredam emosi orang yang sedang menderita sakit seperti mama, tidak bisa dihadapkan dengan orang-orang berdarah panas seperti saya dan kakak. Papa, lagi-lagi mendapat predikat "suster terbaik" dimata orang-orang yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cara papa menemani dan merawat mama. Bahkan ketika mama meninggal dirumah sakit ibukota, dan proses membawa jenasah mama kembali ke kampung halaman kami membutuhkan tenaga dan kesabaran tambahan, papa pun dengan sigap mengurus segalanya, dimana saya waktu itu hanya sibuk tertawa-tawa dengan para sahabat yang datang melayat, sebagai kamuflase, mengusir duka tanda rasa tidak percaya akan kepergian mama. Selama seminggu acara pemakaman dilanjutkan dengan berbagai ritual keagamaan, Papa, lagi-lagi hanya terus diam, berwajah datar, sesekali mengatakan kepada kerabat yang datang melayat "mohon dimaafkan kesalahan ibu yah". Entah apa yang tersembunyi dibalik wajah datar beraura duka itu.
Satu kejadian yang membuat saya terharu, ketika suatu hari saya yang sudah menetap di ibukota, menelpon beliau untuk meminta tolong dibelikan bedak khusus wajah yang sejak dulu memang hanya saya temukan didaerah asal saya. Dua hari berikutnya sampailah paket yang ditujukan kepada "Shinta Irawatie Saloewa, SE". Dahi saya mengenyit heran, kenapa nama yang diketik menggunakan mesin ketik manual itu dibubuhi gelar sarjana saya.Ketika saya menelpon untuk mengabarkan bahwa paket itu sudah sampai, saya bertanya "Kok namanya ada gelar segala?" Dan dijawab dengan nada perlahan "Nda apa-apa De, papa cuma bangga menulis gelar kamu, biar orang lain tau, pegawai biasa kayak papa dan almarhumah mama juga bisa nyekolahin anaknya sampai sarjana"... Jrengggg... tak terlukiskan perasaan saya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sosok pendiam itu. Singkat dan sederhana, tetapi mampu membuat saya tersenyum dan menitikkan airmata. Sepintas terbayang kejadian dua tahun yang lalu ketika akhirnya saya diwisuda setelah dua tahun lamanya cuti kuliah. Papa, dengan senyum sumringah, untuk pertama kali memeluk saya dengan bangga didepan semua orang dan berkata "Selamat De, Papa senang sekali, Mama juga pasti akhirnya tenang disana". Kalau tidak ingat riasan wajah saya akan belepotan padahal belum berfoto studio, mungkin akan terjadi adegan sinetron yang sarat airmata dan raungan (halah).
Dalam beberapa hal, papa memang otoriter. Tetapi dalam hal menentukan pilihan masa depan anak-anaknya, papa membebaskan kami anak-anaknya untuk memilih. Papa tidak pernah terobsesi menjadikan kami ini dan itu. Pernah suatu ketika terjadi perdebatan kecil antara saya, papa dan alm mama tentang pilihan saya dalam memilih pasangan yang waktu itu berbeda prinsip. Alm mama bersikeras untuk tidak boleh dengan alasan macam-macam, seakan lupa dengan pengalamannya sendiri, rela mengalah dengan prinsipnya demi hidup bersama orang yang dicintai. Papa, dikala itu hanya bertanya satu kalimat "Selama 16 tahun kami nyekolahin kamu di bangku pendidikan formal, ada pendidikan tentang agama yang kita anut kan?". Saya jawab "Ada Pa. Knapa emang?". Papa cuma menjawab "Bagus, maka sekarang kalau kamu berkeputusan apapun, kami orang tua toh sudah menyekolahkanmu,dan mempercayakan dirimu dididik oleh orang2 yang lebih paham agama dibanding kami. Semua terserah padamu sekarang, apa yang terbaik menurutmu, sesuai dengan apa yang sudah kamu cerna dan pelajari". Sejenak saya terdiam, dan lebih dari dua bulan berpikir arti kalimat pendek penuh makna itu, lalu akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan saya itu.Seingat saya, papa tidak pernah mengajarkan saya tata cara sholat dan mengaji, tetapi bersama mama, papa mencarikan kami guru-guru terbaik untuk memberikan kami pengajaran dan pengertian, sehingga agama bukan hanya menjadi sekedar warisan turunan orangtua melainkan menjadi suatu prinsip hidup yang dianut berdasar pelajaran, pengamalan dan pengalaman.
Pun ketika satu setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, yaitu berhenti dari pekerjaan saya yang terbilang mampu menyokong hidup foya-foya dan berencana memakai tabungan saya untuk berkelana mencari jatidiri, dimana kakak saya sedikit terkejut sehingga agak histeris ditelepon, ayah saya seperti biasa hanya berkomentar dengan suaranya yang datar "Baiklah, kalau memang keputusanmu sudah bulat. Asal tetap bertanggung jawab pada diri sendiri. Mudah-mudahan ketemu hikmah dalam setiap kejadian". Ahhh...
Falsafah papa yang akan selalu saya ingat adalah "Kita tidak akan pernah miskin, jika kita mengikhlaskan sebagian harta kita untuk sekedar membantu orang lain, dan jangan pernah, sekalipun dalam hati, berharap balasan, sekecil apapun, bahkan dalam bentuk doa dalam hatipun".
Saya pun baru mengetahui kira-kira setahun yang lalu, kalau sewaktu muda, papa adalah seorang mantan wartawan, senang membaca dan menulis, senang memakai batik dan senang bertualang keberbagai daerah (haha, agak mirip dengan seseorang yang saya kenal). Sejak muda, papa sudah merantau untuk sekolah diluar kampung halamannya. Beda jenjang sekolah, beda pula daerahnya. Tidak heran papa menguasai bahasa Makassar, Bugis, dan Jawa (daerah tempat menuntut ilmu), selain bahasa Gorontalo (tempat lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak) dan bahasa Manado (tempat menetap hingga saat ini). Mungkin kalau nanti saya berjodoh dengan lelaki dari belahan benua lain, dan memboyong papa, bisa jadi papa akan menguasai bahasa tempat barunya tersebut (jiahaha, aminnn yak Pap).
Sampai detik ini pun, oleh-oleh dan semua pemberian saya yang disenangi papa adalah baju-baju batik, sendal berlambang buaya yang super ringan yang lagi ngetren sekarang, dan yang paling dia sukai (terlihat dengan senyum dan ketekunan dia "menghabiskan waktu" bersama hadiah itu) adalah buku-buku novel fiksi maupun novel sejarah hasil buruan saya pada saat toko buku favorit saya sedang diskon besar-besaran. Sejak kecil, ada 3 hal yang selalu mendapat dukungan dari papa, dan papa pun tidak segan-segan mengeluarkan uangnya yang sebenarnya pas-pasan itu untuk mendidik kami akan hobinya tersebut. Buku, Fashion, dan fotografi. Intinya, papa ingin mengajarkan kami anak-anaknya untuk senang membaca, sempurna dalam penampilan, dan mengabadikan setiap cerita hidup dalam bentuk gambar kenangan (saya dan kakak mengenal kamera manual sejak kami duduk dibangku sekolah dasar). Dan sangat saya akui, selera papa dalam ketiga hal tersebut yang membentuk hobi dan karakter saya sekarang.
Sosok gagah dan klimis itu kini sudah mulai menua. Perlahan menyerah pada usia yang membuat rambutnya beruban dan kulit mengeriput diberbagai sisi tubuhnya. Kesehatannya pun sudah mulai menurun, walaupun beliau masih rajin berolahraga lari pagi sendirian ditepi pantai dan rutin mengkonsumsi jamu serta madu andalannya. Sorot mata misterius khas dirinya pun sudah mulai melemah, seiring dengan keletihannya bertarung dengan dunia.
"Siapa ayah saya bukanlah masalah, yang terpenting adalah bagaimana ayah saya ketika saya mengingat dia. - Anne Sexton"
Saya, maupun kakak perempuan saya memang tidak pernah mengidolakan papa sejak dulu. Tidak pernah tercipta kedekatan yang cukup berarti diantara kami. Tidak terbiasa berakrab ria melalui pelukan hangat dan canda tawa ramai. Tetapi satu yang pasti, kami Shinta Irawatie Saloewa dan Santi Arwatie Saloewa, akan selalu menghargai segala kekurangan dan mencintai semua kelebihan seseorang yang telah menghadirkan duo cantik dan cerewet ini. 11 Mei 1946 - 11 Mei 2011. Selamat Ulang Tahun Papa, yang kami sebut dengan hormat, Bapak Abdul Rauf Saloewa. Doa kami Pa, untukmu agar tetap sehat dan terus bahagia. Amin...
Jakarta, 18 Mei 2011 23:42
*kamar papa mama diibukota, koja-tanjung priuk
*Untukmu papa, juga mama, kami ada, berdoa, berusaha, dan berkarya.
