“Gw jemput yee…kita buka bareng dirumah bos besar gw”, bunyi bbm dari salah seorang sahabat terdekat saya yang sembunyi-sembunyi saya baca diwaktu training sedang berlangsung dihari Sabtu yang panas kemarin.
“Heee?? Trus gw mo nyolong boy ditengah-tengah orang kantor lu gitu?” jawab saya sambil pura-pura mencatat materi training.
“Udeee….kagak bakal ada yg kepo nanya-nanya kok…paling juga mereka ngiranya lu cewe gw yang baru apa istri gw yang gak pernah gw publish” balesan yang masuk agak-agak bikin saya ingin memukul kepala si lelaki perlente yang sudah saya kenal sejak jaman kuliah dulu.
“Jiahahahaha…ciyalannn…berani bayar brape lu, diluaran sana ngajak cewe buat pura-pura gitu mehong (mahal-red) tau!!! Ogah ahhh..lagian gw ada janji ketemu calon klien gw ntar sore,skalian dinner bareng. Abis dinner aje kita nongkrong dimana gitu”, Alhamdulillah saya ingat kalau ada janji sore itu, sehingga tidak mengurangi pahala puasa saya nanti, berbohong didepan ratusan teman-temannya yang seperti biasa memberondongi dengan pertanyaan “kapan kawin bro?”.
“Bah…gitu yee…sekarang sibuknye udah ngalah-ngalahin Ani Yudhoyono yee…ckckck…ya udah,last minute gak jadi meeting, lu bbm gw, tar gw segera meluncur jemput ndoro putri. Lagian malam minggu kok meeting!!!” tetep dong dia meracuni dengan segala godaan dibulan puasa itu, hahahaha.
Hmmmm….bukan pertama kali sih, saya…yang masih berstatus jomblo gembira ini dipinjam ato dimintai tolong, bahkan tak jarang dipaksa oleh beberapa sahabat yang merasa status jomblo mereka itu adalah masalah besar dalam lingkup pergaulan. Masalah khas para kalangan sosialita ibukota (halah), yang menjadi momok ketiga terbesar setelah tagihan kartu kredit di awal bulan dan pemutusan kontrak kerja bagi para karyawan kontrak (yak..dan saya makin ngelantur,hahaha).
Pernah suatu ketika, diminggu pagi yang indah, tiba-tiba saya dikejutkan dengan bunyi selular pintar kesayangan. Ternyata dari salah seorang sahabat (lagi), yang meminta saya segera mandi tanpa memperbolehkan saya bertanya, kemana gerangan saya akan dibawa. Dijalan dia cuma menginstruksikan untuk berpura-pura jadi calon tunangannya dia didepan keluarga besar ayahnya yang datang dari Jawa, sambil sibuk memperingatkan saya untuk berperilaku ayu bak putri keraton terutama cara berjalan saya jika berkebaya. What?!?! Emang ada acara apaan yah!?!?
Jrengg…jrenggg…sesampainya saya disana, langsung digiring kekamar rias gedung, disuruh mengenakan pakaian seragam khusus keluarga besar (kata sahabat saya “gak sia-sia gw nemenin lu beli baju selama 2 tahun mak, gw jadi tau ukuran lu yang rata depan belakang itu”…sialan), dimana didalamnya penuh dengan keluarga calon penganten yang merupakan sepupu dari pihak ayahnya, dan sebagian besar berisi ibu-ibu priyayi cerewet yang memberondong saya dengan segala pertanyaan khas keluarga yang ingin tau babat bibit bobot calon anggota baru keluarga mereka.
Hohoho… Jangan bilang nama saya Shinta kalau saya tidak bisa berdiplomasi dan menjawab dengan jawaban super manis plus tampang super kalem, sambil dalam hati mengutuk sahabat saya dan berjanji akan meminta “bayaran” yang sangat amat besar untuk peran dadakan kali ini. Hasilnya, seminggu penuh saya bebas makan direstoran seantero Jakarta manapun yang saya pilih, karena ternyata semua keluarganya puas dengan “hasil wawancara dadakan” mereka, dan membuat sahabat saya bebas dari upaya perjodohan yang akan dilakukan oleh keluarganya jikalau di acara tersebut sahabat saya datang sendirian. Ketika saya tanya “Lhaa…kalo nanti mereka nanya kapan kawin, lu mo jawab apa?”, dengan enteng sahabat saya menjawab “Ya gw jawab aja ntar “Aku masih mencoba ngenalin karakternya dia Bu De, nanti tak kabari kalau udah pasti tanggalnya. Lagian cewe jaman sekarang udah mandiri Bu De,nda bisa dipaksa, nanti lari, saya bingung nyari yang cocok lagi”….beresss, tar didiemin aja sampe sodara gw ada lagi yang kewong, baru nyari lagi yang laen. Kalo pas lu kebetulan ada di Jakarta, ya siap2 lagi ajah…hahahaha”.
Fenomena pasangan kagetan dikalangan anak Jakarta memang bukan hal baru. Diantara beberapa komunitas saya, memang banyak yang masih betah melajang, tentunya dengan berbagai alasan khas penghuni kota besar misalnya masih ingin bebas lah, belum ketemu yang pas lah, masih mengejar karir lah, dan lain lain, dan lain lain. Saya merupakan salah satunya yang mempunyai berjuta alasan untuk berkelit jika ditanyain “kok belum punya pacar?”. Untung saja di KTP tidak ada spesifikasi status seperti punya pacar atau tidak, hahahaha.
Tentu saja ada kelebihan dan kekurangan dari menjomblo seperti sekarang, apalagi dengan jiwa sosial yang rajin menolong seperti saya ini,hahahaha. Banyak teman dan sahabat yang sudah saya “tolong” ketika berada dalam keadaan “malas sendiri” ato “tidak boleh sendiri”. Sebenarnya sih, pada pelaksanaannya, saya tidak pernah meminta bayaran dalam bentuk apapun kok, karena saya tau persis, apa rasanya menghadapi berondongan tatapan sinis ingin tau atopun pertanyaan menghakimi dari “orang luar” yang ngasih makan pun tidak tapi sangat pengen tau urusan orang lain yang sangat banyak bertebaran disekeliling kami, para jomblo gembira ini. Cuma yah, mereka tau diri kok, ditengah jadwal saya yang padat merayap ala jalan Sudirman Thamrin jam 6 sore, ada rayuan plus upeti khusus yang wajib mereka siapkan agar saya mau meluangkan waktu *minta dilempar,hahaha.
Sebenarnya yang menjadi pertanyaan saya selama ini adalah “emang kenapa gitu harus jomblo? Takut dibilang gak laku? Takut dibilang penyuka sesama jenis? Takut dibilang terlalu sibuk lalu gak punya waktu nyari pasangan?”… Yellowwww… banyak banget hal yang harus ditakutkan dalam hidup kita tiap harinya, seharusnya yang harus kita takutin itu misalnya 5 tahun lagi, hal besar apa yang sudah kita capai yang beda daripada orang lain?, atau apakah kita sudah bisa membuat orang tua kita bahagia (setidaknya 1 hal yang benar-benar bisa dia banggakan kepada teman-temannya lah).
Buat saya, hidup terlalu biasa itu malah tidak masuk dalam kamus saya. Semakin ajaib, semakin menyenangkan. Untung keluarga inti saya sangat menghargai keputusan saya jomblo sampai sekarang. Semuanya kan memang tergantung kita menjelaskan kepada keluarga inti, mau dibawa kemana alur hidup kita. Pencapaian dan tujuan yang jelas, dijalani dengan cara unik khas saya, membuat saya tenang menghadapi segala pertanyaan seputar kejombloan ini. Tidak pernah lupa, sujud menyembah Sang Maha Pencipta segala keajaiban otak saya ini, karena tanpa kuasaNya, semua tidak akan pernah seindah dan semenyenangkan sekarang.
Sebagai sahabat yang baik, tentunya saya sering bertukar pikiran dengan para sahabat yang sering merasa kelabakan dengan status lajangnya itu. Tidak harus diterima mentah-mentah sih, namanya juga bertukar pendapat. Tak jarang, ada adu argumentasi untuk itu, karena saya juga sadar, masing-masing orang punya latar belajang yang berbeda, tergantung pemahaman mereka saja. Hidup itu pilihan, mau hanya sekedar menjalani dengan cara biasa untuk bertahan hidup atau mau ekstra berkreasi untuk menikmati hidup? Pilihan ada ditangan kita masing-masing kawan.
Walaupun ujung-ujungnya, tetap ada saja hal seperti ini:
Mereka: “Oke Shin, mulai sekarang gw akan bangga dan pede dengan status gw, peduli setan siapa yang nanya”
Saya: “Baguss!!! Gitu donk…kalo bukan kita yang mengawali rasa bangga terhadap diri sendiri, mo mengharapkan dari siapa lagi?” jawaban khas motivator dadakan saya keluar
Mereka: “Tapi Shin…hehehe…in case ada neh…kalo kalo neehh..gw lagi kejepit gak bisa ngeles, lu tetep mau gw ajak kan Shin?” diucapkan dengan mata berbinar kayak kucing ngarep ikan dari bawah meja
Saya: “Hadehhh…terserah lah!!! Asal lu pade mampu bayar tariff guwehhh!!!!”
“Be who you are and say what you feel, because those who mind don’t matter, and those who matter don’t mind.” *Dr. Seuss*
Didedikasikan untuk para sahabat lelaki saya, yang menganggap jomblo itu 3 P, Pilihan, Prestasi, dan Populer....jiahahahaha
Jakarta, 9 Agustus 2011
Menara BCA, ditengah meja kerja yang berantakan nauzubillah ditemani berbagai berkas dan deretan foto para orang kesayangan ^_^
09/08/11
01/08/11
Warna-Warni Cerita Ramadhan 1432H ala Shinta (Part 1)
Ramadhan buat saya, adalah bulan penuh cerita. Yeap, seperti cerita2 Ramadhan tahun-tahun sebelumnya yang berwarna warni, bukan hanya melulu cerita sedih dan mendayu.
Semalam, saya sholat tarawih dimushala dekat dengan kostan. Menurut hasil survey saya selama empat tahun menjadi penghuni daerah kuningan dan sekitarnya, mushala yang terletak disamping SD Inpres itu, mempunyai beberapa keuntungan yang menjadi pertimbangan “layak tidaknya” menjadi mushala favorit saya (halahhh). Rakaatnya yang berjumlah 23 (sejak kecil terbiasa sholat dimesjid yang juga melaksanakan shalat taraweh plus witir sebanyak itu), tempat wudhunya yang dekat dengan tempat jamaah wanita, wc nya bersih dan banyak airnya (kalo kebelet bisa gampang kabur ke wc), para warga yang ramah dan bersahaja (raut wajah tulus dengan pakaian sederhana namun bersih, lebih berkesan buat saya, ketimbang para penghuni mesjid elit yang selesai sholat jamaah sibuk dengan gadget masing-masing ato sibuk memoles kembali riasan mereka), juga alasan yang mungkin gak penting buat sebagian orang tapi sangat amat penting sekali buat saya, dimushala sekecil itu, disediakan air minum kemasan dalam gelas yang bisa diambil sebanyak-banyaknya (sampai sekarang saya penasaran,siapa penyumbang mulia yang selalu berbaik hati menyediakan minuman untuk para jamaah tersebut).
Saya yang hobi datang mepet setelah adzan, pada hari-hari pertama selalu saja kebagian di saf belakang. Semalam, seperti biasa, saya juga datang telat (bangga…hahahaha). Tapi bukan Shinta namanya kalo tidak bisa menemukan tempat nyaman, strategis plus dinamis diantara para jamaah wanita yang sudah siap untuk sholat. Selip kiri, selip kanan, dapatlah tempat lumayan cihuy dideretan kedua….lumayan :D
Sholat Isya dan Tarawih dijalanin seperti biasa, tidak ada adegan salah berdiri atopun salah baca hafalan dari sang imam (maklum, salah satu khasnya mushalal ini adalah imamnya yang sudah lumayan sepuh, setahun sekali selama Ramadhan, pasti ada aja ulah lucu sang imam disebabkan factor “U”).
Cerita lucu pertama diawal Ramadhan tahun ini terjadi ketika sholat selesai. Saya, yang malas terburu-buru, melipat mukena dan sajadah dengan khusyuk dan syahdu, kalem bak permaisuri raja menyisir rambut alias pelan sepelan angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil “Dri…Dri…ayok pulang”….sambil melipat dan tanpa melihat kearah datangnya suara, saya membatin “kasian amat Dri ini, masih mau maen tapi udah diajak pulang sama bapaknya”. Lambat laun, panggilan itu berkurang hanya dengan kata-kata “Dri...Dri…Dri…” tapi dengan intonasi yang makin lama makin tinggi. Saya, lagi lagi membatin “doelahh pak…esok mo puasa…sabar nape…kesian anaknya, jarang-jarang main dimalem Ramadhan, ntar kalo udah gede, biar bisa ada ceritanya, tentang kenangan Ramadhan”. Tapi kok lama-lama saya jadi berpikir, ini anak kok memang agak-agak kurang hajar, daritadi dipanggil, sekalipun dia tidak menyahut. Padahal, saya dulu waktu masih bocah (dan mungkin pengalaman semua anak-anak dijaman saya), sekali mendengar orang tua memanggil, harus menyahut, tanda bahwa kita menghormati orang yang lebih tua (bukankah semua norma dimuka bumi ini memang mengharuskan seperti itu). Apalagi, nda suara si bapak makin meninggi, dan sudah lumayan mengusik saya daritadi.
Mau tidak mau, untuk memenuhi rasa penasaran, saya pun mendongak untuk melihat kearah suara. Tampak didepan saya kepala bapak-bapak yang sedaritadi memanggil-manggil anaknya, menyembul dari arah pembatas antara tempat sholat jamaah pria dan wanita. Ekspresi kaget dari wajah si bapak, membuat saya heran. Saya pun bertanya “Kenapa Pak?” dan tau apa jawabannya si bapak “Eh…maaf mas, saya kira Andri ponakan saya”….Yakkk Jlesekkkkk…kalo diandaikan adegan film kartun, ada puluhan pisau yang nancap dikepala saya. Ternyata eh ternyata, yang dipanggil-panggil oleh si bapak tadi itu saya, yang dikira ponakannya. Dan yang lebih parah lagi, walaupun saya sudah menengadah keatas, tetap saja saya dipanggil mas sama si bapak-bapak itu….Jiahahahaha…antara ingin ketawa ngakak sama manyun, kira-kira itulah ekspresi campuran wajah saya semalam…sambil berharap dalam hati, mudah-mudahan si Andri yang sebenarnya itu beneran cakep kayak saya…jiahahahaha…eitzzz…jangan pada protes, lagi puasa neh…mohon maaf lahir batin yeee ^_^v
*ini lho sosok si cutie dan manis yang semalam dikira Andri -.-"
Semalam, saya sholat tarawih dimushala dekat dengan kostan. Menurut hasil survey saya selama empat tahun menjadi penghuni daerah kuningan dan sekitarnya, mushala yang terletak disamping SD Inpres itu, mempunyai beberapa keuntungan yang menjadi pertimbangan “layak tidaknya” menjadi mushala favorit saya (halahhh). Rakaatnya yang berjumlah 23 (sejak kecil terbiasa sholat dimesjid yang juga melaksanakan shalat taraweh plus witir sebanyak itu), tempat wudhunya yang dekat dengan tempat jamaah wanita, wc nya bersih dan banyak airnya (kalo kebelet bisa gampang kabur ke wc), para warga yang ramah dan bersahaja (raut wajah tulus dengan pakaian sederhana namun bersih, lebih berkesan buat saya, ketimbang para penghuni mesjid elit yang selesai sholat jamaah sibuk dengan gadget masing-masing ato sibuk memoles kembali riasan mereka), juga alasan yang mungkin gak penting buat sebagian orang tapi sangat amat penting sekali buat saya, dimushala sekecil itu, disediakan air minum kemasan dalam gelas yang bisa diambil sebanyak-banyaknya (sampai sekarang saya penasaran,siapa penyumbang mulia yang selalu berbaik hati menyediakan minuman untuk para jamaah tersebut).
Saya yang hobi datang mepet setelah adzan, pada hari-hari pertama selalu saja kebagian di saf belakang. Semalam, seperti biasa, saya juga datang telat (bangga…hahahaha). Tapi bukan Shinta namanya kalo tidak bisa menemukan tempat nyaman, strategis plus dinamis diantara para jamaah wanita yang sudah siap untuk sholat. Selip kiri, selip kanan, dapatlah tempat lumayan cihuy dideretan kedua….lumayan :D
Sholat Isya dan Tarawih dijalanin seperti biasa, tidak ada adegan salah berdiri atopun salah baca hafalan dari sang imam (maklum, salah satu khasnya mushalal ini adalah imamnya yang sudah lumayan sepuh, setahun sekali selama Ramadhan, pasti ada aja ulah lucu sang imam disebabkan factor “U”).
Cerita lucu pertama diawal Ramadhan tahun ini terjadi ketika sholat selesai. Saya, yang malas terburu-buru, melipat mukena dan sajadah dengan khusyuk dan syahdu, kalem bak permaisuri raja menyisir rambut alias pelan sepelan angin sepoi-sepoi. Tiba-tiba saya mendengar suara yang memanggil-manggil “Dri…Dri…ayok pulang”….sambil melipat dan tanpa melihat kearah datangnya suara, saya membatin “kasian amat Dri ini, masih mau maen tapi udah diajak pulang sama bapaknya”. Lambat laun, panggilan itu berkurang hanya dengan kata-kata “Dri...Dri…Dri…” tapi dengan intonasi yang makin lama makin tinggi. Saya, lagi lagi membatin “doelahh pak…esok mo puasa…sabar nape…kesian anaknya, jarang-jarang main dimalem Ramadhan, ntar kalo udah gede, biar bisa ada ceritanya, tentang kenangan Ramadhan”. Tapi kok lama-lama saya jadi berpikir, ini anak kok memang agak-agak kurang hajar, daritadi dipanggil, sekalipun dia tidak menyahut. Padahal, saya dulu waktu masih bocah (dan mungkin pengalaman semua anak-anak dijaman saya), sekali mendengar orang tua memanggil, harus menyahut, tanda bahwa kita menghormati orang yang lebih tua (bukankah semua norma dimuka bumi ini memang mengharuskan seperti itu). Apalagi, nda suara si bapak makin meninggi, dan sudah lumayan mengusik saya daritadi.
Mau tidak mau, untuk memenuhi rasa penasaran, saya pun mendongak untuk melihat kearah suara. Tampak didepan saya kepala bapak-bapak yang sedaritadi memanggil-manggil anaknya, menyembul dari arah pembatas antara tempat sholat jamaah pria dan wanita. Ekspresi kaget dari wajah si bapak, membuat saya heran. Saya pun bertanya “Kenapa Pak?” dan tau apa jawabannya si bapak “Eh…maaf mas, saya kira Andri ponakan saya”….Yakkk Jlesekkkkk…kalo diandaikan adegan film kartun, ada puluhan pisau yang nancap dikepala saya. Ternyata eh ternyata, yang dipanggil-panggil oleh si bapak tadi itu saya, yang dikira ponakannya. Dan yang lebih parah lagi, walaupun saya sudah menengadah keatas, tetap saja saya dipanggil mas sama si bapak-bapak itu….Jiahahahaha…antara ingin ketawa ngakak sama manyun, kira-kira itulah ekspresi campuran wajah saya semalam…sambil berharap dalam hati, mudah-mudahan si Andri yang sebenarnya itu beneran cakep kayak saya…jiahahahaha…eitzzz…jangan pada protes, lagi puasa neh…mohon maaf lahir batin yeee ^_^v
*ini lho sosok si cutie dan manis yang semalam dikira Andri -.-"
16/06/11
Bersinarlah Terang, Bintang Kecilku :)
Waktu itu, saya lupa tepatnya bulan apa. Tapi yang saya ingat persis, sosok itu berdiri ditangga mall yang sedang ramai,mengamati orang lalu lalang, terlihat mencolok karena perawakannya yang ajaib. Berdiri tersembunyi dibelakang teman-teman seangkatannya, bergerombol menyongsong kakak tingkat se-fakultas mereka,yang kala itu sedang "dekat" dengan saya.