Sejak kecil, saya tidak begitu akrab dengan papa, karena papa sosok yang pendiam. Jauh dari kesan hangat. Saya malah sempat iri mendengar penuturan teman-teman sekantornya dulu, bahwa betapa lucunya bayolan papa dikantor. Bayangkan, sosok dingin nan pendiam dirumah itu, menjadi seorang pelawak penuh humor dimata teman-temannya. Anak mana yang tidak akan iri mendengarnya. Tanpa sadar, karakter saya pun terbentuk seperti layaknya papa. Menjadi sosok yang cuek dirumah sendiri, tetapi sosok yang super gaul dimata teman-teman saya. Bahkan, tanpa saya dan kakak sadar, sosok lelaki tenang dan misterius seperti papa yang menjadi kriteria kami dalam mencari pendamping, hahaha. Sosok yang kata mama sulit dimengerti tapi bersorot mata meminta dipahami. Jadi, merupakan suatu kesempatan yang langka jika kami anggota keluarga inti bisa membuat papa sekedar tersenyum apalagi tertawa.
Saya, sebenarnya merupakan anak ketiga, kalau saja kakak kedua saya tidaklah meninggal dalam kandungan mama pada umur 5 bulan. Mungkin papa mengharapkan anak laki-laki yang bisa menemani beliau membetulkan genteng, lari pagi kemudian memancing ikan dipantai atau sekedar bermain badminton sore-sore. Dulu banyak saudara kami yang berkelakar "sebenarnya yang diharapkan lahir itu lelaki, nanti mo dinamain Sandi. Eh, yang lahir kamu". Sempat berpikir, cueknya papa kepada saya, karena saya bukan anak lelaki yang dia harapkan hadir sebagai miniatur dirinya.
Papa, ibarat nomer telepon siaga 24 jam. Mempunyai slogan "SIAGA dan LAKSANAKAN". Genteng bocor, tinggal teriak "Pa, genteng bocor". Ledeng rusak "Pa, air gak ngalir". Gigi goyang waktu kecil "Pa, cabut giginya ade". Tanaman mati "Pa, itu tanaman kok mati? Diapain yak?". Lemari bermasalah "Pa, lemari ade rusak, gimana enehhh?". Mobil mati "Pa, apanya mobil yang rusakkk?". Tugas prakarya sekolah "Pa, anterin beli bahan. Ajarin bikin prakarya". Pengen warna baru dikamar "Pa, tolong cat kamar donk". Mama pulang kantor "Pa, udah dimana? Mama udah selesai bih". Kakak butuh rak jilbab "Pa, bikinin rak besi yang dari kawat itu yak". Televisi rusak "Pa, ini tipi apa antena yang rusak?". Guci pecah "Pa, guci mama jatohhh". Butuh surat-surat dari kampus "Pa,tolong ke kampus, ade mo legalisir ama daftar-daftar". KTP abis masa berlaku "Pa, tolong urusin KTPnya ade". Mo pulang ke Manado "Pa, jemput dibandara". Bungkusin oleh-oleh "Pa, tolong bungkusin sama sekalian diiket tali rafia biar kencang dan rapi trus enak dipegangnya". Papa, sosok pendiam yang selalu mengedepankan "action". Tanpa banyak bicara, papa selalu berusaha mengerjakan semua kewajiban beliau tanpa diminta oleh mama dan kami anak-anaknya. Seperti memindahkan saya yang tertidur dikursi ke kamar tidur tanpa diminta oleh mama, dan mencuci sendiri semua pakaiannya ketika pembantu kami sedang sakit.
Papa memang pendiam, tetapi tidak ada istilah demokrasi apabila papa sudah bertitah. Waktu kecil, ketika televisi dirumah kami cuma 1, saya selalu mengutuk papa dalam hati, karena selepas isya, papa selalu menonton "Siaran Pedesaan" (membuat Shinta kecil lebih menguasai pelajaran IPS daripada Matematika, dan bermimpi bisa keliling Indonesia) dan "Dunia Dalam Berita" (membuat Shinta kecil mengetahui banyak hal tentang perang, politik dan kesenjangan sosial, ketika anak lain masih sibuk dengan kartun jaman dulu) dan siaran kegemarannya papa ini tidak bisa diganggu gugat, tidak pernah berubah, setiap hari, selama bertahun-tahun. Terpaksa, kakak memilih belajar atau membaca buku, dan saya yang malas belajar, akhirnya ikut menonton siaran itu, sambil sesekali bertanya tentang isi acara tersebut, yang seringnya hanya dijawab dengan suara "hmmm". Kebiasaan tidak menjawab pertanyaan anak seperti itu, membuat seorang Shinta kecil bertekad bahwa nanti ketika punya anak, akan jadi orang tua yang senang bercerita dan menjelaskan segala bentuk pertanyaan dari anaknya kelak (untuk orang-orang terdekat saya, sekarang pasti mengerti kenapa saya senang sekali menjadi seorang "story teller").
Menjelang dewasa, barulah saya menyadari betapa papa berusaha untuk dekat dan bersosialisasi dengan teman-teman saya. Mungkin salah satu usaha beliau untuk mengenal putri bungsunya yang sejak kecil tidak begitu akrab dengannya, melalui kacamata orang-orang terdekat. Dikalangan teman-teman saya, papa dikenal sebagai papa yang mau membaur dengan teman-teman saya. Para mantan pacar saya juga bisa dibilang akrab dengan papa. Mereka bercerita dan terkadang tertawa bersama. Mungkin dia menemukan sosok anak lelaki impiannya dulu.Peristiwa meninggalnya mama karena sakit yang dideritanya selama dua tahun juga membuat saya semakin yakin bahwa papa adalah mahluk Tuhan yang dikaruniai kedataran emosi tingkat tinggi. Ada untungnya sifat diamnya kala itu. Meredam emosi orang yang sedang menderita sakit seperti mama, tidak bisa dihadapkan dengan orang-orang berdarah panas seperti saya dan kakak. Papa, lagi-lagi mendapat predikat "suster terbaik" dimata orang-orang yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cara papa menemani dan merawat mama. Bahkan ketika mama meninggal dirumah sakit ibukota, dan proses membawa jenasah mama kembali ke kampung halaman kami membutuhkan tenaga dan kesabaran tambahan, papa pun dengan sigap mengurus segalanya, dimana saya waktu itu hanya sibuk tertawa-tawa dengan para sahabat yang datang melayat, sebagai kamuflase, mengusir duka tanda rasa tidak percaya akan kepergian mama. Selama seminggu acara pemakaman dilanjutkan dengan berbagai ritual keagamaan, Papa, lagi-lagi hanya terus diam, berwajah datar, sesekali mengatakan kepada kerabat yang datang melayat "mohon dimaafkan kesalahan ibu yah". Entah apa yang tersembunyi dibalik wajah datar beraura duka itu.
Satu kejadian yang membuat saya terharu, ketika suatu hari saya yang sudah menetap di ibukota, menelpon beliau untuk meminta tolong dibelikan bedak khusus wajah yang sejak dulu memang hanya saya temukan didaerah asal saya. Dua hari berikutnya sampailah paket yang ditujukan kepada "Shinta Irawatie Saloewa, SE". Dahi saya mengenyit heran, kenapa nama yang diketik menggunakan mesin ketik manual itu dibubuhi gelar sarjana saya.Ketika saya menelpon untuk mengabarkan bahwa paket itu sudah sampai, saya bertanya "Kok namanya ada gelar segala?" Dan dijawab dengan nada perlahan "Nda apa-apa De, papa cuma bangga menulis gelar kamu, biar orang lain tau, pegawai biasa kayak papa dan almarhumah mama juga bisa nyekolahin anaknya sampai sarjana"... Jrengggg... tak terlukiskan perasaan saya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sosok pendiam itu. Singkat dan sederhana, tetapi mampu membuat saya tersenyum dan menitikkan airmata. Sepintas terbayang kejadian dua tahun yang lalu ketika akhirnya saya diwisuda setelah dua tahun lamanya cuti kuliah. Papa, dengan senyum sumringah, untuk pertama kali memeluk saya dengan bangga didepan semua orang dan berkata "Selamat De, Papa senang sekali, Mama juga pasti akhirnya tenang disana". Kalau tidak ingat riasan wajah saya akan belepotan padahal belum berfoto studio, mungkin akan terjadi adegan sinetron yang sarat airmata dan raungan (halah).
Dalam beberapa hal, papa memang otoriter. Tetapi dalam hal menentukan pilihan masa depan anak-anaknya, papa membebaskan kami anak-anaknya untuk memilih. Papa tidak pernah terobsesi menjadikan kami ini dan itu. Pernah suatu ketika terjadi perdebatan kecil antara saya, papa dan alm mama tentang pilihan saya dalam memilih pasangan yang waktu itu berbeda prinsip. Alm mama bersikeras untuk tidak boleh dengan alasan macam-macam, seakan lupa dengan pengalamannya sendiri, rela mengalah dengan prinsipnya demi hidup bersama orang yang dicintai. Papa, dikala itu hanya bertanya satu kalimat "Selama 16 tahun kami nyekolahin kamu di bangku pendidikan formal, ada pendidikan tentang agama yang kita anut kan?". Saya jawab "Ada Pa. Knapa emang?". Papa cuma menjawab "Bagus, maka sekarang kalau kamu berkeputusan apapun, kami orang tua toh sudah menyekolahkanmu,dan mempercayakan dirimu dididik oleh orang2 yang lebih paham agama dibanding kami. Semua terserah padamu sekarang, apa yang terbaik menurutmu, sesuai dengan apa yang sudah kamu cerna dan pelajari". Sejenak saya terdiam, dan lebih dari dua bulan berpikir arti kalimat pendek penuh makna itu, lalu akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan saya itu.Seingat saya, papa tidak pernah mengajarkan saya tata cara sholat dan mengaji, tetapi bersama mama, papa mencarikan kami guru-guru terbaik untuk memberikan kami pengajaran dan pengertian, sehingga agama bukan hanya menjadi sekedar warisan turunan orangtua melainkan menjadi suatu prinsip hidup yang dianut berdasar pelajaran, pengamalan dan pengalaman.
Pun ketika satu setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, yaitu berhenti dari pekerjaan saya yang terbilang mampu menyokong hidup foya-foya dan berencana memakai tabungan saya untuk berkelana mencari jatidiri, dimana kakak saya sedikit terkejut sehingga agak histeris ditelepon, ayah saya seperti biasa hanya berkomentar dengan suaranya yang datar "Baiklah, kalau memang keputusanmu sudah bulat. Asal tetap bertanggung jawab pada diri sendiri. Mudah-mudahan ketemu hikmah dalam setiap kejadian". Ahhh...
Falsafah papa yang akan selalu saya ingat adalah "Kita tidak akan pernah miskin, jika kita mengikhlaskan sebagian harta kita untuk sekedar membantu orang lain, dan jangan pernah, sekalipun dalam hati, berharap balasan, sekecil apapun, bahkan dalam bentuk doa dalam hatipun".
Saya pun baru mengetahui kira-kira setahun yang lalu, kalau sewaktu muda, papa adalah seorang mantan wartawan, senang membaca dan menulis, senang memakai batik dan senang bertualang keberbagai daerah (haha, agak mirip dengan seseorang yang saya kenal). Sejak muda, papa sudah merantau untuk sekolah diluar kampung halamannya. Beda jenjang sekolah, beda pula daerahnya. Tidak heran papa menguasai bahasa Makassar, Bugis, dan Jawa (daerah tempat menuntut ilmu), selain bahasa Gorontalo (tempat lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak) dan bahasa Manado (tempat menetap hingga saat ini). Mungkin kalau nanti saya berjodoh dengan lelaki dari belahan benua lain, dan memboyong papa, bisa jadi papa akan menguasai bahasa tempat barunya tersebut (jiahaha, aminnn yak Pap).
Sampai detik ini pun, oleh-oleh dan semua pemberian saya yang disenangi papa adalah baju-baju batik, sendal berlambang buaya yang super ringan yang lagi ngetren sekarang, dan yang paling dia sukai (terlihat dengan senyum dan ketekunan dia "menghabiskan waktu" bersama hadiah itu) adalah buku-buku novel fiksi maupun novel sejarah hasil buruan saya pada saat toko buku favorit saya sedang diskon besar-besaran. Sejak kecil, ada 3 hal yang selalu mendapat dukungan dari papa, dan papa pun tidak segan-segan mengeluarkan uangnya yang sebenarnya pas-pasan itu untuk mendidik kami akan hobinya tersebut. Buku, Fashion, dan fotografi. Intinya, papa ingin mengajarkan kami anak-anaknya untuk senang membaca, sempurna dalam penampilan, dan mengabadikan setiap cerita hidup dalam bentuk gambar kenangan (saya dan kakak mengenal kamera manual sejak kami duduk dibangku sekolah dasar). Dan sangat saya akui, selera papa dalam ketiga hal tersebut yang membentuk hobi dan karakter saya sekarang.
Sosok gagah dan klimis itu kini sudah mulai menua. Perlahan menyerah pada usia yang membuat rambutnya beruban dan kulit mengeriput diberbagai sisi tubuhnya. Kesehatannya pun sudah mulai menurun, walaupun beliau masih rajin berolahraga lari pagi sendirian ditepi pantai dan rutin mengkonsumsi jamu serta madu andalannya. Sorot mata misterius khas dirinya pun sudah mulai melemah, seiring dengan keletihannya bertarung dengan dunia.
"Siapa ayah saya bukanlah masalah, yang terpenting adalah bagaimana ayah saya ketika saya mengingat dia. - Anne Sexton"
Saya, maupun kakak perempuan saya memang tidak pernah mengidolakan papa sejak dulu. Tidak pernah tercipta kedekatan yang cukup berarti diantara kami. Tidak terbiasa berakrab ria melalui pelukan hangat dan canda tawa ramai. Tetapi satu yang pasti, kami Shinta Irawatie Saloewa dan Santi Arwatie Saloewa, akan selalu menghargai segala kekurangan dan mencintai semua kelebihan seseorang yang telah menghadirkan duo cantik dan cerewet ini. 11 Mei 1946 - 11 Mei 2011. Selamat Ulang Tahun Papa, yang kami sebut dengan hormat, Bapak Abdul Rauf Saloewa. Doa kami Pa, untukmu agar tetap sehat dan terus bahagia. Amin...
Jakarta, 18 Mei 2011 23:42
*kamar papa mama diibukota, koja-tanjung priuk
*Untukmu papa, juga mama, kami ada, berdoa, berusaha, dan berkarya.
07/05/11
Noni Manado...bagoyang pica-pica (Refleksi Diri dari mata para Lelaki)
Kebosanan tingkat
dewa yang melanda, membuat saya melangkah ke salah satu tempat
tongkrongan terdekat dengan kostan saya untuk sekedar mencari hiburan,
syukur-syukur mendapat sedikit cerita baru untuk ide meracau di blog
dari hasil menikmati pemandangan orang-orang sekitar.
Awalnya saya ingin menonton film, tapi film bioskop akhir-akhir ini membuat saya hanya bisa bergumam "huh!!!film apa ini". Jadi, saya pun berpindah ke restoran waralaba yang menawarkan makanan yang rasanya standar namun terjangkau, juga bersuasana cukup nyaman untuk sekedar bengong dan melihat orang berlalu-lalang.
Setelah sampai, saya langsung memesan makanan dan minuman khas restoran tersebut. Beruntung saya mendapatkan tempat cukup nyaman dan strategis, Sofa samping jendela. Tak lama saya duduk, datanglah tiga orang lelaki yang dari penampakannya sepertinya berusia (mungkin) sepantaran dengan saya. Keberuntungan lagi-lagi menghampiri, karena ketiga mahluk bagus ini memilih meja kosong persis didepan meja saya. Kebiasaan memperhatikan penampilan orang, cara berpakaian ketiga orang tersebut membuat saya bergumam "Widihh..gaul amat. Lumayan, sambil makan liat yang seger-seger. Tuhan emang paling tau kalo gw lagi suntuk, hahaha".
Penampilan mereka sangat "up to date", Lelaki pertama; memelihara kumis dan janggut tipis, rambut mohawk, berkemeja kotak-kotak plus kaos putih sebagai daleman, lengan digulung, jins agak menuju belel dan sepatu kanvas warna senada baju (saya menyebutnya RS, kepanjangan dari Restu Sinaga, aktor yang gayanya mirip dengan si lelaki ini), Lelaki kedua; rambut jatuh seleher, plus poni lempar tentu saja (hahaha), berwajah oriental dan berpotongan bak artis Korea, anting ditelinga kanan dan pelipis kiri, kaos putih bertuliskan "Damn, I Love Indonesia", celana cargo selutut, sendal jepit bergambar buaya yang lagi happening (sebut saja SJ, kepanjangan dari boyband Korea, Super Junior, abis mirip abisss booww, hahahaha), dan terakhir, Lelaki ketiga; tampang tirus, kacamata yang bertengger dihidungnya yang (lumayan) mancung, kulit wajahnya agak coklat terbakar, janggut tipis, berkaus lengan panjang putih polos, celana jins dan sepatu sneakers, sibuk bermain dengan ponsel layar sentuhnya, dan tampak tidak memperdulikan kedua temannya yang riuh rendah berkelakar (hoho, mari kita sebut dia LF, alias lelaki favorit,hihihi).
Sebenarnya, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, karena niat awal saya memang untuk makan dan bengong saja selama beberapa saat direstoran tersebut. Apadaya, suara para mahluk bagus itu terdengar sampai ke meja saya (ya iyalah, wong bedanya cuma 2 meter).
"Gw trauma jalan ama cewe Manado", suara si RS, yang berhasil membuat saya mendelik kaget (dan ayam mentega ini hampir melompat dari mulut).
"Lhaaa...bukannya lu pernah jadian ama si July, trus ama Irene? Itu berdua pan Binyo (sebutan warga Jakarta untuk para warga "Kawanua" a.k.a Manado) juga?" cecar si SJ.
Hmmm...topik yang memancing, terpaksa konsentrasi saya melahap nasi goreng kepiting plus ayam mentega ini terpecah demi "karlota" (istilah Manado untuk: nguping alias kepo alias mau tau urusan orang).