Sosok urakan, berambut kribo mengembang layaknya Edi Brokoli, penyanyi yang lagi happening jaman kami kuliah dulu. Gaya cuek, berwajah garang, dan sangat sangat sangat menunjukkan kepremanannya, yang menyapa kakak kebanggaan mereka, yang saat itu sedang jalan-jalan di mall bersama saya. Maka saya pun dikenalkan dengan segerombolan mahasiswa baru fakultas yang bangga dengan warna merahnya tersebut, termasuk salah satunya dengan sosok unik yang menarik perhatian saya itu. Ketika itu dia menyebut namanya dengan pelan namun penuh penekanan "Chiko".
Itulah awal perkenalan saya dengan lelaki berwajah garang, namun kelak menjadi adik kecil saya yang sangat manja dan senang merengek. Adik lelaki yang tidak pernah saya dapatkan sejak kecil, yang membuat saya merasa "saya jadi kakak lho...saya udah gede lhoo". Teman-teman saya dulu mungkin banyak yang mencibir, bahkan meledek, untuk apa dekat dengan preman, paling-paling adik seperti itu, hanya akan kuat sampai semester kedua, dan berakhir di ukm pencinta alam dan akhirnya jadi mahasiswa abadi yang kerjaannya nongkrong dan mabuk dikampus. Tapi entah kenapa, sorot mata tegas dibalik sosok preman kribo itu, menjadi magnet saya untuk terus membelanya, dan menegaskan kepada diri saya sendiri, bahwa saya tidak salah dalam memilih teman sekaligus saudara seorganisasi.
Chiko, diambil dari nama pemain bola kegemaran ayahnya, Zico. Tapi Zico kecil tidak bisa melafazkan dengan baik huruf Z, jadilah dia menamai dirinya "Chiko". Chiko, si preman yang senang berkelahi, sampai-sampai harus pindah sekolah pas kelas 3 SMU, gara-gara kenakalannya yang katanya sering membuat mamanya pusing tujuh keliling. Chiko, yang saat pertama menjadi anak baru, hanyalah seorang mantan preman SMU, yang mencoba peruntungan dibangku kuliah. Menjadi dekat dengan saya, sejak saya sering meminta tolong dirinya untuk menyetirkan mobil orang tua saya, yang sering saya pinjam, baik untuk kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus, maupun untuk kegiatan pdkt saya dengan si kakak tingkatnya yang tadi saya sebutkan diawal cerita.
Chiko, adalah penyemangat saya kala itu, bersama kata-kata motivasi khas mak comblang, dia selalu berhasil membuat saya tertawa dikala derasnya airmata ketika saya putus asa dalam usaha pdkt yang selalu saja ada halangannya. Anak yang lucu dan pintar, itulah kesan pertama saya. Selalu menganggap saya kakak panutan tempat dia berkiblat, tanpa ragu memuji-muji saya didepan teman-temannya (sampai-sampai saat itu dia sempat dibenci teman-teman cewek sefakultasnya yang ngefans dengan si kakak tingkat yang nauzubilah ngetop seantero mesjid kampus), dalam rangka menjadi tim sukses demi keberhasilan pdkt saya, si kakak angkat, dengan si kakak tingkat.
Chiko, adik saya yang manis, selalu ringan tangan, membantu apapun yang saya minta, sehingga terkadang saya malah suka keterlaluan untuk menyuruh ini itu kepadanya. "De, tolong ambilin ini-itu", "De, kakak nanti mo kesini,kamu ikut yah anterin", "De,ntar malam ajarin kakak nyetir", "De...De...De..." Blablabla...pokoknya tak terhitung kalimat-kalimat bernada perintah yang tak jarang membuat dia kesal,kemudian merajuk,hahaha.
Kami juga sering melakukan hal gila berdua, seperti bermain bilyard, nongkrong di mall, sampai ngebut dijalan raya pada saat jam sudah menunjukkan dini hari, dan pernah berhasil dengan sukses menabrak mobil pengangkut sayur plus mikrolet yang sedang parkir (tak terlukiskan kepanikan diwajah saya dan Chiko waktu menghadapi si empunya mikrolet yang ternyata anggota kepolisian,ahahaha).
Kami juga sering bertengkar, layaknya hubungan kakak dan adik kandung, yang juga pasti tertimpa masalah. Walaupun begitu, kami berdua selalu menemukan cara untuk meminta maaf, dan akhirnya bisa tertawa kembali. Chiko juga pelan-pelan belajar berproses dalam berorganisasi, baik organisasi intra, maupun ekstra kampus. Sosoknya yang urakan, perlahan mulai terbentuk menjadi sosok yang berwibawa. Sosok manja dan kekanakkan, perlahan mulai menjadi dewasa, seiring dengan proses dia di organisasi yang dia geluti.
Dalam hal percintaan, saya juga sempat mendampingi adik tersayang saya ini dalam masa-masa pedekate, sampai masa-masa dimana dia berusaha menyembunyikan raut frustasinya karena persoalan cinta ecek-ecek khas mahasiswa kami dulu,hahaha.
Akhir 2005, setelah berkelana kesana kemari, pacaran sana sini, dia mengenal sosok gadis seangkatannya, yang kebetulan sefakultas dengan saya, gadis yang awalnya merupakan incaran saudara sekaligus sahabat Chiko sedari kecil, namun entah kenapa bisa juga kepincut dengan kemanismaduan mulut si kribo lucu kesayangan saya ini. Entah darimana kesaktian ilmunya sampai berhasil membuat gadis imut itu bertekuk lutut padanya. Suka duka mereka berdua, kadang menjadi hiburan bagi saya (hahaha), tapi juga tak jarang menjadi menjadi bahan pelajaran untuk kumpulan cerita pengalaman kehidupan saya. Kami, saling mengajarkan berbagai ilmu. Ilmu berorganisasi, ilmu bersosialisi, ilmu bertoleransi, dan berbagai ilmu-lmu yang sangat berguna dalam kehidupan kami.
Awal 2006, saya meninggalkan kota kelahiran saya untuk mengadu nasib dipulau Jawa. Pagi-pagi benar saya sudah menjemput Chiko di asrama. Mata berair, rambut acak-acakan, dan muka lecek seperti biasa, tetapi dengan semangat 45 menyambut saya, mama, dan pacarnya (si imut yang juga sangat dekat dengan saya, dan memang sengaja menginap dirumah saya untuk mengantar pagi-pagi), menjemputnya untuk bersama-sama mengantar di bandara. Lelucon-lelucon selama kami menunggu pesawat, tidak menyurutkan raut sedih dimata saya, yang sedikit tersembunyi dibalik canda tawa ceria khas saya. Di Jawa, saya akan memulai perjuangan sendiri, memulai pertemanan baru, dan saya khawatir, tidak akan menemukan sosok adik sekaligus sahabat seperti Chiko. Tetapi, melihat dia yang tampak gembira dengan pacar barunya, perlahan saya lega, setidaknya ada yang menjaga dan memperhatikan adik saya itu.
Hari, bulan, tahun terasa sangat cepat berlalu. Awal-awal kepulangan saya untuk mudik ke kampung, masih menghibur saya. Chiko, seperti biasa selalu menyambut saya dengan canda tawa dan ledekannya yang menyindir hubungan saya dengan si kakak tingkat yang juga menyusul ke pulau Jawa, yang kandas ditengah jalan. Chiko juga, masuk dalam prioritas daftar oleh-oleh ala kadarnya yang saya bawa setiap mudik ke kampung halaman. Wajahnya yang riang memamerkan oleh-olehnya pada teman-teman asramanya, membuat saya merasa "benar-benar pulang". Tetapi, pada tahun-tahun kepulangan saya berikutnya, saya seperti kehilangan sosok adik saya. Chiko, seiring dengan kegiatan organisasinya yang mulai menggerogoti waktunya, mulai menjadi sosok asing yang hampir tidak saya kenali. Sosok berwibawa yang disatu sisi membuat saya berbangga karena bisa melihat hasil kaderisasi kami para senior, tetapi disisi lain, membuat saya kehilangan sosok adik sekaligus sahabat saya. Entah kenapa, Chiko perlahan jauh dari jangkauan saya. Tapi ahhh...buat saya, selama itu semua demi perkembangan prestasinya, saya sebagai kakak hanya bisa turut memberi dukungan dan berdoa saja.
Tahun 2010 kemarin, Chiko sempat tinggal agak lama di ibukota, tempat saya juga mengadu nasib. Dia sedang berjuang untuk mencapai posisi puncak organisasi paguyuban kampung kami, di tingkatan nasional. Terharu rasanya melihat cara Chiko beradu argumen dan mengemukakan pendapat, sungguh terstruktur dan pola kalimat yang dipilih pun sudah sangat teratur. Ahh...adik saya hebat, begitu selalu kalimat yang saya ulang-ulang dalam hati. Bahkan, waktu itu Chiko juga sempat ikut dalam misi gila saya, membuat video sebagai hadiah ulang tahun mantan tunangan saya...hahaha. Saya masih ingat dengan jelas kalimat komplain darinya "kakak...kakak...kreatif cenderung gilanya kakak ternyata belum berubah", ketika saya nekad keliling Jakarta demi berburu "bahan2" video tersebut. Bahkan Chiko juga satu-satunya orang yang saya telepon ketika saya nekad ke tempat prostitusi waria terbesar di ibukota, lagi-lagi untuk berburu bahan video. Setengah berteriak dia menelpon saya "kak...udah sih...tengah malam gini mbok yah tidur, udah tua,masih aja nekad"..hahaha...kasian, dia hanya khawatir yang berlebihan kepada kakaknya yang lucu ini.
Adik saya itu, ternyata tidak pernah berubah. Dia hanya bertambah dewasa. Pengalaman hidup mengajarkan dia banyak hal yang berguna, yang membuat pola pikirnya makin terasah. Salah satu kebanggaan saya adalah ketika ditengah kesibukannya dalam suksesi pemilihan ketua umum, dia berhasil menyelesaikan sarjananya yang sempat tertunda-tunda. Dan sekarang, tampuk pimpinan ketua umum juga telah berada ditangannya. Tidak berlebihan bukan, jika saya sebagai kakak, bangga padanya?!?!
Hari ini, Chiko dikaruniai pertambahan usia. Dua hari lagi, dia akan mempersunting si gadis imut tambatan hatinya sedari kuliah. "Akhirnyaaaa"...itu kata pertama saya ketika kabar gembira tersebut mampir ditelinga saya. Perjuangan mereka berdua, mendewasa bersama, berujung dimeja penghulu dan KUA. Keputusan berani, mengingat saya saja sang kakak, belum terpikir untuk mengganti status lajang diberbagai kartu indentitas, dengan status menikah, hahahaha.
Terbang tinggi, adikku yang manis. Jadilah salah satu bintang yang bersinar terang dilangit, sehingga setiap orang bisa menikmati elok pijarmu. Buatlah kami, orang-orang yang menyayangimu, bangga dengan segala pencapaianmu. Kalau dulu dia selalu bilang dengan sesumbar kepada teman-teman sejawatnya "Ini kakak saya, kakak saya yang hebat, kakak yang sayang sama saya, mana kakak kalian?"...sekarang, malah saya yang dengan dada membuncah bangga mengatakan "Itu adik saya yang hebat, dari dulu sampai sekarang, apapun yang terjadi, saya bangga sekali bisa jadi kakaknya".
"Hidup anda berubah saat Anda menyadari bahwa teman-teman Anda, orang-orang terdekat Anda, memberikan hidup mereka supaya Anda tetap hidup". (Robert T. Kiyosaki)
Chiko dan Mitha, Selamat menyongsong perjalanan bahtera rumah tangga yang baru. Beribu sesal dihati ini karena tidak bisa menyaksikan langsung prosesi kalian memasuki jenjang prestisius sekali seumur hidup. Semoga Tuhan menjadikan kalian keluarga samara.
Selamat Ulang Tahun De'...dari ujung pulau Jawa, kakak cuma bisa berdoa, semoga selalu ingat pesan kakak, jadilah pemimpin yang amanah dan bijaksana. Amin
Jakarta, 16 Juni 2011. Pukul 03.12 a.m
Genteng Ijo 86, menahan ngantuk yang menggila, demi menyelesaikan sedikit hadiah, untuk salah seorang saudara sekaligus sahabat tercinta :)
Sosok urakan, berambut kribo mengembang layaknya Edi Brokoli, penyanyi yang lagi happening jaman kami kuliah dulu. Gaya cuek, berwajah garang, dan sangat sangat sangat menunjukkan kepremanannya, yang menyapa kakak kebanggaan mereka, yang saat itu sedang jalan-jalan di mall bersama saya. Maka saya pun dikenalkan dengan segerombolan mahasiswa baru fakultas yang bangga dengan warna merahnya tersebut, termasuk salah satunya dengan sosok unik yang menarik perhatian saya itu. Ketika itu dia menyebut namanya dengan pelan namun penuh penekanan "Chiko".
Itulah awal perkenalan saya dengan lelaki berwajah garang, namun kelak menjadi adik kecil saya yang sangat manja dan senang merengek. Adik lelaki yang tidak pernah saya dapatkan sejak kecil, yang membuat saya merasa "saya jadi kakak lho...saya udah gede lhoo". Teman-teman saya dulu mungkin banyak yang mencibir, bahkan meledek, untuk apa dekat dengan preman, paling-paling adik seperti itu, hanya akan kuat sampai semester kedua, dan berakhir di ukm pencinta alam dan akhirnya jadi mahasiswa abadi yang kerjaannya nongkrong dan mabuk dikampus. Tapi entah kenapa, sorot mata tegas dibalik sosok preman kribo itu, menjadi magnet saya untuk terus membelanya, dan menegaskan kepada diri saya sendiri, bahwa saya tidak salah dalam memilih teman sekaligus saudara seorganisasi.
Chiko, diambil dari nama pemain bola kegemaran ayahnya, Zico. Tapi Zico kecil tidak bisa melafazkan dengan baik huruf Z, jadilah dia menamai dirinya "Chiko". Chiko, si preman yang senang berkelahi, sampai-sampai harus pindah sekolah pas kelas 3 SMU, gara-gara kenakalannya yang katanya sering membuat mamanya pusing tujuh keliling. Chiko, yang saat pertama menjadi anak baru, hanyalah seorang mantan preman SMU, yang mencoba peruntungan dibangku kuliah. Menjadi dekat dengan saya, sejak saya sering meminta tolong dirinya untuk menyetirkan mobil orang tua saya, yang sering saya pinjam, baik untuk kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus, maupun untuk kegiatan pdkt saya dengan si kakak tingkatnya yang tadi saya sebutkan diawal cerita.
Chiko, adalah penyemangat saya kala itu, bersama kata-kata motivasi khas mak comblang, dia selalu berhasil membuat saya tertawa dikala derasnya airmata ketika saya putus asa dalam usaha pdkt yang selalu saja ada halangannya. Anak yang lucu dan pintar, itulah kesan pertama saya. Selalu menganggap saya kakak panutan tempat dia berkiblat, tanpa ragu memuji-muji saya didepan teman-temannya (sampai-sampai saat itu dia sempat dibenci teman-teman cewek sefakultasnya yang ngefans dengan si kakak tingkat yang nauzubilah ngetop seantero mesjid kampus), dalam rangka menjadi tim sukses demi keberhasilan pdkt saya, si kakak angkat, dengan si kakak tingkat.
Chiko, adik saya yang manis, selalu ringan tangan, membantu apapun yang saya minta, sehingga terkadang saya malah suka keterlaluan untuk menyuruh ini itu kepadanya. "De, tolong ambilin ini-itu", "De, kakak nanti mo kesini,kamu ikut yah anterin", "De,ntar malam ajarin kakak nyetir", "De...De...De..." Blablabla...pokoknya tak terhitung kalimat-kalimat bernada perintah yang tak jarang membuat dia kesal,kemudian merajuk,hahaha.
Kami juga sering melakukan hal gila berdua, seperti bermain bilyard, nongkrong di mall, sampai ngebut dijalan raya pada saat jam sudah menunjukkan dini hari, dan pernah berhasil dengan sukses menabrak mobil pengangkut sayur plus mikrolet yang sedang parkir (tak terlukiskan kepanikan diwajah saya dan Chiko waktu menghadapi si empunya mikrolet yang ternyata anggota kepolisian,ahahaha).
Kami juga sering bertengkar, layaknya hubungan kakak dan adik kandung, yang juga pasti tertimpa masalah. Walaupun begitu, kami berdua selalu menemukan cara untuk meminta maaf, dan akhirnya bisa tertawa kembali. Chiko juga pelan-pelan belajar berproses dalam berorganisasi, baik organisasi intra, maupun ekstra kampus. Sosoknya yang urakan, perlahan mulai terbentuk menjadi sosok yang berwibawa. Sosok manja dan kekanakkan, perlahan mulai menjadi dewasa, seiring dengan proses dia di organisasi yang dia geluti.
Dalam hal percintaan, saya juga sempat mendampingi adik tersayang saya ini dalam masa-masa pedekate, sampai masa-masa dimana dia berusaha menyembunyikan raut frustasinya karena persoalan cinta ecek-ecek khas mahasiswa kami dulu,hahaha.
Akhir 2005, setelah berkelana kesana kemari, pacaran sana sini, dia mengenal sosok gadis seangkatannya, yang kebetulan sefakultas dengan saya, gadis yang awalnya merupakan incaran saudara sekaligus sahabat Chiko sedari kecil, namun entah kenapa bisa juga kepincut dengan kemanismaduan mulut si kribo lucu kesayangan saya ini. Entah darimana kesaktian ilmunya sampai berhasil membuat gadis imut itu bertekuk lutut padanya. Suka duka mereka berdua, kadang menjadi hiburan bagi saya (hahaha), tapi juga tak jarang menjadi menjadi bahan pelajaran untuk kumpulan cerita pengalaman kehidupan saya. Kami, saling mengajarkan berbagai ilmu. Ilmu berorganisasi, ilmu bersosialisi, ilmu bertoleransi, dan berbagai ilmu-lmu yang sangat berguna dalam kehidupan kami.
Awal 2006, saya meninggalkan kota kelahiran saya untuk mengadu nasib dipulau Jawa. Pagi-pagi benar saya sudah menjemput Chiko di asrama. Mata berair, rambut acak-acakan, dan muka lecek seperti biasa, tetapi dengan semangat 45 menyambut saya, mama, dan pacarnya (si imut yang juga sangat dekat dengan saya, dan memang sengaja menginap dirumah saya untuk mengantar pagi-pagi), menjemputnya untuk bersama-sama mengantar di bandara. Lelucon-lelucon selama kami menunggu pesawat, tidak menyurutkan raut sedih dimata saya, yang sedikit tersembunyi dibalik canda tawa ceria khas saya. Di Jawa, saya akan memulai perjuangan sendiri, memulai pertemanan baru, dan saya khawatir, tidak akan menemukan sosok adik sekaligus sahabat seperti Chiko. Tetapi, melihat dia yang tampak gembira dengan pacar barunya, perlahan saya lega, setidaknya ada yang menjaga dan memperhatikan adik saya itu.