"Iya sih, si Cece juga kan maminya Manado. Bah, awalnya gw kira namanya apaan,taunya nama panjangnya Deltje"... Bwahahahaha...hampir saja saya ikutan tertawa terbahak bersamaan dengan mereka, abisnya...yellowww...2011 masih ada yak nama itu? Hahaha (no offense yak non Cece) :D.
"Ahh...lu kali, emang demen ama tu suku. Noni-noni jo, bagoyang pica-pica", kembali terdengar tawa nakal kedua lelaki disamping saya. Mau tak mau, kuping saya panas juga mendengarnya.
"Gak cong, kebetulan aje gw emang suka yang bening-bening. Tapi gak ngerti kenapa, entah sial entah lucky, ketemunya ya ama si klapertart-klapertart lagi"... Anjr*t, makin lama istilah si RS makin ngawur.
"Widih klapertart...yummyyyy...hoho, mau donk icip dikit. Btw, udah pernah lu icip salah satu kan yak?"...Hadeh, rasanya antara miris sama takjub mendengar pertanyaan si SJ.
"Salah satu? Semua kaleee...hahaha,tekor amat yak gw gak nyicip, miara mereka mahal amat,et dah"...woy, ini punya cewe apa punya kucing sih, kenapa pake istilah "miara" yak? Lama-lama saya lempar juga pake sendok ato sendal.
"Haha, salah lu masbro, nenek-nenek mo mati juga tau, pacaran ama noni-noni, modal lu mesti setinggi langit, sedalam lautan"...Dan si SJ mulai lebay...
"Yoi nyet, abis duit gw diporotin. Serba salah sih, cewe cakep, bangga gw tarik kemana-mana. Tapi cewe cakep juga perawatannya kampr*t, ke salon lah, ke gym, spa, belom kalo mo kemana-mana ogah naik angkutan umum. Pinjem mobil bokap seminggu 4 kali gak cukup, sisanya naek taxi mulu, belom kalo mo makan, alergi ditempat murah, belum sepatunya, bajunya, tasnya, make-upnya, segala langganan majalah fashion ama kecantikan...gila, kemarin tagihan kartu kredit gw membengkak sampe sepuluh jeti"...Hampir melongo saya mendengar curhatan panjang lebar si RS, kasian amat. 10 jeti sebulan udah bisa buat saya jalan-jalan keliling Indonesia tiap bulan. Perasaan saya sendiri sebagai perempuan asli sana gak gitu-gitu amat (langsung berniat menelpon semua mantan saya untuk klarifikasi, hahaha).
"Jiahhh, mending lu nyewa harim Mangga Besar itu mah. Apa ke kampus belakang sini nih, gaet brondong mahasiswi cewe cakep-cakep. murah...bayar pake mulut manis ama cinta, hahahaha"...Nasi goreng saya langsung terasa hambar, mendengar omongan si SJ yang menganalogikan wanita jaman sekarang, lumayan menohok, karena kenyataannya sekarang memang banyak tragedi kisah cinta tragis seperti yang SJ gambarkan.
"Siaul...harim Mangga Besar murah, tapi ongkos gw ke dokter kelamin mahal, sama aje. Lagian males ama mahasiswi, kayak pacaran ama polisi, posesif abis. Dikit-dikit ngerengek, dikit-dikit ngambek, gw males cewe manja. Gw pengen yang elegan, yang gak alay, trus gak nuntut macem-macem kalo abis gituan". RS berkilah tentang opsi yang diberikan SJ. Well, kayaknya dimana-mana tergantung cewenya deh, mau umur berapa pun, pembawaan dan sifat orang itu bermacam-macam. Gak semua cewe berumur itu dewasa, dan gak semua mahasiswi itu kekanak-kanakan. Seperti iklan rokok, "Tua itu wajib, dewasa itu pilihan".
“Nah pacaran aja ama tante-tante, elegan, banyak duitnya pula, pengalaman juga dijamin. Itu baru bilang, seksoy diluar, asoy diranjang” celetuk si SJ sambil tertawa ngakak. Wadooohh…tampaknya obrolan bocah-bocah ini makin ngawur, dan kayaknya agak kurang cocok dengan tempat tongkrongan ini. Tapi bener juga sih, fenomena berondong-tante memang sedang marak dikalangan pergaulan ibukota. Ibu-ibu cantik namun kesepian ditinggal suaminya keluar kota, entah meeting entah nungging bersama wanita lain, kemudian melampiaskan dengan mencari sosok anak muda yang mungkin lebih pantas jadi keponakan atau bahkan anak mereka. Mungkin juga sebagai ajang pembuktian bahwa mereka juga bisa menggaet daun muda, atau sekedar ingin bernostalgia dengan cara “berteman” dengan para remaja. Pergeseran moral yang katanya mengikuti perkembangan jaman.
"Lagian si noni-noni itu agresif abis cuy. Sekali demen, mereka tuh ngejar kayak anjing kesetanan. Eh tapi giliran pacaran, angkuhnya selangit, bener-bener minta dilayanin. Berasa ama majikan deh. Huhh...untung aja cakep,kalo gak dah gw gampar,bawel mampus, mending punya otak" cerocos RS sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Waduh, saya benar-benar garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar ocehan mereka. Sudah segitunya kah pandangan negatif orang tentang perempuan dari suku saya? Lagian, cewe dari suku manapun, yang terlahir cantik, hampir semuanya berlabel "mahal". Bukannya lumrah yah, barang bagus harganya mahal? Hahaha. Lagian kalo dia punya otak, gak bakal mungkin pacaran ama lu nyet, cowo sok gaul yang hari gini masih pinjam mobil bokap buat mengajak cewe mesum. Tega amat mobil orang tua dipakai buat hal yang patut disensor. Sesama udang yang kotorannya dikepala dilarang saling mengata-ngatai #emosi.
"Gw sih gak pernah punya cewe noni, tapi punya banyak temen dari Manado. Gak semua lah kayak yang lu bilang barusan. Hampir semua cantik, cuma sedikit yang buat gw tampang ato gayanya biasa aja. Tapi gak semua juga gak punya otak kayak pernyataan lu barusan. Ada yang gaul, ada yang super diem malah. Ada yang pinter, walopun banyak juga yang cuma ngandalin tampang ama body aduhai. Angelina Sondakh kurang pinter apalagi coba? Mereka tuh cuma terdidik dalam kultur berani sejak kecil. Dan sayangnya malah banyak yang salah langkah pas udah gede” cerocos si LF yang sedari tadi cuma asyik bermain dengan ponsel layar sentuhnya. Eyy…canggih juga pemilihan katanya. Makin ganteng aja dimata saya jadinya :D.
"Semua juga tergantung orangnya kali, mo dia cewe Manado kek, cewe Jawa kek, cewe Sumatera kek ato cewe Saturnus juga, kalo emang pembawaannya ngeselin mah ngeselin aja. Otak itu gak tergantung suku men!!! Paling males ama cewe yang gedean to**tnya daripada kapasitas otaknya”. Dankkk…nampar banget kata-katanya barusan. Refleks saya melihat bagian dada dan entah kenapa bersyukur ukurannya sedang-sedang saja. Mengingat kapasitas otak saya yang sedikit, nantinya malah timpang, sesuai pernyataan si LF barusan, jiahahahaha, presepsi konyol yang menohok.
Ternyata ada gunanya juga saya keluar dari “kandang” saya, daripada mati bosan seharian. Dan pilihan nongkrong di restoran ini seperti sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Saya seperti melihat “drama satu babak” yang diperankan oleh ketiga mahluk bagus didepan saya ini, sekaligus memainkan “opera monolog” dibenak saya tentang tanggapan demi tanggapan yang keluar demi mendengar ocehan mereka.
Saya seperti ditampar, sekaligus diberi pelajaran gratis tentang bagaimana tanggapan lawan jenis terhadap kaum saya, terlebih yang satu suku dengan saya. Sayangnya kebanyakan yang saya tangkap adalah penilaian buruk. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk hal ini. Saya tidak bisa mengatur pola pikir orang lain. Satu hal pasti yang bisa saya kontrol adalah kelakuan diri saya sendiri, bagaimana bersikap sewajarnya namun apa adanya diri saya, agar tidak menjadi santapan penilaian buruk, atau minimal mengurangi presepsi buruk para lelaki itu terhadap para perempuan dari suku saya.
Tiba-tiba lagu “Im In The Mood For Love” milik Jools Holland feat Jamiroquai yang merupakan lagu film “Valentine’s Day” mengalun kencang mengagetkan ketiga orang itu, terlebih saya. Si RS malah sempat melotot, kemudian sedikit komen “Buset, kenceng amat tuh ringtone, berasa dikonser gw”. Antara kaget, malu plus gugup (merasa diri ketauan menguping pembicaraan orang), akhirnya saya pun menjawab “Yes…Waalaikum salam Pa. Oh, da sementara makang ade. Nda kamana-mana, cuma dikostan dari pagi, nya da training nihari. Papa dang da baapa? So makang?” (yang artinya: Yes, waalaikum salam Pa. Oh, lagi makan nih ade #nama kecil. Tidak kemana-mana, cuma dikostan sejak pagi, gak ada training hari ini. Papa sendiri lagi apa? Udah makan?).
Sesuai saya menjawab telepon yang hanya berdurasi 1 menit 13 detik itu, saya pun menoleh dan nyegir ke arah ketiga “tetangga” saya itu. Haha, bisa kalian tebak kan ekspresi ketiga anak konyol yang sedari tadi membicarakan perempuan dari suku saya, kemudian mendengar ketika saya menjawab telepon dari papa saya menggunakan bahasa Manado. RS melongo dan tampak tidak percaya, kalau dibahasakan wajahnya kira-kira berkata “Mati gw, ada noni-noni juga samping gw, kira-kira dia denger gak yah”, lain dengan SJ yang langsung bersemu merah (karena warna dasar kulit putih susu yang pasti langsung merona) dan membuang muka, jengah menatap tatapan mata iseng khas saya, dan terakhir (ahh…ini memang favorit sejati, insting saya memang selalu cihuy nih) si LF yang hanya tersenyum simpul nan sopan dan malah melemparkan tatapan “hai nona, maaf yak, kami cuma iseng. Kamu cantik deh, boleh kenalan gak?” (oke, kalimat terakhir cuma khayalan lebay saya semata, hahaha).
Mereka pun langsung berdiri menuju kasir, melewati meja saya, dan sambil tersenyum LF pun berkata singkat “Maaf, kami gak bermaksud gitu kok. Jangan marah yak”. Ehh…buset, sopan bener, saya benar-benar terpesona. Dan saya pun mengekor bergelantungan dicelananya sambil ngesot (yaa…kali ini khayalan saya sudah mulai sesat). Saya yang masih senyum-senyum sendiri, sambil pura-pura menikmati sisa ayam mentega dipiring saya, mendengar si SJ berkata “Sekalian aja mas, sama mbak-mbak dimeja pojokan itu”. Mendelik kaget, saya melihat ketiga mahluk bagus tersebut serentak melambaikan tangan lalu menyatukan tangan ala finalis abang Jakarta (pertanda meminta maaf). Saya pun hanya bisa melongo dan (bodohnya) tidak membalas dengan ucapan terima kasih saking kagetnya dengan tindakan mereka mentraktir saya tiba-tiba sebagai permintaan maaf. Wahhh…rejeki emang gak kemana yak… Ahhh…tau gitu tadi saya pesen macam-macam, jiahahahaha.
Jakarta, 7 Mei 2011
Sore hari di Solaria Setiabudi Building, ketika mentari sedang bersinar sehangat pacaran trisemester awal. :p
*nemu tulisan di notepad Blackberry yang kelupaan diposting padahal udah LAMA BANGET -.-"
Awalnya saya ingin menonton film, tapi film bioskop akhir-akhir ini membuat saya hanya bisa bergumam "huh!!!film apa ini". Jadi, saya pun berpindah ke restoran waralaba yang menawarkan makanan yang rasanya standar namun terjangkau, juga bersuasana cukup nyaman untuk sekedar bengong dan melihat orang berlalu-lalang.
Setelah sampai, saya langsung memesan makanan dan minuman khas restoran tersebut. Beruntung saya mendapatkan tempat cukup nyaman dan strategis, Sofa samping jendela. Tak lama saya duduk, datanglah tiga orang lelaki yang dari penampakannya sepertinya berusia (mungkin) sepantaran dengan saya. Keberuntungan lagi-lagi menghampiri, karena ketiga mahluk bagus ini memilih meja kosong persis didepan meja saya. Kebiasaan memperhatikan penampilan orang, cara berpakaian ketiga orang tersebut membuat saya bergumam "Widihh..gaul amat. Lumayan, sambil makan liat yang seger-seger. Tuhan emang paling tau kalo gw lagi suntuk, hahaha".
Penampilan mereka sangat "up to date", Lelaki pertama; memelihara kumis dan janggut tipis, rambut mohawk, berkemeja kotak-kotak plus kaos putih sebagai daleman, lengan digulung, jins agak menuju belel dan sepatu kanvas warna senada baju (saya menyebutnya RS, kepanjangan dari Restu Sinaga, aktor yang gayanya mirip dengan si lelaki ini), Lelaki kedua; rambut jatuh seleher, plus poni lempar tentu saja (hahaha), berwajah oriental dan berpotongan bak artis Korea, anting ditelinga kanan dan pelipis kiri, kaos putih bertuliskan "Damn, I Love Indonesia", celana cargo selutut, sendal jepit bergambar buaya yang lagi happening (sebut saja SJ, kepanjangan dari boyband Korea, Super Junior, abis mirip abisss booww, hahahaha), dan terakhir, Lelaki ketiga; tampang tirus, kacamata yang bertengger dihidungnya yang (lumayan) mancung, kulit wajahnya agak coklat terbakar, janggut tipis, berkaus lengan panjang putih polos, celana jins dan sepatu sneakers, sibuk bermain dengan ponsel layar sentuhnya, dan tampak tidak memperdulikan kedua temannya yang riuh rendah berkelakar (hoho, mari kita sebut dia LF, alias lelaki favorit,hihihi).
Sebenarnya, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, karena niat awal saya memang untuk makan dan bengong saja selama beberapa saat direstoran tersebut. Apadaya, suara para mahluk bagus itu terdengar sampai ke meja saya (ya iyalah, wong bedanya cuma 2 meter).
"Gw trauma jalan ama cewe Manado", suara si RS, yang berhasil membuat saya mendelik kaget (dan ayam mentega ini hampir melompat dari mulut).
"Lhaaa...bukannya lu pernah jadian ama si July, trus ama Irene? Itu berdua pan Binyo (sebutan warga Jakarta untuk para warga "Kawanua" a.k.a Manado) juga?" cecar si SJ.
Hmmm...topik yang memancing, terpaksa konsentrasi saya melahap nasi goreng kepiting plus ayam mentega ini terpecah demi "karlota" (istilah Manado untuk: nguping alias kepo alias mau tau urusan orang).
"Iya sih, si Cece juga kan maminya Manado. Bah, awalnya gw kira namanya apaan,taunya nama panjangnya Deltje"... Bwahahahaha...hampir saja saya ikutan tertawa terbahak bersamaan dengan mereka, abisnya...yellowww...2011 masih ada yak nama itu? Hahaha (no offense yak non Cece) :D.
"Ahh...lu kali, emang demen ama tu suku. Noni-noni jo, bagoyang pica-pica", kembali terdengar tawa nakal kedua lelaki disamping saya. Mau tak mau, kuping saya panas juga mendengarnya.
"Gak cong, kebetulan aje gw emang suka yang bening-bening. Tapi gak ngerti kenapa, entah sial entah lucky, ketemunya ya ama si klapertart-klapertart lagi"... Anjr*t, makin lama istilah si RS makin ngawur.
"Widih klapertart...yummyyyy...hoho, mau donk icip dikit. Btw, udah pernah lu icip salah satu kan yak?"...Hadeh, rasanya antara miris sama takjub mendengar pertanyaan si SJ.
"Salah satu? Semua kaleee...hahaha,tekor amat yak gw gak nyicip, miara mereka mahal amat,et dah"...woy, ini punya cewe apa punya kucing sih, kenapa pake istilah "miara" yak? Lama-lama saya lempar juga pake sendok ato sendal.
"Haha, salah lu masbro, nenek-nenek mo mati juga tau, pacaran ama noni-noni, modal lu mesti setinggi langit, sedalam lautan"...Dan si SJ mulai lebay...
"Yoi nyet, abis duit gw diporotin. Serba salah sih, cewe cakep, bangga gw tarik kemana-mana. Tapi cewe cakep juga perawatannya kampr*t, ke salon lah, ke gym, spa, belom kalo mo kemana-mana ogah naik angkutan umum. Pinjem mobil bokap seminggu 4 kali gak cukup, sisanya naek taxi mulu, belom kalo mo makan, alergi ditempat murah, belum sepatunya, bajunya, tasnya, make-upnya, segala langganan majalah fashion ama kecantikan...gila, kemarin tagihan kartu kredit gw membengkak sampe sepuluh jeti"...Hampir melongo saya mendengar curhatan panjang lebar si RS, kasian amat. 10 jeti sebulan udah bisa buat saya jalan-jalan keliling Indonesia tiap bulan. Perasaan saya sendiri sebagai perempuan asli sana gak gitu-gitu amat (langsung berniat menelpon semua mantan saya untuk klarifikasi, hahaha).
"Jiahhh, mending lu nyewa harim Mangga Besar itu mah. Apa ke kampus belakang sini nih, gaet brondong mahasiswi cewe cakep-cakep. murah...bayar pake mulut manis ama cinta, hahahaha"...Nasi goreng saya langsung terasa hambar, mendengar omongan si SJ yang menganalogikan wanita jaman sekarang, lumayan menohok, karena kenyataannya sekarang memang banyak tragedi kisah cinta tragis seperti yang SJ gambarkan.