Hari, bulan, tahun terasa sangat cepat berlalu. Awal-awal kepulangan saya untuk mudik ke kampung, masih menghibur saya. Chiko, seperti biasa selalu menyambut saya dengan canda tawa dan ledekannya yang menyindir hubungan saya dengan si kakak tingkat yang juga menyusul ke pulau Jawa, yang kandas ditengah jalan. Chiko juga, masuk dalam prioritas daftar oleh-oleh ala kadarnya yang saya bawa setiap mudik ke kampung halaman. Wajahnya yang riang memamerkan oleh-olehnya pada teman-teman asramanya, membuat saya merasa "benar-benar pulang". Tetapi, pada tahun-tahun kepulangan saya berikutnya, saya seperti kehilangan sosok adik saya. Chiko, seiring dengan kegiatan organisasinya yang mulai menggerogoti waktunya, mulai menjadi sosok asing yang hampir tidak saya kenali. Sosok berwibawa yang disatu sisi membuat saya berbangga karena bisa melihat hasil kaderisasi kami para senior, tetapi disisi lain, membuat saya kehilangan sosok adik sekaligus sahabat saya. Entah kenapa, Chiko perlahan jauh dari jangkauan saya. Tapi ahhh...buat saya, selama itu semua demi perkembangan prestasinya, saya sebagai kakak hanya bisa turut memberi dukungan dan berdoa saja.
Tahun 2010 kemarin, Chiko sempat tinggal agak lama di ibukota, tempat saya juga mengadu nasib. Dia sedang berjuang untuk mencapai posisi puncak organisasi paguyuban kampung kami, di tingkatan nasional. Terharu rasanya melihat cara Chiko beradu argumen dan mengemukakan pendapat, sungguh terstruktur dan pola kalimat yang dipilih pun sudah sangat teratur. Ahh...adik saya hebat, begitu selalu kalimat yang saya ulang-ulang dalam hati. Bahkan, waktu itu Chiko juga sempat ikut dalam misi gila saya, membuat video sebagai hadiah ulang tahun mantan tunangan saya...hahaha. Saya masih ingat dengan jelas kalimat komplain darinya "kakak...kakak...kreatif cenderung gilanya kakak ternyata belum berubah", ketika saya nekad keliling Jakarta demi berburu "bahan2" video tersebut. Bahkan Chiko juga satu-satunya orang yang saya telepon ketika saya nekad ke tempat prostitusi waria terbesar di ibukota, lagi-lagi untuk berburu bahan video. Setengah berteriak dia menelpon saya "kak...udah sih...tengah malam gini mbok yah tidur, udah tua,masih aja nekad"..hahaha...kasian, dia hanya khawatir yang berlebihan kepada kakaknya yang lucu ini.
Adik saya itu, ternyata tidak pernah berubah. Dia hanya bertambah dewasa. Pengalaman hidup mengajarkan dia banyak hal yang berguna, yang membuat pola pikirnya makin terasah. Salah satu kebanggaan saya adalah ketika ditengah kesibukannya dalam suksesi pemilihan ketua umum, dia berhasil menyelesaikan sarjananya yang sempat tertunda-tunda. Dan sekarang, tampuk pimpinan ketua umum juga telah berada ditangannya. Tidak berlebihan bukan, jika saya sebagai kakak, bangga padanya?!?!
Hari ini, Chiko dikaruniai pertambahan usia. Dua hari lagi, dia akan mempersunting si gadis imut tambatan hatinya sedari kuliah. "Akhirnyaaaa"...itu kata pertama saya ketika kabar gembira tersebut mampir ditelinga saya. Perjuangan mereka berdua, mendewasa bersama, berujung dimeja penghulu dan KUA. Keputusan berani, mengingat saya saja sang kakak, belum terpikir untuk mengganti status lajang diberbagai kartu indentitas, dengan status menikah, hahahaha.
Terbang tinggi, adikku yang manis. Jadilah salah satu bintang yang bersinar terang dilangit, sehingga setiap orang bisa menikmati elok pijarmu. Buatlah kami, orang-orang yang menyayangimu, bangga dengan segala pencapaianmu. Kalau dulu dia selalu bilang dengan sesumbar kepada teman-teman sejawatnya "Ini kakak saya, kakak saya yang hebat, kakak yang sayang sama saya, mana kakak kalian?"...sekarang, malah saya yang dengan dada membuncah bangga mengatakan "Itu adik saya yang hebat, dari dulu sampai sekarang, apapun yang terjadi, saya bangga sekali bisa jadi kakaknya".
"Hidup anda berubah saat Anda menyadari bahwa teman-teman Anda, orang-orang terdekat Anda, memberikan hidup mereka supaya Anda tetap hidup". (Robert T. Kiyosaki)
Chiko dan Mitha, Selamat menyongsong perjalanan bahtera rumah tangga yang baru. Beribu sesal dihati ini karena tidak bisa menyaksikan langsung prosesi kalian memasuki jenjang prestisius sekali seumur hidup. Semoga Tuhan menjadikan kalian keluarga samara.
Selamat Ulang Tahun De'...dari ujung pulau Jawa, kakak cuma bisa berdoa, semoga selalu ingat pesan kakak, jadilah pemimpin yang amanah dan bijaksana. Amin
Jakarta, 16 Juni 2011. Pukul 03.12 a.m
Genteng Ijo 86, menahan ngantuk yang menggila, demi menyelesaikan sedikit hadiah, untuk salah seorang saudara sekaligus sahabat tercinta :)
11/05/11
65 Tahun Abdul Rauf Saloewa: Napak Tilas dimata anak-anaknya
Papa, begitu sosok gagah bertinggi 181cm dengan berat 70 kg itu akrab saya sapa.
Sejak kecil, saya tidak begitu akrab dengan papa, karena papa sosok yang pendiam. Jauh dari kesan hangat. Saya malah sempat iri mendengar penuturan teman-teman sekantornya dulu, bahwa betapa lucunya bayolan papa dikantor. Bayangkan, sosok dingin nan pendiam dirumah itu, menjadi seorang pelawak penuh humor dimata teman-temannya. Anak mana yang tidak akan iri mendengarnya. Tanpa sadar, karakter saya pun terbentuk seperti layaknya papa. Menjadi sosok yang cuek dirumah sendiri, tetapi sosok yang super gaul dimata teman-teman saya. Bahkan, tanpa saya dan kakak sadar, sosok lelaki tenang dan misterius seperti papa yang menjadi kriteria kami dalam mencari pendamping, hahaha. Sosok yang kata mama sulit dimengerti tapi bersorot mata meminta dipahami. Jadi, merupakan suatu kesempatan yang langka jika kami anggota keluarga inti bisa membuat papa sekedar tersenyum apalagi tertawa.
Saya, sebenarnya merupakan anak ketiga, kalau saja kakak kedua saya tidaklah meninggal dalam kandungan mama pada umur 5 bulan. Mungkin papa mengharapkan anak laki-laki yang bisa menemani beliau membetulkan genteng, lari pagi kemudian memancing ikan dipantai atau sekedar bermain badminton sore-sore. Dulu banyak saudara kami yang berkelakar "sebenarnya yang diharapkan lahir itu lelaki, nanti mo dinamain Sandi. Eh, yang lahir kamu". Sempat berpikir, cueknya papa kepada saya, karena saya bukan anak lelaki yang dia harapkan hadir sebagai miniatur dirinya.
Papa, ibarat nomer telepon siaga 24 jam. Mempunyai slogan "SIAGA dan LAKSANAKAN". Genteng bocor, tinggal teriak "Pa, genteng bocor". Ledeng rusak "Pa, air gak ngalir". Gigi goyang waktu kecil "Pa, cabut giginya ade". Tanaman mati "Pa, itu tanaman kok mati? Diapain yak?". Lemari bermasalah "Pa, lemari ade rusak, gimana enehhh?". Mobil mati "Pa, apanya mobil yang rusakkk?". Tugas prakarya sekolah "Pa, anterin beli bahan. Ajarin bikin prakarya". Pengen warna baru dikamar "Pa, tolong cat kamar donk". Mama pulang kantor "Pa, udah dimana? Mama udah selesai bih". Kakak butuh rak jilbab "Pa, bikinin rak besi yang dari kawat itu yak". Televisi rusak "Pa, ini tipi apa antena yang rusak?". Guci pecah "Pa, guci mama jatohhh". Butuh surat-surat dari kampus "Pa,tolong ke kampus, ade mo legalisir ama daftar-daftar". KTP abis masa berlaku "Pa, tolong urusin KTPnya ade". Mo pulang ke Manado "Pa, jemput dibandara". Bungkusin oleh-oleh "Pa, tolong bungkusin sama sekalian diiket tali rafia biar kencang dan rapi trus enak dipegangnya". Papa, sosok pendiam yang selalu mengedepankan "action". Tanpa banyak bicara, papa selalu berusaha mengerjakan semua kewajiban beliau tanpa diminta oleh mama dan kami anak-anaknya. Seperti memindahkan saya yang tertidur dikursi ke kamar tidur tanpa diminta oleh mama, dan mencuci sendiri semua pakaiannya ketika pembantu kami sedang sakit.
Papa memang pendiam, tetapi tidak ada istilah demokrasi apabila papa sudah bertitah. Waktu kecil, ketika televisi dirumah kami cuma 1, saya selalu mengutuk papa dalam hati, karena selepas isya, papa selalu menonton "Siaran Pedesaan" (membuat Shinta kecil lebih menguasai pelajaran IPS daripada Matematika, dan bermimpi bisa keliling Indonesia) dan "Dunia Dalam Berita" (membuat Shinta kecil mengetahui banyak hal tentang perang, politik dan kesenjangan sosial, ketika anak lain masih sibuk dengan kartun jaman dulu) dan siaran kegemarannya papa ini tidak bisa diganggu gugat, tidak pernah berubah, setiap hari, selama bertahun-tahun. Terpaksa, kakak memilih belajar atau membaca buku, dan saya yang malas belajar, akhirnya ikut menonton siaran itu, sambil sesekali bertanya tentang isi acara tersebut, yang seringnya hanya dijawab dengan suara "hmmm". Kebiasaan tidak menjawab pertanyaan anak seperti itu, membuat seorang Shinta kecil bertekad bahwa nanti ketika punya anak, akan jadi orang tua yang senang bercerita dan menjelaskan segala bentuk pertanyaan dari anaknya kelak (untuk orang-orang terdekat saya, sekarang pasti mengerti kenapa saya senang sekali menjadi seorang "story teller").
Menjelang dewasa, barulah saya menyadari betapa papa berusaha untuk dekat dan bersosialisasi dengan teman-teman saya. Mungkin salah satu usaha beliau untuk mengenal putri bungsunya yang sejak kecil tidak begitu akrab dengannya, melalui kacamata orang-orang terdekat. Dikalangan teman-teman saya, papa dikenal sebagai papa yang mau membaur dengan teman-teman saya. Para mantan pacar saya juga bisa dibilang akrab dengan papa. Mereka bercerita dan terkadang tertawa bersama. Mungkin dia menemukan sosok anak lelaki impiannya dulu.Peristiwa meninggalnya mama karena sakit yang dideritanya selama dua tahun juga membuat saya semakin yakin bahwa papa adalah mahluk Tuhan yang dikaruniai kedataran emosi tingkat tinggi. Ada untungnya sifat diamnya kala itu. Meredam emosi orang yang sedang menderita sakit seperti mama, tidak bisa dihadapkan dengan orang-orang berdarah panas seperti saya dan kakak. Papa, lagi-lagi mendapat predikat "suster terbaik" dimata orang-orang yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cara papa menemani dan merawat mama. Bahkan ketika mama meninggal dirumah sakit ibukota, dan proses membawa jenasah mama kembali ke kampung halaman kami membutuhkan tenaga dan kesabaran tambahan, papa pun dengan sigap mengurus segalanya, dimana saya waktu itu hanya sibuk tertawa-tawa dengan para sahabat yang datang melayat, sebagai kamuflase, mengusir duka tanda rasa tidak percaya akan kepergian mama. Selama seminggu acara pemakaman dilanjutkan dengan berbagai ritual keagamaan, Papa, lagi-lagi hanya terus diam, berwajah datar, sesekali mengatakan kepada kerabat yang datang melayat "mohon dimaafkan kesalahan ibu yah". Entah apa yang tersembunyi dibalik wajah datar beraura duka itu.
Satu kejadian yang membuat saya terharu, ketika suatu hari saya yang sudah menetap di ibukota, menelpon beliau untuk meminta tolong dibelikan bedak khusus wajah yang sejak dulu memang hanya saya temukan didaerah asal saya. Dua hari berikutnya sampailah paket yang ditujukan kepada "Shinta Irawatie Saloewa, SE". Dahi saya mengenyit heran, kenapa nama yang diketik menggunakan mesin ketik manual itu dibubuhi gelar sarjana saya.Ketika saya menelpon untuk mengabarkan bahwa paket itu sudah sampai, saya bertanya "Kok namanya ada gelar segala?" Dan dijawab dengan nada perlahan "Nda apa-apa De, papa cuma bangga menulis gelar kamu, biar orang lain tau, pegawai biasa kayak papa dan almarhumah mama juga bisa nyekolahin anaknya sampai sarjana"... Jrengggg... tak terlukiskan perasaan saya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sosok pendiam itu. Singkat dan sederhana, tetapi mampu membuat saya tersenyum dan menitikkan airmata. Sepintas terbayang kejadian dua tahun yang lalu ketika akhirnya saya diwisuda setelah dua tahun lamanya cuti kuliah. Papa, dengan senyum sumringah, untuk pertama kali memeluk saya dengan bangga didepan semua orang dan berkata "Selamat De, Papa senang sekali, Mama juga pasti akhirnya tenang disana". Kalau tidak ingat riasan wajah saya akan belepotan padahal belum berfoto studio, mungkin akan terjadi adegan sinetron yang sarat airmata dan raungan (halah).
Dalam beberapa hal, papa memang otoriter. Tetapi dalam hal menentukan pilihan masa depan anak-anaknya, papa membebaskan kami anak-anaknya untuk memilih. Papa tidak pernah terobsesi menjadikan kami ini dan itu. Pernah suatu ketika terjadi perdebatan kecil antara saya, papa dan alm mama tentang pilihan saya dalam memilih pasangan yang waktu itu berbeda prinsip. Alm mama bersikeras untuk tidak boleh dengan alasan macam-macam, seakan lupa dengan pengalamannya sendiri, rela mengalah dengan prinsipnya demi hidup bersama orang yang dicintai. Papa, dikala itu hanya bertanya satu kalimat "Selama 16 tahun kami nyekolahin kamu di bangku pendidikan formal, ada pendidikan tentang agama yang kita anut kan?". Saya jawab "Ada Pa. Knapa emang?". Papa cuma menjawab "Bagus, maka sekarang kalau kamu berkeputusan apapun, kami orang tua toh sudah menyekolahkanmu,dan mempercayakan dirimu dididik oleh orang2 yang lebih paham agama dibanding kami. Semua terserah padamu sekarang, apa yang terbaik menurutmu, sesuai dengan apa yang sudah kamu cerna dan pelajari". Sejenak saya terdiam, dan lebih dari dua bulan berpikir arti kalimat pendek penuh makna itu, lalu akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan saya itu.Seingat saya, papa tidak pernah mengajarkan saya tata cara sholat dan mengaji, tetapi bersama mama, papa mencarikan kami guru-guru terbaik untuk memberikan kami pengajaran dan pengertian, sehingga agama bukan hanya menjadi sekedar warisan turunan orangtua melainkan menjadi suatu prinsip hidup yang dianut berdasar pelajaran, pengamalan dan pengalaman.
Pun ketika satu setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, yaitu berhenti dari pekerjaan saya yang terbilang mampu menyokong hidup foya-foya dan berencana memakai tabungan saya untuk berkelana mencari jatidiri, dimana kakak saya sedikit terkejut sehingga agak histeris ditelepon, ayah saya seperti biasa hanya berkomentar dengan suaranya yang datar "Baiklah, kalau memang keputusanmu sudah bulat. Asal tetap bertanggung jawab pada diri sendiri. Mudah-mudahan ketemu hikmah dalam setiap kejadian". Ahhh...
Falsafah papa yang akan selalu saya ingat adalah "Kita tidak akan pernah miskin, jika kita mengikhlaskan sebagian harta kita untuk sekedar membantu orang lain, dan jangan pernah, sekalipun dalam hati, berharap balasan, sekecil apapun, bahkan dalam bentuk doa dalam hatipun".
Saya pun baru mengetahui kira-kira setahun yang lalu, kalau sewaktu muda, papa adalah seorang mantan wartawan, senang membaca dan menulis, senang memakai batik dan senang bertualang keberbagai daerah (haha, agak mirip dengan seseorang yang saya kenal). Sejak muda, papa sudah merantau untuk sekolah diluar kampung halamannya. Beda jenjang sekolah, beda pula daerahnya. Tidak heran papa menguasai bahasa Makassar, Bugis, dan Jawa (daerah tempat menuntut ilmu), selain bahasa Gorontalo (tempat lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak) dan bahasa Manado (tempat menetap hingga saat ini). Mungkin kalau nanti saya berjodoh dengan lelaki dari belahan benua lain, dan memboyong papa, bisa jadi papa akan menguasai bahasa tempat barunya tersebut (jiahaha, aminnn yak Pap).
Sampai detik ini pun, oleh-oleh dan semua pemberian saya yang disenangi papa adalah baju-baju batik, sendal berlambang buaya yang super ringan yang lagi ngetren sekarang, dan yang paling dia sukai (terlihat dengan senyum dan ketekunan dia "menghabiskan waktu" bersama hadiah itu) adalah buku-buku novel fiksi maupun novel sejarah hasil buruan saya pada saat toko buku favorit saya sedang diskon besar-besaran. Sejak kecil, ada 3 hal yang selalu mendapat dukungan dari papa, dan papa pun tidak segan-segan mengeluarkan uangnya yang sebenarnya pas-pasan itu untuk mendidik kami akan hobinya tersebut. Buku, Fashion, dan fotografi. Intinya, papa ingin mengajarkan kami anak-anaknya untuk senang membaca, sempurna dalam penampilan, dan mengabadikan setiap cerita hidup dalam bentuk gambar kenangan (saya dan kakak mengenal kamera manual sejak kami duduk dibangku sekolah dasar). Dan sangat saya akui, selera papa dalam ketiga hal tersebut yang membentuk hobi dan karakter saya sekarang.
Sosok gagah dan klimis itu kini sudah mulai menua. Perlahan menyerah pada usia yang membuat rambutnya beruban dan kulit mengeriput diberbagai sisi tubuhnya. Kesehatannya pun sudah mulai menurun, walaupun beliau masih rajin berolahraga lari pagi sendirian ditepi pantai dan rutin mengkonsumsi jamu serta madu andalannya. Sorot mata misterius khas dirinya pun sudah mulai melemah, seiring dengan keletihannya bertarung dengan dunia.
"Siapa ayah saya bukanlah masalah, yang terpenting adalah bagaimana ayah saya ketika saya mengingat dia. - Anne Sexton"
Saya, maupun kakak perempuan saya memang tidak pernah mengidolakan papa sejak dulu. Tidak pernah tercipta kedekatan yang cukup berarti diantara kami. Tidak terbiasa berakrab ria melalui pelukan hangat dan canda tawa ramai. Tetapi satu yang pasti, kami Shinta Irawatie Saloewa dan Santi Arwatie Saloewa, akan selalu menghargai segala kekurangan dan mencintai semua kelebihan seseorang yang telah menghadirkan duo cantik dan cerewet ini. 11 Mei 1946 - 11 Mei 2011. Selamat Ulang Tahun Papa, yang kami sebut dengan hormat, Bapak Abdul Rauf Saloewa. Doa kami Pa, untukmu agar tetap sehat dan terus bahagia. Amin...
Jakarta, 18 Mei 2011 23:42
*kamar papa mama diibukota, koja-tanjung priuk
*Untukmu papa, juga mama, kami ada, berdoa, berusaha, dan berkarya.
Sejak kecil, saya tidak begitu akrab dengan papa, karena papa sosok yang pendiam. Jauh dari kesan hangat. Saya malah sempat iri mendengar penuturan teman-teman sekantornya dulu, bahwa betapa lucunya bayolan papa dikantor. Bayangkan, sosok dingin nan pendiam dirumah itu, menjadi seorang pelawak penuh humor dimata teman-temannya. Anak mana yang tidak akan iri mendengarnya. Tanpa sadar, karakter saya pun terbentuk seperti layaknya papa. Menjadi sosok yang cuek dirumah sendiri, tetapi sosok yang super gaul dimata teman-teman saya. Bahkan, tanpa saya dan kakak sadar, sosok lelaki tenang dan misterius seperti papa yang menjadi kriteria kami dalam mencari pendamping, hahaha. Sosok yang kata mama sulit dimengerti tapi bersorot mata meminta dipahami. Jadi, merupakan suatu kesempatan yang langka jika kami anggota keluarga inti bisa membuat papa sekedar tersenyum apalagi tertawa.
Saya, sebenarnya merupakan anak ketiga, kalau saja kakak kedua saya tidaklah meninggal dalam kandungan mama pada umur 5 bulan. Mungkin papa mengharapkan anak laki-laki yang bisa menemani beliau membetulkan genteng, lari pagi kemudian memancing ikan dipantai atau sekedar bermain badminton sore-sore. Dulu banyak saudara kami yang berkelakar "sebenarnya yang diharapkan lahir itu lelaki, nanti mo dinamain Sandi. Eh, yang lahir kamu". Sempat berpikir, cueknya papa kepada saya, karena saya bukan anak lelaki yang dia harapkan hadir sebagai miniatur dirinya.
Papa, ibarat nomer telepon siaga 24 jam. Mempunyai slogan "SIAGA dan LAKSANAKAN". Genteng bocor, tinggal teriak "Pa, genteng bocor". Ledeng rusak "Pa, air gak ngalir". Gigi goyang waktu kecil "Pa, cabut giginya ade". Tanaman mati "Pa, itu tanaman kok mati? Diapain yak?". Lemari bermasalah "Pa, lemari ade rusak, gimana enehhh?". Mobil mati "Pa, apanya mobil yang rusakkk?". Tugas prakarya sekolah "Pa, anterin beli bahan. Ajarin bikin prakarya". Pengen warna baru dikamar "Pa, tolong cat kamar donk". Mama pulang kantor "Pa, udah dimana? Mama udah selesai bih". Kakak butuh rak jilbab "Pa, bikinin rak besi yang dari kawat itu yak". Televisi rusak "Pa, ini tipi apa antena yang rusak?". Guci pecah "Pa, guci mama jatohhh". Butuh surat-surat dari kampus "Pa,tolong ke kampus, ade mo legalisir ama daftar-daftar". KTP abis masa berlaku "Pa, tolong urusin KTPnya ade". Mo pulang ke Manado "Pa, jemput dibandara". Bungkusin oleh-oleh "Pa, tolong bungkusin sama sekalian diiket tali rafia biar kencang dan rapi trus enak dipegangnya". Papa, sosok pendiam yang selalu mengedepankan "action". Tanpa banyak bicara, papa selalu berusaha mengerjakan semua kewajiban beliau tanpa diminta oleh mama dan kami anak-anaknya. Seperti memindahkan saya yang tertidur dikursi ke kamar tidur tanpa diminta oleh mama, dan mencuci sendiri semua pakaiannya ketika pembantu kami sedang sakit.
Papa memang pendiam, tetapi tidak ada istilah demokrasi apabila papa sudah bertitah. Waktu kecil, ketika televisi dirumah kami cuma 1, saya selalu mengutuk papa dalam hati, karena selepas isya, papa selalu menonton "Siaran Pedesaan" (membuat Shinta kecil lebih menguasai pelajaran IPS daripada Matematika, dan bermimpi bisa keliling Indonesia) dan "Dunia Dalam Berita" (membuat Shinta kecil mengetahui banyak hal tentang perang, politik dan kesenjangan sosial, ketika anak lain masih sibuk dengan kartun jaman dulu) dan siaran kegemarannya papa ini tidak bisa diganggu gugat, tidak pernah berubah, setiap hari, selama bertahun-tahun. Terpaksa, kakak memilih belajar atau membaca buku, dan saya yang malas belajar, akhirnya ikut menonton siaran itu, sambil sesekali bertanya tentang isi acara tersebut, yang seringnya hanya dijawab dengan suara "hmmm". Kebiasaan tidak menjawab pertanyaan anak seperti itu, membuat seorang Shinta kecil bertekad bahwa nanti ketika punya anak, akan jadi orang tua yang senang bercerita dan menjelaskan segala bentuk pertanyaan dari anaknya kelak (untuk orang-orang terdekat saya, sekarang pasti mengerti kenapa saya senang sekali menjadi seorang "story teller").
Menjelang dewasa, barulah saya menyadari betapa papa berusaha untuk dekat dan bersosialisasi dengan teman-teman saya. Mungkin salah satu usaha beliau untuk mengenal putri bungsunya yang sejak kecil tidak begitu akrab dengannya, melalui kacamata orang-orang terdekat. Dikalangan teman-teman saya, papa dikenal sebagai papa yang mau membaur dengan teman-teman saya. Para mantan pacar saya juga bisa dibilang akrab dengan papa. Mereka bercerita dan terkadang tertawa bersama. Mungkin dia menemukan sosok anak lelaki impiannya dulu.Peristiwa meninggalnya mama karena sakit yang dideritanya selama dua tahun juga membuat saya semakin yakin bahwa papa adalah mahluk Tuhan yang dikaruniai kedataran emosi tingkat tinggi. Ada untungnya sifat diamnya kala itu. Meredam emosi orang yang sedang menderita sakit seperti mama, tidak bisa dihadapkan dengan orang-orang berdarah panas seperti saya dan kakak. Papa, lagi-lagi mendapat predikat "suster terbaik" dimata orang-orang yang melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana cara papa menemani dan merawat mama. Bahkan ketika mama meninggal dirumah sakit ibukota, dan proses membawa jenasah mama kembali ke kampung halaman kami membutuhkan tenaga dan kesabaran tambahan, papa pun dengan sigap mengurus segalanya, dimana saya waktu itu hanya sibuk tertawa-tawa dengan para sahabat yang datang melayat, sebagai kamuflase, mengusir duka tanda rasa tidak percaya akan kepergian mama. Selama seminggu acara pemakaman dilanjutkan dengan berbagai ritual keagamaan, Papa, lagi-lagi hanya terus diam, berwajah datar, sesekali mengatakan kepada kerabat yang datang melayat "mohon dimaafkan kesalahan ibu yah". Entah apa yang tersembunyi dibalik wajah datar beraura duka itu.
Satu kejadian yang membuat saya terharu, ketika suatu hari saya yang sudah menetap di ibukota, menelpon beliau untuk meminta tolong dibelikan bedak khusus wajah yang sejak dulu memang hanya saya temukan didaerah asal saya. Dua hari berikutnya sampailah paket yang ditujukan kepada "Shinta Irawatie Saloewa, SE". Dahi saya mengenyit heran, kenapa nama yang diketik menggunakan mesin ketik manual itu dibubuhi gelar sarjana saya.Ketika saya menelpon untuk mengabarkan bahwa paket itu sudah sampai, saya bertanya "Kok namanya ada gelar segala?" Dan dijawab dengan nada perlahan "Nda apa-apa De, papa cuma bangga menulis gelar kamu, biar orang lain tau, pegawai biasa kayak papa dan almarhumah mama juga bisa nyekolahin anaknya sampai sarjana"... Jrengggg... tak terlukiskan perasaan saya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sosok pendiam itu. Singkat dan sederhana, tetapi mampu membuat saya tersenyum dan menitikkan airmata. Sepintas terbayang kejadian dua tahun yang lalu ketika akhirnya saya diwisuda setelah dua tahun lamanya cuti kuliah. Papa, dengan senyum sumringah, untuk pertama kali memeluk saya dengan bangga didepan semua orang dan berkata "Selamat De, Papa senang sekali, Mama juga pasti akhirnya tenang disana". Kalau tidak ingat riasan wajah saya akan belepotan padahal belum berfoto studio, mungkin akan terjadi adegan sinetron yang sarat airmata dan raungan (halah).
Dalam beberapa hal, papa memang otoriter. Tetapi dalam hal menentukan pilihan masa depan anak-anaknya, papa membebaskan kami anak-anaknya untuk memilih. Papa tidak pernah terobsesi menjadikan kami ini dan itu. Pernah suatu ketika terjadi perdebatan kecil antara saya, papa dan alm mama tentang pilihan saya dalam memilih pasangan yang waktu itu berbeda prinsip. Alm mama bersikeras untuk tidak boleh dengan alasan macam-macam, seakan lupa dengan pengalamannya sendiri, rela mengalah dengan prinsipnya demi hidup bersama orang yang dicintai. Papa, dikala itu hanya bertanya satu kalimat "Selama 16 tahun kami nyekolahin kamu di bangku pendidikan formal, ada pendidikan tentang agama yang kita anut kan?". Saya jawab "Ada Pa. Knapa emang?". Papa cuma menjawab "Bagus, maka sekarang kalau kamu berkeputusan apapun, kami orang tua toh sudah menyekolahkanmu,dan mempercayakan dirimu dididik oleh orang2 yang lebih paham agama dibanding kami. Semua terserah padamu sekarang, apa yang terbaik menurutmu, sesuai dengan apa yang sudah kamu cerna dan pelajari". Sejenak saya terdiam, dan lebih dari dua bulan berpikir arti kalimat pendek penuh makna itu, lalu akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan saya itu.Seingat saya, papa tidak pernah mengajarkan saya tata cara sholat dan mengaji, tetapi bersama mama, papa mencarikan kami guru-guru terbaik untuk memberikan kami pengajaran dan pengertian, sehingga agama bukan hanya menjadi sekedar warisan turunan orangtua melainkan menjadi suatu prinsip hidup yang dianut berdasar pelajaran, pengamalan dan pengalaman.
Pun ketika satu setengah tahun yang lalu saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, yaitu berhenti dari pekerjaan saya yang terbilang mampu menyokong hidup foya-foya dan berencana memakai tabungan saya untuk berkelana mencari jatidiri, dimana kakak saya sedikit terkejut sehingga agak histeris ditelepon, ayah saya seperti biasa hanya berkomentar dengan suaranya yang datar "Baiklah, kalau memang keputusanmu sudah bulat. Asal tetap bertanggung jawab pada diri sendiri. Mudah-mudahan ketemu hikmah dalam setiap kejadian". Ahhh...
Falsafah papa yang akan selalu saya ingat adalah "Kita tidak akan pernah miskin, jika kita mengikhlaskan sebagian harta kita untuk sekedar membantu orang lain, dan jangan pernah, sekalipun dalam hati, berharap balasan, sekecil apapun, bahkan dalam bentuk doa dalam hatipun".
Saya pun baru mengetahui kira-kira setahun yang lalu, kalau sewaktu muda, papa adalah seorang mantan wartawan, senang membaca dan menulis, senang memakai batik dan senang bertualang keberbagai daerah (haha, agak mirip dengan seseorang yang saya kenal). Sejak muda, papa sudah merantau untuk sekolah diluar kampung halamannya. Beda jenjang sekolah, beda pula daerahnya. Tidak heran papa menguasai bahasa Makassar, Bugis, dan Jawa (daerah tempat menuntut ilmu), selain bahasa Gorontalo (tempat lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak) dan bahasa Manado (tempat menetap hingga saat ini). Mungkin kalau nanti saya berjodoh dengan lelaki dari belahan benua lain, dan memboyong papa, bisa jadi papa akan menguasai bahasa tempat barunya tersebut (jiahaha, aminnn yak Pap).
Sampai detik ini pun, oleh-oleh dan semua pemberian saya yang disenangi papa adalah baju-baju batik, sendal berlambang buaya yang super ringan yang lagi ngetren sekarang, dan yang paling dia sukai (terlihat dengan senyum dan ketekunan dia "menghabiskan waktu" bersama hadiah itu) adalah buku-buku novel fiksi maupun novel sejarah hasil buruan saya pada saat toko buku favorit saya sedang diskon besar-besaran. Sejak kecil, ada 3 hal yang selalu mendapat dukungan dari papa, dan papa pun tidak segan-segan mengeluarkan uangnya yang sebenarnya pas-pasan itu untuk mendidik kami akan hobinya tersebut. Buku, Fashion, dan fotografi. Intinya, papa ingin mengajarkan kami anak-anaknya untuk senang membaca, sempurna dalam penampilan, dan mengabadikan setiap cerita hidup dalam bentuk gambar kenangan (saya dan kakak mengenal kamera manual sejak kami duduk dibangku sekolah dasar). Dan sangat saya akui, selera papa dalam ketiga hal tersebut yang membentuk hobi dan karakter saya sekarang.
Sosok gagah dan klimis itu kini sudah mulai menua. Perlahan menyerah pada usia yang membuat rambutnya beruban dan kulit mengeriput diberbagai sisi tubuhnya. Kesehatannya pun sudah mulai menurun, walaupun beliau masih rajin berolahraga lari pagi sendirian ditepi pantai dan rutin mengkonsumsi jamu serta madu andalannya. Sorot mata misterius khas dirinya pun sudah mulai melemah, seiring dengan keletihannya bertarung dengan dunia.
"Siapa ayah saya bukanlah masalah, yang terpenting adalah bagaimana ayah saya ketika saya mengingat dia. - Anne Sexton"
Saya, maupun kakak perempuan saya memang tidak pernah mengidolakan papa sejak dulu. Tidak pernah tercipta kedekatan yang cukup berarti diantara kami. Tidak terbiasa berakrab ria melalui pelukan hangat dan canda tawa ramai. Tetapi satu yang pasti, kami Shinta Irawatie Saloewa dan Santi Arwatie Saloewa, akan selalu menghargai segala kekurangan dan mencintai semua kelebihan seseorang yang telah menghadirkan duo cantik dan cerewet ini. 11 Mei 1946 - 11 Mei 2011. Selamat Ulang Tahun Papa, yang kami sebut dengan hormat, Bapak Abdul Rauf Saloewa. Doa kami Pa, untukmu agar tetap sehat dan terus bahagia. Amin...
Jakarta, 18 Mei 2011 23:42
*kamar papa mama diibukota, koja-tanjung priuk
*Untukmu papa, juga mama, kami ada, berdoa, berusaha, dan berkarya.
07/05/11
Noni Manado...bagoyang pica-pica (Refleksi Diri dari mata para Lelaki)
Kebosanan tingkat
dewa yang melanda, membuat saya melangkah ke salah satu tempat
tongkrongan terdekat dengan kostan saya untuk sekedar mencari hiburan,
syukur-syukur mendapat sedikit cerita baru untuk ide meracau di blog
dari hasil menikmati pemandangan orang-orang sekitar.
Awalnya saya ingin menonton film, tapi film bioskop akhir-akhir ini membuat saya hanya bisa bergumam "huh!!!film apa ini". Jadi, saya pun berpindah ke restoran waralaba yang menawarkan makanan yang rasanya standar namun terjangkau, juga bersuasana cukup nyaman untuk sekedar bengong dan melihat orang berlalu-lalang.
Setelah sampai, saya langsung memesan makanan dan minuman khas restoran tersebut. Beruntung saya mendapatkan tempat cukup nyaman dan strategis, Sofa samping jendela. Tak lama saya duduk, datanglah tiga orang lelaki yang dari penampakannya sepertinya berusia (mungkin) sepantaran dengan saya. Keberuntungan lagi-lagi menghampiri, karena ketiga mahluk bagus ini memilih meja kosong persis didepan meja saya. Kebiasaan memperhatikan penampilan orang, cara berpakaian ketiga orang tersebut membuat saya bergumam "Widihh..gaul amat. Lumayan, sambil makan liat yang seger-seger. Tuhan emang paling tau kalo gw lagi suntuk, hahaha".
Penampilan mereka sangat "up to date", Lelaki pertama; memelihara kumis dan janggut tipis, rambut mohawk, berkemeja kotak-kotak plus kaos putih sebagai daleman, lengan digulung, jins agak menuju belel dan sepatu kanvas warna senada baju (saya menyebutnya RS, kepanjangan dari Restu Sinaga, aktor yang gayanya mirip dengan si lelaki ini), Lelaki kedua; rambut jatuh seleher, plus poni lempar tentu saja (hahaha), berwajah oriental dan berpotongan bak artis Korea, anting ditelinga kanan dan pelipis kiri, kaos putih bertuliskan "Damn, I Love Indonesia", celana cargo selutut, sendal jepit bergambar buaya yang lagi happening (sebut saja SJ, kepanjangan dari boyband Korea, Super Junior, abis mirip abisss booww, hahahaha), dan terakhir, Lelaki ketiga; tampang tirus, kacamata yang bertengger dihidungnya yang (lumayan) mancung, kulit wajahnya agak coklat terbakar, janggut tipis, berkaus lengan panjang putih polos, celana jins dan sepatu sneakers, sibuk bermain dengan ponsel layar sentuhnya, dan tampak tidak memperdulikan kedua temannya yang riuh rendah berkelakar (hoho, mari kita sebut dia LF, alias lelaki favorit,hihihi).
Sebenarnya, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, karena niat awal saya memang untuk makan dan bengong saja selama beberapa saat direstoran tersebut. Apadaya, suara para mahluk bagus itu terdengar sampai ke meja saya (ya iyalah, wong bedanya cuma 2 meter).
"Gw trauma jalan ama cewe Manado", suara si RS, yang berhasil membuat saya mendelik kaget (dan ayam mentega ini hampir melompat dari mulut).
"Lhaaa...bukannya lu pernah jadian ama si July, trus ama Irene? Itu berdua pan Binyo (sebutan warga Jakarta untuk para warga "Kawanua" a.k.a Manado) juga?" cecar si SJ.
Hmmm...topik yang memancing, terpaksa konsentrasi saya melahap nasi goreng kepiting plus ayam mentega ini terpecah demi "karlota" (istilah Manado untuk: nguping alias kepo alias mau tau urusan orang).
"Iya sih, si Cece juga kan maminya Manado. Bah, awalnya gw kira namanya apaan,taunya nama panjangnya Deltje"... Bwahahahaha...hampir saja saya ikutan tertawa terbahak bersamaan dengan mereka, abisnya...yellowww...2011 masih ada yak nama itu? Hahaha (no offense yak non Cece) :D.
"Ahh...lu kali, emang demen ama tu suku. Noni-noni jo, bagoyang pica-pica", kembali terdengar tawa nakal kedua lelaki disamping saya. Mau tak mau, kuping saya panas juga mendengarnya.
"Gak cong, kebetulan aje gw emang suka yang bening-bening. Tapi gak ngerti kenapa, entah sial entah lucky, ketemunya ya ama si klapertart-klapertart lagi"... Anjr*t, makin lama istilah si RS makin ngawur.