"Siaul...harim Mangga Besar murah, tapi ongkos gw ke dokter kelamin mahal, sama aje. Lagian males ama mahasiswi, kayak pacaran ama polisi, posesif abis. Dikit-dikit ngerengek, dikit-dikit ngambek, gw males cewe manja. Gw pengen yang elegan, yang gak alay, trus gak nuntut macem-macem kalo abis gituan". RS berkilah tentang opsi yang diberikan SJ. Well, kayaknya dimana-mana tergantung cewenya deh, mau umur berapa pun, pembawaan dan sifat orang itu bermacam-macam. Gak semua cewe berumur itu dewasa, dan gak semua mahasiswi itu kekanak-kanakan. Seperti iklan rokok, "Tua itu wajib, dewasa itu pilihan".
“Nah pacaran aja ama tante-tante, elegan, banyak duitnya pula, pengalaman juga dijamin. Itu baru bilang, seksoy diluar, asoy diranjang” celetuk si SJ sambil tertawa ngakak. Wadooohh…tampaknya obrolan bocah-bocah ini makin ngawur, dan kayaknya agak kurang cocok dengan tempat tongkrongan ini. Tapi bener juga sih, fenomena berondong-tante memang sedang marak dikalangan pergaulan ibukota. Ibu-ibu cantik namun kesepian ditinggal suaminya keluar kota, entah meeting entah nungging bersama wanita lain, kemudian melampiaskan dengan mencari sosok anak muda yang mungkin lebih pantas jadi keponakan atau bahkan anak mereka. Mungkin juga sebagai ajang pembuktian bahwa mereka juga bisa menggaet daun muda, atau sekedar ingin bernostalgia dengan cara “berteman” dengan para remaja. Pergeseran moral yang katanya mengikuti perkembangan jaman.
"Lagian si noni-noni itu agresif abis cuy. Sekali demen, mereka tuh ngejar kayak anjing kesetanan. Eh tapi giliran pacaran, angkuhnya selangit, bener-bener minta dilayanin. Berasa ama majikan deh. Huhh...untung aja cakep,kalo gak dah gw gampar,bawel mampus, mending punya otak" cerocos RS sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Waduh, saya benar-benar garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar ocehan mereka. Sudah segitunya kah pandangan negatif orang tentang perempuan dari suku saya? Lagian, cewe dari suku manapun, yang terlahir cantik, hampir semuanya berlabel "mahal". Bukannya lumrah yah, barang bagus harganya mahal? Hahaha. Lagian kalo dia punya otak, gak bakal mungkin pacaran ama lu nyet, cowo sok gaul yang hari gini masih pinjam mobil bokap buat mengajak cewe mesum. Tega amat mobil orang tua dipakai buat hal yang patut disensor. Sesama udang yang kotorannya dikepala dilarang saling mengata-ngatai #emosi.
"Gw sih gak pernah punya cewe noni, tapi punya banyak temen dari Manado. Gak semua lah kayak yang lu bilang barusan. Hampir semua cantik, cuma sedikit yang buat gw tampang ato gayanya biasa aja. Tapi gak semua juga gak punya otak kayak pernyataan lu barusan. Ada yang gaul, ada yang super diem malah. Ada yang pinter, walopun banyak juga yang cuma ngandalin tampang ama body aduhai. Angelina Sondakh kurang pinter apalagi coba? Mereka tuh cuma terdidik dalam kultur berani sejak kecil. Dan sayangnya malah banyak yang salah langkah pas udah gede” cerocos si LF yang sedari tadi cuma asyik bermain dengan ponsel layar sentuhnya. Eyy…canggih juga pemilihan katanya. Makin ganteng aja dimata saya jadinya :D.
"Semua juga tergantung orangnya kali, mo dia cewe Manado kek, cewe Jawa kek, cewe Sumatera kek ato cewe Saturnus juga, kalo emang pembawaannya ngeselin mah ngeselin aja. Otak itu gak tergantung suku men!!! Paling males ama cewe yang gedean to**tnya daripada kapasitas otaknya”. Dankkk…nampar banget kata-katanya barusan. Refleks saya melihat bagian dada dan entah kenapa bersyukur ukurannya sedang-sedang saja. Mengingat kapasitas otak saya yang sedikit, nantinya malah timpang, sesuai pernyataan si LF barusan, jiahahahaha, presepsi konyol yang menohok.
Ternyata ada gunanya juga saya keluar dari “kandang” saya, daripada mati bosan seharian. Dan pilihan nongkrong di restoran ini seperti sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Saya seperti melihat “drama satu babak” yang diperankan oleh ketiga mahluk bagus didepan saya ini, sekaligus memainkan “opera monolog” dibenak saya tentang tanggapan demi tanggapan yang keluar demi mendengar ocehan mereka.
Saya seperti ditampar, sekaligus diberi pelajaran gratis tentang bagaimana tanggapan lawan jenis terhadap kaum saya, terlebih yang satu suku dengan saya. Sayangnya kebanyakan yang saya tangkap adalah penilaian buruk. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk hal ini. Saya tidak bisa mengatur pola pikir orang lain. Satu hal pasti yang bisa saya kontrol adalah kelakuan diri saya sendiri, bagaimana bersikap sewajarnya namun apa adanya diri saya, agar tidak menjadi santapan penilaian buruk, atau minimal mengurangi presepsi buruk para lelaki itu terhadap para perempuan dari suku saya.
Tiba-tiba lagu “Im In The Mood For Love” milik Jools Holland feat Jamiroquai yang merupakan lagu film “Valentine’s Day” mengalun kencang mengagetkan ketiga orang itu, terlebih saya. Si RS malah sempat melotot, kemudian sedikit komen “Buset, kenceng amat tuh ringtone, berasa dikonser gw”. Antara kaget, malu plus gugup (merasa diri ketauan menguping pembicaraan orang), akhirnya saya pun menjawab “Yes…Waalaikum salam Pa. Oh, da sementara makang ade. Nda kamana-mana, cuma dikostan dari pagi, nya da training nihari. Papa dang da baapa? So makang?” (yang artinya: Yes, waalaikum salam Pa. Oh, lagi makan nih ade #nama kecil. Tidak kemana-mana, cuma dikostan sejak pagi, gak ada training hari ini. Papa sendiri lagi apa? Udah makan?).
Sesuai saya menjawab telepon yang hanya berdurasi 1 menit 13 detik itu, saya pun menoleh dan nyegir ke arah ketiga “tetangga” saya itu. Haha, bisa kalian tebak kan ekspresi ketiga anak konyol yang sedari tadi membicarakan perempuan dari suku saya, kemudian mendengar ketika saya menjawab telepon dari papa saya menggunakan bahasa Manado. RS melongo dan tampak tidak percaya, kalau dibahasakan wajahnya kira-kira berkata “Mati gw, ada noni-noni juga samping gw, kira-kira dia denger gak yah”, lain dengan SJ yang langsung bersemu merah (karena warna dasar kulit putih susu yang pasti langsung merona) dan membuang muka, jengah menatap tatapan mata iseng khas saya, dan terakhir (ahh…ini memang favorit sejati, insting saya memang selalu cihuy nih) si LF yang hanya tersenyum simpul nan sopan dan malah melemparkan tatapan “hai nona, maaf yak, kami cuma iseng. Kamu cantik deh, boleh kenalan gak?” (oke, kalimat terakhir cuma khayalan lebay saya semata, hahaha).
Mereka pun langsung berdiri menuju kasir, melewati meja saya, dan sambil tersenyum LF pun berkata singkat “Maaf, kami gak bermaksud gitu kok. Jangan marah yak”. Ehh…buset, sopan bener, saya benar-benar terpesona. Dan saya pun mengekor bergelantungan dicelananya sambil ngesot (yaa…kali ini khayalan saya sudah mulai sesat). Saya yang masih senyum-senyum sendiri, sambil pura-pura menikmati sisa ayam mentega dipiring saya, mendengar si SJ berkata “Sekalian aja mas, sama mbak-mbak dimeja pojokan itu”. Mendelik kaget, saya melihat ketiga mahluk bagus tersebut serentak melambaikan tangan lalu menyatukan tangan ala finalis abang Jakarta (pertanda meminta maaf). Saya pun hanya bisa melongo dan (bodohnya) tidak membalas dengan ucapan terima kasih saking kagetnya dengan tindakan mereka mentraktir saya tiba-tiba sebagai permintaan maaf. Wahhh…rejeki emang gak kemana yak… Ahhh…tau gitu tadi saya pesen macam-macam, jiahahahaha.
Jakarta, 7 Mei 2011
Sore hari di Solaria Setiabudi Building, ketika mentari sedang bersinar sehangat pacaran trisemester awal. :p
*nemu tulisan di notepad Blackberry yang kelupaan diposting padahal udah LAMA BANGET -.-"
Melodrama Sahabat. Episode: Kesempatan itu (mungkin bisa) menghancurkan komitmen
Tengah malam, Last Kiss dari Pearl Jam mengusik saya yang sedang makan.