"Widih klapertart...yummyyyy...hoho, mau donk icip dikit. Btw, udah pernah lu icip salah satu kan yak?"...Hadeh, rasanya antara miris sama takjub mendengar pertanyaan si SJ.
"Salah satu? Semua kaleee...hahaha,tekor amat yak gw gak nyicip, miara mereka mahal amat,et dah"...woy, ini punya cewe apa punya kucing sih, kenapa pake istilah "miara" yak? Lama-lama saya lempar juga pake sendok ato sendal.
"Haha, salah lu masbro, nenek-nenek mo mati juga tau, pacaran ama noni-noni, modal lu mesti setinggi langit, sedalam lautan"...Dan si SJ mulai lebay...
"Yoi nyet, abis duit gw diporotin. Serba salah sih, cewe cakep, bangga gw tarik kemana-mana. Tapi cewe cakep juga perawatannya kampr*t, ke salon lah, ke gym, spa, belom kalo mo kemana-mana ogah naik angkutan umum. Pinjem mobil bokap seminggu 4 kali gak cukup, sisanya naek taxi mulu, belom kalo mo makan, alergi ditempat murah, belum sepatunya, bajunya, tasnya, make-upnya, segala langganan majalah fashion ama kecantikan...gila, kemarin tagihan kartu kredit gw membengkak sampe sepuluh jeti"...Hampir melongo saya mendengar curhatan panjang lebar si RS, kasian amat. 10 jeti sebulan udah bisa buat saya jalan-jalan keliling Indonesia tiap bulan. Perasaan saya sendiri sebagai perempuan asli sana gak gitu-gitu amat (langsung berniat menelpon semua mantan saya untuk klarifikasi, hahaha).
"Jiahhh, mending lu nyewa harim Mangga Besar itu mah. Apa ke kampus belakang sini nih, gaet brondong mahasiswi cewe cakep-cakep. murah...bayar pake mulut manis ama cinta, hahahaha"...Nasi goreng saya langsung terasa hambar, mendengar omongan si SJ yang menganalogikan wanita jaman sekarang, lumayan menohok, karena kenyataannya sekarang memang banyak tragedi kisah cinta tragis seperti yang SJ gambarkan.
"Siaul...harim Mangga Besar murah, tapi ongkos gw ke dokter kelamin mahal, sama aje. Lagian males ama mahasiswi, kayak pacaran ama polisi, posesif abis. Dikit-dikit ngerengek, dikit-dikit ngambek, gw males cewe manja. Gw pengen yang elegan, yang gak alay, trus gak nuntut macem-macem kalo abis gituan". RS berkilah tentang opsi yang diberikan SJ. Well, kayaknya dimana-mana tergantung cewenya deh, mau umur berapa pun, pembawaan dan sifat orang itu bermacam-macam. Gak semua cewe berumur itu dewasa, dan gak semua mahasiswi itu kekanak-kanakan. Seperti iklan rokok, "Tua itu wajib, dewasa itu pilihan".
“Nah pacaran aja ama tante-tante, elegan, banyak duitnya pula, pengalaman juga dijamin. Itu baru bilang, seksoy diluar, asoy diranjang” celetuk si SJ sambil tertawa ngakak. Wadooohh…tampaknya obrolan bocah-bocah ini makin ngawur, dan kayaknya agak kurang cocok dengan tempat tongkrongan ini. Tapi bener juga sih, fenomena berondong-tante memang sedang marak dikalangan pergaulan ibukota. Ibu-ibu cantik namun kesepian ditinggal suaminya keluar kota, entah meeting entah nungging bersama wanita lain, kemudian melampiaskan dengan mencari sosok anak muda yang mungkin lebih pantas jadi keponakan atau bahkan anak mereka. Mungkin juga sebagai ajang pembuktian bahwa mereka juga bisa menggaet daun muda, atau sekedar ingin bernostalgia dengan cara “berteman” dengan para remaja. Pergeseran moral yang katanya mengikuti perkembangan jaman.
"Lagian si noni-noni itu agresif abis cuy. Sekali demen, mereka tuh ngejar kayak anjing kesetanan. Eh tapi giliran pacaran, angkuhnya selangit, bener-bener minta dilayanin. Berasa ama majikan deh. Huhh...untung aja cakep,kalo gak dah gw gampar,bawel mampus, mending punya otak" cerocos RS sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Waduh, saya benar-benar garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar ocehan mereka. Sudah segitunya kah pandangan negatif orang tentang perempuan dari suku saya? Lagian, cewe dari suku manapun, yang terlahir cantik, hampir semuanya berlabel "mahal". Bukannya lumrah yah, barang bagus harganya mahal? Hahaha. Lagian kalo dia punya otak, gak bakal mungkin pacaran ama lu nyet, cowo sok gaul yang hari gini masih pinjam mobil bokap buat mengajak cewe mesum. Tega amat mobil orang tua dipakai buat hal yang patut disensor. Sesama udang yang kotorannya dikepala dilarang saling mengata-ngatai #emosi.
"Gw sih gak pernah punya cewe noni, tapi punya banyak temen dari Manado. Gak semua lah kayak yang lu bilang barusan. Hampir semua cantik, cuma sedikit yang buat gw tampang ato gayanya biasa aja. Tapi gak semua juga gak punya otak kayak pernyataan lu barusan. Ada yang gaul, ada yang super diem malah. Ada yang pinter, walopun banyak juga yang cuma ngandalin tampang ama body aduhai. Angelina Sondakh kurang pinter apalagi coba? Mereka tuh cuma terdidik dalam kultur berani sejak kecil. Dan sayangnya malah banyak yang salah langkah pas udah gede” cerocos si LF yang sedari tadi cuma asyik bermain dengan ponsel layar sentuhnya. Eyy…canggih juga pemilihan katanya. Makin ganteng aja dimata saya jadinya :D.
"Semua juga tergantung orangnya kali, mo dia cewe Manado kek, cewe Jawa kek, cewe Sumatera kek ato cewe Saturnus juga, kalo emang pembawaannya ngeselin mah ngeselin aja. Otak itu gak tergantung suku men!!! Paling males ama cewe yang gedean to**tnya daripada kapasitas otaknya”. Dankkk…nampar banget kata-katanya barusan. Refleks saya melihat bagian dada dan entah kenapa bersyukur ukurannya sedang-sedang saja. Mengingat kapasitas otak saya yang sedikit, nantinya malah timpang, sesuai pernyataan si LF barusan, jiahahahaha, presepsi konyol yang menohok.
Ternyata ada gunanya juga saya keluar dari “kandang” saya, daripada mati bosan seharian. Dan pilihan nongkrong di restoran ini seperti sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Saya seperti melihat “drama satu babak” yang diperankan oleh ketiga mahluk bagus didepan saya ini, sekaligus memainkan “opera monolog” dibenak saya tentang tanggapan demi tanggapan yang keluar demi mendengar ocehan mereka.
Saya seperti ditampar, sekaligus diberi pelajaran gratis tentang bagaimana tanggapan lawan jenis terhadap kaum saya, terlebih yang satu suku dengan saya. Sayangnya kebanyakan yang saya tangkap adalah penilaian buruk. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk hal ini. Saya tidak bisa mengatur pola pikir orang lain. Satu hal pasti yang bisa saya kontrol adalah kelakuan diri saya sendiri, bagaimana bersikap sewajarnya namun apa adanya diri saya, agar tidak menjadi santapan penilaian buruk, atau minimal mengurangi presepsi buruk para lelaki itu terhadap para perempuan dari suku saya.
Tiba-tiba lagu “Im In The Mood For Love” milik Jools Holland feat Jamiroquai yang merupakan lagu film “Valentine’s Day” mengalun kencang mengagetkan ketiga orang itu, terlebih saya. Si RS malah sempat melotot, kemudian sedikit komen “Buset, kenceng amat tuh ringtone, berasa dikonser gw”. Antara kaget, malu plus gugup (merasa diri ketauan menguping pembicaraan orang), akhirnya saya pun menjawab “Yes…Waalaikum salam Pa. Oh, da sementara makang ade. Nda kamana-mana, cuma dikostan dari pagi, nya da training nihari. Papa dang da baapa? So makang?” (yang artinya: Yes, waalaikum salam Pa. Oh, lagi makan nih ade #nama kecil. Tidak kemana-mana, cuma dikostan sejak pagi, gak ada training hari ini. Papa sendiri lagi apa? Udah makan?).
Sesuai saya menjawab telepon yang hanya berdurasi 1 menit 13 detik itu, saya pun menoleh dan nyegir ke arah ketiga “tetangga” saya itu. Haha, bisa kalian tebak kan ekspresi ketiga anak konyol yang sedari tadi membicarakan perempuan dari suku saya, kemudian mendengar ketika saya menjawab telepon dari papa saya menggunakan bahasa Manado. RS melongo dan tampak tidak percaya, kalau dibahasakan wajahnya kira-kira berkata “Mati gw, ada noni-noni juga samping gw, kira-kira dia denger gak yah”, lain dengan SJ yang langsung bersemu merah (karena warna dasar kulit putih susu yang pasti langsung merona) dan membuang muka, jengah menatap tatapan mata iseng khas saya, dan terakhir (ahh…ini memang favorit sejati, insting saya memang selalu cihuy nih) si LF yang hanya tersenyum simpul nan sopan dan malah melemparkan tatapan “hai nona, maaf yak, kami cuma iseng. Kamu cantik deh, boleh kenalan gak?” (oke, kalimat terakhir cuma khayalan lebay saya semata, hahaha).
Mereka pun langsung berdiri menuju kasir, melewati meja saya, dan sambil tersenyum LF pun berkata singkat “Maaf, kami gak bermaksud gitu kok. Jangan marah yak”. Ehh…buset, sopan bener, saya benar-benar terpesona. Dan saya pun mengekor bergelantungan dicelananya sambil ngesot (yaa…kali ini khayalan saya sudah mulai sesat). Saya yang masih senyum-senyum sendiri, sambil pura-pura menikmati sisa ayam mentega dipiring saya, mendengar si SJ berkata “Sekalian aja mas, sama mbak-mbak dimeja pojokan itu”. Mendelik kaget, saya melihat ketiga mahluk bagus tersebut serentak melambaikan tangan lalu menyatukan tangan ala finalis abang Jakarta (pertanda meminta maaf). Saya pun hanya bisa melongo dan (bodohnya) tidak membalas dengan ucapan terima kasih saking kagetnya dengan tindakan mereka mentraktir saya tiba-tiba sebagai permintaan maaf. Wahhh…rejeki emang gak kemana yak… Ahhh…tau gitu tadi saya pesen macam-macam, jiahahahaha.
Jakarta, 7 Mei 2011
Sore hari di Solaria Setiabudi Building, ketika mentari sedang bersinar sehangat pacaran trisemester awal. :p
*nemu tulisan di notepad Blackberry yang kelupaan diposting padahal udah LAMA BANGET -.-"
Awalnya saya ingin menonton film, tapi film bioskop akhir-akhir ini membuat saya hanya bisa bergumam "huh!!!film apa ini". Jadi, saya pun berpindah ke restoran waralaba yang menawarkan makanan yang rasanya standar namun terjangkau, juga bersuasana cukup nyaman untuk sekedar bengong dan melihat orang berlalu-lalang.
Setelah sampai, saya langsung memesan makanan dan minuman khas restoran tersebut. Beruntung saya mendapatkan tempat cukup nyaman dan strategis, Sofa samping jendela. Tak lama saya duduk, datanglah tiga orang lelaki yang dari penampakannya sepertinya berusia (mungkin) sepantaran dengan saya. Keberuntungan lagi-lagi menghampiri, karena ketiga mahluk bagus ini memilih meja kosong persis didepan meja saya. Kebiasaan memperhatikan penampilan orang, cara berpakaian ketiga orang tersebut membuat saya bergumam "Widihh..gaul amat. Lumayan, sambil makan liat yang seger-seger. Tuhan emang paling tau kalo gw lagi suntuk, hahaha".
Penampilan mereka sangat "up to date", Lelaki pertama; memelihara kumis dan janggut tipis, rambut mohawk, berkemeja kotak-kotak plus kaos putih sebagai daleman, lengan digulung, jins agak menuju belel dan sepatu kanvas warna senada baju (saya menyebutnya RS, kepanjangan dari Restu Sinaga, aktor yang gayanya mirip dengan si lelaki ini), Lelaki kedua; rambut jatuh seleher, plus poni lempar tentu saja (hahaha), berwajah oriental dan berpotongan bak artis Korea, anting ditelinga kanan dan pelipis kiri, kaos putih bertuliskan "Damn, I Love Indonesia", celana cargo selutut, sendal jepit bergambar buaya yang lagi happening (sebut saja SJ, kepanjangan dari boyband Korea, Super Junior, abis mirip abisss booww, hahahaha), dan terakhir, Lelaki ketiga; tampang tirus, kacamata yang bertengger dihidungnya yang (lumayan) mancung, kulit wajahnya agak coklat terbakar, janggut tipis, berkaus lengan panjang putih polos, celana jins dan sepatu sneakers, sibuk bermain dengan ponsel layar sentuhnya, dan tampak tidak memperdulikan kedua temannya yang riuh rendah berkelakar (hoho, mari kita sebut dia LF, alias lelaki favorit,hihihi).
Sebenarnya, saya tidak bermaksud menguping pembicaraan mereka, karena niat awal saya memang untuk makan dan bengong saja selama beberapa saat direstoran tersebut. Apadaya, suara para mahluk bagus itu terdengar sampai ke meja saya (ya iyalah, wong bedanya cuma 2 meter).
"Gw trauma jalan ama cewe Manado", suara si RS, yang berhasil membuat saya mendelik kaget (dan ayam mentega ini hampir melompat dari mulut).
"Lhaaa...bukannya lu pernah jadian ama si July, trus ama Irene? Itu berdua pan Binyo (sebutan warga Jakarta untuk para warga "Kawanua" a.k.a Manado) juga?" cecar si SJ.
Hmmm...topik yang memancing, terpaksa konsentrasi saya melahap nasi goreng kepiting plus ayam mentega ini terpecah demi "karlota" (istilah Manado untuk: nguping alias kepo alias mau tau urusan orang).
"Iya sih, si Cece juga kan maminya Manado. Bah, awalnya gw kira namanya apaan,taunya nama panjangnya Deltje"... Bwahahahaha...hampir saja saya ikutan tertawa terbahak bersamaan dengan mereka, abisnya...yellowww...2011 masih ada yak nama itu? Hahaha (no offense yak non Cece) :D.
"Ahh...lu kali, emang demen ama tu suku. Noni-noni jo, bagoyang pica-pica", kembali terdengar tawa nakal kedua lelaki disamping saya. Mau tak mau, kuping saya panas juga mendengarnya.
"Gak cong, kebetulan aje gw emang suka yang bening-bening. Tapi gak ngerti kenapa, entah sial entah lucky, ketemunya ya ama si klapertart-klapertart lagi"... Anjr*t, makin lama istilah si RS makin ngawur.
"Widih klapertart...yummyyyy...hoho, mau donk icip dikit. Btw, udah pernah lu icip salah satu kan yak?"...Hadeh, rasanya antara miris sama takjub mendengar pertanyaan si SJ.
"Salah satu? Semua kaleee...hahaha,tekor amat yak gw gak nyicip, miara mereka mahal amat,et dah"...woy, ini punya cewe apa punya kucing sih, kenapa pake istilah "miara" yak? Lama-lama saya lempar juga pake sendok ato sendal.
"Haha, salah lu masbro, nenek-nenek mo mati juga tau, pacaran ama noni-noni, modal lu mesti setinggi langit, sedalam lautan"...Dan si SJ mulai lebay...
"Yoi nyet, abis duit gw diporotin. Serba salah sih, cewe cakep, bangga gw tarik kemana-mana. Tapi cewe cakep juga perawatannya kampr*t, ke salon lah, ke gym, spa, belom kalo mo kemana-mana ogah naik angkutan umum. Pinjem mobil bokap seminggu 4 kali gak cukup, sisanya naek taxi mulu, belom kalo mo makan, alergi ditempat murah, belum sepatunya, bajunya, tasnya, make-upnya, segala langganan majalah fashion ama kecantikan...gila, kemarin tagihan kartu kredit gw membengkak sampe sepuluh jeti"...Hampir melongo saya mendengar curhatan panjang lebar si RS, kasian amat. 10 jeti sebulan udah bisa buat saya jalan-jalan keliling Indonesia tiap bulan. Perasaan saya sendiri sebagai perempuan asli sana gak gitu-gitu amat (langsung berniat menelpon semua mantan saya untuk klarifikasi, hahaha).
"Jiahhh, mending lu nyewa harim Mangga Besar itu mah. Apa ke kampus belakang sini nih, gaet brondong mahasiswi cewe cakep-cakep. murah...bayar pake mulut manis ama cinta, hahahaha"...Nasi goreng saya langsung terasa hambar, mendengar omongan si SJ yang menganalogikan wanita jaman sekarang, lumayan menohok, karena kenyataannya sekarang memang banyak tragedi kisah cinta tragis seperti yang SJ gambarkan.
"Siaul...harim Mangga Besar murah, tapi ongkos gw ke dokter kelamin mahal, sama aje. Lagian males ama mahasiswi, kayak pacaran ama polisi, posesif abis. Dikit-dikit ngerengek, dikit-dikit ngambek, gw males cewe manja. Gw pengen yang elegan, yang gak alay, trus gak nuntut macem-macem kalo abis gituan". RS berkilah tentang opsi yang diberikan SJ. Well, kayaknya dimana-mana tergantung cewenya deh, mau umur berapa pun, pembawaan dan sifat orang itu bermacam-macam. Gak semua cewe berumur itu dewasa, dan gak semua mahasiswi itu kekanak-kanakan. Seperti iklan rokok, "Tua itu wajib, dewasa itu pilihan".
“Nah pacaran aja ama tante-tante, elegan, banyak duitnya pula, pengalaman juga dijamin. Itu baru bilang, seksoy diluar, asoy diranjang” celetuk si SJ sambil tertawa ngakak. Wadooohh…tampaknya obrolan bocah-bocah ini makin ngawur, dan kayaknya agak kurang cocok dengan tempat tongkrongan ini. Tapi bener juga sih, fenomena berondong-tante memang sedang marak dikalangan pergaulan ibukota. Ibu-ibu cantik namun kesepian ditinggal suaminya keluar kota, entah meeting entah nungging bersama wanita lain, kemudian melampiaskan dengan mencari sosok anak muda yang mungkin lebih pantas jadi keponakan atau bahkan anak mereka. Mungkin juga sebagai ajang pembuktian bahwa mereka juga bisa menggaet daun muda, atau sekedar ingin bernostalgia dengan cara “berteman” dengan para remaja. Pergeseran moral yang katanya mengikuti perkembangan jaman.
"Lagian si noni-noni itu agresif abis cuy. Sekali demen, mereka tuh ngejar kayak anjing kesetanan. Eh tapi giliran pacaran, angkuhnya selangit, bener-bener minta dilayanin. Berasa ama majikan deh. Huhh...untung aja cakep,kalo gak dah gw gampar,bawel mampus, mending punya otak" cerocos RS sambil menghisap dalam-dalam rokoknya. Waduh, saya benar-benar garuk-garuk kepala yang tidak gatal mendengar ocehan mereka. Sudah segitunya kah pandangan negatif orang tentang perempuan dari suku saya? Lagian, cewe dari suku manapun, yang terlahir cantik, hampir semuanya berlabel "mahal". Bukannya lumrah yah, barang bagus harganya mahal? Hahaha. Lagian kalo dia punya otak, gak bakal mungkin pacaran ama lu nyet, cowo sok gaul yang hari gini masih pinjam mobil bokap buat mengajak cewe mesum. Tega amat mobil orang tua dipakai buat hal yang patut disensor. Sesama udang yang kotorannya dikepala dilarang saling mengata-ngatai #emosi.
"Gw sih gak pernah punya cewe noni, tapi punya banyak temen dari Manado. Gak semua lah kayak yang lu bilang barusan. Hampir semua cantik, cuma sedikit yang buat gw tampang ato gayanya biasa aja. Tapi gak semua juga gak punya otak kayak pernyataan lu barusan. Ada yang gaul, ada yang super diem malah. Ada yang pinter, walopun banyak juga yang cuma ngandalin tampang ama body aduhai. Angelina Sondakh kurang pinter apalagi coba? Mereka tuh cuma terdidik dalam kultur berani sejak kecil. Dan sayangnya malah banyak yang salah langkah pas udah gede” cerocos si LF yang sedari tadi cuma asyik bermain dengan ponsel layar sentuhnya. Eyy…canggih juga pemilihan katanya. Makin ganteng aja dimata saya jadinya :D.
"Semua juga tergantung orangnya kali, mo dia cewe Manado kek, cewe Jawa kek, cewe Sumatera kek ato cewe Saturnus juga, kalo emang pembawaannya ngeselin mah ngeselin aja. Otak itu gak tergantung suku men!!! Paling males ama cewe yang gedean to**tnya daripada kapasitas otaknya”. Dankkk…nampar banget kata-katanya barusan. Refleks saya melihat bagian dada dan entah kenapa bersyukur ukurannya sedang-sedang saja. Mengingat kapasitas otak saya yang sedikit, nantinya malah timpang, sesuai pernyataan si LF barusan, jiahahahaha, presepsi konyol yang menohok.
Ternyata ada gunanya juga saya keluar dari “kandang” saya, daripada mati bosan seharian. Dan pilihan nongkrong di restoran ini seperti sudah diatur oleh Yang Maha Mengatur. Saya seperti melihat “drama satu babak” yang diperankan oleh ketiga mahluk bagus didepan saya ini, sekaligus memainkan “opera monolog” dibenak saya tentang tanggapan demi tanggapan yang keluar demi mendengar ocehan mereka.
Saya seperti ditampar, sekaligus diberi pelajaran gratis tentang bagaimana tanggapan lawan jenis terhadap kaum saya, terlebih yang satu suku dengan saya. Sayangnya kebanyakan yang saya tangkap adalah penilaian buruk. Saya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa untuk hal ini. Saya tidak bisa mengatur pola pikir orang lain. Satu hal pasti yang bisa saya kontrol adalah kelakuan diri saya sendiri, bagaimana bersikap sewajarnya namun apa adanya diri saya, agar tidak menjadi santapan penilaian buruk, atau minimal mengurangi presepsi buruk para lelaki itu terhadap para perempuan dari suku saya.
Tiba-tiba lagu “Im In The Mood For Love” milik Jools Holland feat Jamiroquai yang merupakan lagu film “Valentine’s Day” mengalun kencang mengagetkan ketiga orang itu, terlebih saya. Si RS malah sempat melotot, kemudian sedikit komen “Buset, kenceng amat tuh ringtone, berasa dikonser gw”. Antara kaget, malu plus gugup (merasa diri ketauan menguping pembicaraan orang), akhirnya saya pun menjawab “Yes…Waalaikum salam Pa. Oh, da sementara makang ade. Nda kamana-mana, cuma dikostan dari pagi, nya da training nihari. Papa dang da baapa? So makang?” (yang artinya: Yes, waalaikum salam Pa. Oh, lagi makan nih ade #nama kecil. Tidak kemana-mana, cuma dikostan sejak pagi, gak ada training hari ini. Papa sendiri lagi apa? Udah makan?).
Sesuai saya menjawab telepon yang hanya berdurasi 1 menit 13 detik itu, saya pun menoleh dan nyegir ke arah ketiga “tetangga” saya itu. Haha, bisa kalian tebak kan ekspresi ketiga anak konyol yang sedari tadi membicarakan perempuan dari suku saya, kemudian mendengar ketika saya menjawab telepon dari papa saya menggunakan bahasa Manado. RS melongo dan tampak tidak percaya, kalau dibahasakan wajahnya kira-kira berkata “Mati gw, ada noni-noni juga samping gw, kira-kira dia denger gak yah”, lain dengan SJ yang langsung bersemu merah (karena warna dasar kulit putih susu yang pasti langsung merona) dan membuang muka, jengah menatap tatapan mata iseng khas saya, dan terakhir (ahh…ini memang favorit sejati, insting saya memang selalu cihuy nih) si LF yang hanya tersenyum simpul nan sopan dan malah melemparkan tatapan “hai nona, maaf yak, kami cuma iseng. Kamu cantik deh, boleh kenalan gak?” (oke, kalimat terakhir cuma khayalan lebay saya semata, hahaha).
Mereka pun langsung berdiri menuju kasir, melewati meja saya, dan sambil tersenyum LF pun berkata singkat “Maaf, kami gak bermaksud gitu kok. Jangan marah yak”. Ehh…buset, sopan bener, saya benar-benar terpesona. Dan saya pun mengekor bergelantungan dicelananya sambil ngesot (yaa…kali ini khayalan saya sudah mulai sesat). Saya yang masih senyum-senyum sendiri, sambil pura-pura menikmati sisa ayam mentega dipiring saya, mendengar si SJ berkata “Sekalian aja mas, sama mbak-mbak dimeja pojokan itu”. Mendelik kaget, saya melihat ketiga mahluk bagus tersebut serentak melambaikan tangan lalu menyatukan tangan ala finalis abang Jakarta (pertanda meminta maaf). Saya pun hanya bisa melongo dan (bodohnya) tidak membalas dengan ucapan terima kasih saking kagetnya dengan tindakan mereka mentraktir saya tiba-tiba sebagai permintaan maaf. Wahhh…rejeki emang gak kemana yak… Ahhh…tau gitu tadi saya pesen macam-macam, jiahahahaha.
Jakarta, 7 Mei 2011
Sore hari di Solaria Setiabudi Building, ketika mentari sedang bersinar sehangat pacaran trisemester awal. :p
*nemu tulisan di notepad Blackberry yang kelupaan diposting padahal udah LAMA BANGET -.-"
Melodrama Sahabat. Episode: Kesempatan itu (mungkin bisa) menghancurkan komitmen
Tengah malam, Last Kiss dari Pearl Jam mengusik saya yang sedang makan.
Bunyi telpon dari salah seorang sobat saya. "Nyiiinggg...met ultah yeee", tereak saya kenceng, sambil tak lupa menyanyikan lagu selamat ulang tahun pake suara serak saya yang baru bangun tidur plus lagi makan. "Jahh..adanya juga elu yang nelpon guweh ngasih slamat, dimane-mane kagak ada orang ultah nelpon temennye buat dapetin ucapan slamat" ujar si sobat dengan suara lucunya yang gak ada aura ganteng-gantengnya kalo menurut saya (in my humble opinion lho darla...jiahahahaha).
Kening saya berkerut,kira-kira ada apa gerangan sobat saya menelpon tengah malam. Ketumbenan yang tiada terkira. Dan benar dugaan saya, sobat saya ini sedang agak galau, apalagi kalo bukan masalah perasaan.
"Gw lagi dideketin ama cewe nih cyinnn...anak kampung lu noh".
Begitulah kira-kira kalimat awal percakapan serius diantara kami. Menurut hasil pengamatan saya, dari beberapa pengalaman para sahabat, sebenarnya, merupakan suatu kebanggaan buat seorang lelaki, jika ada seorang (apalagi lebih) wanita yang datang mendekati, apalagi kondisi saat ini, sobat saya tersebut sudah terikat semacam ikatan yang lazim kita sebut "tunangan". Ikatan serius dimana hubungan sudah bukan hanya dilakoni oleh 2 orang, tetapi oleh beberapa orang yang dinamakan "keluarga". Alasan "cinta" ditambah alasan "tujuan masa depan" plus alasan "keluarga" menghasilkan suatu kata yaitu "komitmen". Dimana "tunangan" itu sendiri sudah merupakan bahan dasar untuk membangun sebuah komitmen yang lebih jauh. Namun lagi-lagi, suatu hasrat kuat mendasar yang lahir bersamaan dengan para lelaki, nama kerennya "ego", membuat keadaan seperti ini menjadi rumit. Jika perempuan diciptakan dengan kadar "perasaan" berlebih, maka lelaki pun punya kelebihan dalam hal "ego".
Hal pertama yang saya tanyakan kepadanya "emang tu pere cantik?".
Suatu hal yang gak objektif sih...yellowww...2011 masih aja pake fisik buat nilai orang. Tapi mengacu pada pepatah "lelaki itu kalah dimata, wanita kalah ditelinga", yang artinya, mau dilirik lelaki mesti jadi secantik mungkin, mau dilirik cewe mesti segombal mungkin. Hahahaha.
Jawaban sobat saya "gak sih, biasa aja. Cantikan cewe gw".
Then what do you expect? Disinilah slogannya bang napi sangat berperan "kejahatan itu terjadi bukan karena niat,tapi karena kesempatan". Saya menilai, ego ditambah kesempatan menghasilkan suatu permainan yang menguji "komitmen" yang merupakan hasil dari cinta ditambah tujuan masa depan ditambah keluarga. Hebat bukan? Hanya butuh 2 faktor untuk menggoyahkan hasil dari 3 faktor. Kesempatan yang ditawarkan wanita lain, walaupun sebenarnya nilai dari wanita ini buat sobat saya, tidak ada seujung kuku pun dari sosok tunangannya. Kesempatan, yang jika dipupuk terus menerus, maka lambat laun akan menjadi sebuah bom waktu yang bukan hanya menggoyahkan, tetapi pastinya akan menghancurkan komitmen yang susah payah dia wujudkan. Kesempatan kawan, tidak lebih dari itu. Sudah banyak contoh cerita pahit beberapa kawan saya, yang hidupnya hancur padahal mereka hanya mempersilahkan si kesempatan sedikit bermain dialam bawah sadar mereka. Kesempatan yang membuka jalan kecil ke arah suatu kesalahan yang besar.
"Tetapi gw gak bisa ngelarang perasaannya dia buat suka ama gw, gw udah bilang, gw dah punya tunangan. Toh kita berdua juga berbeda prinsip hidup".
Lalu apa yang kamu khawatirkan? Ketika kamu sudah membangun sebuah komitmen, seharusnya trik dan tips untuk menjaganya lah yang perlu kamu pelajari, bukan trik dan tips untuk menghancurkannya yang kamu dekati. Memang hak setiap orang untuk menyukai orang lain. Tetapi disini kamu dijadikan objek untuk disukai, jadi kamu juga berhak untuk menolak dijadikan objek. Toh kamu bukan artis yang membutuhkan penggemar setia sekedar untuk mendongkrak popularitasmu. Tapi memang terkadang manusia membutuhkan lebih dari satu manusia lain untuk sekedar mengakui bahwa eksistensinya benar-benar ada dimuka bumi ini.
"Tapi katanya, ijinkan dia untuk menyukai gw dari jauh, ijinkan dia berkomunikasi. Dia bakal tau diri kok, kalo gw lagi jalan ama cewe gw, gak bakalan ganggu".
Yellowww... Itu cuma trik sobat, trik dimana seseorang yang penasaran akan sesuatu yang diinginkan tapi belum didapatkan. Dia tentunya akan melakukakn berbagai macam cara untuk menarik perhatianmu. Lagian, kalau benar dia tau diri, apakah pantas dia mendekati orang yang sudah punya komitmen untuk serius dengan orang lain. Kamu membuka celah untuknya sobat, walaupun kecil, ingat kata pepatah "dikit-dikit jadi bukit?"
"Iya sih boww...gw sadar, kucing mana yang gak mau disodorin ikan".
See, akhirnya sobat saya pun mengakui, bahwa suatu kesempatan terkadang menjadi sebuah santapan pencuci mulut yang menyegarkan dikala kita sudah sedikit mual dengan makanan besar yang membuat perut penuh. Sadar kawan, dirimu juga manusia, cobaan itu pasti ada aja. Jangan pernah takabur dengan rencana-rencana indah. Manusia itu hanya bisa berencana dengan cemerlang, tanpa mengetahui hal apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Sekarang ketika kamu sedikit saja bermain-main dengan kesempatan, maka semuanya akan merubah keadaan. Banyak cerita usang yang gak pernah bosan saya kisahkan padamu kan, tentang beberapa pengalaman baik pengalaman saya sendiri maupun pengalaman orang lain yang kebetulan masih terekam dalam otak saya, betapa pahitnya masa dimana hal-hal bodoh menjadi penyebab kehidupan yang suram dimasa datang.
"Hmm...gitu yak. Iya sih, kalo gitu gw membatasi diri deh mulai sekarang".
Memang mencoba itu tidak mengapa, ibarat kata filsuf asal Amerika favorit saya "20 tahun yang akan datang kamu akan lebih menyesal akan apa yang tidak pernah kamu lakukan, dibanding apa yang pernah kamu lakukan. Keluarlah dari zona nyaman, dan berpetualanglah. Bermimpilah, Menjelajahlah, dan Temukanlah". Tapi itu berlaku untuk sebuah petualangan yang baru akan dimulai, bukan suatu hubungan yang sudah sejauh taraf pencapaianmu sekarang. Judul film melodrama kehidupanmu sudah kamu pilih, sekarang sudah akan berakhir dalam season 1, dan akan dilanjutkan dengan seri baru season 2, tapi tetap dengan judul yang sama. Kalau kamu tergoda dengan kesempatan lain, maka kamu akan memulai suatu produksi film dengan judul yang baru.
"Ya udah deh cong, gw mo tedur dulu. Ngantuk banget, gw dah gak bisa mikir".
Hmmm...mudah-mudahan akal pikiranmu bisa segar kembali esok, ketika kamu dan tunanganmu bertemu untuk sekedar makan malam (terlalu) romantis ala alay kalian yang sering saya olok-olok itu. Hubungan yang manis memang gak pernah luput dari cobaan, karena saya sendiri pun sudah pernah merasakan betapa hambarnya suatu hubungan yang berjalan tanpa sedikitpun batu sandungan. Sebagai salah satu sobatmu yang selalu menyumbang doa terbaik untuk dirimu, saya hanya bisa turut mendukung semua hal yang bisa membuatmu bahagia, karena kalian berdua hanya bisa berencana, saya hanya sekedar bisa berdoa, tapi sisanya hanya Tuhan yang berbicara. Apapun yang akan terjadi nanti, yang penting kamu harus berusaha semaksimal mungkin. Everything happen for a reason, rite hensem?
"If you love two people at the same time, choose the second one. Because if you really loved the first one, you wouldn't have fallen for the second" (Johnny Depp).
Sekali lagi, Selamat Hari Jadi, Happy Birthday, Joyeux Anniversaire, buat si konyol bersuara toa yang (mudah-mudahan) sebentar lagi melepas masa lajangnya itu. Doaku bersamamu sobat. Doa akan lebih afdol kalo esok ada undangan traktiran sih...jiahahaha (saya redho roma kok, mengalah sehari dari dadar guling barbie kesayanganmu itu untuk makan-makan ples ngakak-ngakak dipojok warung tongkrongan kita itu).
Jakarta, 8 Mei 2011. 03:45 waktu BB
Genteng Ijo 86, didalam kamar yang berhasil didekor ulang dengan tujuan membangkitkan semangat baru...hahay :D
Bunyi telpon dari salah seorang sobat saya. "Nyiiinggg...met ultah yeee", tereak saya kenceng, sambil tak lupa menyanyikan lagu selamat ulang tahun pake suara serak saya yang baru bangun tidur plus lagi makan. "Jahh..adanya juga elu yang nelpon guweh ngasih slamat, dimane-mane kagak ada orang ultah nelpon temennye buat dapetin ucapan slamat" ujar si sobat dengan suara lucunya yang gak ada aura ganteng-gantengnya kalo menurut saya (in my humble opinion lho darla...jiahahahaha).
Kening saya berkerut,kira-kira ada apa gerangan sobat saya menelpon tengah malam. Ketumbenan yang tiada terkira. Dan benar dugaan saya, sobat saya ini sedang agak galau, apalagi kalo bukan masalah perasaan.
"Gw lagi dideketin ama cewe nih cyinnn...anak kampung lu noh".
Begitulah kira-kira kalimat awal percakapan serius diantara kami. Menurut hasil pengamatan saya, dari beberapa pengalaman para sahabat, sebenarnya, merupakan suatu kebanggaan buat seorang lelaki, jika ada seorang (apalagi lebih) wanita yang datang mendekati, apalagi kondisi saat ini, sobat saya tersebut sudah terikat semacam ikatan yang lazim kita sebut "tunangan". Ikatan serius dimana hubungan sudah bukan hanya dilakoni oleh 2 orang, tetapi oleh beberapa orang yang dinamakan "keluarga". Alasan "cinta" ditambah alasan "tujuan masa depan" plus alasan "keluarga" menghasilkan suatu kata yaitu "komitmen". Dimana "tunangan" itu sendiri sudah merupakan bahan dasar untuk membangun sebuah komitmen yang lebih jauh. Namun lagi-lagi, suatu hasrat kuat mendasar yang lahir bersamaan dengan para lelaki, nama kerennya "ego", membuat keadaan seperti ini menjadi rumit. Jika perempuan diciptakan dengan kadar "perasaan" berlebih, maka lelaki pun punya kelebihan dalam hal "ego".
Hal pertama yang saya tanyakan kepadanya "emang tu pere cantik?".
Suatu hal yang gak objektif sih...yellowww...2011 masih aja pake fisik buat nilai orang. Tapi mengacu pada pepatah "lelaki itu kalah dimata, wanita kalah ditelinga", yang artinya, mau dilirik lelaki mesti jadi secantik mungkin, mau dilirik cewe mesti segombal mungkin. Hahahaha.
Jawaban sobat saya "gak sih, biasa aja. Cantikan cewe gw".
Then what do you expect? Disinilah slogannya bang napi sangat berperan "kejahatan itu terjadi bukan karena niat,tapi karena kesempatan". Saya menilai, ego ditambah kesempatan menghasilkan suatu permainan yang menguji "komitmen" yang merupakan hasil dari cinta ditambah tujuan masa depan ditambah keluarga. Hebat bukan? Hanya butuh 2 faktor untuk menggoyahkan hasil dari 3 faktor. Kesempatan yang ditawarkan wanita lain, walaupun sebenarnya nilai dari wanita ini buat sobat saya, tidak ada seujung kuku pun dari sosok tunangannya. Kesempatan, yang jika dipupuk terus menerus, maka lambat laun akan menjadi sebuah bom waktu yang bukan hanya menggoyahkan, tetapi pastinya akan menghancurkan komitmen yang susah payah dia wujudkan. Kesempatan kawan, tidak lebih dari itu. Sudah banyak contoh cerita pahit beberapa kawan saya, yang hidupnya hancur padahal mereka hanya mempersilahkan si kesempatan sedikit bermain dialam bawah sadar mereka. Kesempatan yang membuka jalan kecil ke arah suatu kesalahan yang besar.
"Tetapi gw gak bisa ngelarang perasaannya dia buat suka ama gw, gw udah bilang, gw dah punya tunangan. Toh kita berdua juga berbeda prinsip hidup".