Bunyi telpon dari salah seorang sobat saya. "Nyiiinggg...met ultah yeee", tereak saya kenceng, sambil tak lupa menyanyikan lagu selamat ulang tahun pake suara serak saya yang baru bangun tidur plus lagi makan. "Jahh..adanya juga elu yang nelpon guweh ngasih slamat, dimane-mane kagak ada orang ultah nelpon temennye buat dapetin ucapan slamat" ujar si sobat dengan suara lucunya yang gak ada aura ganteng-gantengnya kalo menurut saya (in my humble opinion lho darla...jiahahahaha).
Kening saya berkerut,kira-kira ada apa gerangan sobat saya menelpon tengah malam. Ketumbenan yang tiada terkira. Dan benar dugaan saya, sobat saya ini sedang agak galau, apalagi kalo bukan masalah perasaan.
"Gw lagi dideketin ama cewe nih cyinnn...anak kampung lu noh".
Begitulah kira-kira kalimat awal percakapan serius diantara kami. Menurut hasil pengamatan saya, dari beberapa pengalaman para sahabat, sebenarnya, merupakan suatu kebanggaan buat seorang lelaki, jika ada seorang (apalagi lebih) wanita yang datang mendekati, apalagi kondisi saat ini, sobat saya tersebut sudah terikat semacam ikatan yang lazim kita sebut "tunangan". Ikatan serius dimana hubungan sudah bukan hanya dilakoni oleh 2 orang, tetapi oleh beberapa orang yang dinamakan "keluarga". Alasan "cinta" ditambah alasan "tujuan masa depan" plus alasan "keluarga" menghasilkan suatu kata yaitu "komitmen". Dimana "tunangan" itu sendiri sudah merupakan bahan dasar untuk membangun sebuah komitmen yang lebih jauh. Namun lagi-lagi, suatu hasrat kuat mendasar yang lahir bersamaan dengan para lelaki, nama kerennya "ego", membuat keadaan seperti ini menjadi rumit. Jika perempuan diciptakan dengan kadar "perasaan" berlebih, maka lelaki pun punya kelebihan dalam hal "ego".
Hal pertama yang saya tanyakan kepadanya "emang tu pere cantik?".
Suatu hal yang gak objektif sih...yellowww...2011 masih aja pake fisik buat nilai orang. Tapi mengacu pada pepatah "lelaki itu kalah dimata, wanita kalah ditelinga", yang artinya, mau dilirik lelaki mesti jadi secantik mungkin, mau dilirik cewe mesti segombal mungkin. Hahahaha.
Jawaban sobat saya "gak sih, biasa aja. Cantikan cewe gw".
Then what do you expect? Disinilah slogannya bang napi sangat berperan "kejahatan itu terjadi bukan karena niat,tapi karena kesempatan". Saya menilai, ego ditambah kesempatan menghasilkan suatu permainan yang menguji "komitmen" yang merupakan hasil dari cinta ditambah tujuan masa depan ditambah keluarga. Hebat bukan? Hanya butuh 2 faktor untuk menggoyahkan hasil dari 3 faktor. Kesempatan yang ditawarkan wanita lain, walaupun sebenarnya nilai dari wanita ini buat sobat saya, tidak ada seujung kuku pun dari sosok tunangannya. Kesempatan, yang jika dipupuk terus menerus, maka lambat laun akan menjadi sebuah bom waktu yang bukan hanya menggoyahkan, tetapi pastinya akan menghancurkan komitmen yang susah payah dia wujudkan. Kesempatan kawan, tidak lebih dari itu. Sudah banyak contoh cerita pahit beberapa kawan saya, yang hidupnya hancur padahal mereka hanya mempersilahkan si kesempatan sedikit bermain dialam bawah sadar mereka. Kesempatan yang membuka jalan kecil ke arah suatu kesalahan yang besar.
"Tetapi gw gak bisa ngelarang perasaannya dia buat suka ama gw, gw udah bilang, gw dah punya tunangan. Toh kita berdua juga berbeda prinsip hidup".
Lalu apa yang kamu khawatirkan? Ketika kamu sudah membangun sebuah komitmen, seharusnya trik dan tips untuk menjaganya lah yang perlu kamu pelajari, bukan trik dan tips untuk menghancurkannya yang kamu dekati. Memang hak setiap orang untuk menyukai orang lain. Tetapi disini kamu dijadikan objek untuk disukai, jadi kamu juga berhak untuk menolak dijadikan objek. Toh kamu bukan artis yang membutuhkan penggemar setia sekedar untuk mendongkrak popularitasmu. Tapi memang terkadang manusia membutuhkan lebih dari satu manusia lain untuk sekedar mengakui bahwa eksistensinya benar-benar ada dimuka bumi ini.
"Tapi katanya, ijinkan dia untuk menyukai gw dari jauh, ijinkan dia berkomunikasi. Dia bakal tau diri kok, kalo gw lagi jalan ama cewe gw, gak bakalan ganggu".
Yellowww... Itu cuma trik sobat, trik dimana seseorang yang penasaran akan sesuatu yang diinginkan tapi belum didapatkan. Dia tentunya akan melakukakn berbagai macam cara untuk menarik perhatianmu. Lagian, kalau benar dia tau diri, apakah pantas dia mendekati orang yang sudah punya komitmen untuk serius dengan orang lain. Kamu membuka celah untuknya sobat, walaupun kecil, ingat kata pepatah "dikit-dikit jadi bukit?"
"Iya sih boww...gw sadar, kucing mana yang gak mau disodorin ikan".
See, akhirnya sobat saya pun mengakui, bahwa suatu kesempatan terkadang menjadi sebuah santapan pencuci mulut yang menyegarkan dikala kita sudah sedikit mual dengan makanan besar yang membuat perut penuh. Sadar kawan, dirimu juga manusia, cobaan itu pasti ada aja. Jangan pernah takabur dengan rencana-rencana indah. Manusia itu hanya bisa berencana dengan cemerlang, tanpa mengetahui hal apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Sekarang ketika kamu sedikit saja bermain-main dengan kesempatan, maka semuanya akan merubah keadaan. Banyak cerita usang yang gak pernah bosan saya kisahkan padamu kan, tentang beberapa pengalaman baik pengalaman saya sendiri maupun pengalaman orang lain yang kebetulan masih terekam dalam otak saya, betapa pahitnya masa dimana hal-hal bodoh menjadi penyebab kehidupan yang suram dimasa datang.
"Hmm...gitu yak. Iya sih, kalo gitu gw membatasi diri deh mulai sekarang".
Memang mencoba itu tidak mengapa, ibarat kata filsuf asal Amerika favorit saya "20 tahun yang akan datang kamu akan lebih menyesal akan apa yang tidak pernah kamu lakukan, dibanding apa yang pernah kamu lakukan. Keluarlah dari zona nyaman, dan berpetualanglah. Bermimpilah, Menjelajahlah, dan Temukanlah". Tapi itu berlaku untuk sebuah petualangan yang baru akan dimulai, bukan suatu hubungan yang sudah sejauh taraf pencapaianmu sekarang. Judul film melodrama kehidupanmu sudah kamu pilih, sekarang sudah akan berakhir dalam season 1, dan akan dilanjutkan dengan seri baru season 2, tapi tetap dengan judul yang sama. Kalau kamu tergoda dengan kesempatan lain, maka kamu akan memulai suatu produksi film dengan judul yang baru.
"Ya udah deh cong, gw mo tedur dulu. Ngantuk banget, gw dah gak bisa mikir".
Hmmm...mudah-mudahan akal pikiranmu bisa segar kembali esok, ketika kamu dan tunanganmu bertemu untuk sekedar makan malam (terlalu) romantis ala alay kalian yang sering saya olok-olok itu. Hubungan yang manis memang gak pernah luput dari cobaan, karena saya sendiri pun sudah pernah merasakan betapa hambarnya suatu hubungan yang berjalan tanpa sedikitpun batu sandungan. Sebagai salah satu sobatmu yang selalu menyumbang doa terbaik untuk dirimu, saya hanya bisa turut mendukung semua hal yang bisa membuatmu bahagia, karena kalian berdua hanya bisa berencana, saya hanya sekedar bisa berdoa, tapi sisanya hanya Tuhan yang berbicara. Apapun yang akan terjadi nanti, yang penting kamu harus berusaha semaksimal mungkin. Everything happen for a reason, rite hensem?
"If you love two people at the same time, choose the second one. Because if you really loved the first one, you wouldn't have fallen for the second" (Johnny Depp).
Sekali lagi, Selamat Hari Jadi, Happy Birthday, Joyeux Anniversaire, buat si konyol bersuara toa yang (mudah-mudahan) sebentar lagi melepas masa lajangnya itu. Doaku bersamamu sobat. Doa akan lebih afdol kalo esok ada undangan traktiran sih...jiahahaha (saya redho roma kok, mengalah sehari dari dadar guling barbie kesayanganmu itu untuk makan-makan ples ngakak-ngakak dipojok warung tongkrongan kita itu).
Jakarta, 8 Mei 2011. 03:45 waktu BB
Genteng Ijo 86, didalam kamar yang berhasil didekor ulang dengan tujuan membangkitkan semangat baru...hahay :D
Bunyi telpon dari salah seorang sobat saya. "Nyiiinggg...met ultah yeee", tereak saya kenceng, sambil tak lupa menyanyikan lagu selamat ulang tahun pake suara serak saya yang baru bangun tidur plus lagi makan. "Jahh..adanya juga elu yang nelpon guweh ngasih slamat, dimane-mane kagak ada orang ultah nelpon temennye buat dapetin ucapan slamat" ujar si sobat dengan suara lucunya yang gak ada aura ganteng-gantengnya kalo menurut saya (in my humble opinion lho darla...jiahahahaha).
Kening saya berkerut,kira-kira ada apa gerangan sobat saya menelpon tengah malam. Ketumbenan yang tiada terkira. Dan benar dugaan saya, sobat saya ini sedang agak galau, apalagi kalo bukan masalah perasaan.
"Gw lagi dideketin ama cewe nih cyinnn...anak kampung lu noh".
Begitulah kira-kira kalimat awal percakapan serius diantara kami. Menurut hasil pengamatan saya, dari beberapa pengalaman para sahabat, sebenarnya, merupakan suatu kebanggaan buat seorang lelaki, jika ada seorang (apalagi lebih) wanita yang datang mendekati, apalagi kondisi saat ini, sobat saya tersebut sudah terikat semacam ikatan yang lazim kita sebut "tunangan". Ikatan serius dimana hubungan sudah bukan hanya dilakoni oleh 2 orang, tetapi oleh beberapa orang yang dinamakan "keluarga". Alasan "cinta" ditambah alasan "tujuan masa depan" plus alasan "keluarga" menghasilkan suatu kata yaitu "komitmen". Dimana "tunangan" itu sendiri sudah merupakan bahan dasar untuk membangun sebuah komitmen yang lebih jauh. Namun lagi-lagi, suatu hasrat kuat mendasar yang lahir bersamaan dengan para lelaki, nama kerennya "ego", membuat keadaan seperti ini menjadi rumit. Jika perempuan diciptakan dengan kadar "perasaan" berlebih, maka lelaki pun punya kelebihan dalam hal "ego".
Hal pertama yang saya tanyakan kepadanya "emang tu pere cantik?".
Suatu hal yang gak objektif sih...yellowww...2011 masih aja pake fisik buat nilai orang. Tapi mengacu pada pepatah "lelaki itu kalah dimata, wanita kalah ditelinga", yang artinya, mau dilirik lelaki mesti jadi secantik mungkin, mau dilirik cewe mesti segombal mungkin. Hahahaha.
Jawaban sobat saya "gak sih, biasa aja. Cantikan cewe gw".
Then what do you expect? Disinilah slogannya bang napi sangat berperan "kejahatan itu terjadi bukan karena niat,tapi karena kesempatan". Saya menilai, ego ditambah kesempatan menghasilkan suatu permainan yang menguji "komitmen" yang merupakan hasil dari cinta ditambah tujuan masa depan ditambah keluarga. Hebat bukan? Hanya butuh 2 faktor untuk menggoyahkan hasil dari 3 faktor. Kesempatan yang ditawarkan wanita lain, walaupun sebenarnya nilai dari wanita ini buat sobat saya, tidak ada seujung kuku pun dari sosok tunangannya. Kesempatan, yang jika dipupuk terus menerus, maka lambat laun akan menjadi sebuah bom waktu yang bukan hanya menggoyahkan, tetapi pastinya akan menghancurkan komitmen yang susah payah dia wujudkan. Kesempatan kawan, tidak lebih dari itu. Sudah banyak contoh cerita pahit beberapa kawan saya, yang hidupnya hancur padahal mereka hanya mempersilahkan si kesempatan sedikit bermain dialam bawah sadar mereka. Kesempatan yang membuka jalan kecil ke arah suatu kesalahan yang besar.
"Tetapi gw gak bisa ngelarang perasaannya dia buat suka ama gw, gw udah bilang, gw dah punya tunangan. Toh kita berdua juga berbeda prinsip hidup".
Lalu apa yang kamu khawatirkan? Ketika kamu sudah membangun sebuah komitmen, seharusnya trik dan tips untuk menjaganya lah yang perlu kamu pelajari, bukan trik dan tips untuk menghancurkannya yang kamu dekati. Memang hak setiap orang untuk menyukai orang lain. Tetapi disini kamu dijadikan objek untuk disukai, jadi kamu juga berhak untuk menolak dijadikan objek. Toh kamu bukan artis yang membutuhkan penggemar setia sekedar untuk mendongkrak popularitasmu. Tapi memang terkadang manusia membutuhkan lebih dari satu manusia lain untuk sekedar mengakui bahwa eksistensinya benar-benar ada dimuka bumi ini.
"Tapi katanya, ijinkan dia untuk menyukai gw dari jauh, ijinkan dia berkomunikasi. Dia bakal tau diri kok, kalo gw lagi jalan ama cewe gw, gak bakalan ganggu".
Yellowww... Itu cuma trik sobat, trik dimana seseorang yang penasaran akan sesuatu yang diinginkan tapi belum didapatkan. Dia tentunya akan melakukakn berbagai macam cara untuk menarik perhatianmu. Lagian, kalau benar dia tau diri, apakah pantas dia mendekati orang yang sudah punya komitmen untuk serius dengan orang lain. Kamu membuka celah untuknya sobat, walaupun kecil, ingat kata pepatah "dikit-dikit jadi bukit?"
"Iya sih boww...gw sadar, kucing mana yang gak mau disodorin ikan".
See, akhirnya sobat saya pun mengakui, bahwa suatu kesempatan terkadang menjadi sebuah santapan pencuci mulut yang menyegarkan dikala kita sudah sedikit mual dengan makanan besar yang membuat perut penuh. Sadar kawan, dirimu juga manusia, cobaan itu pasti ada aja. Jangan pernah takabur dengan rencana-rencana indah. Manusia itu hanya bisa berencana dengan cemerlang, tanpa mengetahui hal apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Sekarang ketika kamu sedikit saja bermain-main dengan kesempatan, maka semuanya akan merubah keadaan. Banyak cerita usang yang gak pernah bosan saya kisahkan padamu kan, tentang beberapa pengalaman baik pengalaman saya sendiri maupun pengalaman orang lain yang kebetulan masih terekam dalam otak saya, betapa pahitnya masa dimana hal-hal bodoh menjadi penyebab kehidupan yang suram dimasa datang.
"Hmm...gitu yak. Iya sih, kalo gitu gw membatasi diri deh mulai sekarang".
Memang mencoba itu tidak mengapa, ibarat kata filsuf asal Amerika favorit saya "20 tahun yang akan datang kamu akan lebih menyesal akan apa yang tidak pernah kamu lakukan, dibanding apa yang pernah kamu lakukan. Keluarlah dari zona nyaman, dan berpetualanglah. Bermimpilah, Menjelajahlah, dan Temukanlah". Tapi itu berlaku untuk sebuah petualangan yang baru akan dimulai, bukan suatu hubungan yang sudah sejauh taraf pencapaianmu sekarang. Judul film melodrama kehidupanmu sudah kamu pilih, sekarang sudah akan berakhir dalam season 1, dan akan dilanjutkan dengan seri baru season 2, tapi tetap dengan judul yang sama. Kalau kamu tergoda dengan kesempatan lain, maka kamu akan memulai suatu produksi film dengan judul yang baru.
"Ya udah deh cong, gw mo tedur dulu. Ngantuk banget, gw dah gak bisa mikir".
Hmmm...mudah-mudahan akal pikiranmu bisa segar kembali esok, ketika kamu dan tunanganmu bertemu untuk sekedar makan malam (terlalu) romantis ala alay kalian yang sering saya olok-olok itu. Hubungan yang manis memang gak pernah luput dari cobaan, karena saya sendiri pun sudah pernah merasakan betapa hambarnya suatu hubungan yang berjalan tanpa sedikitpun batu sandungan. Sebagai salah satu sobatmu yang selalu menyumbang doa terbaik untuk dirimu, saya hanya bisa turut mendukung semua hal yang bisa membuatmu bahagia, karena kalian berdua hanya bisa berencana, saya hanya sekedar bisa berdoa, tapi sisanya hanya Tuhan yang berbicara. Apapun yang akan terjadi nanti, yang penting kamu harus berusaha semaksimal mungkin. Everything happen for a reason, rite hensem?
"If you love two people at the same time, choose the second one. Because if you really loved the first one, you wouldn't have fallen for the second" (Johnny Depp).
Sekali lagi, Selamat Hari Jadi, Happy Birthday, Joyeux Anniversaire, buat si konyol bersuara toa yang (mudah-mudahan) sebentar lagi melepas masa lajangnya itu. Doaku bersamamu sobat. Doa akan lebih afdol kalo esok ada undangan traktiran sih...jiahahaha (saya redho roma kok, mengalah sehari dari dadar guling barbie kesayanganmu itu untuk makan-makan ples ngakak-ngakak dipojok warung tongkrongan kita itu).
Jakarta, 8 Mei 2011. 03:45 waktu BB
Genteng Ijo 86, didalam kamar yang berhasil didekor ulang dengan tujuan membangkitkan semangat baru...hahay :D
Langganan:
Postingan (Atom)