Lalu apa yang kamu khawatirkan? Ketika kamu sudah membangun sebuah komitmen, seharusnya trik dan tips untuk menjaganya lah yang perlu kamu pelajari, bukan trik dan tips untuk menghancurkannya yang kamu dekati. Memang hak setiap orang untuk menyukai orang lain. Tetapi disini kamu dijadikan objek untuk disukai, jadi kamu juga berhak untuk menolak dijadikan objek. Toh kamu bukan artis yang membutuhkan penggemar setia sekedar untuk mendongkrak popularitasmu. Tapi memang terkadang manusia membutuhkan lebih dari satu manusia lain untuk sekedar mengakui bahwa eksistensinya benar-benar ada dimuka bumi ini.
"Tapi katanya, ijinkan dia untuk menyukai gw dari jauh, ijinkan dia berkomunikasi. Dia bakal tau diri kok, kalo gw lagi jalan ama cewe gw, gak bakalan ganggu".
Yellowww... Itu cuma trik sobat, trik dimana seseorang yang penasaran akan sesuatu yang diinginkan tapi belum didapatkan. Dia tentunya akan melakukakn berbagai macam cara untuk menarik perhatianmu. Lagian, kalau benar dia tau diri, apakah pantas dia mendekati orang yang sudah punya komitmen untuk serius dengan orang lain. Kamu membuka celah untuknya sobat, walaupun kecil, ingat kata pepatah "dikit-dikit jadi bukit?"
"Iya sih boww...gw sadar, kucing mana yang gak mau disodorin ikan".
See, akhirnya sobat saya pun mengakui, bahwa suatu kesempatan terkadang menjadi sebuah santapan pencuci mulut yang menyegarkan dikala kita sudah sedikit mual dengan makanan besar yang membuat perut penuh. Sadar kawan, dirimu juga manusia, cobaan itu pasti ada aja. Jangan pernah takabur dengan rencana-rencana indah. Manusia itu hanya bisa berencana dengan cemerlang, tanpa mengetahui hal apa yang akan terjadi dimasa mendatang. Sekarang ketika kamu sedikit saja bermain-main dengan kesempatan, maka semuanya akan merubah keadaan. Banyak cerita usang yang gak pernah bosan saya kisahkan padamu kan, tentang beberapa pengalaman baik pengalaman saya sendiri maupun pengalaman orang lain yang kebetulan masih terekam dalam otak saya, betapa pahitnya masa dimana hal-hal bodoh menjadi penyebab kehidupan yang suram dimasa datang.
"Hmm...gitu yak. Iya sih, kalo gitu gw membatasi diri deh mulai sekarang".
Memang mencoba itu tidak mengapa, ibarat kata filsuf asal Amerika favorit saya "20 tahun yang akan datang kamu akan lebih menyesal akan apa yang tidak pernah kamu lakukan, dibanding apa yang pernah kamu lakukan. Keluarlah dari zona nyaman, dan berpetualanglah. Bermimpilah, Menjelajahlah, dan Temukanlah". Tapi itu berlaku untuk sebuah petualangan yang baru akan dimulai, bukan suatu hubungan yang sudah sejauh taraf pencapaianmu sekarang. Judul film melodrama kehidupanmu sudah kamu pilih, sekarang sudah akan berakhir dalam season 1, dan akan dilanjutkan dengan seri baru season 2, tapi tetap dengan judul yang sama. Kalau kamu tergoda dengan kesempatan lain, maka kamu akan memulai suatu produksi film dengan judul yang baru.
"Ya udah deh cong, gw mo tedur dulu. Ngantuk banget, gw dah gak bisa mikir".
Hmmm...mudah-mudahan akal pikiranmu bisa segar kembali esok, ketika kamu dan tunanganmu bertemu untuk sekedar makan malam (terlalu) romantis ala alay kalian yang sering saya olok-olok itu. Hubungan yang manis memang gak pernah luput dari cobaan, karena saya sendiri pun sudah pernah merasakan betapa hambarnya suatu hubungan yang berjalan tanpa sedikitpun batu sandungan. Sebagai salah satu sobatmu yang selalu menyumbang doa terbaik untuk dirimu, saya hanya bisa turut mendukung semua hal yang bisa membuatmu bahagia, karena kalian berdua hanya bisa berencana, saya hanya sekedar bisa berdoa, tapi sisanya hanya Tuhan yang berbicara. Apapun yang akan terjadi nanti, yang penting kamu harus berusaha semaksimal mungkin. Everything happen for a reason, rite hensem?
"If you love two people at the same time, choose the second one. Because if you really loved the first one, you wouldn't have fallen for the second" (Johnny Depp).
Sekali lagi, Selamat Hari Jadi, Happy Birthday, Joyeux Anniversaire, buat si konyol bersuara toa yang (mudah-mudahan) sebentar lagi melepas masa lajangnya itu. Doaku bersamamu sobat. Doa akan lebih afdol kalo esok ada undangan traktiran sih...jiahahaha (saya redho roma kok, mengalah sehari dari dadar guling barbie kesayanganmu itu untuk makan-makan ples ngakak-ngakak dipojok warung tongkrongan kita itu).
Jakarta, 8 Mei 2011. 03:45 waktu BB
Genteng Ijo 86, didalam kamar yang berhasil didekor ulang dengan tujuan membangkitkan semangat baru...hahay :D
18/04/11
A Hectic Day, A Precious Moment To Celebrate
Hari yang super duper melelahkan...
Sebenarnya sih, saya memulai hari pada jam 10 pagi...hahaha...waktu yang gak normal disebut "pagi", tapi buat saya yang tidur setelah adzan subuh berkumandang (ketika warga Jakarta malah udah nyiapin sepeda buat car free day-an dihari minggu),itu benar-benar masih terlalu "pagi".
Saya tidur "pagi", bukan sok gaul malem mingguan dijalan ato menghabiskan malam bersosialisasi di club seantero Jakarta (saya gak segaul itu kok...hahaha), ato menghabiskan berpuluh kaset dvd film seri seperti layaknya kebiasaan teman-teman saya menghabiskan waktu weekend bermalas-malasan dirumah. Saya, tidur pagi karena beberapa alasan, alasan-alasan yang buat saya penting, karena satu kata "Sahabat" .
Hari ini, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam grup "ManDJa" alias Manado Di Jakarta; kumpulan anak-anak perantau dari bumi Nyiur Melambai yang bertarung Jakarta,merayakan 3 tahun perayaan berdirinya grup kami, grup kocak tukang jalan tukang makan, yang terbentuk di Jakarta, tepatnya daerah Kuningan dan sekitarnya. Anak-anak yang jauh dari tanah kelahiran, yang merasa senasib sepenanggungan. Lucunya, justru ide ManDJa ini muncul ketika 3 tahun yang lalu kami berwisata ke Bandung. Saat makan malam di D'Cost (maaf untuk promosi gratis ini), saya bermaksud "mengerjai" salah seorang sahabat saya yang saat itu berulang tahun dan mengantongi duit lumayan (waktu di bus menuju Bandung, saya dan dia rebutan dompetnya untuk melihat foto siapa yang berada didompetnya, tapi saya malah melihat 10 lembar uang biru benhur bergambar I Gusti Ngurah Rai), untuk mentraktir rombongan kami itu.
Acara traktir (agak) tak ikhlas itulah yang menjadi awal mula terbentuknya grup "ManDJa" (dan entah disengaja karena harganya murah dengan porsi lumayan banyak, atau para Manadoers ini memang pencinta makanan hasil laut, D'Cost selalu jadi tempat favorit para anggota grup untuk merayakan ulang tahun kami, dan gak heran kami sudah berkeliling hampir beberapa cabang D'Cost diseantero Jakarta").
Tahun demi tahun kami lewatkan dengan canda, tawa, tangis, saling mempelajari karakter masing-masing, sehingga gak kerasa, tahun ini umur grup rempong ini memasuki tahun ketiga. Jumlah anggota grup selalu konstan, yaitu tidak pernah lebih dari 20 orang, karena beberapa anggota yang harus meninggalkan ibukota tercinta (preett) ini karena berbagai alasan, umumnya sih karena pindah tugas, tapi juga bertambah kalau ada anak Manado yang pindah untuk mengadu nasib di Jakarta.
Dannn...hari ini, tepat jam 12 malam, kami para anggota yang tersisa bermaksud memberikan kejutan kepada sang sahabat yang ultahnya dijadikan penanda terciptanya grup gara2 insiden "traktiran" 3 tahun lalu. Si botak berlesung pipit yang berulang tahun ini kebetulan merupakan sahabat terdekat saya sejak remaja (hahaha...berasa tua bangka).
Yeap, hari ini, 26 tahun yang lalu, lahir seorang anak lelaki,berparas lumayan (lumayan banyak fansnya,yang kadang membuat saya berpikir ingin membuka usaha "penyewaan sahabat" hahaha),berbadan lumayan (lumayan buat dijual kiloan...hahaha), dan yang pasti berotak lumayan (tempat peminjaman lembar kerja siswa alias LKS sejak jaman sekolah...hahaha). Bebih, begitulah saya memanggil "sahabat 24 jam" ini, seharusnya harus tidur lebih awal, karena kondisinya yang kurang vit (masuk angin gak jelas gara2 kebanyakan latihan sesi foto dikuburan). Seperti biasa, format "kejutan ulang tahun" adalah, membawa kue berhiaskan lilin yang sudah dinyalakan kedepan kamar kostan.
Celakanya, entah karena kami semua pendukung program pemerintah untuk gerakan anti merokok, atau kebetulan yang berniat memberi kejutan ini hanya anggota cewe aja (ples 1 anggota cowo,yang juga hidup sehat tanpa asap),maka gak seorang pun dari kami yang punya korek api. Walhasil, kami pun nekad membajak korek api si abang tukang nasi goreng depan kostan. Kue berukuran kecil itu, kami bawa dengan cara mengendap-endap sambil cekikikan gara-gara lilin "khusus gak bisa mati".
Kamarnya Bebih, ada di lantai 3, dan ketika sampai diatas, lampunya mati (ya ealahhh...yelloowww...itu jam berapee). Ketak-ketok dan tadaaaaaa...begitu pintu terbuka, dengan muka asem,lesung pipit diseluruh muka alias muka berkerut mengantuk tapi kaget, Bebih menyambut kedatangan kami, dan sialnya dia langsung tidur lagi sambil menarik selimut menutupi seluruh mukanya (curiga dia sebenarnya ingin menangis tersedu-sedu karena terharu...badan rambo hati bimbo...hahaha). Setelah adegan "make a wish", tiup lilin yang gak mati2 (hahahaha) dan potong kue yang agak ngasal, kami berenam pun mengobrol sambil tertawa-tawa, dan berakhir ketika salah satu dari kami hampir terlelap disamping saya.
Akhirnya kami pun kembali pulang ke markas para wanita di gang sebelah. Saya, malam itu menginap dikostan Iren (adik "mungil" nya Bebih), untuk "proyek pengerjaan prakarya", sebagai bentuk hadiah kami kepada salah satu anggota grup yang akan menikah 2 minggu lagi dikampung halaman. Sebenarnya, kalau gak terbentur masalah jadwal pemotretan (hahaha) dan dana *alasan utama,haha* (oh Manado tercinta,entah kenapa tiketmu gak pernah murah,hiks), kami semua ingin sekali menghadiri pernikahan unik (pernikahan yang diselenggarakan memakai adat ASLI Minahasa, lengkap dengan roda tradisional pengantin dan SAPI nya tentu saja...hahaha). Hhmmm...jadilah "prakarya" ini, sebagai ganti kehadiran kami disana. Tapi, saya si pembuat ide prakarya, justru belum punya ide, harus diapakan bahan-bahan yang sudah didepan mata. Sambil memutar otak yang hampir habis kapasitasnya gara-gara memikirkan kehidupan yang suram plus seseorang yang jauh (hahaha,curcollll), saya berdendang (dalam hati, khawatir membangunkan 3 mahluk disamping saya yang sudah sukses terlelap dengan gaya megaloman menjajal lawan alias tidur acak adut dempet-dempetan) lagu-lagu jadul selama hampir satu jam.
Tepat ketika lagu keduabelas, saya menemukan ide, dan "master" alias "dummy" alias "contoh" prakarya pun jadi. Dua buah dummy selesai, dan adzan subuh berkumandang. Entah karena rasa cinta saya kepada sahabat saya yang terlalu besar, atau malah rasa bersalah tidak bisa menghadiri pernikahannya juga yang terlalu besar, membuat badan saya seperti disuntik berton-ton vitamin, sehingga kuat lama-lama duduk bersila untuk sekedar menciptakan prakarya tersebut. Saya pun tidur sampai jam 10 pagi (hanya 5 jam, dari kebiasaan tidur malam yang 10 jam, jiahahaha), kemudian berniat melanjutkan bersama beberapa sahabat setelah pulang dari acara perayaan malam nanti.
Berhubung hari ini hari yang panjang, saya benar-benar harus pandai mengatur waktu. Bangun jam 10 pagi , ada kegiatan gunting menggunting prakarya, mandi, makan siang, pulang ke kostan untuk ganti baju, sore ada undangan makan-makan (kali ini IKHLAS binti REDHO...hahaha) dari si Bebih, kemudian malamnya melanjutkan prakarya bersama para sahabat. Tapi, sesampainya dikostan, hujan petir menggelegar dan membuat keadaan Jakarta jadi agak menyeramkan. Terpaksa, dengan sedikit perjuangan (kalau saja bukan ulang tahun Bebih ples hari perayaan grup, saya malas hujan-hujanan ke D'Cost), sambil berpayung, berjas hujan, bersendal jepit, dan berkalung sorban (lhooo), saya berlari-lari sambil komat-kamit berdzikir gara-gara petir yang masih menggelegar ditengah perjalanan (bisa dibilang, hal kedua yang membuat saya religius adalah berjalan ditengah hujan badai ples petir dan naik pesawat yang bergoyang hebat ditengah badai, hahaha). Sesampainya disana, seperti biasa kami para anggota grup makan, bercanda, ledek-ledakan ("bakusedu dengan baterek" kalo kata orang Manado), dan diakhiri dengan foto bersama (as always lah). Pulang ke kostan Iren, lagi-lagi saya dan beberapa sahabat saya kembali mengerjakan "prakarya" tersebut, sampai waktu menunjukan pukul 3 dinihari.
Benar-benar hari yang melelahkan untuk ukuran orang normal. Tapi untuk saya, lelah dan perjuangan itu, terbayar lunas ketika melihat lesung pipit si Bebih yang muncul ketika dia tersenyum melihat "kejutan kecil" kami, plus kedatangan hampir semua personel grup pada pesta kecilnya di D'Cost, juga terbayar lunas ketika melihat senyum puas dan kelegaan dimata kedua calon penganten setelah melihat hasil prakarya kami, sehingga sedikit mengurangi ketegangan diraut wajah mereka selama sebulan terakhir ini. Senyum dan tawa kalian, ibarat pelangi setelah hujan, dan oase ditengah gurun pasir...halah...hahaha. Daripada saya semakin ngaco, mending saya tidur saja...kali aja ketemu seseorang dimimpi...hahay (makin pagi makin curhat....hahahaha).
"Sahabat itu...bukan berjalan seperti gunting, meski lurus tapi memisahkan yg menyatu. Sahabat itu berjalan seperti jarum, meski menusuk & menyakitkan, tapi menyatukan yg terpisah. Sahabat bukan hanya untuk bersenang2, tapi saling mengingatkan & menegur dgn jujur untuk sama2 belajar".
Selamat Hari Jadi Ivan "Bebih" Telwe, Selamat Menyongsong Hidup Baru Cyanthi "Sailormoon" Manoppo dan Sonny Mumbunan, dannn... Happy Anniversary voor ManDJa... happily ever afterrr...hip hip hurayyyy
\(‾▿‾\)┌( _o_ )┐ (/‾▿‾)/
Jakarta, 17-18 April 2011 (tulisan dibuat bersambung tiap jam BB saya nunjukin angka 03:15...alias sesaat sebelum saya mo tidur)
Setiabudi V, Gang 2, kamar pindah-pindah antara kamar Iren ama kamar Mela :D
Sebenarnya sih, saya memulai hari pada jam 10 pagi...hahaha...waktu yang gak normal disebut "pagi", tapi buat saya yang tidur setelah adzan subuh berkumandang (ketika warga Jakarta malah udah nyiapin sepeda buat car free day-an dihari minggu),itu benar-benar masih terlalu "pagi".
Saya tidur "pagi", bukan sok gaul malem mingguan dijalan ato menghabiskan malam bersosialisasi di club seantero Jakarta (saya gak segaul itu kok...hahaha), ato menghabiskan berpuluh kaset dvd film seri seperti layaknya kebiasaan teman-teman saya menghabiskan waktu weekend bermalas-malasan dirumah. Saya, tidur pagi karena beberapa alasan, alasan-alasan yang buat saya penting, karena satu kata "Sahabat" .
Hari ini, saya dan beberapa teman yang tergabung dalam grup "ManDJa" alias Manado Di Jakarta; kumpulan anak-anak perantau dari bumi Nyiur Melambai yang bertarung Jakarta,merayakan 3 tahun perayaan berdirinya grup kami, grup kocak tukang jalan tukang makan, yang terbentuk di Jakarta, tepatnya daerah Kuningan dan sekitarnya. Anak-anak yang jauh dari tanah kelahiran, yang merasa senasib sepenanggungan. Lucunya, justru ide ManDJa ini muncul ketika 3 tahun yang lalu kami berwisata ke Bandung. Saat makan malam di D'Cost (maaf untuk promosi gratis ini), saya bermaksud "mengerjai" salah seorang sahabat saya yang saat itu berulang tahun dan mengantongi duit lumayan (waktu di bus menuju Bandung, saya dan dia rebutan dompetnya untuk melihat foto siapa yang berada didompetnya, tapi saya malah melihat 10 lembar uang biru benhur bergambar I Gusti Ngurah Rai), untuk mentraktir rombongan kami itu.
Acara traktir (agak) tak ikhlas itulah yang menjadi awal mula terbentuknya grup "ManDJa" (dan entah disengaja karena harganya murah dengan porsi lumayan banyak, atau para Manadoers ini memang pencinta makanan hasil laut, D'Cost selalu jadi tempat favorit para anggota grup untuk merayakan ulang tahun kami, dan gak heran kami sudah berkeliling hampir beberapa cabang D'Cost diseantero Jakarta").
Tahun demi tahun kami lewatkan dengan canda, tawa, tangis, saling mempelajari karakter masing-masing, sehingga gak kerasa, tahun ini umur grup rempong ini memasuki tahun ketiga. Jumlah anggota grup selalu konstan, yaitu tidak pernah lebih dari 20 orang, karena beberapa anggota yang harus meninggalkan ibukota tercinta (preett) ini karena berbagai alasan, umumnya sih karena pindah tugas, tapi juga bertambah kalau ada anak Manado yang pindah untuk mengadu nasib di Jakarta.
Dannn...hari ini, tepat jam 12 malam, kami para anggota yang tersisa bermaksud memberikan kejutan kepada sang sahabat yang ultahnya dijadikan penanda terciptanya grup gara2 insiden "traktiran" 3 tahun lalu. Si botak berlesung pipit yang berulang tahun ini kebetulan merupakan sahabat terdekat saya sejak remaja (hahaha...berasa tua bangka).
Yeap, hari ini, 26 tahun yang lalu, lahir seorang anak lelaki,berparas lumayan (lumayan banyak fansnya,yang kadang membuat saya berpikir ingin membuka usaha "penyewaan sahabat" hahaha),berbadan lumayan (lumayan buat dijual kiloan...hahaha), dan yang pasti berotak lumayan (tempat peminjaman lembar kerja siswa alias LKS sejak jaman sekolah...hahaha). Bebih, begitulah saya memanggil "sahabat 24 jam" ini, seharusnya harus tidur lebih awal, karena kondisinya yang kurang vit (masuk angin gak jelas gara2 kebanyakan latihan sesi foto dikuburan). Seperti biasa, format "kejutan ulang tahun" adalah, membawa kue berhiaskan lilin yang sudah dinyalakan kedepan kamar kostan.
Celakanya, entah karena kami semua pendukung program pemerintah untuk gerakan anti merokok, atau kebetulan yang berniat memberi kejutan ini hanya anggota cewe aja (ples 1 anggota cowo,yang juga hidup sehat tanpa asap),maka gak seorang pun dari kami yang punya korek api. Walhasil, kami pun nekad membajak korek api si abang tukang nasi goreng depan kostan. Kue berukuran kecil itu, kami bawa dengan cara mengendap-endap sambil cekikikan gara-gara lilin "khusus gak bisa mati".
Kamarnya Bebih, ada di lantai 3, dan ketika sampai diatas, lampunya mati (ya ealahhh...yelloowww...itu jam berapee). Ketak-ketok dan tadaaaaaa...begitu pintu terbuka, dengan muka asem,lesung pipit diseluruh muka alias muka berkerut mengantuk tapi kaget, Bebih menyambut kedatangan kami, dan sialnya dia langsung tidur lagi sambil menarik selimut menutupi seluruh mukanya (curiga dia sebenarnya ingin menangis tersedu-sedu karena terharu...badan rambo hati bimbo...hahaha). Setelah adegan "make a wish", tiup lilin yang gak mati2 (hahahaha) dan potong kue yang agak ngasal, kami berenam pun mengobrol sambil tertawa-tawa, dan berakhir ketika salah satu dari kami hampir terlelap disamping saya.
Akhirnya kami pun kembali pulang ke markas para wanita di gang sebelah. Saya, malam itu menginap dikostan Iren (adik "mungil" nya Bebih), untuk "proyek pengerjaan prakarya", sebagai bentuk hadiah kami kepada salah satu anggota grup yang akan menikah 2 minggu lagi dikampung halaman. Sebenarnya, kalau gak terbentur masalah jadwal pemotretan (hahaha) dan dana *alasan utama,haha* (oh Manado tercinta,entah kenapa tiketmu gak pernah murah,hiks), kami semua ingin sekali menghadiri pernikahan unik (pernikahan yang diselenggarakan memakai adat ASLI Minahasa, lengkap dengan roda tradisional pengantin dan SAPI nya tentu saja...hahaha). Hhmmm...jadilah "prakarya" ini, sebagai ganti kehadiran kami disana. Tapi, saya si pembuat ide prakarya, justru belum punya ide, harus diapakan bahan-bahan yang sudah didepan mata. Sambil memutar otak yang hampir habis kapasitasnya gara-gara memikirkan kehidupan yang suram plus seseorang yang jauh (hahaha,curcollll), saya berdendang (dalam hati, khawatir membangunkan 3 mahluk disamping saya yang sudah sukses terlelap dengan gaya megaloman menjajal lawan alias tidur acak adut dempet-dempetan) lagu-lagu jadul selama hampir satu jam.
Tepat ketika lagu keduabelas, saya menemukan ide, dan "master" alias "dummy" alias "contoh" prakarya pun jadi. Dua buah dummy selesai, dan adzan subuh berkumandang. Entah karena rasa cinta saya kepada sahabat saya yang terlalu besar, atau malah rasa bersalah tidak bisa menghadiri pernikahannya juga yang terlalu besar, membuat badan saya seperti disuntik berton-ton vitamin, sehingga kuat lama-lama duduk bersila untuk sekedar menciptakan prakarya tersebut. Saya pun tidur sampai jam 10 pagi (hanya 5 jam, dari kebiasaan tidur malam yang 10 jam, jiahahaha), kemudian berniat melanjutkan bersama beberapa sahabat setelah pulang dari acara perayaan malam nanti.
Berhubung hari ini hari yang panjang, saya benar-benar harus pandai mengatur waktu. Bangun jam 10 pagi , ada kegiatan gunting menggunting prakarya, mandi, makan siang, pulang ke kostan untuk ganti baju, sore ada undangan makan-makan (kali ini IKHLAS binti REDHO...hahaha) dari si Bebih, kemudian malamnya melanjutkan prakarya bersama para sahabat. Tapi, sesampainya dikostan, hujan petir menggelegar dan membuat keadaan Jakarta jadi agak menyeramkan. Terpaksa, dengan sedikit perjuangan (kalau saja bukan ulang tahun Bebih ples hari perayaan grup, saya malas hujan-hujanan ke D'Cost), sambil berpayung, berjas hujan, bersendal jepit, dan berkalung sorban (lhooo), saya berlari-lari sambil komat-kamit berdzikir gara-gara petir yang masih menggelegar ditengah perjalanan (bisa dibilang, hal kedua yang membuat saya religius adalah berjalan ditengah hujan badai ples petir dan naik pesawat yang bergoyang hebat ditengah badai, hahaha). Sesampainya disana, seperti biasa kami para anggota grup makan, bercanda, ledek-ledakan ("bakusedu dengan baterek" kalo kata orang Manado), dan diakhiri dengan foto bersama (as always lah). Pulang ke kostan Iren, lagi-lagi saya dan beberapa sahabat saya kembali mengerjakan "prakarya" tersebut, sampai waktu menunjukan pukul 3 dinihari.
Benar-benar hari yang melelahkan untuk ukuran orang normal. Tapi untuk saya, lelah dan perjuangan itu, terbayar lunas ketika melihat lesung pipit si Bebih yang muncul ketika dia tersenyum melihat "kejutan kecil" kami, plus kedatangan hampir semua personel grup pada pesta kecilnya di D'Cost, juga terbayar lunas ketika melihat senyum puas dan kelegaan dimata kedua calon penganten setelah melihat hasil prakarya kami, sehingga sedikit mengurangi ketegangan diraut wajah mereka selama sebulan terakhir ini. Senyum dan tawa kalian, ibarat pelangi setelah hujan, dan oase ditengah gurun pasir...halah...hahaha. Daripada saya semakin ngaco, mending saya tidur saja...kali aja ketemu seseorang dimimpi...hahay (makin pagi makin curhat....hahahaha).
"Sahabat itu...bukan berjalan seperti gunting, meski lurus tapi memisahkan yg menyatu. Sahabat itu berjalan seperti jarum, meski menusuk & menyakitkan, tapi menyatukan yg terpisah. Sahabat bukan hanya untuk bersenang2, tapi saling mengingatkan & menegur dgn jujur untuk sama2 belajar".
Selamat Hari Jadi Ivan "Bebih" Telwe, Selamat Menyongsong Hidup Baru Cyanthi "Sailormoon" Manoppo dan Sonny Mumbunan, dannn... Happy Anniversary voor ManDJa... happily ever afterrr...hip hip hurayyyy
\(‾▿‾\)┌( _o_ )┐ (/‾▿‾)/
Jakarta, 17-18 April 2011 (tulisan dibuat bersambung tiap jam BB saya nunjukin angka 03:15...alias sesaat sebelum saya mo tidur)
Setiabudi V, Gang 2, kamar pindah-pindah antara kamar Iren ama kamar Mela :D
14/04/11
idola (penting gak penting) hahay
Apakah kamu pernah merasakan suka cenderung kagum terhadap seseorang yang tidak pernah bertemu secara langsung? Secara nyata? Yah,bisa dibilang layaknya mengidolakan sosok artis pujaan? Kalau pernah,berarti kita bernasib sama. Saya juga pernah merasa seperti itu. Secara langsung, saya tidak pernah bertemu dengan sosok idola saya tersebut. Entah apa pula yang membuat saya terhipnotis dengan dia. Artis beken bukan, anak raja dari negeri seberang apalagi. Dari segi tampang, ahhh...biasa aja. Masih kalah banyak dengan tampang manis berlesung pipit khas Briptu Norman Kamaru, yang lagi tren sekarang.
Dari segi gaya, hmmm...sebagai anak muda sebayanya, masih terbilang cuek, sederhana dan apa adanya (agak-agak melenceng dari selera saya sebenarnya). Saya hanya bisa menggambarkan dari dua hasil visualisasi umum (yang saya dapatkan dari akun jejaring sosial miliknya tentu saja), bagaimana sosok pria ini akhirnya masuk dalam list "IDOLA".
Saya mengenalnya dari cerita teman-teman saya, yang mengenal dia dan pernah bertemu secara langsung. Kata mereka, dia sosok pendiam (hahaha, hadoh gak kuat ketemu yang gini-gini mah). Yang pasti, punya hobi yang bisa membuat saya menoleh kepadanya.
Seperti yang sudah bisa diprediksi, saya mulai menghafal semua informasi yang saya dapatkan tentang dia (well...informasi umum seperti tanggal lahir yang sudah saya tandai dikalender ponsel,hahaha, asal sekolah sampai jumlah saudara kandung juga informasi khusus seperti cara dan gayanya menulis komen kepada orang pun, sampai cara dia mewujudkan keinginan....hahaha layaknya seorang fans kepada idola lah :D ).
Tiba pada suatu malam, muncul notifikasi di ponsel pintar saya, bahwa ada yang meminta saya untuk menjadi teman di akun jejaring sosial, dan mata hampir copot dari kepala ketika melihat siapakah gerangan yang mengundang saya untuk jadi teman!!! Yup!!! Si "IDOLA"!!! Wadohhhh...kalau kamu jadi saya, apa yang bakal kamu lakukan?!+@*"#
Jakarta, 14 April 2011. 01:42 waktu BB
Diatas ranjang, gelisah ngeliatin kolom bertuliskan "confirm friend request"
Dari segi gaya, hmmm...sebagai anak muda sebayanya, masih terbilang cuek, sederhana dan apa adanya (agak-agak melenceng dari selera saya sebenarnya). Saya hanya bisa menggambarkan dari dua hasil visualisasi umum (yang saya dapatkan dari akun jejaring sosial miliknya tentu saja), bagaimana sosok pria ini akhirnya masuk dalam list "IDOLA".
Saya mengenalnya dari cerita teman-teman saya, yang mengenal dia dan pernah bertemu secara langsung. Kata mereka, dia sosok pendiam (hahaha, hadoh gak kuat ketemu yang gini-gini mah). Yang pasti, punya hobi yang bisa membuat saya menoleh kepadanya.
Seperti yang sudah bisa diprediksi, saya mulai menghafal semua informasi yang saya dapatkan tentang dia (well...informasi umum seperti tanggal lahir yang sudah saya tandai dikalender ponsel,hahaha, asal sekolah sampai jumlah saudara kandung juga informasi khusus seperti cara dan gayanya menulis komen kepada orang pun, sampai cara dia mewujudkan keinginan....hahaha layaknya seorang fans kepada idola lah :D ).
Tiba pada suatu malam, muncul notifikasi di ponsel pintar saya, bahwa ada yang meminta saya untuk menjadi teman di akun jejaring sosial, dan mata hampir copot dari kepala ketika melihat siapakah gerangan yang mengundang saya untuk jadi teman!!! Yup!!! Si "IDOLA"!!! Wadohhhh...kalau kamu jadi saya, apa yang bakal kamu lakukan?!+@*"#
Jakarta, 14 April 2011. 01:42 waktu BB
Diatas ranjang, gelisah ngeliatin kolom bertuliskan "confirm friend request"
09/04/11
Selamat Ulang Tahun Bang :)
Saya sedang asyik berceloteh dengan teman-teman kostan, ketika alarm di kedua ponsel saya berbunyi hampir bersamaan. Kening mengernyit, karena hanya orang-orang terdekat saya yang hari kelahirannya saya taruh di reminder kedua ponsel (biasanya hanya salah satu yang saya pasang remindernya). Tanpa melihat reminder itu, saya lalu menanyakan kepada salah satu teman “ini tanggal berapa?” dan dijawab serempak ”tanggal 10 jeung”. Tanpa melihat kedua ponsel yg berbunyi nyaring itu pun saya tau pasti, siapa yang berhari ulang tahun pada hari ini.
Gak terasa yah Bang, udah 29 tahun kamu hidup didunia. Haha, kamu pernah bilang “gw masih muda Shin, karena kalo kata pepatah, laki itu hidupnya dimulai sejak umur 40”. Iya sih, melihat gaya kamu yang sekarang, hmmm....masih pantas kok dijulukin ”anak gaol Jakarte” hahaha. Masih ada 11 tahun lagi donk Bang, untuk jadi ”laki-laki yang sebenarnya”, dan Insya Allah akan dipanjangkan umurmu, agar saya bisa melihat bukti perkataanmu itu, hehehe.
Namamu, yang dalam bahasa Arab berarti kebaikan yang besar, sedikit banyak menggambarkan harapan orang tuamu ketika tangismu membahana 29 tahun yang lalu. Harapan dan doa yang senantiasa melindungimu selalu, yang membuatmu menjadi seperti hari ini. Jauh hadirmu, gak mengurangi jumlah doa yang hari ini, kami; orang-orang yang menyayangimu selalu, kirimkan kepada Yang Maha Menyayangi, agar kamu selalu ditambahkan kesehatan, dilimpahkan kebahagiaan, dan dilapangkan kesejahteraan.
Tidak ada orang yang dapat kembali ke masa lalu dan memulai lagi suatu awal yang baru sesuai keinginannya, tetapi setiap orang dapat memulai hari ini sesuai keinginannya untuk membuat sesuatu akhir baru yang lebih baik.
Selamat Hari Jadi Bang, tahun ini memang gak ada perayaan, gak ada kue tart dan puding coklat kesukaan kamu, gak ada lagu selamat ulang tahun yang dinyanyiin sambil ketawa-ketawa, gak ada rengekan minta traktir sop kambing langganan, gak ada kado barang yang ukurannya kekecilan tapi dengan wajah sumringah (terpaksa) dipake, tapi pasti Bang, setiap tahun, sejak saya mengenal sosok pria pendiam tukang nyengir disudut ruangan yang selalu asik dengan dunianya sendiri itu, saya tidak pernah lupa untuk selalu berdoa, meminta kepada Allah dengan setulus hatisaya, agar kamu tetap sehat dan terus bahagia, dengan caramu sendiri.
Pesan saya cuma beberapa hal ini: Jangan lupa sholat Bang, jangan males telpon mama, jangan maen PS mulu, jangan lupa bawain miniatur gajah (yang ini awas lupa!!!).
Kejar mimpimu, Semoga Allah SWT merahmatimu selalu.
”Dua puluh tahun yang akan datang, kau akan lebih kecewa karena hal-hal yang tidak kau perbuat ketimbang hal-hal yang telah kau perbuat. Jadi buanglah keraguanmu, tinggalkan posisi yang nyaman. Kembangkanlah layarmu, impikanlah, menjelajahlah, dan temukanlah” (Mark Twain).
Jakarta, 10 April 2011. 1:16 (waktu Jakarta, alhamdulillah masih Indonesia)
Masih di Genteng Ijo 86, belom pindah kemana-mana :D
Gak terasa yah Bang, udah 29 tahun kamu hidup didunia. Haha, kamu pernah bilang “gw masih muda Shin, karena kalo kata pepatah, laki itu hidupnya dimulai sejak umur 40”. Iya sih, melihat gaya kamu yang sekarang, hmmm....masih pantas kok dijulukin ”anak gaol Jakarte” hahaha. Masih ada 11 tahun lagi donk Bang, untuk jadi ”laki-laki yang sebenarnya”, dan Insya Allah akan dipanjangkan umurmu, agar saya bisa melihat bukti perkataanmu itu, hehehe.
Namamu, yang dalam bahasa Arab berarti kebaikan yang besar, sedikit banyak menggambarkan harapan orang tuamu ketika tangismu membahana 29 tahun yang lalu. Harapan dan doa yang senantiasa melindungimu selalu, yang membuatmu menjadi seperti hari ini. Jauh hadirmu, gak mengurangi jumlah doa yang hari ini, kami; orang-orang yang menyayangimu selalu, kirimkan kepada Yang Maha Menyayangi, agar kamu selalu ditambahkan kesehatan, dilimpahkan kebahagiaan, dan dilapangkan kesejahteraan.
Tidak ada orang yang dapat kembali ke masa lalu dan memulai lagi suatu awal yang baru sesuai keinginannya, tetapi setiap orang dapat memulai hari ini sesuai keinginannya untuk membuat sesuatu akhir baru yang lebih baik.
Selamat Hari Jadi Bang, tahun ini memang gak ada perayaan, gak ada kue tart dan puding coklat kesukaan kamu, gak ada lagu selamat ulang tahun yang dinyanyiin sambil ketawa-ketawa, gak ada rengekan minta traktir sop kambing langganan, gak ada kado barang yang ukurannya kekecilan tapi dengan wajah sumringah (terpaksa) dipake, tapi pasti Bang, setiap tahun, sejak saya mengenal sosok pria pendiam tukang nyengir disudut ruangan yang selalu asik dengan dunianya sendiri itu, saya tidak pernah lupa untuk selalu berdoa, meminta kepada Allah dengan setulus hatisaya, agar kamu tetap sehat dan terus bahagia, dengan caramu sendiri.
Pesan saya cuma beberapa hal ini: Jangan lupa sholat Bang, jangan males telpon mama, jangan maen PS mulu, jangan lupa bawain miniatur gajah (yang ini awas lupa!!!).
Kejar mimpimu, Semoga Allah SWT merahmatimu selalu.
”Dua puluh tahun yang akan datang, kau akan lebih kecewa karena hal-hal yang tidak kau perbuat ketimbang hal-hal yang telah kau perbuat. Jadi buanglah keraguanmu, tinggalkan posisi yang nyaman. Kembangkanlah layarmu, impikanlah, menjelajahlah, dan temukanlah” (Mark Twain).
Jakarta, 10 April 2011. 1:16 (waktu Jakarta, alhamdulillah masih Indonesia)
Masih di Genteng Ijo 86, belom pindah kemana-mana :D
01/04/11
Hotel Ultra Jakarta Alfa November
Hujan,selalu membawa sejuta kenangan.Harum bau tanahnya yang khas,derai ramai berjuta rintik yang berebutan menyentuh bumi,seolah bersama-sama menyebarkan perasaan sejuk disini.
Kau, aku, melihat langit yang sama. Hujan adalah sejuta tinta,yang mengabarkan keadaan,refleksi pantulan berita dirimu.Harummu yang khas,terbawa bersama sapuan hujan.Derai ramai bulir hujan, seakan berebutan menyuarakan kabarmu disana. Bunyi hujan,laksana gempita rinduku yang tak bersuara.
Sejuk namun hangat, deru derai ramai namun damai, sepertimu. Hujan dan dirimu, karunia Tuhan untukku.
Jakarta, 1 April 2011 17:53 WIB
Plaza Semanggi,Depan Musholla,lagi nunggu adzan magrib,dikala hujan.
Kau, aku, melihat langit yang sama. Hujan adalah sejuta tinta,yang mengabarkan keadaan,refleksi pantulan berita dirimu.Harummu yang khas,terbawa bersama sapuan hujan.Derai ramai bulir hujan, seakan berebutan menyuarakan kabarmu disana. Bunyi hujan,laksana gempita rinduku yang tak bersuara.
Sejuk namun hangat, deru derai ramai namun damai, sepertimu. Hujan dan dirimu, karunia Tuhan untukku.
Jakarta, 1 April 2011 17:53 WIB
Plaza Semanggi,Depan Musholla,lagi nunggu adzan magrib,dikala hujan.
Langganan:
Postingan (Atom)

